JAKARTA, Pesantrenforpeace.com-Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa menyelenggarakan Training dan Field Trip yang bertajuk “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam”. Training tersebut dilaksanakan di Soll Marina Hotel, Serpong, Kamis - Sabtu 19-2 November 2015, dan Field Trip pada hari Sabtu – Minggu 21-22 November 2015 .

 

Sarah Sabina Hasbar, Manager Program Pesantren for Peace, dalam sambutannya menyampaikan bahwa training ini merupakan training ke-4 yang dihadiri oleh santri setelah sebelumnya di Surabaya, Semarang dan Yogyakarta, dan menyusul yang akan datang di Bandung, 26-29 November 2015. Ke-5 rangkaian Training ini difasilitasi oleh para ustadz dan ustadzah penulis modul yang sebelumnya telah dibina oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainer, 30 juli – 1 Agustus 2015 lalu.

“Melalui kegiatan ini para santri dari berbagai pesantren di wilayah DKI Jakarta dan Sekitarnya (DKI Jakarta, Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, dan Serang) dilatih menjadi ‘Duta Perdamaian’, untuk meningkatkan kapasitas pesantren agar lebih berperan dalam mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan konflik secara damai”, ungkap Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan training secara resmi.

Irfan menambahkan, “Dilihat dari sejarah berdirinya, Pesantren mewakili masuknya agama Islam di Indonesia dengan jalan damai. Berbeda dengan di negara-negara Timur Tengah yang penyebaran Islamnya tak lepas dari perang. Namun, meskipun sejak dulu telah tertanam watak ‘cinta damai’ di Pesantren, tapi pesantren belum mampu untuk menjadi agen perdamaian dan resolusi konflik secara damai.” Hal itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Training peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren ini.

Koordinator program Pesantren for Peace, Idris Hemay, menyebutkan bahwa peserta training ini melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di sekitar Jakarta: Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Serang dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi. Selain itu, acara pembukaan training ini dihadiri oleh perwakilan dari Uni Eropa, Mariana Pinto.

Para Trainer yang menjadi fasilitator dalam training ini diantaranya Ustadz Miftah Farid (PP An-Nuqtah), Ustadz Muhammahd Arsan (PP Madinatunnajah), Ustadzah Nurul Khariroh (PP Nur Medina), Ustadz Afthon Lubbi Nuriz (PP Darunnajah), Ustadz Muhammad Mahsun (PP Nurul Huda), dan Ustadz Zulkarnaen (PP Nur Medina). Setelah mengikuti training, selanjutnya 30 santri tersebut akan mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah.

Field Trip dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Ahmadiyah; dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Setelah Field Trip, ke-30 santri ini akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.