Koleksi Naskah Khutbah Kontra Narasi Extremis

Lia Cgs

Thursday, 07 December 2017 16:42

Dari "Negative Thinking" Hingga Ekstremisme

Oleh: Muhammad Afthon Lubbi
 
 
Alkisah, seorang petani miskin di suatu desa kecil kehilangan satu-satunya kuda jantan kesayangan yang ia gunakan untuk membantu menggarap sawah miliknya. Dengan keadaan seperti itu, banyak pekerjaannya yang terhambat.
 
Para tetangga banyak yang iba atas musibah tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang mencibir dan 'nyinyir', menganggap bahwa petani tersebut mendapatkan kesialan.
 
Alih-alih tidak menanggapi komentar-komentar negatif tersebut, Pak Tani tetap terus melanjutkan pekerjaannya menggarap sawah. Ia hanya berpikir bahwa kehilangan tersebut mungkin saja sebuah kesialan atau juga bukan.
 
Selang beberapa hari, kuda kesayangannya kembali dari hutan dengan membawa kuda betina. Betapa bahagianya Pak Tani, selain mendapatkan kuda tambahan, ada kemungkinan kedua pasangan kuda tersebut akan beranak pinak menjadi banyak.
 
Beberapa bulan kemudian, petani miskin tertimpa musibah lagi. Anak laki-laki semata wayangnya jatuh dari kuda dan mengalami patah tulang kaki. Lagi-lagi, tetangganya berkomentar dengan nada sinis. Meski ada beberapa yang iba atas musibah tersebut.
 
Di saat kemalangan yang menimpa Pak Tani, tersiar berita dari Kerajaan bahwa setiap rakyat yang memiliki anak laki-laki wajib mengirimkannya untuk ikut perang. Alangkah bersyukurnya Pak Tani, ia tidak berpisah dengan anak kesayangannya karena tidak wajib mengirimkan putranya sebab patah tulang kaki. 
 
Para tetangga mulai berubah pandangan, bahwa di setiap musibah yang menimpa Pak Tani, selalu ada hikmah yang mengikuti. Sejak saat itu, penduduk desa tersebut membiasakan selalu bersabar dan bersyukur atas segala kemalangan yang menimpa.
 
Kira-kira begitulah kekuatan "positive thinking", tidak hanya membuat orang menjadi kuat dan sabar, tapi juga menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Bertolak belakang dengan "negative thinking", membuat orang selalu memandang buruk segala hal. Tidak hanya musibah, suatu kebaikan pun seringkali dilihat sisi negatifnya.
 
"Saya kesel deh sama bawahan saya, kerjanya selalu lambam". "Wuhh! Hujan lagi! Ngeselin!!". "Gurunya ngasih PR mulu, bete!!". Demikian contoh kalimat manusia dalam menghadapi realita sehari-hari dengan sikap yang negatif. 
 
Sebenarnya, dalam realita yang sama, dengan kacamata 'Pak Tani' di atas, kita bisa mengubah sikap dengan pandangan positif. "Alhamdulillah, bawahan saya bekerja dengan tekun,  membutuhkan waktu yang lama". "Hujan lagi, bisa kumpul dengan keluarga di rumah". "Banyak PR dari Pak Guru, ayo belajar bareng sambil bikin rujak".
 
Dalam tahap tertentu, pandangan negatif kita sehari-hari akan membawa kita kepada gangguan psikologis. Bahkan dalam level yang lebih tinggi, sikap negatif bisa menghadirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan hasrat dan harapan.
 
"Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Indonesia akan hancur!  Ganti Presiden! Ganti Demokrasi!!". "Musibah dimana-mana.  Salah SBY! Salah Jokowi!". Kalimat-kalimat demikian biasanya disampaikan dengan emosi negatif tanpa kemampuan analisa yang baik.
 
Sebenarnya kalimat-kalimat di atas bisa diubah dengan kalimat positif. Misal, "Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Presiden harus lebih kuat dan bekerja keras!  Demokrasi harus menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat!". "Musibah dimana-mana, mari bersinergi dan bekerjasama membangun Bangsa!".
 
Kalimat negatif yang diulang berkali-kali tidak hanya akan membentuk pribadi yang negatif, tapi juga bisa menyerang syaraf otak untuk berpikir. Dalam bahasa psikologi disebut "Neuro-Linguistic". Maka untuk menyembuhkan gangguan psikologis ini, para ahli psikologi membuat "obat penawar" yang disebut "Reframing". Yaitu salah satu tools NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang digunakan untuk mengubah emosi negatif menjadi positif dengan mengubah sudut pandang. Seperti cara pandang "Pak Tani" di atas, yang selalu 'positive thinking'.
 
