Pesantrenforpeace.com - Yogyakarta (28/8/2016), Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta menggelar seminar Local Day of Human Rights dengan tema “Peran Pesantren dalam Membangun Nilai Toleransi, HAM, dan Penyelesaian Konflik Secara Damai Demi Terciptanya Yogyakarta yang Istimewa”. Seminar ini merupakan implementasi dari program dana hibah (Subgrant) Pesantren for Peace yang diinisiasi oleh Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah bekerja sama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dan Timor-Leste dengan dukungan Uni Eropa.

Kasus intoleransi yang muncul di tengah-tengah masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tentu membuat citra DIY sebagai kota toleran ternodai. Kasus-kasus pelanggaran HAM dan intoleransi mendorong pondok pesantren untuk ikut secara aktif membangun nilai toleransi, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai. Hal itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Local Day of Human Rights oleh Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah, Ahad (28/8) lalu.

Seminar ini diikuti oleh 30 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari takmir masjid, remaja masjid, organisasi kemasyarakatan, majelis taklim, pondok pesantren, dan organisasi keislaman (NU dan Muhammadiyah) di sekitar DIY. Hadir dalam seminar tersebut KH. Abdul Muhaimin, Ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY, sebagai narasumber utama, dan 3 perwakilan santri yang mempresentasikan hasil field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan Julius Felicianus dan perwakilan masing-masing agama di Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) pada tanggal 24 Oktober 2015 serta berdialog secara langsung dengan Aktivis Forum Lintas Iman (FLI) di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Logandeng Gunung Kidul dan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta pada tanggal 23 April 2016 .

Sebelum KH. Abdul Muhaimim menyampaikan pemaparannya, terlebih dahulu dilakukan pemaparan oleh 3 santri, Zaki Romdhon Muhabib (PP. Al-Luqmaniyyah Yogyakarta), Dalila Eka Surma (PP. Aji Mahasiswa Al-Muhsin Bantul), dan Fatikhatul Faizah (PP. Sunan Pandanaran Sleman) tentang pengalaman field trip mereka.

Dalam forum tersebut, Dalila menjelaskan latar belakang dilakukannya field trip, serta bagaimana para santri dibekali materi dalam kegiatan training sebelum melakukan field trip ke lokasi terjadinya konflik dan ke lembaga civil society yang konsen di bidang perdamaian. Ia juga menyampaikan bahwa terdapat peningkatan kasus intoleran selama tahun 2014 dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu kasus yang terjadi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Zaki, yaitu penyerangan rumah Julius Felicianus terjadi pada tanggal 29 Mei 2014 malam saat istri dan kerabat pak Julius melakukan doa Rosario. Penyerangan ini dilakukan oleh 8-10 orang berjubah yang dikenal dengan kathok congklang kacong. Selain menyebabkan luka fisik, kasus itu juga menimbulkan trauma yang mendalam bagi jemaat Katolik Gereja Santo Fransiskus Agung yang berdoa di rumah Julius. “Hubungan kemasyarakatan pun mengalami pergeseran akibat kejadian itu”, ujarnya. Selain itu, Zaki juga menjelaskan tentang FPUB yang didirikan pada tanggal 27 Februari 1997 oleh beberapa tokoh elemen bangsa yang ada di Yogyakarta dengan tujuan membangun nilai-nilai spiritualitas bangsa serta mewujudkan persaudaraan sejati. “Ada 3 kegiatan utama yang dilakukan FPUB, diantaranya diskusi dan dialog antar umat beragama, aksi solidaritas sosial, serta aksi damai dan do’a bersama”, tambah Zaki.

