Aku lupa


Aku lupa kalau aku manusia
Aku lupa aku tak sempurna
Aku lupa jika aku punya agama
Aku lupa kalau aku tinggal di Negara
Dan aku lupa kalau punya pancasila

           Aku lupa kalau ada lelaki dan wanita
           Aku lupa aku punya teman sebaya
              Aku lupa aku punya tetangga
           Aku lupa aku tinggal di tanah siapa

Aku lupa kalau aku satu bangsa
Aku lupa kalau aku terdiri dari berbagai ras yang beraneka
Aku lupa kalau aku berbeda
Dan aku lupa bahwa aku mengidap penyakit besar kepala

           Aku lupa di kitab suci ada kata manusia
            Aku kira Tuhan hanya bercanda
              Aku lupa di kitab Suci Manusia begitu mulia
              Aku kira itu celotehan para pujangga

Aku lupa Tuhanpun melukis kata nasahra dan yahuda
Aku kira hanya agamaku saja yang ada
Tak kusangka?
Aku begitu lupa.

            Aku lupa Tuhan menciptakan adam dan hawa
               Aku lupa kalau aku berpijak di dunia
               Kusangka akhirat jualah yang ku cita
               Tak kusangka
               Aku begitu lupa.

Aku sangka itu hanya bualan belaka
Tak taunya ada kehendak yang Maha
aku ini kenapa?
manusia atau pencipta?
berani berkata benar atau salah
halal atau haramkah?
neraka atau surgakah?
teman atau musuhkah?
muslim atau kafirkah?
Tak kusangka penyakitku sudah sedemikian rupa.

           Sayang aku terlalu penyayang
              Pada egoku yang selalu kutimang
           Sayang aku terlalu perasa
             Pada perasaanku yang penuh durjana
             Sayang aku terlalu istiqomah
             Pada doaku yang berbunyi Robbana atina
             Hingga aku terlupa, jika yang selalu kusebut pertama adalah Fit dhunya

Sayang aku terlalu beriman
Pada sorgaku yang penuh dengan taman
Sayang sungguh sayang
Kusangka sorgaku hanya seorang
ternyata banyak orang yang lalu lalang.

 

Rafiq Mohammad, 23 Mei 2016

 


Pesantrenforpeace.com, Surabaya  –  Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa dalam program unggulannya yang bertajuk “Pesantren for Peace (PfP)” kembali menggelar kegiatan Training dan Field Trip untuk para santri di Surabaya setelah training pertama pada 9-12 September 2015.

“Yang menarik dari training kali ini dibandingkan dengan training Surabaya sebelumnya adalah pesertanya lebih aktif dan kritis sehingga membuat trainer lebih tertantang dalam mempersiapkan materi yang lebih baik dari sebelumnya”, ungkap Idris Hemay, Koordinator Program Pesantren for Peace.

Idris menambahkan “Cakupan wilayah tuk training sekarang juga ada penambahan dari yang sebelumnya hanya 6 kabupaten/kota di Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), sekarang menjadi 9 kabupaten/kota ditambah dengan Jombang, Pasuruan, dan Sidoarjo, sehingga dinamika diskusinya lebih aktif karena komposisi peserta dari pesantren yang beragam”, ujar Idris

Training kedua di Surabaya ini masih bertema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren berperspektif HAM dan Islam” sesuai dengan tujuannya yaitu dengan adanya training dan field trip ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Sebanyak 30 santri dari 30 pesantren di Surabaya dan sekitarnya, dengan komposisi 12 perempuan dan 18 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi aktif berpartisifasi dalam Training ini selama 4 hari (5-7 Januari 2016 kegiatan Training dan 7-8 Januari 2016 Field Trip) di Hotel Novotel, Surabaya.

Setelah peserta mengikuti training selanjutnya 30 santri diajak untuk field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan perwakilan 2 pengungsi konflik Syi’ah Sampang di kantor Center for Marginalized Communities Studies (CIMARs) Surabaya.

Field Trip ini dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jawa Timur, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Syi’ah di Sampang, dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai.

Seperti Training dan Field trip sebelumnya, kali ini juga setelah para peserta mengikuti Field Trip, mereka dituntut untuk menulis hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.

 

 

JAKARTA, Pesantrenforpeace.com-Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa menyelenggarakan Training dan Field Trip yang bertajuk “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam”. Training tersebut dilaksanakan di Soll Marina Hotel, Serpong, Kamis - Sabtu 19-2 November 2015, dan Field Trip pada hari Sabtu – Minggu 21-22 November 2015 .

 

Sarah Sabina Hasbar, Manager Program Pesantren for Peace, dalam sambutannya menyampaikan bahwa training ini merupakan training ke-4 yang dihadiri oleh santri setelah sebelumnya di Surabaya, Semarang dan Yogyakarta, dan menyusul yang akan datang di Bandung, 26-29 November 2015. Ke-5 rangkaian Training ini difasilitasi oleh para ustadz dan ustadzah penulis modul yang sebelumnya telah dibina oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainer, 30 juli – 1 Agustus 2015 lalu.

