Training Peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam kembali dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah. Training ini merupakan training untuk para santri yang ke-9 dari 10 rangkaian training yang dilaksanakan di 5 provinsi (Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan DKI Jakarta dan sekitarnya).

Setelah sukses dengan tarining di 5 provinsi pada tahun 2015 kemarin, di tahun 2016 ini, kegiatan yang sama telah diselenggarakan di Surabaya 5-8 Januari 2016, Bandung 2-5 Februari 2016, Jakarta 23-26 Februari 2016 dan yang baru saja di laksanakan di Salatiga 1-4 Maret 2016. Program ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan pengalaman para santri/santriwati dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka tentang perdamaian dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Laras Asri, Salatiga dengan melibatkan 30 santri/santriwati dari 30 pesantren di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah (kota Salatiga, kota Semarang, kabupaten Semarang, Demak, Boyolali, kota Magelang, kabupaten Magelang, Sukoharjo, Sragen, dan Klaten) dengan komposisi 16 perempuan dan 14 laki-laki, berusia antara 17-21 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi.

Staf Ahli Walikota Salatiga Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Danudjo mengatakan bahwa pelaksanaan training di Salatiga sangatlah tepat, karena Salatiga merupakan kota toleran ke-2 di Indonesia. Sri sangat mendukung kegiatan training ini karena yg menjadi peserta adalah santri-santri yang masih muda sehingga dapat membantu pemerintah daerah dalam menangkal radikalisme (deradikalisasi) di Salatiga pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.

Disamping itu, pak Sri akan laporkan kegiatan training ini kepada walikota dan akan merekomendasi hasil training kepada kesbangpol provinsi untuk pengembangan program lanjutan di Jawa tengah.

Pada Penutupan Training, semua peserta dinobatkan sebagai “Duta Perdamaian” yang dikukuhkan secara simbolis dengan penyematan pin oleh Staf Ahli Walikota Salatiga Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Danudjo kepada perwakilan peserta Training ini.

Setelah peserta mengikuti training dan mendapatkan berbagai pengetahuan, wawasan dan teori, selanjutnya 30 santri yang terlibat dalam Training akan mengikuti Field Trip atau studi lapangan. Kegiatan ini merupakan praktek langsung dari teori yang sudah didapatkan selama Training berlangsung, dengan berinteraksi secara langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian. Field Trip direncanakan akan berkunjung dan berdialog secara langsung dengan Pihak (Pengurus/Jemaat) Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Temanggung, dan Aktivis Gusdurian Temanggung, Jawa Tengah.

Training Peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam kembali dilaksanakan di JABODETABEK. Training ini merupakan training untuk para santri yang ke-8 dari 10 rangkaian training yang dilaksanakan di 5 provinsi (Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan DKI Jakarta dan sekitarnya).

Training yang di laksanakan di Hotel IBIS Gading Serpong kali ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari 29 Pesantren di wilayah JABODETABEK. Para santri yang mengikuti kegiatan ini berusia antara 17-22 tahun dengan komposisi 14 laki-laki dan 15 perempuan. Training ini semestinya dihadiri oleh 30 peserta dari pondok pesantren yang berbeda, namun karena ada salah satu pesantren yang berkendala hadir, akhirnya training ini hanya diikuti oleh 29 peserta.

Kali ini, para trainer yang memfasilitasi training lebih kreatif dalam menyampaikan materi dibanding training sebelumnya. Metode yang digunakan berhasil membuat seluruh peserta aktif dan argumentatif dalam tiap sesinya. Bahkan mereka berhasil menggugah peserta untuk berkomitmen menjadi “Duta Perdamaian”, yang kemudian mereka nyatakan dalam sebuah “Ikrar Perdamaian”.

Selama 4 hari (23-26/02/2016), para peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis mengenai perdamaian berperspektif HAM dan Islam, namun juga diajak untuk berinteraksi langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dalam sebuah agenda fieldtrip di penghujung training. Fieldtrip ini dilakukan dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Gereja Paroki Santa Bernadeth Ciledug untuk mengetahui kekerasan yang dialami mereka serta dampaknya terhadap jemaat Gereja tersebut selama ini; bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut; serta upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh Gereja Paroki Santa Bernadeth sendiri atau pihak lain baik Pemerintah maupun masyarakat (swasta) atas kasus dimaksud.