Sementara itu, Fatikhatul Faizah menjelaskan pengeroyokan dan pemukulan terhadap aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Aminuddin Aziz terjadi karena penolakan ormas Islam Radikal Front Jihad Islam (FJI) atas rencana pelaksanaan Paskah Adiyuswo di Playen, Gunungkidul se Jawa-Bali. Konflik ini berdampak  buruk  bagi  korban  yang  diserang, baik dari segi fisik, seperti kerusakan mobil dan luka-luka yang dialami Aminuddin Aziz; dampak non-fisik, yaitu ketakutan yang luar biasa dalam diri Aminuddin Aziz yang menyebabkan  trauma  berkepanjangan; serta dampak politis, akibat  konflik  tersebut, ruang  gerak  Aminuddin Aziz  di  Wonosari  menjadi terbatas, karena secara tidak langsung dia menjadi buronan FJI; Dampak lain pada masyarakat adalah munculnya rasa ketidaknyamanan antar kedua belah  kelompok sampai  saat  ini dikarenakan  jalan  damai  yang  diharapkan pihak Aminuddin Aziz dengan pembelaan haknya masih belum didapatkan.

“Inisiatif damai dalam penyelesaian konflik yang dialami aktivis FLI ini antara   lain melakukan mediasi dengan jalan damai melalui mediator dan mempertemukan  pihak FLI dan FJI dengan melibatkan FPUB untuk duduk bersama membahas konflik dan  menemukan titik temu serta akar permasalahan sehingga konflik tidak akan terjadi  lagi”, tutur Fatikhatul Faizah

KH. Abdul Muhaimin dalam kesempatan itu memaparkan tentang peran tokoh agama dalam menanggulangi ekstrimisme. Tokoh agama tentu erat kaitannya dengan berbagai perkumpulan seperti majelis taklim dan ormas keislaman serta pondok pesantren sebagai tempat dikadernya para pendamping masyarakat dalam hal agama. Menurutnya, untuk menjembatani berbagai pihak yang tengah berkonflik, dibutuhkan konsolidasi di kalangan masyarakat sipil guna mendorong terciptanya harmoni sosial di tengah masyarakat yang semakin plural. “Beberapa komponen masyarakat yang punya potensi untuk dijadikan elemen damai adalah tokoh moderat, pemuka agama dan tokoh masyarakat, kaum intelektual, serta kelompok dialog antar iman,” terang KH. Abdul Muhaimin.

Para pemuka agama juga perlu lebih gigih lagi mencegah berkembangnya kekerasan agama, karena hakikatnya agama tidak mengajarkan kekerasan tetapi justru mengajarkan keselamatan. “Kekerasan dengan dalih agama sebenarnya adalah penyalahgunaan agama yang dilatari oleh kepentingan politik, ekonomi, dan kepentingan subyektif lainnya,” ungkapnya.

Salah seorang peserta seminar yang merupakan Ketua PCNU Yogyakarta, H. Ahmad Yubaidi, SH. MH sangat mengapresiasi pemaparan dari ketiga santri tersebut. Dia juga sangat mendukung kegiatan seminar yang digelar Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah ini. Harapannya, masyarakat DIY bisa bersatu padu memberantas terjadinya konflik agama di DIY dan mengembalikan DIY menjadi “City of Tolerance”.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay mengaku sangat terkesan dengan seminar ini. “Kegiatan Local Day of Human Rights di Yogyakarta ini berjalan dengan sukses, mulai dari proses, implementasi dan pelaporannya”, ungkap Idris. “Acaranya lesehan, tapi meriah dan kualitas peserta berbobot dan kritis sehingga mempengaruhi dinamika diskusi, ditambah dengan kinerja panitia yang sangat bagus, dan koordinasi yang baik satu sama lain” tambahnya. Idris juga sangat terkesan dengan presentasi dari ketiga santri, karena berhasil menjelaskan materi dan menjawab pertanyaan dengan sangat baik meskipun pertanyaan-pertanyaannya cukup kritis dan menantang.

Aku lupa


Aku lupa kalau aku manusia
Aku lupa aku tak sempurna
Aku lupa jika aku punya agama
Aku lupa kalau aku tinggal di Negara
Dan aku lupa kalau punya pancasila

           Aku lupa kalau ada lelaki dan wanita
           Aku lupa aku punya teman sebaya
              Aku lupa aku punya tetangga
           Aku lupa aku tinggal di tanah siapa

Aku lupa kalau aku satu bangsa
Aku lupa kalau aku terdiri dari berbagai ras yang beraneka
Aku lupa kalau aku berbeda
Dan aku lupa bahwa aku mengidap penyakit besar kepala

           Aku lupa di kitab suci ada kata manusia
            Aku kira Tuhan hanya bercanda
              Aku lupa di kitab Suci Manusia begitu mulia
              Aku kira itu celotehan para pujangga

Aku lupa Tuhanpun melukis kata nasahra dan yahuda
Aku kira hanya agamaku saja yang ada
Tak kusangka?
Aku begitu lupa.

            Aku lupa Tuhan menciptakan adam dan hawa
               Aku lupa kalau aku berpijak di dunia
               Kusangka akhirat jualah yang ku cita
               Tak kusangka
               Aku begitu lupa.

Aku sangka itu hanya bualan belaka
Tak taunya ada kehendak yang Maha
aku ini kenapa?
manusia atau pencipta?
berani berkata benar atau salah
halal atau haramkah?
neraka atau surgakah?
teman atau musuhkah?
muslim atau kafirkah?
Tak kusangka penyakitku sudah sedemikian rupa.

           Sayang aku terlalu penyayang
              Pada egoku yang selalu kutimang
           Sayang aku terlalu perasa
             Pada perasaanku yang penuh durjana
             Sayang aku terlalu istiqomah
             Pada doaku yang berbunyi Robbana atina
             Hingga aku terlupa, jika yang selalu kusebut pertama adalah Fit dhunya

Sayang aku terlalu beriman
Pada sorgaku yang penuh dengan taman
Sayang sungguh sayang
Kusangka sorgaku hanya seorang
ternyata banyak orang yang lalu lalang.

 

Rafiq Mohammad, 23 Mei 2016

 


Yogyakarta-Santri Yogyakarta bersama Pesantren for Peace menggelar Deklarasi Damai dalam training yang bertema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam, bertepatan dengan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015 di Hotel Jambuluwuk, Yogyakarta. Deklarasi ini sebagai komitmen santri Yogyakarta dalam mendorong dan meningkatkan peran pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia.

“Deklarasi damai ini merupakan sambutan baik atas Pendeklarasian Hari Santri Nasional yang dituangkan melalui Keputusan presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015.” Ungkap Idris Hemay, Sekretaris Program Pesantren for Peace. “Selain itu, Pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga keagamaan yang memiliki legitimasi kuat menyuarakan nilai-nilai kebenaran agama yang selama ini banyak disalahtafsirkan oleh banyak kalangan yang pro dengan kekerasan. Nantinya, dengan dideklarasikannya perdamaian oleh santri ini, diharapkan pesantren benar-benar mampu menjadi pilar utama promosi perdamaian dan penegakan nilai-nilai HAM.” Tambah Idris.

Adapun isi Deklarasi Damai Santri Yogyakarta menyatakan ‘Berpegang teguh dan senantiasa siap mempertahankan Pancasila Undang­Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika; Menyadari tanggung jawab utama sebagai santri untuk senantiasa mengkaji, menghayati, mengamalkan, dan mengembangkan ilmu­ilmu warisan para ulama; serta Berkewajiban untuk turut serta mewujudkan negara yang berdaulat, pembangunan yang berkeadilan, kebudayaan yang dinamis, saling menghormati, dan turut serta menjaga perdamaian Indonesia dan dunia dengan semangat Islam yang rahmatan lil alamin’.

Deklarasi tersebut dibacakan dalam pembukaan training yang melibatkan 30 santri dari 30 Pesantren di Yogyakarta dan Solo dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi. Training semacam ini sebelumnya telah suksess dilaksanakan di Surabaya(9-12/9) dan Semarang(29/9-2/10), dan menyusul yang akan datang di Bandung dan di DKI Jakarta.

Training Peningkatan pemahaman pedamaian di Yogyakarta diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan juga pengalaman para santri untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang perdamaian dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Setelah peserta mengikuti training, selanjutnya 30 santri yang terlibat dalam training mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan Julius Felicianus dan perwakilan masing-masing agama di Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB). Field Trip dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Yogyakarta. Memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Melalui Field Trip 30 santri akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan melalui website PfP.

Training ini merupakan program Pesantren for Peace yang digagas oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan didukung oleh Uni Eropa