“Melalui kegiatan ini para santri dari berbagai pesantren di wilayah DKI Jakarta dan Sekitarnya (DKI Jakarta, Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, dan Serang) dilatih menjadi ‘Duta Perdamaian’, untuk meningkatkan kapasitas pesantren agar lebih berperan dalam mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan konflik secara damai”, ungkap Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan training secara resmi.

Irfan menambahkan, “Dilihat dari sejarah berdirinya, Pesantren mewakili masuknya agama Islam di Indonesia dengan jalan damai. Berbeda dengan di negara-negara Timur Tengah yang penyebaran Islamnya tak lepas dari perang. Namun, meskipun sejak dulu telah tertanam watak ‘cinta damai’ di Pesantren, tapi pesantren belum mampu untuk menjadi agen perdamaian dan resolusi konflik secara damai.” Hal itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Training peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren ini.

Koordinator program Pesantren for Peace, Idris Hemay, menyebutkan bahwa peserta training ini melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di sekitar Jakarta: Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Serang dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi. Selain itu, acara pembukaan training ini dihadiri oleh perwakilan dari Uni Eropa, Mariana Pinto.

Para Trainer yang menjadi fasilitator dalam training ini diantaranya Ustadz Miftah Farid (PP An-Nuqtah), Ustadz Muhammahd Arsan (PP Madinatunnajah), Ustadzah Nurul Khariroh (PP Nur Medina), Ustadz Afthon Lubbi Nuriz (PP Darunnajah), Ustadz Muhammad Mahsun (PP Nurul Huda), dan Ustadz Zulkarnaen (PP Nur Medina). Setelah mengikuti training, selanjutnya 30 santri tersebut akan mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah.

Field Trip dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Ahmadiyah; dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Setelah Field Trip, ke-30 santri ini akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.

 

Dalam rangka merealisasikan komitmennya untuk ikut membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih damai di Negeri ini, CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa jalankan agenda penting dalam program unggulannya, “Pesantren for Peace”, agenda tersebut adalah Capacity Training dan Field Trip yang akan melibatkan 300 santri dari berbagai pondok pesantren di lima kota.

Sebelum Capacity Training ini dimulai, 30 ustadz/ustadzah yang disiapkan oleh tim PfP melalui penyeleksian dalam beberapa workshop, mengikuti Training of Trainers (TOT) terlebih dahulu, yang diselenggarakan di Hotel Via Renata Puncak (18-21/08/2015). TOT ini merupakan pembekalan untuk para ustadz sebelum terjun langsung menjadi trainer bagi para santri. Direktur CSRC, Irfan Abubakar menjelaskan “Tujuan dari TOT ini adalah untuk memastikan guru ini benar-benar siap untuk menyampaikan Modul yang telah ditulis oleh mereka dalam program selanjutnya, yaitu Capacity Training yang melibatkan 300 santri dari berbagai pesantren.”

Untuk lebih melibatkan peran pesantren dalam program ini, 150 guru yang ikut serta dalam workshop pengembangan Modul yang telah dilaksanakan sebelumnya, diminta untuk memilih 2 santri terbaik mereka (1 laki-laki, 1 perempuan) dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh tim PfP.

“Setiap sesi capacity Training akan diikuti oleh 30 santri di setiap wilayah (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan DKI Jakarta), di mana 6 ustadz/ustadzah yang terlatih akan terlibat sebagai trainer dalam setiap sesinya. Artinya, capacity training ini akan berlangsung 10 kali di lima kota tersebut atau dua kali di setiap kotanya.” Ujar koordinator program, Sholehudin A.Aziz saat diwawancarai (3/9)

Segera setelah mengikuti Capacity Training ini, para santri tersebut di ajak untuk melakukan kunjungan lapangan (Field Trip) ke 10 lokasi terjadinya konflik dan kekerasan atau pelanggaran HAM di sekitar wilayah tersebut untuk memastikan keterkaitan dua kegiatan tersebut.

Berdasarkan pengalaman KAS-CSRC dalam melaksanakan program untuk alumni Training agama dan HAM, kegiatan field trip ke lokasi terjadinya konflik dan korban pelanggaran HAM telah terbukti menjadi salah satu cara yang paling efektif bagi pemuda aktivis Muslim untuk meyakinkan masyarakat yang memiliki sikap negatif kepada kelompok minoritas untuk mengubah pikiran mereka dan memiliki sikap yang lebih baik dan positif kepada mereka. Kegiatan semacam ini akan memberikan  "pengalaman nyata" bagi para santri dalam menerapkan pengetahuan teoritis mereka pada akar penyebab intoleransi agama, konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Sekretaris Program PfP, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Kegiatan Capacity Training dan field Trip ini akan di Mulai di Surabaya pada tanggal 9-12 September 2015, kemudian kami lanjut di Semarang pada tanggal 29 September – 2 oktober 2015, di Yogyakarta pada tanggal 20 – 23 Oktober 2015, di Bandung pada tanggal 10 -13 November, serta terakhir di Jakarta pada tanggal 1 – 4 Desember 2015.” Ujar Idris menjelaskan.

Jadi, inti kegiatan Capacity Training dan Field Trip ini adalah, agar 300 santri pesantren ini memiliki pengalaman yang lebih mendalam terkait pentingnya perdamaian, toleransi, dan HAM. Seusai melakukan field trip, para peserta diminta menuliskan hasil wawancara dan pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut.