Pesantrenforpeace.com - [Solo, 17-19 /10] Akhir-akhir ini Indonesia dikejutkan dengan beberapa peristiwa kekerasan, pemboman aksi terorisme yang terjadi di beberapa tempat. Mulai dari peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua, bom bunuh diri di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur, aksi penyerangan di Mapolda Riau dan penangkapan teroris di berbagai tempat. Rangkaian aksi terorisme ini telah menelan puluhan korban jiwa dan luka-luka dari aparat polisi dan warga sipil.

Fakta di atas, menunjukkan bahwa ideologi ekstremisme dan terorisme masih ada dan terpelihara di negeri ini, begitu pula jaringan terorisme masih eksis dan bahkan berhasil memperluas cakupan, memperbaiki cara dan metodenya, dan memperbanyak pengikutnya. Hasil penelitian CSRC dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih-benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai di sebagian anak-anak muda milenial, tidak terkecuali kalangan terpelajar dan mahasiswa. Penyebaran ideologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos. Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ideologi ekstremisme adalah tugas yang berat. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Menurut Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI) mengatakan bahwa perekrutan teroris saat ini banyak dilakukan melalui media sosial, pertemanan, dan perkawinan. Penyebaran ekstremisme masuk ke lembaga pendidikan mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi  negeri dan swasta. Lebih jauh Hamli mengatakan bahwa yang rentan terpengaruh ideologi radikal adalah anak-anak, ibu-ibu, PTN, SD, SMP, SMA.

Hasil Penelitian Faisal Nurdin Idris (Peneliti CSRC) menunjukkan bahwa narasi ekstremisme menyebar salah satunya melalui jalur media (komunikasi) yang mencakup media cetak, elektronik, dan online, buletin, majalah, selebaran, dan blog. Jalur ini merupakan faktor eksternal yang membentuk pemahaman dan pengetahuan seseorang. Dengan adanya respon yang kemudian diolah oleh otak dan jiwa manusia, maka hasil olahan tersebut akan melahirkan tindakan. Tindakan tersebut tergantung dari stimulus yang masuk kepada otak dan pikiran manusia. Jika narasi yang disebarkan adalah kebaikan, maka respon dan tindakan dari sang penerima narasi juga akan baik, demikian juga sebaliknya.

Menurut Faisal, narasi-narasi yang dibangun dan disebarkan oleh kelompok radikal adalah narasi kebencian seperti kebencian terhadap Yahudi dan Nasrani, kebencian terhadap Ahmadiyah dan Syiah, anti terhadap demokrasi, dan pentingnya penegakan syariat Islam. Narasi-narasi tersebut dibangun atas dasar narasi lain seperti adanya ketidakadilan dalam bidang ekonomi, dalam kekuasaan, dan imperialisme dari negara-negara Barat. Narasi-narasi tersebut terus dihembuskan, dikumandangkan, diajarkan, dan didoktrinkan melalui media sosial, pengajian-pengajian, seminar-seminar, dan diksusi-diksusi rutin. Dengan cara-cara tersebut, maka kemudian membentuk satu kesadaran yang menjadi keyakinan, dan keyakinan ini selanjutnya menjadi ideologi yang mendorong setiap orang yang meyakininya untuk bertindak, memerangi orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan keyakinannya tersebut.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa narasi ekstremisme disebarkan secara masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstremisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan media-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk mencegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstremis.

CSRC UIN Jakarta dan KAS ditahun 2018 mengembangkan sebuah program “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Pondok Pesantren dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui kontra narasi ekstremis dengan target capaian sebagai berikut: pertama, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan ustadz/ustadzah dan santri di Pesantren dalam melakukan analisis konten narasi ekstremis, serta mengajarkan mereka metode penyampaiannya kepada masyarakat. Kedua, meningkatnya pengetahuan keterampilan ustadz/ustadzah dan santri di Pondok Pesantren dalam menyuarakan narasi-narasi keislaman yang damai dan melakukan kontra narasi ekstremis  melalui khutbah, ceramah, di media sosial dan media online.

