Center For the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa mengadakan Workshop untuk ustadz dan ustadzah dari pesantren-pesantren di sekitar JABOTABEK mengenai Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren yang diselenggarakan di hotel Soll Marina Serpong selama tiga hari, 18-20 Mei 2015.

Sebanyak 30 Guru-guru muda Pesantren wilayah Jawa Barat mengikuti Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM, dan Perdamaian di Pesantren selama 3 hari, tanggal 18-20 Mei 2015 di Hotel Scarlet Dago, Bandung. Acara Ini diselenggarakan oleh CSRC bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa.

Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren untuk wilayah Jawa Tengah diselenggarakan di Hotel Pandanaran Semarang selama tiga hari, 22-24 Mei 2015. Workshop yang merupakan salah satu program CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa ini diikuti oleh 30 guru pesantren dari daerah Jawa Tengah.

Beberapa tahun terakhir Ambon sekilas terlihat damai dan rukun, namun potensi konflik ternyata masih ada. Kerusuhan Ambon 11 September 2011 dan pawai obor Pattimura yang berakhir bentrok pada 15 Mei 2012 adalah bukti bahwa kepercayaan antar kelompok belum tumbuh sempurna di kalangan masyarakat. Meskipun telah ada Perjanjian Malino II pada 13 Februari 2002, namun trauma dan rasa saling tidak percaya akibat konflik 1999-2001 masih meninggalkan sisa.

Penguatan identitas etnis dan keagamaan sangat tampak selama konflik Ambon. Penggunaan rumah ibadah sebagai tempat berlindung menjadi salah satu buktinya.  Kelompok Muslim menggunakan Masjid Al-Fatah sebagai basis Muslim dan sebaliknya kelompok Kristen menggunakan Gereja Maranatha sebagai basis Kristen. Selain itu, isu etnis sebagai pemicu ketidak seimbangan ekonomi juga menyeruak muncul sebagai penyebab konflik, sehingga pasca konflik penguatan identitas kesukuan juga turut menguat. Sampai kini penguatan identitas etnis dan agama masih terus berlangsung. Buktinya, segregasi tempat tinggal dan beberapa ruang publik pasca konflik terjadi, walaupun sebagian ruang publik, seperti pasar dan sekolah, sudah mulai mencair.

Damai bukanlah tiadanya konflik, tetapi damai sesungguhnya adalah damai yang dinamis, partisipatif, dan berjangka panjang. Mengutip Albert Einstein, damai mensyaratkan keadilan, penegakan hukum dan ketertiban. Pembangunan perdamaian hendaknya diarahkan pada transformasi relasi sosial yang konstruktif yang membuka tidak hanya komunikasi tetapi juga kerja sama sehingga akan terwujud kohesi sosial.

Masyarakat Ambon saat ini belum mencapai level integrasi sosial yang kuat. Integrasi sosial mengharuskan tidak adanya kekerasan komunal, adanya organisasi dan asosiasi lintas kelompok, dan adanya kemauan masyarakat menjadikan dialog sebagai jalan keluar. Menurut Varshney, kota yang damai mensyaratkan adanya keterlibatan semua warga dalam kegiatan kewargaan (civic engagement). Civic engagement dalam rangka mencapai integrasi sosial memerlukan media berkumpul seperti organisasi, asosiasi, kelompok kewargaan, maupun organiasasi seni, olahraga, dan hobi, yang keanggotaannya lintas iman. Selain itu, tinggi rendahnya integrasi sosial dapat pula dilihat dari seberapa besar kesadaran warga untuk menggunakan dialog dan mengklarifikasi jika muncul potensi konflik.

Salah satu pendekatan bina damai yang penting adalah pendidikan, yaitu melalui pendidikan berperspektif perdamaian. Pendekatan menjadi penting karena ia dapat membentuk kesadaran generasi muda dalam membangun kepercayaan, mengurangi rasa saling curiga, membuka ruang publik agar terbangun komunikasi dan kerjasama intensif antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnis. Nilai-nilai tersebut apabila berhasil disemai dapat diharapkan menjadi platform bersama untuk mengurangi kekerasan antar kelompok dan membangun perdamaian di Ambon dalam jangka panjang.

