Print this page

Nilai-nilai Hijrah Nabi di Madinah

ألحَمْدُ لِلّهِ. ألحَمْدُ لِلّهِ الذِي جَزَى العَامِلِيْنَ. وأحَبَّ الطَّائِعِيْنَ. وَأبْغَضَ العَاصِيْنَ. أشْهَدُ أنْ لاَ اِلهَ اِلااللهُ. وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ الهَادِي اِلَى صرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالمُجَاهِدِيْنَ  فِي سَبِيْلِكَ الْقَوِيْمِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اتَّقُوْاللهَ الّذِي لا اِلهَ سِوَاهُ وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ والْعِبَادَةِ. وَنَهَاكُمْ بِالظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ. فَلا يَكُوْنُ ذلِكَ اِلاَّ لِخُسْرَانِكُمْ وَهَلالِكُمْ. وَلَكِنِّ اللهَ يَرْحَمُكُمْ وَأنْزَلَ نِعَمَهُ عَلَيْكُمْ. فَأَطِيْعُوْهُ وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ. لِأَنَّ اللهَ جَزَى أَعْمَالَكُمْ. أَثَابَكُمْ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. وَعَذَّبَكُمْ بِسَيّءِ أَفْعَالِكُمْ لَ اللَّهُ تَعَالَى :أَعُوْذُبِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ثَوَاباً مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

 

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

Di hari jum’at yang penuh barokah ini, marilah kita memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semua. Memalui mimbar khutbah ini, saya menyampaikan kepada para jama’ah sekalian marilah kita bersama-sama senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Sebagai upaya meningkatkan iman dan taqwa kepadanya, mari kita coba menengok kembali sejarah masa silam. Masa perjuangan Nabi SAW dan para sahabat-sahabat beliau dalam menegakkan agama Allah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah, bahwa Nabi SAW dan para sahabat mengembangkan islam di Mekah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang quraisy menentang, mereka melakukan penganiayaan terhadap sahabat-sahabat dengan tujuan agar Nabi SAW menghentikan dakwahnya.

Makin hari kekejaman itu semakin menjadi dan kemudian mencapai puncaknya, mereka sepakat untuk menangkap dan membunuh Nabi SAW. Dalam keadaan genting itulah Rasulullah mendapat perintah hijrah kemadinah. Maka berhijrahlah beliau bersama para sahabat menuju kota yastrib, yang sekarang menjadi kota Madinah.

Peristiwa hijrah ini menjadi tonggak perjuangan umat islam untuk selanjutnya membangun masyarakat madinah yang lebih beradab, mempersatukan orang pribumi dan pendatang saling tolong menolong, gotong royong dalam membangun madinah. Peristiwa hijrah akan tetap relevan atau cocok dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu sekarang ataupun yang akan datang, nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu akan tetap kontekstual dijadikan rujukan kehidupan.

Apakah kita siap untuk hijrah? Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa’ (4): 100]

Hijrah kaum muhajirin dan Nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah adalah semata-mata karena perintah Allah.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖوَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An Nisaa’ (4): 97]

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. Mereka dipaksa oleh orang-orang Quraisy ikut bersama mereka pergi ke perang Badar untuk membantu pasukan Quraisy; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

Secara umum, kaum muslimin di Madinah berkuasa penuh sejak awal kedatangan mereka di sana tanpa ada seorang pun yang menguasai mereka. Oleh karena itu, mereka harus menghadapi tantangan hidup yang baru, mulai dari masalah ekonomi, sosial, politik, hukum, hingga masalah pemerintahan. Begitu pula penerapan ajaran Islam berupa halal dan haram, serta seluruh perintah dan larangan agama dalam segala aspek kehidupan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai membangun kota Madinah dengan melakukan tiga hal pokok yaitu: membangun masjid, mempersaudarakan antara sahabat Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai.

Peristiwa hijrah merupakan peristiwa penting yang di dalamnya tersimpan banyak hikmah yang bisa kita petik. Setidaknya, ada 3 nilai penting dari peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah yang perlu kita teladani dan transformasikan dalam kehidupan saat ini.

Pertama, transformasi keummatan (kemanusiaan). Mengingat, misi utama hijrahnya Nabi beserta kaum muslim sesungguhnya adalah untuk menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan. Karena betapa sebelum hijrah, penindasan dan kekejaman sangat sering dilakukan oleh orang-orang kaya dan para penguasa terhadap masyarakat kecil yang lemah. Oleh karenanya, hijrah dalam hal ini ditujukan untuk mewujudkan suatu tatanan sosial (kemasyarakatan) yang lebih baik.

Kemudian yang Kedua, adalah transformasi kebudayaan atau peradaban. Hijrah dalam hal ini dimaksudkan untuk mengentaskan masyarakat dari kebudayaan atau tabiat Jahiliyah menuju kebudayaan dan peradaban yang Islami

Lalu yang Ketiga, adalah transformasi keagamaan. Transformasi inilah yang sesunguhnya dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah. Persahabatan beliau dan kaum Muslim dengan kalangan non-Muslim (Ahli Kitab: Yahudi dan Nasrani) yang ada

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

            Banyak masalah-masalah yang dihadapi Indonesia di era ini, seperti konflik, pertikaian, apalagi yang berhubungan dengan agama. Beranjak dari permasalahan-permasalahan yang saat ini di hadapi Negara Indonesia, Apakah Indonesia harus berhijrah dangan merubah bentuk Kontitusi Negaranya? Akankah kita mengubah pancasila? Indonesia ini adalah hasil perjuangan dari masyarakat yang berbeda corak, eberdaulat. Dalam soal beragama, Sukarno muda menekankan perlunya masyarakat diberikan keleluasaan dalam beribadah saling menghormati satu dengan yang lain, bagaimana caranya ? yaitu dengan mengamalkan ajaran agama dengan cara berkeadaban.

            Cobaan atas toleransi keberagaman itu terus datang bertubi-tubi di era media sosial, provokasi intoleransi marak di media sosial dan rentan mengganggu sendi-sendi kerukunan masyarakat. Fenomena intoleransi dimedia sosial tak bisa dianggap remeh. Mengapa demikian ? karena informasi dimedia sosial erpotensi besar mempengaruhi opini publik, hal inilah yang mengganggu kebhinekaan. Fenomena dikota manapun ada Masjid Raya dan sebelahnya adalah Gereja, apakah ini dapat ditemukan di negara lain ? hari jum’at kita sholat jum’at di masjid, kemudian hari Munggu mereka beribada di Gereja. Saat libur Idul fitri, orang non muslim juga mudik ke kampung halaman, saat hari raya natal, imlek, nyepi, dan waisak juga kita diberikan libur untuk istirahat dalam suatu pekerjaan kita setiap hari. Kita hidup bertetangga, dengan orang non muslim malam hari melakukan ronda bersama dan pada hari minggu pagi kegiatan riutin yaitu kerja bakti kita lakukan bersama. Bukankah sungguh indah persatuan kita, sehingga kita tetap hidup damai, saling menghormati, menghargai, dan bergotong-royong ?

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa arti hijrah adalah perbaikan. Perbaikan yang diinginkan pasti yang bermanfaat untuk kehidupan disekitarnya. negara kita sudah cocok atau tepat dengan ideologi dan nilai-nilai pancasila. Indonesia yang berlandaskan bineka Tunggal ika yang bermakna indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang beranekaragam namun keseluruhannya merupakan persatuan, zaman dahulu setelah Nabi Muhammad hijrah lalu Nabi menyatukan masyrakat yang berbeda-beda agamanya.

            Keadilan sudah ditetapkan dalam Undang-Undang negara kita tanpa pandang bulu (pilih kasih), dan keputusan-keputusan hakim harus mengandung rasa keadilan, agar dipatuhi masyrakat. Warga masyrakatpun harus ditingkatkan kecintaanya terhadap hukum sekaligus mematuhi hukum tersebut. Setiap orang harus berlaku adil dalam memberikan kesaksian. Itu adalah bagian dari tanggung jawab sosial.

Ketika masyrakat timur tengah tidak bisa menerima seseorang yang berbeda madhzab dari mereka apalagi seseorang yang berbeda agama dengan dirinya, apalagi dilingkungan mereka. Maka dari itu mereka saling berperang. Coba, kita lihat di negara kita ini. Betapa indahnya perdamaian di negara Indonesia ini. Bahkan kita bisa bertetangga dengan seseorang yang agamanya non islam atau agamanya berbeda dengan kita, bertetangga secara baik tanpa ada permusuhan.

            Hadirin yang dirahmati Allah itulah nilai-nilai yang harus kita pertahankan dengan kuat, jangan sampai negara kita yang sudah jelas dasarnya ini dimasuki atau di obrak-abrik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang-orang yang ekstrem yang membuat kekacauan di negara Indonesia ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم

Login to post comments