Untuk mencapai tujuan di atas, pada bulan Maret-Juni 2018 melakukan penelitian dan penulisan modul. Penilitian dilakukan dengan melakukan pemetaan narasi ekstrimis dan kontra narasi ekstrimis di media online dan off-line. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisa bentuk-bentuk berbeda dari pesan dan narasi ekstremis yang telah disuarakan melalui website dan sosial media, serta bentuk media lain seperti majalah, buletin dan karya sastra. Riset ini fokus dalam menganalisa konten dari narasi tersebut, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan. Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam menanggulangi permasalahan ini dan juga menganalisa ciri dan karakteristik konten tersebut dan alat-alat komunikasinya. Hasil penelitian ini menjadi bahan untuk memperkuat desain modul dari pengembangan materi training sebelumnya. Setelah penelitian program dilanjutkan dengan pengembangan modul kontra narasi ekstremis. Modul dibuat berdasarkan rekomendasi dari temuan penelitian khususnya bagaimana menyusun kontra narasi yang efektif dan strategi penyampaiannya di media sosial dan online. Disamping itu, modul juga dibuat secara praktis dan mudah dipahami oleh ustadz/ustadzah pesantren. Setelah penulisan modul dilanjutkan dengan Training of Traniners (ToT) dan micro-teaching bagi ustadz/ustadzah pesantren. Program ini telah memproduksi trainer kontra narasi ekstrimis dari kalangan pesantren yang akan menjadi trainer dalam training-traning yang akan berlangsung datang.

Menindak lanjuti program di atas, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Edi Mancoro Semarang dan dengan dukungan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) mengadakan Training bagi ustadz/ustadzah muda pesantren tentang “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Kegiatan ini merupakan ikhtiar CSRC, Pondok Pesantren Edi Mancoro, dan KAS untuk memutus menguatnya narasi-narasi ekstremis dengan melakukan kontra narasi dengan cara menyebarkan dan mempromosikan pemahaman yang memiliki nilai inklusif, toleran, saling menghargai antar sesama.

Tujuan Training ini antara lain meningkatkan kesadaran ustadz/ustadzah muda akan bahaya ideologi ekstremis, meningkatkan pengetahuan ustadz/ustadzah muda dalam mengenali narasi ekstremis, serta meningkatkan keterampilan ustadz/ustadzah muda dalam menyusun kontra narasi ekstremis melalui Khutbah, Ceramah dan di media online.

Para trainer muda yang terlibat dalam training ini diantaranya: Muhammad Hanif (PP. Edi Mancoro Semarang), Fahsin M. Faal (PP. Kyai gading Demak), Cholilullah (PP. Asnawiyah Demak), Aris Rofiqi (PP Mahasiswa An-Nur Semarang), Alfiatu Rohmah (PP. Edi Mancoro Semarang), serta Nasif Ubbadah (PP. Al-Muntaha Salatiga). Hadir pula sebagai supervisor training Irfan Abubakar, MA. (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Muchtadlirin (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

30 unstad/ustadzah muda se-Surakarta dan sekitarnya sangat antusias dalam training yang diselenggarakan di Hotel Novotel Solo, 17-19 Oktober 2018 ini, bahkan mereka turut meramaikan instagram @pesantren4peace dengan hastag #pesantrenforpeace , #pesantrenforpeacesolo dan #kontranarasiekstremis [LH]

 

Pesantrenforpeace.com - [Solo, 17-19 /10] Akhir-akhir ini Indonesia dikejutkan dengan beberapa peristiwa kekerasan, pemboman aksi terorisme yang terjadi di beberapa tempat. Mulai dari peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua, bom bunuh diri di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur, aksi penyerangan di Mapolda Riau dan penangkapan teroris di berbagai tempat. Rangkaian aksi terorisme ini telah menelan puluhan korban jiwa dan luka-luka dari aparat polisi dan warga sipil.

Fakta di atas, menunjukkan bahwa ideologi ekstremisme dan terorisme masih ada dan terpelihara di negeri ini, begitu pula jaringan terorisme masih eksis dan bahkan berhasil memperluas cakupan, memperbaiki cara dan metodenya, dan memperbanyak pengikutnya. Hasil penelitian CSRC dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih-benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai di sebagian anak-anak muda milenial, tidak terkecuali kalangan terpelajar dan mahasiswa. Penyebaran ideologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos. Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ideologi ekstremisme adalah tugas yang berat. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Menurut Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI) mengatakan bahwa perekrutan teroris saat ini banyak dilakukan melalui media sosial, pertemanan, dan perkawinan. Penyebaran ekstremisme masuk ke lembaga pendidikan mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi  negeri dan swasta. Lebih jauh Hamli mengatakan bahwa yang rentan terpengaruh ideologi radikal adalah anak-anak, ibu-ibu, PTN, SD, SMP, SMA.

Hasil Penelitian Faisal Nurdin Idris (Peneliti CSRC) menunjukkan bahwa narasi ekstremisme menyebar salah satunya melalui jalur media (komunikasi) yang mencakup media cetak, elektronik, dan online, buletin, majalah, selebaran, dan blog. Jalur ini merupakan faktor eksternal yang membentuk pemahaman dan pengetahuan seseorang. Dengan adanya respon yang kemudian diolah oleh otak dan jiwa manusia, maka hasil olahan tersebut akan melahirkan tindakan. Tindakan tersebut tergantung dari stimulus yang masuk kepada otak dan pikiran manusia. Jika narasi yang disebarkan adalah kebaikan, maka respon dan tindakan dari sang penerima narasi juga akan baik, demikian juga sebaliknya.

Menurut Faisal, narasi-narasi yang dibangun dan disebarkan oleh kelompok radikal adalah narasi kebencian seperti kebencian terhadap Yahudi dan Nasrani, kebencian terhadap Ahmadiyah dan Syiah, anti terhadap demokrasi, dan pentingnya penegakan syariat Islam. Narasi-narasi tersebut dibangun atas dasar narasi lain seperti adanya ketidakadilan dalam bidang ekonomi, dalam kekuasaan, dan imperialisme dari negara-negara Barat. Narasi-narasi tersebut terus dihembuskan, dikumandangkan, diajarkan, dan didoktrinkan melalui media sosial, pengajian-pengajian, seminar-seminar, dan diksusi-diksusi rutin. Dengan cara-cara tersebut, maka kemudian membentuk satu kesadaran yang menjadi keyakinan, dan keyakinan ini selanjutnya menjadi ideologi yang mendorong setiap orang yang meyakininya untuk bertindak, memerangi orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan keyakinannya tersebut.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa narasi ekstremisme disebarkan secara masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstremisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan media-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk mencegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstremis.

CSRC UIN Jakarta dan KAS ditahun 2018 mengembangkan sebuah program “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Pondok Pesantren dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui kontra narasi ekstremis dengan target capaian sebagai berikut: pertama, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan ustadz/ustadzah dan santri di Pesantren dalam melakukan analisis konten narasi ekstremis, serta mengajarkan mereka metode penyampaiannya kepada masyarakat. Kedua, meningkatnya pengetahuan keterampilan ustadz/ustadzah dan santri di Pondok Pesantren dalam menyuarakan narasi-narasi keislaman yang damai dan melakukan kontra narasi ekstremis  melalui khutbah, ceramah, di media sosial dan media online.

Untuk mencapai tujuan di atas, pada bulan Maret-Juni 2018 melakukan penelitian dan penulisan modul. Penilitian dilakukan dengan melakukan pemetaan narasi ekstrimis dan kontra narasi ekstrimis di media online dan off-line. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisa bentuk-bentuk berbeda dari pesan dan narasi ekstremis yang telah disuarakan melalui website dan sosial media, serta bentuk media lain seperti majalah, buletin dan karya sastra. Riset ini fokus dalam menganalisa konten dari narasi tersebut, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan. Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam menanggulangi permasalahan ini dan juga menganalisa ciri dan karakteristik konten tersebut dan alat-alat komunikasinya. Hasil penelitian ini menjadi bahan untuk memperkuat desain modul dari pengembangan materi training sebelumnya. Setelah penelitian program dilanjutkan dengan pengembangan modul kontra narasi ekstremis. Modul dibuat berdasarkan rekomendasi dari temuan penelitian khususnya bagaimana menyusun kontra narasi yang efektif dan strategi penyampaiannya di media sosial dan online. Disamping itu, modul juga dibuat secara praktis dan mudah dipahami oleh ustadz/ustadzah pesantren. Setelah penulisan modul dilanjutkan dengan Training of Traniners (ToT) dan micro-teaching bagi ustadz/ustadzah pesantren. Program ini telah memproduksi trainer kontra narasi ekstrimis dari kalangan pesantren yang akan menjadi trainer dalam training-traning yang akan berlangsung datang.

Menindak lanjuti program di atas, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Edi Mancoro Semarang dan dengan dukungan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) mengadakan Training bagi ustadz/ustadzah muda pesantren tentang “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Kegiatan ini merupakan ikhtiar CSRC, Pondok Pesantren Edi Mancoro, dan KAS untuk memutus menguatnya narasi-narasi ekstremis dengan melakukan kontra narasi dengan cara menyebarkan dan mempromosikan pemahaman yang memiliki nilai inklusif, toleran, saling menghargai antar sesama.

Tujuan Training ini antara lain meningkatkan kesadaran ustadz/ustadzah muda akan bahaya ideologi ekstremis, meningkatkan pengetahuan ustadz/ustadzah muda dalam mengenali narasi ekstremis, serta meningkatkan keterampilan ustadz/ustadzah muda dalam menyusun kontra narasi ekstremis melalui Khutbah, Ceramah dan di media online.

Para trainer muda yang terlibat dalam training ini diantaranya: Muhammad Hanif (PP. Edi Mancoro Semarang), Fahsin M. Faal (PP. Kyai gading Demak), Cholilullah (PP. Asnawiyah Demak), Aris Rofiqi (PP Mahasiswa An-Nur Semarang), Alfiatu Rohmah (PP. Edi Mancoro Semarang), serta Nasif Ubbadah (PP. Al-Muntaha Salatiga). Hadir pula sebagai supervisor training Irfan Abubakar, MA. (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Muchtadlirin (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

30 unstad/ustadzah muda se-Surakarta dan sekitarnya sangat antusias dalam training yang diselenggarakan di Hotel Novotel Solo, 17-19 Oktober 2018 ini, bahkan mereka turut meramaikan instagram @pesantren4peace dengan hastag #pesantrenforpeace , #pesantrenforpeacesolo dan #kontranarasiekstremis [LH]

 

Pesantrenforpeace.com - [14-16/09] Sejak Juli 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) mengembangkan sebuah program “Kontra Narasi Ekstremis”. Pada tahun 2018 program tersebut dikemas dalam tema “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan Ustadz/Ustadzah Pesantren dalam menyuarakan perdamaian, toleransi dan Hak Asasi Manusia melalui kontra narasi ekstremis melalui khutbah, ceramah, di media online dan media sosial.

Program Kontra Narasi Ekstremis telah menyelesaikan rangkaian kegiatan mulai dari penelitian, penulisan modul dan Training of Trainers (ToT). Hasil penelitian sebagai bahan untuk memperkuat konten, fasilitasi dan bentuk modul yang sesuai dengan kebutuhan pesantren. Karena itu, modul dibuat berdasarkan rekomendasi dari temuan penelitian khususnya bagaimana menyusun kontra narasi yang efektif dan strategi penyampaiannya melalui khutbah, ceramah, di media sosial dan online. Setelah modul selesai pada tanggal 7-9 Agustus 2018 yang lalu diadakan Training of Traniners (ToT) bagi ustadz/ustadzah pesantren tentang “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Program ini dimaksudkan untuk memproduksi trainer kontra narasi ekstremis yang disiapkan untuk menjadi trainer dalam training-traning yang akan datang.

Berdasarkan hasil supervisi dan pemantauan tim manajeman terhadap proses Training of Terainers tersebut, ustadz/ustadzah telah memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya khususnya dalam memahami narasi ekstremis dan menyusun kontra narasi ekstremis. Tetapi ada konsep-konsep dasar yang perlu ditingkatkan wawasan dan pengetahaun 30 calon trainer dalam memahami kata-kata kunci penting yang dikembangkan dalam ideologi ekstremis. Kata-kata kunci tersebut seperti: Jihad di masa damai, Hijrah ke Darul Islam,  Ideologi takfir, al-Wala wal Barra, ilusi Khilafah Islamiyah, menuduh Thoghut kepada pemerintah muslim.

Untuk memudahkan para ustadz/ustadzah memahami narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis, konten modul akan ditambahkan dengan konsep-kosep dan materi penting. Pertama, penambahan Glossary kata-kata kunci di atas terutama dalam materi ideologi ekstremis. Kedua, dalam materi narasi ekstremis  akan ditambahkan dengan materi singkat bagaimana mengidentifikasi ciri-ciri narasi ekstremis secara cepat dan tepat. Ketiga, materi kontra narasi ekstremis akan ditambahkan contoh-contoh kontra narasi ekstremis terhadap ide ekstremis yang spesifik dan akan berikan contoh-contoh narasi induk secara singkat untuk kontra narasi ekstremis. Masukan pengembangan modul ini didapatkan dari masukan penting dalam ToT yang menjadi dasar dan referensi dalam melakukan perbaikan dan penyempurnaan modul.                              

Berdasarkan hasil evaluasi peserta memperlihatkan bahwa pelaksanaan ToT cukup berhasil berdasarkan penilaian pada konten training, proses, trainer, fasilitator dan tujuan yang ingin dicapai dalam traning. Salah satu indikator keberhasilan training dapat dilihat dari tartget capaian yang hendak dicapai dalam training. Hasil evaluasi peserta menunjukkan bahwa: pertama, ustadz/ustadzah merasakan peningkatan 80% pengetahuan tentang perdamaian, toleransi, HAM dan penyusunan Kontra Narasi Ekstrimis yang efektif melalui khutbah, ceramah maupun di media online. Kedua, sangat meningkatkan 93,3% keterampilan ustadz/ustadzah tentang materi, teknik-teknik fasilitasi dan keterampilan untuk menjadi trainer kontra narasi ekstrimis dengan pendekatan partisipatori.

 

Namun Peningkatan pengetahuan dan keterampilan ini belum diimbangi dengan praktek fasilitasi yang memadai. Berdasarkan kesan dan pesan peserta hampir semuanya merasa kurang maksimal dalam sesi praktek terutama praktek kelas besar perwakilan dari materi training berdasarkan masing-masing kelompok. Hal ini terjadi karena hanya ada satu sesi selama dua jam untuk mempraktekan 6 sesi penting mulai dari sesi perdamaian dalam Islam, Ideologi Ekstremis, Narasi Ekstremis dan daya pikatnya, Kontra Narasi Ekstremis, menyusun kontra narasi ekstremis dan Praktek Menyusun Kontra Narasi. Tidak mungkin akan dapat mempraktikkan materi secara baik dalam alokasi waktu yang sangat terbatas.

 

Hasil evaluasi menunjukkan perlunya untuk memberikan waktu yang cukup terhadap Ustadz/ustadzah sebagai calon trainer untuk mempraktekkan sesi materi modul sesuai dengan konten, kisi-kisi, metode dan alokasi waktu berdasarkan tanggungjawab sesinya masing-masing. Oleh karenanya Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) akan mengadakan Microteaching “Kontra Narasi Ekstrimis: Suara Pesantren untuk Perdmaian dan Toleransi”. Program ini dimaksudkan untuk memproduksi trainer kontra narasi ekstremis yang mumpuni dan trampil dalam training-training yang akan datang.