Sebagai bentuk respon kepedulian terhadap proses pembangunan perdamaian yang terjadi di Ambon, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan The Asia Foundation telah melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian. Intervensi program ini merupakan hasil dari proses Needs Assessment “Program Bina Damai di Ambon” yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Intervensi program menggunakan bentuk workshop yang diselenggarakan sebanyak empat kali. Model workshop diharapkan dapat membangun kesepahaman tentang visi, misi, serta pengelolaan pendidikan berperspektif perdamaian. Untuk  mencapai hasil yang maksimal, workshop dilakukan dengan metode yang partisipatif dan berorientasi bottom up sehingga hasilnya akan akan lebih mengakar dan dipahami dengan lebih baik.

Workshop diselenggarakan selama empat kali tahapan, yaitu Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon, Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah, Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon, dan Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon.

Dua workshop pertama telah terselenggara pada 16–20 Juni 2014 di Ambon yang diikuti oleh 40 orang guru. Workshop tersebut menghasilkan format pendidikan yang paling mungkin bisa terlaksana adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian ke dalam materi dan proses pembelajaran sekaligus disempurnakan dengan pembudayaan sekolah (school culture). Oleh karena itu pendidikan perdamaian sendiri bukanlah pelajaran khusus, namun merupakan materi yang diintegrasikan dengan mata pelajaran yang ada. Para pengampu pendidikan perdamaian harus kreatif menginisiasi pola pendidikan ini seperti dalam kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kegiatan kreatif lainnya yang mendorong peran aktif siswa.

Workshop tahap ketiga diselenggarakan pada 19–21 Agustus 2014 di Swiss-Belhotel Ambon dan melibatkan 40 guru yang berasal dari Ambon dan sekitarnya. Workshop ini lebih menitik beratkan praktik pembelajaran pendidikan perdamaian dengan mengajak para guru untuk langsung mempraktikkannya dalam bentuk micro-teaching. Workshop terdiri dari dua kategori sesi, yaitu sesi seminar dan sesi diskusi kelompok. Pada sesi seminar melibatkan dua narasumber yang kompeten, yaitu Yudhi Munadi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyampaikan materi “Strategi Pembelajaran Berbantuan Media” dan Pdt. Jacky Manuputty yang berfokus pada materi “Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian”. Pdt. Jacky Manuputty mengajak para peserta untuk memahami bagaimana menciptakan dan menguasai teknik komunikasi yang efektif dalam pembelajaran khususnya nilai-nilai perdamaian, sementara Yudhi Munadi membawa para peserta agar mampu memanfaatkan media untuk pembelajaran nilai-nilai perdamaian. Sebagai apresiasi kepada peserta, Yudhi Munadi memberikan buku karyanya sendiri yang berjudul “Media Pembelajaran” kepada 5 peserta teraktif di masing-masing kelompok.

Workhsop keempat diselenggarakan pada 22-23 Agustus 2014 di Swiss-Belhotel Ambon, berfokus pada advokasi pendidikan perdamaian dengan tujuan untuk menemukan kesepahaman dalam mengimplementasikan pendidikan perdamaian di sekolah serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk implementasi pendidikan perdamaian di sekolah. Hasilnya, para peserta yang terdiri dari 20 orang yang merupakan tokoh masyarakat, agamawan, kementerian agama provinsi Maluku, kepala sekolah, yayasan pendidikan, guru, LSM, dan media, sepakat untuk memahami arti penting pendidikan perdamaian di Ambon (atau dalam skala lebih luas lagi Maluku). Maka mereka bersemangat untuk membentuk “Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku” yang secara bersama-sama dideklarasikan di Ambon pada 21 Agustus 2014. Aliansi ini berada di bawah koordinasi Abidin Wakano dengan 3 ketua, yaitu Theo Latumahina, Embong Salampessy, dan Heny L. Likliwatil.

Ke depan, aliansi ini akan terus mengadakan konsolidasi khususnya dengan para stakeholders demi terlaksananya konsep pendidikan perdamaian yang integratif ini. Dalam jangka pendek mereka berkomitmen untuk memperkenalkan konsep ini sekaligus mensosialisasikan aliansi yang telah terbentuk kepada masyarakat luas. Harapannya, ke depan pemerintah dan DPRD dapat mengeluarkan peraturan daerah yang dapat menjadi payung bagi terimplementasinya pendidikan perdamaian.

 

Sumber: csrc.or.id

Dengan dukungan The Asia Foundation, CSRC telah melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian di Ambon dengan melibatkan 40 guru yang berasal dari SMP dan SMA. Intervensi model ini merupakan hasil dari proses needs assessment yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Pendekatan bina damai melalui jalur pendidikan dipandang mampu membentuk kesadaran generasi muda guna membangun kepercayaan, mengurangi rasa saling curiga, dan membuka ruang publik agar terbangun komunikasi dan kerjasama yang intensif antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnis. Nilai-nilai tersebut apabila berhasil disemai di tengah masyarakat dapat diharapkan menjadi platform bersama untuk mengurangi kekerasan antar kelompok serta membangun perdamaian di Ambon dalam jangka panjang.

Setelah mengadakan workshop sebanyak 4 kali, yaitu : Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon dan Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah, dua workshop ini diselenggarakan pada 16-20 Juni 2014 yang diikuti oleh 40 guru. Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon pada tanggal 19-21 Agustus 2014, dan Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon dilaksanakan 22-23 Agustus 2014, berdasarkan itu CSRC merasa perlu untuk melakukan evaluasi secara mendalam dan menyeluruh terhadap pelaksanaan program ini dalam rangka melihat sejauh mana dampak yang telah ditimbulkannya. Evaluasi ini sekaligus akan menjadi patokan untuk menganalisa sejauh mana program ini berhasil menyentuh harapan dan cita-cita damai di Ambon sekaligus menjadi konsideran dalam mengembangkan dan menciptakan program lanjutan agar lebih terarah, terukur, dan mengena. Studi evaluasi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali data informasi dengan mengumpulkan cerita-cerita tentang perubahan yang signifikan untuk kemudian ditentukan mana cerita yang mengandung the most significant change (MSC). Cerita yang dikumpulkan adalah cerita yang berhubungan dengan perubahan-perubahan signifikan yang kemudian secara kolektif ditentukan mana cerita perubahan yang paling signifikan berdasarkan topik-topik yang telah ditentukan (yang biasa disebut domain).

Workshop seleksi cerita evaluasi program bina damai Ambon melalui pembangunan kapasitas masyarakat sipil diadakan rabu, 21 Januari 2015 bertempat di syahida inn UIN Jakarta. Dihadiri oleh direktur CSRC, peneliti dan undangan yang berjumlah 17 orang. Dalam sambutannya mengawali acara direktur CSRC Irfan Abu Bakar menyampaikan program Bina Damai Ambon ini dimulai pada tahun 2013 diawali dengan need assessment. Dari hasil penelitian itu dapat terlihat bahwa pendidikan perdamaian di Ambon perlu diterapkan pada masyarakat sipil.  “Oleh karena itu kami merasa perlu untuk mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian melalui sekolah-sekolah yaitu dengan memfasilitasi guru-guru untuk mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh CSRC, sehingga diharapkan guru-guru dapat menerapkan nilai-nilai perdamaian saat proses mengajar”, ujarnya. 

Secara umum studi evaluasi berupaya untuk mengetahui perubahan paling signifikan (the most significant change[MSC]) yang dialami oleh para peserta dalam mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian di dunia pendidikan setelah mengikuti Program “Bina Damai di Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Masyarakat Sipil”. Tahap pengumpulan cerita telah dilakukan oleh 3 peneliti dan kini memasuki tahap seleksi cerita. Workshop ini bertujuan untuk memilih mana di antara cerita-cerita tersebut yang paling signifikan mengandung perubahan. 

