Dalam rangka merealisasikan komitmennya untuk ikut membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih damai di Negeri ini, CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa jalankan agenda penting dalam program unggulannya, “Pesantren for Peace”, agenda tersebut adalah Capacity Training dan Field Trip yang akan melibatkan 300 santri dari berbagai pondok pesantren di lima kota.

Sebelum Capacity Training ini dimulai, 30 ustadz/ustadzah yang disiapkan oleh tim PfP melalui penyeleksian dalam beberapa workshop, mengikuti Training of Trainers (TOT) terlebih dahulu, yang diselenggarakan di Hotel Via Renata Puncak (18-21/08/2015). TOT ini merupakan pembekalan untuk para ustadz sebelum terjun langsung menjadi trainer bagi para santri. Direktur CSRC, Irfan Abubakar menjelaskan “Tujuan dari TOT ini adalah untuk memastikan guru ini benar-benar siap untuk menyampaikan Modul yang telah ditulis oleh mereka dalam program selanjutnya, yaitu Capacity Training yang melibatkan 300 santri dari berbagai pesantren.”

Untuk lebih melibatkan peran pesantren dalam program ini, 150 guru yang ikut serta dalam workshop pengembangan Modul yang telah dilaksanakan sebelumnya, diminta untuk memilih 2 santri terbaik mereka (1 laki-laki, 1 perempuan) dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh tim PfP.

“Setiap sesi capacity Training akan diikuti oleh 30 santri di setiap wilayah (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan DKI Jakarta), di mana 6 ustadz/ustadzah yang terlatih akan terlibat sebagai trainer dalam setiap sesinya. Artinya, capacity training ini akan berlangsung 10 kali di lima kota tersebut atau dua kali di setiap kotanya.” Ujar koordinator program, Sholehudin A.Aziz saat diwawancarai (3/9)

Segera setelah mengikuti Capacity Training ini, para santri tersebut di ajak untuk melakukan kunjungan lapangan (Field Trip) ke 10 lokasi terjadinya konflik dan kekerasan atau pelanggaran HAM di sekitar wilayah tersebut untuk memastikan keterkaitan dua kegiatan tersebut.

Berdasarkan pengalaman KAS-CSRC dalam melaksanakan program untuk alumni Training agama dan HAM, kegiatan field trip ke lokasi terjadinya konflik dan korban pelanggaran HAM telah terbukti menjadi salah satu cara yang paling efektif bagi pemuda aktivis Muslim untuk meyakinkan masyarakat yang memiliki sikap negatif kepada kelompok minoritas untuk mengubah pikiran mereka dan memiliki sikap yang lebih baik dan positif kepada mereka. Kegiatan semacam ini akan memberikan  "pengalaman nyata" bagi para santri dalam menerapkan pengetahuan teoritis mereka pada akar penyebab intoleransi agama, konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Sekretaris Program PfP, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Kegiatan Capacity Training dan field Trip ini akan di Mulai di Surabaya pada tanggal 9-12 September 2015, kemudian kami lanjut di Semarang pada tanggal 29 September – 2 oktober 2015, di Yogyakarta pada tanggal 20 – 23 Oktober 2015, di Bandung pada tanggal 10 -13 November, serta terakhir di Jakarta pada tanggal 1 – 4 Desember 2015.” Ujar Idris menjelaskan.

Jadi, inti kegiatan Capacity Training dan Field Trip ini adalah, agar 300 santri pesantren ini memiliki pengalaman yang lebih mendalam terkait pentingnya perdamaian, toleransi, dan HAM. Seusai melakukan field trip, para peserta diminta menuliskan hasil wawancara dan pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut.

Page 2 of 2