Tujuan kegiatan micro teaching ini untuk meningkatkan pengetahuan ustadz/ustadzah pesantren tentang perdamaian, toleransi, HAM dan penyusunan Kontra Narasi Ekstremis, mempraktekkan materi-materi modul kontra narasi ekstremis secara nyata sebagai proses latihan berbagai keterampilan dasar training partisipatori, serta mencetak Ustadz/ustadzah sebagai trainer yang berkompeten, berkualitas dan terampil menjadi trainer kontra narasi ekstrimis dengan pendekatan partisipatori dalam training yang akan datang.

Program microteaching ini memfokuskan sesi praktek sebagai proses latihan secara nyata bagi para ustadz/ustadzah sebagai calon trainer kontra narasi ekstremis. Setelah pembukaan calon trainer dan peserta akan dibagi kedalam 3 kelompok. Masing masing kelompok dihadiri 10 peserta ustad/ustadzah muda pesantren dari Bandung dan sekitarnya yang secara sengaja dihadirkan untuk memaksimalkan hasil praktek fasilitasi yang didasampaikan oleh calon trainer tersebut. Sementara trainer akan juga dibagi berdasarkan kelompok berdasarkan semua sesi training. Di setiap kelompok secara paralel calon trainer mempraktekkan materi dari sesi pertama hingga sesi akhir yaitu: Pertama, Niai-nilai damai dalam Islam. Kedua, ideologi ekstrimis. Ketiga, memahami narasi ekstrimis dan daya pikatnya. Keempat, memahami kontra narasi ekstrimis. Kelima, Penyusunan kontra narasi ekstrimis. Keenam, praktek penyusunan kontra narasi ekstrimis, Ketujuh, praktek penyampaian kontra narasi ekstremis. Penyampaian materi sepenuhnya perpedoman pada modul yang sudah disiapkan baik dari sisi konten, metode dan langkah-langkah fasilitasi dalam modul. Praktek di masing-masing kelompok akan dimonitoring oleh 1 orang supervisior yang akan mensupervisi dengan menggunakan tools monitoring yang sudah disiapkan oleh tim manajeman.

 

Hadir dalam acara ini Dr. TB Ace Hasan Syadzily, M.Si (Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI) sebagai keynote speaker; serta Irfan Abubakar, MA. (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Alamsyah M. Djafar (Wahid Foundation), dan Muchtadlirin (CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) sebagai supervisor yang mensukseskan acara ini. Trainer dalam Microteaching ini adalah 30 unstad/ustadzah dari 5 provinsi se-Pulau Jawa: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Juga diikuti oleh 30 peserta ustadz/ustadzah muda pesantren se-Bandung Raya dengan kriteria: Ustadz/Ustadzah muda Pondok Pesantren, Berusia antara 18-25 tahun, Memiliki jiwa kepemimpinan dan dakwah, Memiliki motivasi yang kuat untuk mengembangkan diri, dan Bersedia untuk mengikuti microteacing dari awal sampai akhir dan menginap di hotel pada tanggal 14-16 September 2018.

Monday, 04 June 2018 00:00

Azyumardi Azra: Radikalisme di Perguruan Tinggi

Written by

Keluarga Besar Pesantren for Peace menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya:

 

Hj. Siti Aizzah

Binti

Malik

 

Ibunda Ustadz Muhammad Afthon Lubbi Nuriz

(Pondok Pesantren Darunnajah 8 Cidokom, Jawa Barat)

 

Semoga Almarhumah diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dilipat gandakan pahala dari semua amal kebaikannya. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan lahir dan bathin, diteguhkan iman dalam menghadapi cobaan ini. Amin