Peneliti CSRC Idris Hemai, mengatakan bahwa seorang Guru yang diwawancarainya bertugas mengampu mata pelajaran PKn di sekolah yang siswanya mayoritas kristen. Setelah mengikuti workshop bina damai, Ia banyak menerapkan nilai-nilai perdamaian melalui praktek langsung. Misalnya; menyampaikan materi persatuan, keragaman dengan menggunakan metode 5M (Mengamati, Menanya, Menyajikan, Menalar, dan Mencoba). Responden lainnya yang mengajar di Sekolah yang siswanya 75% muslim dan 20 % non muslim. Menyatakan bahwa tantangan selanjutnya setelah mengikuti workshop bina damai Ambon adalah merubah mindset siswa yang berlatar belakang MTS. Perubahan signifikan yang dimaksud adalah :

  1. Memasukan nilai-nilai perdamaian ke dalam indikator penilaian sikap siswa
  2. Menyampaikan materi tentang toleransi
  3. Mengadakan outbound agar siswa bisa berbaur dengan yang lainnya
  4. Memutarkan film-film di depan siswa, film itu umumnya berisi pesan bagaimana  hidup harmonis di tengah keberagaman tanpa rasa saling benci dan curiga.

Menurut salah satu peserta workshop Dr. Siti Khadijah yang merupakan pakar di bidang pendidikan mengatakan, dari beberapa cerita yang dipaparkan, poin penting yang bisa kita ambil yaitu adanya perubahan sikap dan emosi dari masing-masing guru setelah mengikuti program bina damai ambon dan Kepekaan guru-guru mulai terlihat dalam menghadapi konflik, baik yang bersifat kecil sampai besar.

Workshop ini diharapkan dapat menemukan perubahan paling signifikan (the most significant change[MSC]) yang dialami oleh para peserta dalam mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian di dunia pendidikan setelah mengikutiProgram Bina Damai di Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Masyarakat Sipil.

 

Sumber: csrc.or.id

Sebagai langkah awal pelaksanaan program besar "Pesantren for Peace" maka terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan "Ïnception Workshop" yang berisi penjelasan tentang segala hal terkait dengan mekanisme kerja program, contens program dan pelaporan program sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh EU dan KAS pusat. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh tim project PFP diantaranya adalah DR. Jan Woischnick, Mr. Thomas Yoshimura, Mr. Ari Stauss, Mrs. Sarah Sabina Hasbar, Mr. Irfan Abubakar, Mr. Chaider Bamualim, Mr. sholehudin, Mrs. Efrida YAsnia and Idris. Dan bertindak sebagai fasilitator kegatan ini adalah Mr. Lukas Lingenthal yang secara khusus datang dari German sebagai perwakilan langsung KAS Berlin untuk kegiatan EU Project.

Kegiatan inception workshop ini berlangsung selama 4 hari di hotel Novotel Bogor. Beberapa topic penting yang dibahas diantaranya adalah:

  1. Penjelasan umum perihal tujuan dan agenda workshop.
  2. Penjelasan umum perihal tujuan dari project PFP.
  3. Penjelasan umum perihal kegiatan-kegiatan dalam project PFP.
  4. Mekanisme pelaksanaan project: EU, KAS Berlin dan CSRC
  5. Penanda-tanganan kontrak kerja tim PFP.
  6. Rencana keuangan dan Pelaporan keuangan
  7. Rencana kegiatan dan dokumentasi
  8. Monitoring dan evaluasi
  9. Praktik pelaporan keuangan.

Menurut coordinator program PFP, Sholehudin A Aziz (CSRC UIN Jakarta), kehadiran program ini sungguh sangat penting dan bermanfaat karena seluruh hal terkait dengan program PFP dibahas secara detail baik terkait dengan mekanisme kerja, rencana kegiatan, pelaporan kegiatan, struktur kerja dan banyak hal lain lagi yang sangat penting.

Dengan hadirnya inception workshop ini diharapkan seluruh kegiatan dalam bingkai program PFP dapat berjalan lancer dan sukses. Amien

Pesantren For Peace (PFP) menyelenggarakan workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren.