Training Peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam kembali dilaksanakan di JABODETABEK. Training ini merupakan training untuk para santri yang ke-8 dari 10 rangkaian training yang dilaksanakan di 5 provinsi (Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan DKI Jakarta dan sekitarnya).

Training yang di laksanakan di Hotel IBIS Gading Serpong kali ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari 29 Pesantren di wilayah JABODETABEK. Para santri yang mengikuti kegiatan ini berusia antara 17-22 tahun dengan komposisi 14 laki-laki dan 15 perempuan. Training ini semestinya dihadiri oleh 30 peserta dari pondok pesantren yang berbeda, namun karena ada salah satu pesantren yang berkendala hadir, akhirnya training ini hanya diikuti oleh 29 peserta.

Kali ini, para trainer yang memfasilitasi training lebih kreatif dalam menyampaikan materi dibanding training sebelumnya. Metode yang digunakan berhasil membuat seluruh peserta aktif dan argumentatif dalam tiap sesinya. Bahkan mereka berhasil menggugah peserta untuk berkomitmen menjadi “Duta Perdamaian”, yang kemudian mereka nyatakan dalam sebuah “Ikrar Perdamaian”.

Selama 4 hari (23-26/02/2016), para peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis mengenai perdamaian berperspektif HAM dan Islam, namun juga diajak untuk berinteraksi langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dalam sebuah agenda fieldtrip di penghujung training. Fieldtrip ini dilakukan dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Gereja Paroki Santa Bernadeth Ciledug untuk mengetahui kekerasan yang dialami mereka serta dampaknya terhadap jemaat Gereja tersebut selama ini; bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut; serta upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh Gereja Paroki Santa Bernadeth sendiri atau pihak lain baik Pemerintah maupun masyarakat (swasta) atas kasus dimaksud.

Salah seorang Peserta dari Pondok Pesantren Al-Ghazali Bogor, Azaria Hashina mengaku sangat terkesan dengan training ini, banyak hal-hal yang pada awalnya tidak ia mengerti ketika disekolah, tapi akhirnya dia bisa memahaminya dalam training ini. “Dengan metode permainan yang menarik, materi-materi yang sulit dipahami hanya dengan membaca buku menjadi sangat mudah dan kami bisa langsung menerapkannya” ungkap Azaria.

Di malam terakhir training, tepatnya malam sebelum keberangkatan field trip, para peserta diajarkan bagaimana cara menyelesaikan konflik secara damai dengan metode Role Play, dalam role play kali ini, tema yang diangkat yaitu tentang LGBT. Peserta dari Pondok Pesantren Daar El Qolam, Ismy Nur Arfah, mengaku sangat terkesan dengan metode-metode dari para trainer, sehingga saat dia berperan sebagai salah seorang LGBT yang diperlakukan secara kriminal oleh warga setempat, disitulah dia memahami hakikat resolusi konflik secara damai. “kata-kata untuk Pesantren for Peace: Pesantren for Peace lebih bisa memahami apalah arti sebuah perbedaan” ungkap Ismy.

Pada Penutupan Training, semua peserta dinobatkan sebagai “Duta Perdamaian” yang dikukuhkan secara simbolis dengan penyematan pin oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, kepada perwakilan peserta Training ini. [LH]