Pesantrenforpeace.com - [25/5] Pola dan sistem pergerakan terorisme sudah menyebar di seluruh provinsi di Indonesia dan tidak hanya terbatas pada tempat-tempat tertentu sebagaimana yang teridentifikasi selama ini seperti Bogor, Tangerang, Solo, dan Jakarta. Dengan masifnya paham ekstremisme dan meningkatnya tindakan teror,  dibutuhkan cara-cara khusus dan kerjasama seluruh elemen masyarakat baik pemerintah, pihak kepolisian, tokoh agama dan masyarakat untuk menanggulanginya. Perlu upaya dan kerjakeras untuk memasyarakatkan pemahaman kegamaan yang inklusif, ramah, damai dan harmonis sebagaimana yang dikembangkan di pesantren-pesantren. Dalam rangka inilah, Aliansi Pesantren for Peace dan Center for the Study of Religion and Cultural (CSRC) UIN syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan seminar dengan judul, “Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstremisme/Terorisme.”


Program ini bertujuan untuk mendiskusikan dan mengurai problem dalam upaya mencari solusi terhadap aksi terorisme, dan sekaligus menguatkan kapasitas institusi Pondok Pesantren di Indonesia dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui pencegahan terhadap wacana kekerasan ekstremisme.


Kegiatan ini  dirangkai dalam bentuk Seminar Naional yang  menghadirkan pembicara dari berbagai unsur seperti akademisi, pihak kepolisian, dan pesantren. yaitu: Prof. Dr. Azyumardi Azra (Cendikiawan Muslim Indonesia); Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI); KH. Jazilus Sakhok, Ph.D (Koordinator Aliansi PfP/PP. Sunan Pandanaran); dan Irfan Abubakar, MA. (Direktur CSC UIN Jakarta). 

Peserta yang hadir dalam seminar ini terdiri dari berbagai unsur, diantaranya: Aliansi Pesantren for Peace (PfP); Pesantren-pesantren di Jadebotabek; Lembaga-lembaga pendidikan Islam; Lembaga pemerintah (Kemenag/ kemendikbud/ kemenristekdikti); Aktivis Perdamaian; NGO; dan Media.

Seminar ini dilaksanakan di Hotel Cemara 2 Jakarta Pusat, jumat (25/5). Dalam seminar ini dibacakan deklarasi dan sikap dari Aliansi pesantren dalam menolak kekerasan atas nama agama dan terorisme serta pentingnya untuk membangun pemahaman yang toleran dan damai. [LH]

 

 

Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme

"PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua (paham radikalisme), dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi," kata Hamli dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/5).

BNPT membeberkan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal.

Dia menjelaskan pola penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan saat ini sudah berubah. Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme.

"PTN dan PTS yang banyak kena itu di fakultas eksakta dan kedokteran," ungkap Hamli.

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra punya cerita serupa. Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta bahkan menyebut kampus sebagai tempat bersarang paham radikal.

"Sarang terorisme itu justru di perguruan tinggi umum. Kalau kita lihat gejalanya memang menganut paham radikalisme," ucap Azyumardi di tempat yang sama.


Azyumardi juga menceritakan pengalaman putrinya di UI yang kerap diajak bergabung oleh kelompok mahasiswa yang ia duga berpaham radikal.

"Putri saya gagal direkrut karena sering kontak bapaknya," ucap sang profesor dengan sedikit bercanda.

Azyumardi meminta pemerintah membenahi lingkungan kampus. Salah satu cara yang ia usulkan adalah melatih kembali tenaga pengajar soal nilai kebangsaan.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180525210629-12-301431/bnpt-kedokteran-dan-eksakta-di-7-ptn-terpapar-radikalisme

Monday, 28 May 2018 00:00

SEMINAR PENANGGULANGAN TERORISME

Written by

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azumardi Azra (kedua dari kanan) bersama Koordinator Aliansi PFP/PP Sunan Pandanaran Jazilus Sakhok (kanan), Direktur Penceghan Terorisme BNPT RI Brigjen Pol Hamli (kedua dari kiri), Direktur CSRC UIN Jakarta Irfan Abubakar (kiri) dan Wakil Ketua Komisioner Perlindungan Anak Indonesia Rita Pranawati (tengah) menjadi pembicara dalam seminar Peran Pemerintah dan Pesantren Dalam Penanggulangan Ekstrenmisme/ Trorisme di Jakarta, Jumat (25/5). Dalam pemaparannya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azumardi Azra mengatakan penyebaran faham radikal bukannya hanya melalui pesantran yang ajarannya menyimpang, namu tidak sedikit Universitas-universitas ternama menjadi lahan tenpat penyebaran faham radikal ditambah ada pengajar yang juga terpapar faham radikal. MI/M IRFAN/Ole

 

Sumber: http://m.mediaindonesia.com/galleries/detail_galleries/7821-seminar-penanggulangan-terorisme

Media-merdeka.com- Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra menyarankan universitas-universitas di Indonesia harus mengadakan pendidikan kilat guna mengurangi paham radikalisme di lingkungan kampus.

Azyumardi mengatakan harus ada keselarasan diantara nilai keislaman dan kebangsaan karena masih banyak yang tidak bisa menjalankan keduanya secara bersamaan.

“Karena masih banyak yang mempertentangkan keimanan, keagamaan dan ke-Indonesiaan,” kata Azyumardi di acara diskusi bertajuk ‘Peran Pemerintah dalam Penanggulangan Ekstremisme / Terorisme’ di Hotel Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat, Jumat (25/4/2018).

“Saya kira guru dan dosen, khususnya bidang ilmu alam. Banyak dosen atau gurunya berpaham radikal. Kita lihat dalam kasus bom bunuh diri itu banyak sekali kecurigaan bahwa itu rekayasa. Dan di kalangan dosen umum terkenal menganggap rekayasa dari pemerintah,” ujar Azyumardi.

Lebih lanjut, Azyumardi menyebut para pendidik tersebut tidak pernah mendapatkan pendidikan soal kebangsaan.

“Paling tidak, mereka menerima saat pendidikan pra-jabatan PNS. Setelah itu berpuluh tahun tidak lagi dapat materi soal Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika mengenai NKRI. Makanya sebagian dari mereka terpapar paham paham praktis transnasional yang radikal,” ketusnya.

Oleh karena itu, ia terus mendorong Kemenristek Dikti, Kemdikbud dan Kemenag untuk menfasilitasi keperluan tersebut. Sebelumnya, Azyumardi mengaku sudah meminta kepada tiga kementerian tersebut, akan tetapi belum ada respon sama sekali.

“Makanya, untuk pendidikan, tiga kementerian itu bertanggungjawab. Saya sudah usulkan berkali-kali namun belum direalisasikan,” pungkasnya.

 

Sumber: https://media-merdeka.com/2018/saran-guru-besar-uin-untuk-pangkas-paham-radikal-di-kampus.html

Liputan6.com, Jakarta Direktur Pencegahan Terorisme BNPT Brigen Pol Hamli mengatakan, perekrutan teroris banyak dilakukan di media sosial (medsos).

"Jadi sosial media itu hati-hati, terutama Facebook itu harus diawasi, terutama untuk anak-anak main medsos dalam kamar, bisa ngobrolnya bisa sampai Raqa (Suriah) sana," ujar Hamli dalam diskusi soal pencegahan terorisme di Jakarta Pusat, Jumat 25 Mei 2018.

Selain media sosial, cara umum perekrutan teroris dilakukan dengan pertemanan dan perkawinan.

"Jadi tahun 2000 sampai 2012 itu banyak dari pertemanan, seperti di Surabaya itu satu kelompok. Lalu perekrutan lewat perkawinan, seperti pelaku bom panci di Istana yang dilakukan oleh seorang perempuan," jelas jenderal bintang satu ini.

 

Sumber: https://m.liputan6.com/news/read/3539484/bnpt-sebut-perekrutan-teroris-banyak-lewat-media-sosial

Page 1 of 16