Print this page

MEMAAFKAN ADALAH AKHLAK ISLAMI

KHUTBAH 1

الحَمْدُ للهِ الّذِي لَهُ مَا فِي السمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَلَهُ الحَمْدُ فِي الآخرَة الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وهو الرّحِيم الغَفُوْر. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

Sidang jumat rohimakumulloh

Kita sudah sepatutnya memanjatkan syukur dengan tidak henti-hentinya kehadirat Alloh SWT atas nikmat berupa negara Indonesia yang telah merdeka, aman, makmur, gemah ripah, loh jinawi.  Masyarakatnya terkenal dengan masyarakat yang ramah yang melestarikan budaya sapa, salam dan senyum. Meskipun memang tidak dapat dipungkiri bahwa kemerdekaan negara kita belum diraih secara tuntas dalam segala bidang. Di bidang Ekonomi misalnya, kita masih dijajah oleh China, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Namun justru inilah tugas kita sebagai warga negara yang baik untuk tidak hanya mengeluhkan keadaan tetapi juga harus turut serta memperbaiki kondisi negara kita ke arah yang lebih baik. Hal ini merupakan ekspresi cinta tanah air.

Kita juga seharusnya bersyukur bahwa dasar negara kita senafas dengan substansi ajaran islam. Negara dan agama tidak boleh di sekat-sekat / dipisah-pisah. Keduanya merupakan saudara kembar yang harus saling menopang. Negara membutuhkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam agama, sedangkan agama memerlukan rumah yg mampu merawat keberlangsungannya secara aman dan damai.

Sidang jum'at rohimakumullah

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita tentang penistaan agama, atau lebih khusunya penistaan alqur'an yang dilakukan oleh seseorang, yang notabenenya dia itu sebagai pemerintah non-muslim di negara kita, atas perbuatannya itu tidak sedikit sebagian masyarakat muslim kita yang ramai-ramai mengecam, bahkan marah, sehingga reaksi dari kemarahan yang ditunjukan oleh sebagian saudara kita itu di exspresikan dengan turun kejalan, melakukan demonstrasi menuntut agar dia yang menistakan agama di hukum seberat-beratnya, hingga kondisi negara menjadi kurang kondusif. Point yang perlu dicatat bagi kita sebagai seorang muslim dari kasus tersebut adalah jangan sampai hujatan kita terhadap penista agama malah menjadi boomerang bagi diri kita sendiri. Mari berintropeksi, tatkala kemarahan kita meluap karena Al-qur’an di hina, justru malah kita sendiri yang jadi penista. Sudahkah kita menjadi pengamal Al-qur’an? Atau seberapa jauh kita memahami kandungan Al-qur’an mengapa kita marah tatkala Al-qur’an dihina, sementara kita tidak pernah menyempatkan waktu untuk membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Al-qur’an itu sendiri, jangan-jangan kita sendiri yang menistakan Al-qur’an, disebabkan kurangnya perhatian kita terhadapnya, dengan tidak membacanya, mempelajarinya,serta mengamalkan isi dari Al-qur’an.

Sidang jum’at yang dimuliakan Alloh SWT

Isu keagamaan di Indonesia merupakan isu sensitif terhadap perpecahan negara. Menilai kafir atas warga negara yang lain tanpa ada dasar yang jelas tidak di benarkan dalam Islam. Dari Imam An Nawawi dalam kitab Al-Kirmani Syarah Shohih Al-Bukhori (Jilid 3 juz 5 halaman 153, cetakan Al Azhar, Mesir) meriwayatkan Imam Ghozali berkata bahwa tidak boleh melaknat diri pribadi orang-orang kafir, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal kecuali kita yakin dengan disertai nash-nash syara’ bahwa orang tersebut matinya dalam keadaan kafir seperti Abu Lahab. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita harus mencerna baik-baik informasi yang kita dapat secara detail dan objektif, tidak serta merta menuduh orang lain sebagai aimmatul kufri (gembong kekafiran) sehingga kita tidak mudah emosi atau marah.

Rasulullah SAW menjadi rule model utama dalam kita beribadah kepada Allah selama hidup di dunia. Rasulullah SAW menegaskan kepada umatnya agar senantiasa menahan amarah, seperti pada sabda Nabi berikut ini.

Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari)

Kita tidak seharusnya tersulut dengan api amarah ketika melihat/mendengar fenomena-fenomena yang ada di masyarakat. Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir dan memberikan pedoman hidup, Al-Qur’an dan  As-Sunnah untuk kita menjalani kehidupan sesuai perintah-Nya. Menuruti amarah hanya akan menimbulkan pertikaian, kekacauan dan ketidaktentraman di masyarakat. Itu artinya, dengan mengikuti amarah semata bisa jadi mengakibatkan hak-hak dasar masyarakat untuk hidup tenang menjadi terganggu.

Sidang jum’at rohimakumulloh

Sebagai umat islam, tentu sangat manusiawi jika kita sebagai umat islam  tersinggung jika kitab suci kita dinistakan. Tapi tentu ketersinggungan kita tidak boleh menjadi kebencian dan mengindahkan nilai-nilai luhur islam tentang tabayyun, memaafkan, dan membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara diaada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

Juga tidak boleh kebencian kita kepeda seseorang atau golongan menjadikan kita tidak berbuat adil kepada mereka. Karena adil adalah  nilai islam yang harus tetap dijunjung tinggi.

Bisa kita renungkan ayat dibawah ini. Supaya kita tetap objektif menilai orang:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى الاَّ تَعْدِلُوْاقلي هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوى. (الما ئدة: ۸–۱۰)

“ ..Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.

Maka, jelas jika ada orang-orang islam yang ingin membalas cacian dan  penghinaan orang-orang yang belum faham islam  dengan balasaan reaktif, temperamen dan emosional tentu pembelasan keburukan dengan keburukan  ini bukanlah yang diajarkan islam. Apalagi jika sampai ada yang berkeinginan membunuh pelakunya. Tentu ini adalah tindakan barbar yang tidak mencerminkan agama islam. Karena didalam islam membunuh satu manusia sejatinya sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Sebagai mana firman Allah swt:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍفِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS.Al Maidah: 32).

Sidang jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati pemimpin yang dzolim, bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan. Sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Maka apabila dalam menasihati rakyat saja memerlukan kaidah dan etika maka menasihati pemimpin harus lebih berkaidah dan beretika. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rosululloh SAW. Dari Ibnu Hakam meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan melakukannya dengan terang-terangan, akan tetapi nasihatilah dia di tempat sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Tetapi jika tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya.” (HR. Imam Ahmad)

Sangat tidak bijaksana mengoreksi dan mengkritik kekeliruan para pemimpin melalui mimbar-mimbar terbuka, tempat-tempat umum ataupun media massa, baik elektronik maupun cetak. Yang demikian itu menimbulkan fitnah. Bahkan terkadang disertai dengan hujatan dan cacian kepada orang perorang. Seharusnya, menasehati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat rahasia, sebagaimana dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasehati Utsman bin Affan, bukan dengan cara mencaci maki mereka di tempat umum atau mimbar. Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang menasehati temannya dengan rahasia, maka ia telah menasehati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasehati dengan terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan merusaknya.” Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang mukmin menasehati dengan cara rahasia; dan orang jahat menasehati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.” Syaikh bin Baz berkata, “Menasehati para pemimpin dengan cara terang-terangan melalui mimbar atau tempat-tempat umum, bukan (merupakan) cara atau manhaj Salaf. Sebab, hal itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin. Akan tetapi, (cara) manhaj Salaf dalam menasehati pemimpin yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasihat tersebut.”

Sidang jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh

Dewasa ini, kejayaan umat Islam bukan sekedar peralatan perang yang canggih ataupun jumlah tentara yang siap berperang  menegakkan agama. Melainkan terletak pada akhlak dan pengaplikasian ajaran-ajarannya yang diperoleh melalui pengajian dengan guru sesungguhnya dan referensi yang mumpuni. Memaafkan dan menjauhi arogansi merupakan bagian yang tak terlepaskan dalam Islam. Tentu dalam menyikapi kasus  ini, umat Islam mesti menunjukan sikap bijaksana sebagai bentuk pengembalian kejayaan Islam yang selama ini ternodai oleh oknum-oknum yang ingin menghancurkan Islam. Dimasa modern ini, umat Islam mesti mampu menyeimbangkan sikap dengan pengetahuan agar tidak mudah terpecah belah oleh kesalah fahaman dan bertindak.

Dewasa ini tidak baik bagi kita jika kita mempersempit makna jihad di jalan Alloh. Banyak cara dan banyak makna dalam berjihad membela agama Alloh. Menuntut ilmu, berbuat baik terhadap sesama, bahkan bekerja dengan giat pun merupakan makna jihad itu sendiri. Jihad tidak harus turun langsung ke medan perang dengan mempertaruhkan nyawa. Ingatlah saudaraku hidup ini hanya sekali selagi kita mampu dan masih diberi nikmat sehat manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya, buatlah diri berguna bagi sesama, gali potensinya untuk membantu sesama membangun ukhuwah.

Sidang jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh

Maka alangkah mulianya jika kita  memaafkan kesalahan orang lain, karena dengan memaafkan disamping tinggi kedudukan kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawan kita, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan dan tidak mustahil karena memaafkan menjadikan pintu hidayah kepada non muslim yang belum mengenal islam secara mendalam.  Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA)

Juga kita renungkan firman  Allah swt dibawah ini:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)

Berangkat dari dalil-dalil yang shorih diatas tadi maka tunggu apalagi, mari kita budayakan ikhlas memberi maaf, berani meminta maaf, terhadap sesama, terhadap keluarga, istri, orang tua, anak,saudara, orang lain bahkan terhadap non muslim. Bahkan terhadap mereka yang sangat membenci kita sekalipun. Sebab tidak ada balasan dari sifat memaafkan selain kemuliaan di sisi Allah. Karena tentu tujuan hidup kita didunia ini hanya untuk mendapat keridhoan Allah swt. Mudah-mudahan dengan memaafkan kita semua diridhai Allah swt didunia dan akhirat. Aamiin

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Login to post comments