Salah seorang Peserta dari Pondok Pesantren Al-Ghazali Bogor, Azaria Hashina mengaku sangat terkesan dengan training ini, banyak hal-hal yang pada awalnya tidak ia mengerti ketika disekolah, tapi akhirnya dia bisa memahaminya dalam training ini. “Dengan metode permainan yang menarik, materi-materi yang sulit dipahami hanya dengan membaca buku menjadi sangat mudah dan kami bisa langsung menerapkannya” ungkap Azaria.

Di malam terakhir training, tepatnya malam sebelum keberangkatan field trip, para peserta diajarkan bagaimana cara menyelesaikan konflik secara damai dengan metode Role Play, dalam role play kali ini, tema yang diangkat yaitu tentang LGBT. Peserta dari Pondok Pesantren Daar El Qolam, Ismy Nur Arfah, mengaku sangat terkesan dengan metode-metode dari para trainer, sehingga saat dia berperan sebagai salah seorang LGBT yang diperlakukan secara kriminal oleh warga setempat, disitulah dia memahami hakikat resolusi konflik secara damai. “kata-kata untuk Pesantren for Peace: Pesantren for Peace lebih bisa memahami apalah arti sebuah perbedaan” ungkap Ismy.

Pada Penutupan Training, semua peserta dinobatkan sebagai “Duta Perdamaian” yang dikukuhkan secara simbolis dengan penyematan pin oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, kepada perwakilan peserta Training ini. [LH]

 

 

 

Tuesday, 09 February 2016 18:34

Ikrar Duta Perdamaian Santri Jawa Barat

Pesantren for Peace kembali menggelar Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam untuk para santri (2-5/02/2016) di Hotel Scarlet Bandung, yang sebelumnya telah dilaksanakan training serupa pada  26-29 November 2015 lalu namun dengan peserta yang berbeda.

Dalam training kali ini, peserta yang hadir berasal dari 30 Pesantren di 7 wilayah di sekitar Jawa Barat, yang sebelumnya hanya 5 wilayah (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut dan Ciamis) kini semakin variatif dengan ditambahnya 2 wilayah (Cianjur dan Subang). Para santri yang mengikuti kegiatan ini berusia antara 17-22 tahun dengan komposisi 16 laki-laki dan 14 perempuan.

Selain itu, para trainer yang memfasilitasi training ini juga lebih kreatif dalam menyampaikan materi dibanding training sebelumnya. metode yang digunakan berhasil membuat seluruh peserta aktif dan argumentatif dalam tiap sesinya. Bahkan para trainer ini berhasil menggugah peserta untuk berkomitmen menjadi “Duta Perdamaian”, yang kemudian mereka nyatakan dalam sebuah “Ikrar Perdamaian”.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuhdari pemerintah setempat. Pada penutupan Training, para peserta secara resmi dikukuhkan menjadi Duta Perdamaian oleh Wali Kota Bandung yang diwakili oleh H. Tatang Muhtar, S.Sos, M.Si Kabag KESRA Kota Bandung dengan penyematan pin secara simbolis kepada perwakilan peserta.

“Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi program ini, karena mendukung menuju ‘Bandung Kota Toleransi’ yang dicanangkan oleh Wali Kota, tentunya kami akan mensupport peserta untuk menjadi Duta Perdamaian dalam masyarakat” ungkap Tatang Muhtar saat menyampaikan pesan-pesannya kepada Peserta.

Dalam training ini, para peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis mengenai perdamaian berperspektif HAM dan Islam, namun juga diajak untuk berinteraksi langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian dalam sebuah agenda fieldtrip di penghujung training. Fieldtrip ini dilakukan dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat untuk mengetahui kekerasan yang dialami Ahmadiyah di wilayah Jawa Barat dan Bandung serta dampaknya terhadap jemaat Ahmadiyah selama ini; bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut; serta upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh Ahmadiyah wilayah Jawa Barat dan Bandung sendiri atau pihak lain baik Pemerintah maupun masyarakat (swasta) atas kasus dimaksud.

Selain kunjungan ke Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat, peserta juga diajak untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Qur’an Babussalam Bandung, dan berdialog langsung dengan pimpinannya terkait dengan bentuk dan inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Babussalam di wilayah Jawa Barat dan Bandung dalam konteks lintas iman, dan apa saja kendala yang dihadapi; Respon/tanggapan Pemerintah dan masyarakat atas inisiatif perdamaian yang dilakukan; Bagaimana peran yang dilakukan Pondok Pesantren Babussalam dalam kasus konflik (kekerasan) bernuansa agama yang terjadi di wilayah Jawa Barat dan Bandung khususnya; Bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus konflik dimaksud; serta Usulan konstruktif bagi Pemerintah dan masyarakat, khususnya kalangan Pesantren dalam upaya resolusi konflik secara damai.

