Pesantrenforpeace.com – Pondok pesantren Darut Tauhid, Surabaya, telah berhasil menggelar seminar Local Day of Human Rights sebagai implementasi dari program Dana Hibah Pesantren for Peace dengan tema “Toleransi dan HAM dalam perspektif Islam serta menyelesaikan konflik secara damai”. Ini merupakan pengalaman baru bagi pondok pesantren Salaf ini. Banyak ilmu yang didapat serta pengalaman bagaimana merencanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan suatu kegiatan.

Seminar yang diselenggarakan pada tanggal 20 Agustus 2016 di Aula Pondok Pesantren Darut Tauhid ini bertujuan untuk meningkatkan peran pesantren  dalam rangka mempromosikan dan mengadvokasikan nilai-nilai toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai sesuai Maqasid al-Syari’ah. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 peserta yang berasal dari beragam kalangan, diantaranya ada perwakilan dari pondok pesantren sekitar Surabaya, TPQ, serta beberapa organisasi masyarakat (Muhammadiyah, Jami’ah, LDII, dll).

Sekretaris program Pesantren for Peace, Muchtadlirin sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini. Melalui sambutannya, ia menyampaikan bahwa kehadiran Pesantren for Peace adalah untuk lebih meningkatkan peran pesantren dalam penyelesaian konflik dengan cara-cara damai. Konflik sosial yang seringkali terjadi tak jarang melibatkan varian agama sebagai pemantiknya. Di situlah diharapkan pesantren dapat mengambil peran. Karenanya, acara-acara seperti ini menjadi momentum yang sangat relevan.

Dalam sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Kyai Martiman. S.Pd.I mengungkapkan bahwa kegiatan seminar seperti ini sangat penting diketahui oleh ustadz/ustadzah pesantren, karena dengan seminar ini pesantren akan lebih bisa berinteraksi dengan masyarakat secara luas serta bisa ikut serta dalam mempromosikan toleransi dan HAM.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, 3 orang perwakilan santri, Ainun Nafisah, Ahmad Sodiq, dan Moch. Syaifullah yang sebelumnya telah mengikuti Pelatihan “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif Islam dan HAM”. Di samping itu ketiganya juga turut serta dalam kunjungan dan Dialog dengan Kantor Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM - SURABAYA) dan CIMARS – SURABAYA pada 11 September 2015 serta berdialog langsung dengan Korban Pengungsi Syi’ah Sampang pada 7 Januari 2016. Materi hasil kunjungan dan dialog inilah yang mereka paparkan.

Hadir pula sebagai narasumber pembanding, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Chabib Musthofa, S.Sos.I, M.S.i yang menjelaskan perihal Pesantren dan Implementasi Sikap Tasamuh (Toleransi).

“Islam adalah rahmatan lil-alamin yang mampu membawa keselamatan bukan hanya bagi pemeluknya, namun juga pemeluk agama lain. Lima prinsip penentuan hukum Islam (fikih) menjadi bukti betapa Islam menghargai keyakinan dan nyawa manusia. Islam menganjurkan umatnya untuk menjaga agama (hifdz al-din), menjaga jiwa (hifdz al-nafs), menjaga akal (hifdz al-aql), menjaga keturunan (hifdz al-nasl), dan menjaga harta (hifdz al-mal). Karena itu, bagi tiap muslim, berlaku kode etik untuk melestarikan agama mulia tersebut dengan panduan prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari,” papar Chabib Musthofa.

Para peserta sangat antusias dengan acara seminar Toleransi dan HAM ini karena bagi mereka kegiatan ini merupakan pengalaman baru dengan tema yang menarik pula. “Saya sudah sering ikut seminar tapi baru kali ini ikut seminar bertemakan HAM. Jadi saya sangat tertarik ingin tahu tentang HAM”, demikian pengakuan salah seorang peserta.

Di akhir seminar para peserta berharap agar tidak hanya pesantren atau Ormas Islam saja yang ikut dalam kegiatan seperti ini, namun perlu juga dari kalangan pemerintah diikutkan dan turut andil dalam seminar semacam ini karena di tangan merekalah kebijakan berada.[LH]