Pesantrenforpeace.com--Aksi kekerasan dan teror atas nama agama marak terjadi, belum lama ini misalnya masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi kekerasan yang terjadi di Paris, Perancis yang mengakibatkan setidaknya 120 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Salah satu tersangka pelaku terorisme di Paris adalah Frederick C. Jean Salvi alias Ali, yang menurut berbagai sumber diketahui kerap mendatangi berbagai pesantren di Bandung. Salah satu pesantren yang pernah dikunjungi adalah Pondok Pesantren Al-Jawami di Cileunyi Bandung. Kami menilai, bila situasi ini tidak diantisipasi secara dini, fenomena ini dapat menimbulkan tafsiran lain wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang identik dengan kekerasan dan terorisme.

Dalam rangka berkontribusi aktif dalam upaya mengurangi dan mencegah aksi kekerasan dan terorisme, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa mengembangkan dan menjalankan sebuah program penting bertajuk “Pesantren for Peace (PfP)”. Program ini dijalankan dengan melibatkan banyak pondok pesantren di 5 wilayah di Jawa, salah satunya di Jawa Barat. Program ini diadakan untuk mendorong dan mendukung peran Pesantren sebagai lokomotif moderasi Islam di Indonesia dalam rangka menegakkan dan memajukan HAM, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Hasil penelitian yang dilakukan PfP beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa pondok pesantren di Jawa Barat masih belum memaksimalkan perannya dalam membangun perdamaian dan mencegah aksi kekerasan. Penelitian tersebut juga mengkonfirmasi bahwa akar penyebab konflik dan kekerasan yang terjadi di Jawa Barat sangat beragam, mulai dari aspek teologis hingga ke persoalan ekonomi, politik, dan sosial budaya. Hal ini dipicu oleh hadirnya kebijakan yang tidak adil, sikap diskriminatif dan intoleran, rendahnya rasa kebersamaan, menguatnya identitas keagamaan, dan kentalnya prasangka (prejudice) di antara kelompok masyarakat baik di kalangan antar agama maupun intra agama itu sendiri.

Fenomena tersebut melatarbelakangi terselenggaranya Training dan Field Trip “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang dilaksanakan 26-29 November 2015 di Hotel Park View, Bandung. Kegiatan ini diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif Islam dan HAM. Di penghujung Training, para peserta difasilitasi untuk melakukan kunjungan (field trip) dan dialog ke JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP). Field Trip ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang best practicies bina damai dan penanganan konflik dengan harapan dapat membekali mereka dalam upaya pembangunan perdamaian dan penanganan konflik di Jawa Barat.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, mengungkapkan “Kegiatan Training dan Field Trip melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Garut dan Kab. Ciamis, yang terdiri dari 14 peserta perempuan dan 16 laki-laki. Berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi,” ungkapnya.

Idris menambahkan “Training ini diselenggarakan atas kerjasama Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste serta Uni Eropa dengan mitra lokal Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung,” ungkapnya.

Fasilitator dalam kegiatan training ini merupakan para Ustadz dan Ustadzah di wilayah Bandung dan sekitarnya, yang sebelumnya telah dibina oleh Tim PfP untuk menjadi Trainer bulan Agustus lalu. Mereka adalah Ahmad Agus Suryawinata (PP. Mahasiswa Universal Bandung), Ade Muslih (PP. Sirnarasa Ciamis), Agus Suryaman,Ss (PP. Darut Taqwa Bandung), Wahidah Rosyadah (PP. Al-Quran Babussalam Bandung), Arum Ningsih (PP. Al-Ihsan Bandung), dan Desi Nia Kurniasih (PP. Al Falah Dago).