 

 

 

Pesantrenforpeace.com, Surabaya  –  Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa dalam program unggulannya yang bertajuk “Pesantren for Peace (PfP)” kembali menggelar kegiatan Training dan Field Trip untuk para santri di Surabaya setelah training pertama pada 9-12 September 2015.

“Yang menarik dari training kali ini dibandingkan dengan training Surabaya sebelumnya adalah pesertanya lebih aktif dan kritis sehingga membuat trainer lebih tertantang dalam mempersiapkan materi yang lebih baik dari sebelumnya”, ungkap Idris Hemay, Koordinator Program Pesantren for Peace.

Idris menambahkan “Cakupan wilayah tuk training sekarang juga ada penambahan dari yang sebelumnya hanya 6 kabupaten/kota di Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), sekarang menjadi 9 kabupaten/kota ditambah dengan Jombang, Pasuruan, dan Sidoarjo, sehingga dinamika diskusinya lebih aktif karena komposisi peserta dari pesantren yang beragam”, ujar Idris

Training kedua di Surabaya ini masih bertema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren berperspektif HAM dan Islam” sesuai dengan tujuannya yaitu dengan adanya training dan field trip ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Sebanyak 30 santri dari 30 pesantren di Surabaya dan sekitarnya, dengan komposisi 12 perempuan dan 18 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi aktif berpartisifasi dalam Training ini selama 4 hari (5-7 Januari 2016 kegiatan Training dan 7-8 Januari 2016 Field Trip) di Hotel Novotel, Surabaya.

Setelah peserta mengikuti training selanjutnya 30 santri diajak untuk field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan perwakilan 2 pengungsi konflik Syi’ah Sampang di kantor Center for Marginalized Communities Studies (CIMARs) Surabaya.

Field Trip ini dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jawa Timur, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Syi’ah di Sampang, dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai.

Seperti Training dan Field trip sebelumnya, kali ini juga setelah para peserta mengikuti Field Trip, mereka dituntut untuk menulis hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.

 

 

JAKARTA, Pesantrenforpeace.com-Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa menyelenggarakan Training dan Field Trip yang bertajuk “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam”. Training tersebut dilaksanakan di Soll Marina Hotel, Serpong, Kamis - Sabtu 19-2 November 2015, dan Field Trip pada hari Sabtu – Minggu 21-22 November 2015 .

 

Sarah Sabina Hasbar, Manager Program Pesantren for Peace, dalam sambutannya menyampaikan bahwa training ini merupakan training ke-4 yang dihadiri oleh santri setelah sebelumnya di Surabaya, Semarang dan Yogyakarta, dan menyusul yang akan datang di Bandung, 26-29 November 2015. Ke-5 rangkaian Training ini difasilitasi oleh para ustadz dan ustadzah penulis modul yang sebelumnya telah dibina oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainer, 30 juli – 1 Agustus 2015 lalu.

“Melalui kegiatan ini para santri dari berbagai pesantren di wilayah DKI Jakarta dan Sekitarnya (DKI Jakarta, Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, dan Serang) dilatih menjadi ‘Duta Perdamaian’, untuk meningkatkan kapasitas pesantren agar lebih berperan dalam mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan konflik secara damai”, ungkap Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan training secara resmi.

Irfan menambahkan, “Dilihat dari sejarah berdirinya, Pesantren mewakili masuknya agama Islam di Indonesia dengan jalan damai. Berbeda dengan di negara-negara Timur Tengah yang penyebaran Islamnya tak lepas dari perang. Namun, meskipun sejak dulu telah tertanam watak ‘cinta damai’ di Pesantren, tapi pesantren belum mampu untuk menjadi agen perdamaian dan resolusi konflik secara damai.” Hal itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Training peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren ini.

Koordinator program Pesantren for Peace, Idris Hemay, menyebutkan bahwa peserta training ini melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di sekitar Jakarta: Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Serang dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi. Selain itu, acara pembukaan training ini dihadiri oleh perwakilan dari Uni Eropa, Mariana Pinto.

Para Trainer yang menjadi fasilitator dalam training ini diantaranya Ustadz Miftah Farid (PP An-Nuqtah), Ustadz Muhammahd Arsan (PP Madinatunnajah), Ustadzah Nurul Khariroh (PP Nur Medina), Ustadz Afthon Lubbi Nuriz (PP Darunnajah), Ustadz Muhammad Mahsun (PP Nurul Huda), dan Ustadz Zulkarnaen (PP Nur Medina). Setelah mengikuti training, selanjutnya 30 santri tersebut akan mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah.

