Pesantrenforpeace.com – Minggu, (28/08/2016) Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an khusus putri Al-Muntaha, Salatiga, mengadakan kegiatan seminar Local Day of Human Rights pertama dengan tema “HAM, Perdamaian dan Toleransi Menuju Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”. Acara ini terselenggara atas kerjasama Pondok Pesantren Al-Muntaha dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan dari Uni Eropa sebagai implementasi dari program dana hibah (Subgrant) Pesantren for Peace.

Acara ini dihadiri langsung oleh Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, MA. Dalam sambutannya, Irfan memaparkan bahwa program Pesantren for Peace ini telah berjalan di 5 propinsi di pulau Jawa sejak Januari 2015. “Pesantren memiliki peran besar dalam menciptakan harmoni di tengah pluralitas masyarakat agama di Indonesia,” ujarnya. “Ini menjadi modal utama bagi alumni pesantren untuk menyebarkan semangat perdamaian di Indonesia, bahkan di dunia,” tambah Irfan.

Ketua panitia penyelenggara seminar, Nashif ‘Ubbadah menyampaikan bahwa seminar ini menghadirkan 30 peserta dari berbagai elemen, diantaranya dari perwakilan pesantren, TPQ, remaja masjid, siswa sekolah, ormas, dan komunitas-komunitas lain yang ada di Salatiga. Harapannya, pesan perdamaian dan toleransi ini bisa ditangkap oleh seluruh kalangan di Salatiga, tidak terbatas di dunia pesantren saja.

Narasumber utama dalam seminar ini adalah 3 orang perwakilan santri, Muhammad Najmuddin Huda, Muhammad Ali Munawar dan Hesty Setianingrum, yang telah melakukan kunjungan dan dialog dengan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan Persemaian Cinta Kemanusiaan (PERCIK), Salatiga pada tanggal 1 Oktober 2015 lalu, dan kunjungan ke Gereja St. Paulus Petrus dan Komunitas Gus DURian Temanggung pada 2 Maret 2016 lalu. Disamping itu, hadir pula Kyai Muhamad Hanif, M.Hum (Gus Hanif), Pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro sebagai narasumber ahli.

Najmuddin mempresentasikan pengalamannya berkunjung dan berdialog dengan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan Persemaian Cinta Kemanusiaan (PERCIK), Salatiga. Ia memaparkan bahwa Pondok Pesantren Edi Mancoro telah aktif melakukan pendampingan dan advokasi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, serta sering mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang toleransi, moderatisme, HAM, dan lain sebagainya. Kegiatan tersebut dilakukan oleh pesantren sebagai salah satu tanggung jawab mereka terhadap perdamaian umat. Diantara kegiatan tersebut adalah pondok pesantren melakukan kegiatan  dialog lintas agama, diskusi dan silaturahmi antar agama yang bertujuan untuk menanamkan toleransi serta mempererat persaudaraan antar agama di tanah air. Adapun mengenai LSM Persemaian Cinta Kemanusiaan (PERCIK), Salatiga, ia menjelaskan bahwa LSM PERCIK ini memiliki andil dalam perdamaian antar umat beragama di Jawa Tengah dengan cara mengadakan seminar, diskusi, silaturahmi, dan kegiatan lainnya dengan mengikutsertakan masyarakat yang berbeda agama, etnis dan suku. “Dalam kegiatannya, PERCIK juga mengajak pertisipasi para pimpinan agama dan tokoh masyarakat untuk berkomunikasi bersama-sama,” ujarnya. “Selain itu, Percik juga melibatkan para anak-anak muda, mahasiswa dan pelajar untuk bergabung secara aktif dalam kegiatan-kegiatan mereka dengan tujuan untuk menanamkan ideologi toleransi dan cinta kemanusian sejak dini”, tambahnya.

