Oleh: Irfan Abubakar

 

Bhineka Tunggal Ika adalah Ruh Bangsa

Sebagai sebuah bangsa besar, Indonesia dibentuk oleh beragam kelompok dan identitas kesukuan, bahasa, kebudayaan, dan tentu saja keagamaan. Meskipun umat Islam banyak mewarnai landskap budaya di negeri ini, namun kelompok-kelompok umat lain juga memainkan perannya masing-masing untuk menyempurnakan konfigurasi kebangsaan kita. Bangsa Indonesia telah berusaha mengelola keragamannya demi tercapai tujuan bersama membangun sebuah negeri yang adil dan sejahtera. Mengelola keragaman yang kental seperti Indonesia merupakan projek yang menantang, namun sekaligus menghadirkan peluang. Para pendiri negara ini telah menyadari akan hal itu dan mengukuhkan semboyan berbangsa dan bernegara, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap bersatu.

Di balik frase Bhinneka Tunggal Ika terkandung serangkaian nilai dan prinsip hidup yang memungkinkan sebuah sistem sosial dan politik bekerja dengan baik. Semboyan ini semacam jiwa bagi tubuh, atau energi yang menggerakkan sebuah mesin. Energi itu mewujud ke dalam sikap berbagai kelompok untuk saling mengenal, saling memahami, saling percaya, saling menghargai, saling mengakui, dan akhirnya saling memberi manfaat. Dengan nilai-nilai itu kita menyaksikan tubuh Indonesia senantiasa sehat, kuat dan energik. Namun, berbagai konflik kekerasan yang terjadi antara kelompok masyarakat akhir-akhir ini membuat kita bertanya-tanya, apakah gejala ini sebuah isyarat bahwa bangsa ini sedang sakit?        

Setiap kelompok dari manapun asalnya merasa terpanggil untuk mengemban tanggungjawab yang sama untuk memastikan persatuan dalam perbedaan tetap terpelihara dengan baik. Saling menunggu dan mengandalkan hanya akan menciptakan ketidakpastian. Meskipun semua umat beragama berdiri dalam posisi yang setara, namun umat Islam diharapkan menjadi pelopor agenda kebangsaan ini dengan menunjukkan kemauan yang kuat, tanggungjawab, serta kehandalan dalam pengetahuan dan ketrampilan. Tidak terkecuali pesantren sebagai bagian penting dari umat Islam Indonesia berpotensi untuk mendorong kehidupan bermasyarakat yang lebih damai dan toleran.

Pesantren Sebagai Negeri Damai

Di bawah misi mendidik generasi Muslim dengan ajaran, tradisi dan nilai-nilai Islam, pesantren sesungguhnya dapat menjalankan tugas kepeloporan tersebut dengan baik. Faktanya, lembaga sosial berusia tua ini telah menjadi bagian penting dari tonggak kehidupan damai di bumi nusantara. Kehadirannya mencerminkan sifat penyebaran Islam di tanah air yang berlangsung damai dan mampu sepenuhnya beradaptasi dengan tradisi dan kultur lokal yang telah berakar lama.

Hal itu dimungkinkan oleh kelenturan yang menjadi sifat bawaan pesantren, yang juga dipraktikkan kelak ketika pesantren dituntut beradaptasi dengan nilai-nilai dan tradisi yang dibawa serta oleh modernitas. Tidak heran hingga dewasa ini makin banyak pesantren yang mengadopsi ilmu-ilmu dan juga teknologi modern, seperti komputer dan internet, dalam sistem pendidikan dan pengajarannya. Singkat kata, dalam diri pesantren terdapat perpaduan antara komitmen pada nilai-nilai dan tradisi lama yang damai dan toleran dengan kesediaan beradaptasi dengan kultur lokal dan tuntutan modernitas.

Fakta ini diperkuat oleh distingsi pesantren yang menitikberatkan pada pendidikan karakter. Dengan orientasi ini pesantren telah melahirkan para alumni yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Organisasi Nahdatul Ulama (NU), ormas terbesar umat Islam Indonesia, didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, seorang tokoh utama dunia pesantren. Selanjutnya NU yang pada masa lalu merupakan partai politik telah melahirkan partai politik sendiri di era paska Orde Baru dimana kebanyakan alumni pesantren berkiprah. Muhammadiyah yang dikesankan non-pesantren, juga didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, seorang tokoh Islam yang mengenyam pendidikan pesantren.

Kedua organisasi besar tersebut kelak melahirkan banyak kader yang juga bekerja untuk tujuan-tujuan perdamaian, toleransi dan integrasi sosial. Para alumni pesantren yang melanjutkan studi di perguruan tinggi meningkatkan kepekaan sosialnya melalui keaktifan mereka di organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, yang tentu instrumental dalam pembangunan relasi sosial yang damai. Itu semua membuktikan bahwa pada tingkat tertentu pesantren melalui pendidikan leadership-nya telah menjalankan peran kepeloporan tersebut di atas.

Dengan pesatnya perkembangan pesantren, khususnya di pulau Jawa, semakin besar peluang untuk meningkatkan peran tersebut. Namun, semakin tingginya kompleksitas masalah yang terjadi di masyarakat menuntut kemampuan yang semakin canggih untuk mengenali dan menganalisisnya dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Terlebih, kebijakan negara (Masyarakat Ekonomi Asean) untuk membuka pintu masuknya berbagai macam barang, jasa dan orang-orang dari kawasan Asia Tenggara ke dalam negeri tak pelak akan membawa dampak sosial yang semakin kompleks dan apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi potensi gesekan dan bahkan konflik social baru. Sebagai langkah antisipatif pesantren perlu menyiapkan diri dengan cara meningkatkan kapasitasnya dalam memahami akar konflik serta menguasai prinsip-prinsip bekerja dan metode untuk mengelola dan mengatasinya.

Tugas utama pesantren mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dan mendidik para santri dengan karakter islami. Bagaimanapun penanaman nilai-nilai damai dan resolusi konflik, yang dikenal dengan Ishlah dalam bahasa pesantren, telah menjadi sesuatu yang inheren dalam karakter kehidupan pesantren itu sendiri. Bahkan karakter tersebut tercermin dari suasana kehidupan pesantren sehari-hari yang dirasakan penuh dengan ketenangan dan ketentraman. Sehingga tidak mengherankan banyak pesantren di tanah air yang diberi nama “Daarussalam” (Kampung Damai).

Toleransi Juga Bagian Dari Jihad

Di tengah krisis peperangan yang menimpa dunia Islam, khususnya yang menimpa negara-negara Timur Tengah dewasa ini, adalah saat yang tepat mengingatkan kembali pentingnya menghidupkan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, perdamaian, toleransi dan resolusi konflik secara damai. Terlebih bagi dunia pesantren yang memegang saham terbesar dalam usaha membentuk dan mewarnai corak pemikiran dan sikap generasi Muslim. Pembentukan karakter cinta damai dalam masyarakat Islam mustahil dilakukan secara instan tanpa usaha yang konsisten dan berkelanjutan.

Memilih jalan perdamaian dan kehidupan yang toleran dalam dunia yang dipenuhi oleh prasangka dan permusuhan sering dianggap sebagai bentuk kelemahan iman atau tipisnya militansi perjuangan. Ini adalah anggapan yang keliru, karena pilihan ini tidak muncul begitu saja tapi diperoleh melalui proses panjang pemikiran yang diperkukuh oleh dalil-dalil naqli dan aqli tentang bagaimana seharusnya menyikapi relasi kehidupan yang diwarnai konflik dan permusuhan. Islam mengajarkan bahwa asal dan sekaligus tujuan kehidupan ini adalah persatuan, persaudaraan dan perdamaian, bukan perpecahan, permusuhan dan konflik kekerasan.

Namun, perbedaan dan pertentangan antara manusia dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari watak kehidupan alamiah manusia itu sendiri. Menghadapi kenyataaan tersebut Islam menyeru kepada umat beriman untuk mengedepankan jalan damai (ishlâh) guna merestorasi hubungan yang retak akibat konflik. Menempuh jalan damai dalam kenyataannya jauh lebih sulit daripada memutuskan untuk bertikai dan berperang. Kesimpulan ini mengingatkan kita pada hadis Nabi Saw., usai kembali dari perang Tabuk, “Kita telah kembali dari jihad yang lebih kecil, menuju jihad yang lebih besar”.

Para ulama, termasuk Imam al-Suyuthi dalam Kitab al-Jami’ al-Shaghir, menafsirkan jihad yang lebih besar ini dengan “jihad melawa hawa nafsu”. Meskipun ungkapan” jihad melawan hawa nafsu” mengandung makna yang luas, namun makna yang paling logis darinya adalah melawan nafsu untuk berperang itu sendiri, karena konteks komunikasi munculnya hadis itu yang paling dekat adalah konteks perang. Dalam kenyataan, penggunaan cara-cara kekerasan untuk mengatasi konflik apabila tidak direm dapat membawa orang menerima budaya kekerasan itu sendiri. Dengan kata lain, nafsu untuk berperang menjadi tantangan perjuangan yang lebih berat daripada perang itu sendiri. Singkat kata, menempuh jalan damai adalah suatu pilihan perjuangan!

Kami percaya sebagian besar masyarakat Muslim di negeri ini mendambakan kehidupan yang damai, toleran dan harmonis khususnya dalam relasi umat beragama. Berbagai perbedaan yang dapat memicu keretakan dan perpecahan selayaknya dihadapi secara bijaksana dan mengedepankan cara-cara dialogis atas dasar saling menghormati hak asasi manusia itu sendiri. Keyakinan luhur ini telah terkristalisasi dalam betuk dasar negara Pancasila dan dikukuhkan dalam konstitusi serta undang-undang dan peraturan negara. Dilihat dari kecenderungan umum dalam masyarakat dan juga rejim hukum yang melegitimasinya, upaya untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di masyarakat sudah selayaknya mendapatkan dukungan yang luas.

 

*) Dikutip dari Pengantar Editor Modul Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam di Pesantren

Dalam rangka merealisasikan komitmennya untuk ikut membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih damai di Negeri ini, CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa jalankan agenda penting dalam program unggulannya, “Pesantren for Peace”, agenda tersebut adalah Capacity Training dan Field Trip yang akan melibatkan 300 santri dari berbagai pondok pesantren di lima kota.

Sebelum Capacity Training ini dimulai, 30 ustadz/ustadzah yang disiapkan oleh tim PfP melalui penyeleksian dalam beberapa workshop, mengikuti Training of Trainers (TOT) terlebih dahulu, yang diselenggarakan di Hotel Via Renata Puncak (18-21/08/2015). TOT ini merupakan pembekalan untuk para ustadz sebelum terjun langsung menjadi trainer bagi para santri. Direktur CSRC, Irfan Abubakar menjelaskan “Tujuan dari TOT ini adalah untuk memastikan guru ini benar-benar siap untuk menyampaikan Modul yang telah ditulis oleh mereka dalam program selanjutnya, yaitu Capacity Training yang melibatkan 300 santri dari berbagai pesantren.”

Untuk lebih melibatkan peran pesantren dalam program ini, 150 guru yang ikut serta dalam workshop pengembangan Modul yang telah dilaksanakan sebelumnya, diminta untuk memilih 2 santri terbaik mereka (1 laki-laki, 1 perempuan) dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh tim PfP.

“Setiap sesi capacity Training akan diikuti oleh 30 santri di setiap wilayah (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan DKI Jakarta), di mana 6 ustadz/ustadzah yang terlatih akan terlibat sebagai trainer dalam setiap sesinya. Artinya, capacity training ini akan berlangsung 10 kali di lima kota tersebut atau dua kali di setiap kotanya.” Ujar koordinator program, Sholehudin A.Aziz saat diwawancarai (3/9)

Segera setelah mengikuti Capacity Training ini, para santri tersebut di ajak untuk melakukan kunjungan lapangan (Field Trip) ke 10 lokasi terjadinya konflik dan kekerasan atau pelanggaran HAM di sekitar wilayah tersebut untuk memastikan keterkaitan dua kegiatan tersebut.

Berdasarkan pengalaman KAS-CSRC dalam melaksanakan program untuk alumni Training agama dan HAM, kegiatan field trip ke lokasi terjadinya konflik dan korban pelanggaran HAM telah terbukti menjadi salah satu cara yang paling efektif bagi pemuda aktivis Muslim untuk meyakinkan masyarakat yang memiliki sikap negatif kepada kelompok minoritas untuk mengubah pikiran mereka dan memiliki sikap yang lebih baik dan positif kepada mereka. Kegiatan semacam ini akan memberikan  "pengalaman nyata" bagi para santri dalam menerapkan pengetahuan teoritis mereka pada akar penyebab intoleransi agama, konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Sekretaris Program PfP, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Kegiatan Capacity Training dan field Trip ini akan di Mulai di Surabaya pada tanggal 9-12 September 2015, kemudian kami lanjut di Semarang pada tanggal 29 September – 2 oktober 2015, di Yogyakarta pada tanggal 20 – 23 Oktober 2015, di Bandung pada tanggal 10 -13 November, serta terakhir di Jakarta pada tanggal 1 – 4 Desember 2015.” Ujar Idris menjelaskan.

Jadi, inti kegiatan Capacity Training dan Field Trip ini adalah, agar 300 santri pesantren ini memiliki pengalaman yang lebih mendalam terkait pentingnya perdamaian, toleransi, dan HAM. Seusai melakukan field trip, para peserta diminta menuliskan hasil wawancara dan pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut.

Irfan Abubakar, Direktur CSRC dalam Focus Grup Discussion Pesantren for Peace yang diselenggarakan CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (12/3). (Foto-foto: Bayu Probo)

TANGERANG SELATAN, SATUHARAPAN.COM – Pesantren tempat strategis memasyarakatkan hak asasi manusia di Indonesia. Itulah kesimpulan dari Focus Grup Discussion Pesantren for Peace yang diselenggarakan Center for The Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (12/3).

Page 2 of 2