Field Trip dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Ahmadiyah; dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Setelah Field Trip, ke-30 santri ini akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.

 

Yogyakarta-Santri Yogyakarta bersama Pesantren for Peace menggelar Deklarasi Damai dalam training yang bertema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam, bertepatan dengan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015 di Hotel Jambuluwuk, Yogyakarta. Deklarasi ini sebagai komitmen santri Yogyakarta dalam mendorong dan meningkatkan peran pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia.

“Deklarasi damai ini merupakan sambutan baik atas Pendeklarasian Hari Santri Nasional yang dituangkan melalui Keputusan presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015.” Ungkap Idris Hemay, Sekretaris Program Pesantren for Peace. “Selain itu, Pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga keagamaan yang memiliki legitimasi kuat menyuarakan nilai-nilai kebenaran agama yang selama ini banyak disalahtafsirkan oleh banyak kalangan yang pro dengan kekerasan. Nantinya, dengan dideklarasikannya perdamaian oleh santri ini, diharapkan pesantren benar-benar mampu menjadi pilar utama promosi perdamaian dan penegakan nilai-nilai HAM.” Tambah Idris.

Adapun isi Deklarasi Damai Santri Yogyakarta menyatakan ‘Berpegang teguh dan senantiasa siap mempertahankan Pancasila Undang­Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika; Menyadari tanggung jawab utama sebagai santri untuk senantiasa mengkaji, menghayati, mengamalkan, dan mengembangkan ilmu­ilmu warisan para ulama; serta Berkewajiban untuk turut serta mewujudkan negara yang berdaulat, pembangunan yang berkeadilan, kebudayaan yang dinamis, saling menghormati, dan turut serta menjaga perdamaian Indonesia dan dunia dengan semangat Islam yang rahmatan lil alamin’.

Deklarasi tersebut dibacakan dalam pembukaan training yang melibatkan 30 santri dari 30 Pesantren di Yogyakarta dan Solo dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi. Training semacam ini sebelumnya telah suksess dilaksanakan di Surabaya(9-12/9) dan Semarang(29/9-2/10), dan menyusul yang akan datang di Bandung dan di DKI Jakarta.

Training Peningkatan pemahaman pedamaian di Yogyakarta diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan juga pengalaman para santri untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang perdamaian dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Setelah peserta mengikuti training, selanjutnya 30 santri yang terlibat dalam training mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan Julius Felicianus dan perwakilan masing-masing agama di Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB). Field Trip dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Yogyakarta. Memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Melalui Field Trip 30 santri akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan melalui website PfP.

Training ini merupakan program Pesantren for Peace yang digagas oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan didukung oleh Uni Eropa

 

 

Setelah sukses dengan training pertamanya di Surabaya, Pesantren for Peace (PfP) kembali mengadakan training untuk para santri di wilayah Semarang dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan program lanjutan dari serangkaian program yang telah sukses dijalankan tim PfP sejak Januari 2015, dan merupakan program unggulan yang digagas oleh CSRC Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan dari Uni Eropa dalam rangka meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam mendorong moderasi Islam di Indonesia untuk menegakkan dan memajukan Hak Asasi Manusia, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Kegiatan dengan tema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” ini dilaksanakan pada tanggal 29 September – 2 Oktober 2015 di Hotel Pandanaran, Semarang. Sebanyak 30 santri yang berasal dari sejumlah pesantren di kabupaten/kota di Jawa Tengah (Kabupaten dan Kota Semarang, Salatiga, Demak, Blora, Cepara, Kudus, dan Grobogan) mengikuti training ini dengan penuh antusias.

Sekretaris PfP, Idris Hemay, dalam sambutannya menyampaikan latar belakang terbentuknya PfP, tujuan PfP secara keseluruhan dan tujuan khusus kegiatan training ini, “Training ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), perdamaian dalam Islam, dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam,” terang Idris. Ia menambahkan, bahwa betapa pentingnya santri dalam menyebarkan Islam yg ramah dan menjadi juru damai dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Pimpinan Pondok Pesantren Edi Macoro Semarang, Muhammad Hanif (Gus Hanif), dalam sambutannya menjelaskan tentang program PfP di Semarang Sebelumnya yaitu “Workshop Desain Modul Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang melibatkan 30 ustadz-ustadzah dari wilayah Semarang dan sekitarnya. Ia juga memberikan pemahaman kepada peserta tentang peran penting santri-santri pesantren dalam membangun jejaring antar pesantren dalam membangun perdamaian di Jawa Tengah. “Saya berharap, seluruh santri peserta training ini mengikuti kegiatan ini sebaik mungkin dan seaktif mungkin,” ujar Gus Hanif.