Kemudian Ali Munawar mempresentasikan hasil kunjungan dan dialognya ke Gereja St. Paulus Petrus, Temanggung, yang sempat ramai menjadi sorotan publik karena menjadi sasaran kerusuhan warga akibat penistaan agama yang di lakukan oleh seorang pendeta kristen protestan. “Kasus yang terjadi pada tanggal 8 Maret 2011 ini bermula dari tindakan pendeta kristen protestan yang bernama Antonius Bawengan yang melakukan penistaan agama. Pelaku di hukum 5 tahun penjara, namun ada sekelompok warga yang tidak  setuju dengan putusan hakim, dan mereka melakukan demo di luar gedung pengadilan. Karena keputusan hakim sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, massa yang berdemo melakukan tindakan anarkis dengan merusak sarana di gedung pengadilan. Tidak sampai di situ, ketidakpuasan massa tersebut dilanjutkan dengan merusak Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus Temanggung, gedung sekolah Shakinah, serta membakar bagian depan Gereja Pentakosta. Kerusuhan tersebut membuat situasi Kabupaten Temanggung saat itu tidak kondusif,” papar Ali.

Sedangkan Hesti mempresentasikan tentang peranan Gusdurian Temanggung dalam menyebarkan pesan damai dan toleransi. “Jaringan gusdurian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi 4 dimensi besar: Islam dan Keimanan, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan,” paparnya.

Gus Hanif menyampaikan bahwa Pesantren wajib menjadi agen perdamaian dengan cara membuka ruang untuk  berdialog, menjalin silaturahmi dan komunikasi. “Bukan hal yang mustahil, karena pesantren memiliki modal besar berupa Kyai yang ditaati oleh santri, jaringan alumni, jaringan antar pesantren, jumlah pesantren yang sebanyak 25 ribuan, dan jutaan santri se-Indonesia,” tuturnya. [Nashif/LH]

 

Training Peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam kembali dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah. Training ini merupakan training untuk para santri yang ke-9 dari 10 rangkaian training yang dilaksanakan di 5 provinsi (Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan DKI Jakarta dan sekitarnya).

Setelah sukses dengan tarining di 5 provinsi pada tahun 2015 kemarin, di tahun 2016 ini, kegiatan yang sama telah diselenggarakan di Surabaya 5-8 Januari 2016, Bandung 2-5 Februari 2016, Jakarta 23-26 Februari 2016 dan yang baru saja di laksanakan di Salatiga 1-4 Maret 2016. Program ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan pengalaman para santri/santriwati dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka tentang perdamaian dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Laras Asri, Salatiga dengan melibatkan 30 santri/santriwati dari 30 pesantren di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah (kota Salatiga, kota Semarang, kabupaten Semarang, Demak, Boyolali, kota Magelang, kabupaten Magelang, Sukoharjo, Sragen, dan Klaten) dengan komposisi 16 perempuan dan 14 laki-laki, berusia antara 17-21 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi.

Staf Ahli Walikota Salatiga Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Danudjo mengatakan bahwa pelaksanaan training di Salatiga sangatlah tepat, karena Salatiga merupakan kota toleran ke-2 di Indonesia. Sri sangat mendukung kegiatan training ini karena yg menjadi peserta adalah santri-santri yang masih muda sehingga dapat membantu pemerintah daerah dalam menangkal radikalisme (deradikalisasi) di Salatiga pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.

Disamping itu, pak Sri akan laporkan kegiatan training ini kepada walikota dan akan merekomendasi hasil training kepada kesbangpol provinsi untuk pengembangan program lanjutan di Jawa tengah.

Pada Penutupan Training, semua peserta dinobatkan sebagai “Duta Perdamaian” yang dikukuhkan secara simbolis dengan penyematan pin oleh Staf Ahli Walikota Salatiga Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Danudjo kepada perwakilan peserta Training ini.

Setelah peserta mengikuti training dan mendapatkan berbagai pengetahuan, wawasan dan teori, selanjutnya 30 santri yang terlibat dalam Training akan mengikuti Field Trip atau studi lapangan. Kegiatan ini merupakan praktek langsung dari teori yang sudah didapatkan selama Training berlangsung, dengan berinteraksi secara langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian. Field Trip direncanakan akan berkunjung dan berdialog secara langsung dengan Pihak (Pengurus/Jemaat) Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Temanggung, dan Aktivis Gusdurian Temanggung, Jawa Tengah.