Yogyakarta-Santri Yogyakarta bersama Pesantren for Peace menggelar Deklarasi Damai dalam training yang bertema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam, bertepatan dengan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015 di Hotel Jambuluwuk, Yogyakarta. Deklarasi ini sebagai komitmen santri Yogyakarta dalam mendorong dan meningkatkan peran pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia.

“Deklarasi damai ini merupakan sambutan baik atas Pendeklarasian Hari Santri Nasional yang dituangkan melalui Keputusan presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015.” Ungkap Idris Hemay, Sekretaris Program Pesantren for Peace. “Selain itu, Pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga keagamaan yang memiliki legitimasi kuat menyuarakan nilai-nilai kebenaran agama yang selama ini banyak disalahtafsirkan oleh banyak kalangan yang pro dengan kekerasan. Nantinya, dengan dideklarasikannya perdamaian oleh santri ini, diharapkan pesantren benar-benar mampu menjadi pilar utama promosi perdamaian dan penegakan nilai-nilai HAM.” Tambah Idris.

Adapun isi Deklarasi Damai Santri Yogyakarta menyatakan ‘Berpegang teguh dan senantiasa siap mempertahankan Pancasila Undang­Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika; Menyadari tanggung jawab utama sebagai santri untuk senantiasa mengkaji, menghayati, mengamalkan, dan mengembangkan ilmu­ilmu warisan para ulama; serta Berkewajiban untuk turut serta mewujudkan negara yang berdaulat, pembangunan yang berkeadilan, kebudayaan yang dinamis, saling menghormati, dan turut serta menjaga perdamaian Indonesia dan dunia dengan semangat Islam yang rahmatan lil alamin’.

Deklarasi tersebut dibacakan dalam pembukaan training yang melibatkan 30 santri dari 30 Pesantren di Yogyakarta dan Solo dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi. Training semacam ini sebelumnya telah suksess dilaksanakan di Surabaya(9-12/9) dan Semarang(29/9-2/10), dan menyusul yang akan datang di Bandung dan di DKI Jakarta.

Training Peningkatan pemahaman pedamaian di Yogyakarta diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan juga pengalaman para santri untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang perdamaian dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Setelah peserta mengikuti training, selanjutnya 30 santri yang terlibat dalam training mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan Julius Felicianus dan perwakilan masing-masing agama di Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB). Field Trip dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Yogyakarta. Memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Melalui Field Trip 30 santri akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan melalui website PfP.

Training ini merupakan program Pesantren for Peace yang digagas oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan didukung oleh Uni Eropa

 

 

Pondok Pesantren secara historis adalah model pendidikan dan sistem pertama serta tertua di Indonesia. Pesantren dianggap sebagai sistem pendidikan asli Indonesia. Sudah sejak lama Pesantren menjadi lembaga yang membentuk watak dan peradaban bangsa serta mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbasis pada keimanan, dan ketakwaan kepada Allah swt serta akhlak mulia.

Sejarah membuktikan besarnya konstribusi yang pernah dipersembahkan lembaga yang satu ini, baik di masa pra kolonial, kolonial, dan pasca kolonial yaitu pasca kemerdekaan hingga zaman reformasi. Pesantren secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan atau imperialisme. Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan. Kini, perkembangan pesantren dengan sistem pendidikannya mampu menyejajarkan diri dengan pendidikan pada umumnya.

Landasan kultural yang ditanamkan kuat di pesantren diharapkan menjadi guidence dalam implementasi berbagai tugas pada ranah pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, maupun politik termasuk HAM dan penyelesaian konflik dengan damai baik di lembaga pemerintahan maupun swasta yang konsisten, transparan, dan akuntabel. Ini penting karena pesantren merupakan kawah candradimuka bagi munculnya agent of social change. Dan negara sangat berkepentingan atas tumbuhnya generasi yang mumpuni dan berkualitas. Oleh sebab itu, kepedulian dan perhatian negara bagi perkembangan pesantren sangat diperlukan.

Sangatlah tepat, Presiden Joko Widodo menetapkan Hari Santri Nasional yang akan jatuh setiap 22 Oktober, mulai tahun ini. Hari Santri Nasional ini diperingati sebagai penghargaan atas perjuangan kaum santri dan pesantren yang sudah tak terbantahkan lagi, terlebih dalam dunia pendidikan.

Bertepatan dengan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015 kelak, PfP akan menjalankan program Training untuk para santri di Surabaya, selain untuk menyambut Hari Santri Nasional, juga untuk meningkatkan peran pesantren dalam merealisasikan perdamaian di Indonesia.

Project Officer PfP, Muchtadlirin, menyatakann bahwa “Kami sedang mempersiapkan hal spesial dalam training ke-3 ini, karena training ini bertepatan dengan Hari Pesantren Nasional. Ini merupakan apresiasi Pesantren for Peace atas Keputusan Presiden yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.” Ungkap Muchtadlirin.