Dalam pelaksanaannya, training ini difasilitasi oleh para Trainer (ustadz-ustadzah dari daerah tersebut) yang sebelumnya telah dibekali oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainers yang dilaksanakan bulan Agustus kemarin (18-21Agustus 2015). Para trainer tersebut adalah Choirul Iman, Alfiatu Rohmah, M. Aris Rofiqi,Cholilullah, Nasif Ubadah, dan Fahsin M. Faal. Mereka semua merupakan bagian dari tim penulis modul “Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang dijadikan bahan ajar dalam training tersebut.

Di penghujung kegiatan training ini, para peserta akan diajak untuk melakukan Field Trip ke PERCIK dan PP Edi Mancoro Salatiga dengan didampingi oleh Junaidi Simun, salah seorang supervisor dari CSRC yang akan membimbing para peserta untuk melakukan wawancara dan menuliskan laporan hasil pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut. Field trip ini dimaksudkan agar para peserta bersentuhan langsung dengan kehidupan empiris di lapangan dalam memperdalam pemahaman tentang perdamaian, HAM dan penyelesaian konflik secara damai.

Training peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam berikutnya, direncanakan akan dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Oktober 2015.

CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad Adenauer Stiftung dengan dukungan Uni Eropa menyelenggarakan Capacity Training dan Field Trip dengan tema “”Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” pada tanggal 9-12 September 2015 di Hotel Novotel Surabaya. Kegiatan ini merupakan program lanjutan dari serangkaian program “Pesantren for Peace” yang telah dilaksanakan sejak awal tahun 2015 .

Training ini diikuti oleh 30 peserta yang merupakan santri dan santri wati dari sejumlah pesantren di 6 kabupaten/kota di Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep) dan di fasilitasi oleh para Trainer (ustadz-ustadzah dari daerah tersebut) yang sebelumnya telah dibekali oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainers yang dilaksanakan bulan Agustus kemarin (18-21/8). Para trainer tersebut adalah Rosifi, Musriyah, Hindun Tajri, Muhammad Khudhori, Fathullah , dan Mohammad Mosleh. Mereka semua merupakan bagian dari tim penulis modul “Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang dijadikan bahan ajar dalam training tersebut.

Dalam sambutan pembukaan Training ini, Irfan Abubakar menegaskan bahwa, "Training ini diselenggarakan untuk menjadikan para santri dan komunitas pesantren sebagai pelopor perdamaian, menyebarkan semangat Islam rahmatan lilalamien. Selain itu, untuk menyiapkan mereka agar mampu menangani konflik secara damai. Sehingga mereka diharapkan mampu melanjutkan misi kenabian, yaitu menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia melalui penghormatan terhadap hak asasi manusia." (9/9)

Hindun Tajri, Salah seorang trainer dari pesantren yang telah mengikuti Training of Trainers CSRC menekankan pentingnya Muslim menghormati HAM karena Islam diturunkan sebagai agama kemanusiaan. Salah satu nilai HAM dalam Islam adalah kebebasan bergama: laa ikraaha fi al-dien, artinya tidak ada paksaan dalam agama. Selain itu, yang juga penting adalah keseteraan laki-laki dan perempuan.

Pada hari terakhir kegiatan training ini, para peserta akan diajak untuk melakukan Field Trip ke Sekretariat Pusham Surabaya dengan didampingi oleh Ubed Abdillah Syarif, salah seorang supervisor dari CSRC yang akan membimbing para peserta untuk melakukan wawancara dan menuliskan laporan hasil pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut.

Tak ada harapan yang lebih tinggi dari serangkaian Training dan Field Trip ini, kecuali keinginan untuk membantu menambah pengetahuan dan pemahaman para santri nilai-nilai toleransi, hak asasi manusia dan perdamaian serta meningkatkan kapasitas mereka sebagai ujung tombak terdepan perubahan masyarakat agar berperilaku lebih demokratis dan dilandasi nilai-nilai damai. Semoga seluruh rangkaian kegiatan Training dan Field Trip ini berjalan dengan lancar dan sukses. Amin.

Page 1 of 2