Kemiskinan dan keterpurukan umat Islam adalah masalah bagi masyarakat umum. Tidak hanya dalam umat Islam terdapat kemiskinan, umat agama lain juga terdapat kemiskinan dan keterpurukan. Maka perlu pemberdayaan ekonomi yang dilakukan bersama-sama. Perlu program dan kebijakan pemerintah yang baik. Perlu pemerataan ekonomi.
 
Konflik dan keretakan Umat Islam adalah konflik sosial yang dihadapi semua kelompok manusia di muka bumi. Perlu dialog, rekonsiliasi, ishlah, dan negosiasi untuk persatuan umat. Bukan perang pendapat apalagi perang fisik yang tidak akan menyelesaikan masalah.
 
Korupsi, maksiat, dan segala jenis kejahatan semakin merajalela dianggap karena tidak menegakan hukum Allah, tidak mendirikan daulah Islamiyah, tidak menggunakan sistem khilafah dan menyalahkan sistem demokrasi yang dipilih para pendiri Bangsa sebagai sebuah konsensus bersama. Sistem demokrasi harus diganti total tanpa dialog, tanpa musyawarah, dan menafikan ijtihad para tokoh Islam yang juga mengerti betul tentang agama, KH. Agus Salim, KH. Wahid Hasyim, KH.  Abdul Kahar Muzakir, dll. Terlebih Bung Karno menyebutkan,  bahwa demokrasi kita bukanlah demokrasi ala Barat, tapi "Demokrasi Berketuhanan".
 
Khilafah, daulah Islamiyah, syariat Islam, dll. adalah konsep-konsep positif yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Akan tetapi, tidak boleh dipaksakan dengan cara-cara yang negatif. Perlu dialog dan musyawarah secara kontinyu, agar konsep-konsep positif yang baik tersebut dapat mensejahterakan rakyat dengan seadil-adilnya. Dalam alam demokrasi, segala konsep kebaikan dapat diterima.
 
Cara pandang negatif terhadap demokrasi ini pula yang menimbulkan reaksi kekerasan, ekstremisme keagamaan. Segala hal yang berkaitan dengan demokrasi dikaitkan dengan kekafiran. Dan para pendukung demokrasi digolongkan sebagai penyembah toghut, berhala selain Tuhan Allah.
 
Pemahaman seperti  ini pernah dialami Ali Fauzi, adik kandung dari Ali Mukhlas dan Amrozi, pelaku Bom Bali jilid I. Ali  Fauzi memulai karirnya menjadi kombatan sejak 1991 dengan bergabung bersama daulah Islamiah di Malaysia, dan baiat kepada Jamaah Islamiah di Indonesia pada 2004.
 
Karirnya terhenti setelah tertangkap Polisi Filipina pada 2007. Ia dibawa pulang oleh Kombes Tito Karnavian (sekarang Kapolri)  dan dirawat hingga sembuh dari luka-luka. Ali Fauzi terheran-heran, orang yang selama ini ia anggap sebagai thogut dan kafir, justru malah menolong dan merawatnya. Bahkan diberi modal untuk berwirausaha. Kini Ali Fauzi mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian dan menjadi mitra BNPT dalam program deradikalisasi.
 
Kisah Ali Fauzi di atas menunjukkan bahwa kebencian hanya bisa dipadamkan dengan cinta dan kasih sayang. Sikap dan pandangan negatif hanya bisa diubah dengan menyikapi hal-hal kecil hingga besar dengan kacamata kebaikan.
 
Syaikh Mutawalli As-Sya'rawi pernah berdialog dengan seorang pemuda berhaluan keras dan suka mengkafirkan. Beliau bertanya, "Apakah mengebom sebuah klub malam di Negara muslim itu halal atau haram?", pemuda itu menjawab, "Tentu saja halal, membunuh mereka boleh".
 
Beliau bertanya lagi, "Jika seandainya engkau membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?" Dengan yakin pemuda itu menjawab, "Tentu di neraka.", "Kemana pula setan menjerumuskan manusia?", Beliau bertanya lagi. "Tentu saja ke neraka. Mustahil setan membawa manusia ke surga.", jawab pemuda. 
 
"Jika demikian, engkau dan setan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengantarkan manusia ke dalam neraka." Beliau lalu menyebutkan sebuah kisah dimana ketika ada mayat seorang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah SAW., beliau lalu menangis. Para sahabat bertanya mengapa beliau menangis.  Beliau menjawab, "Telah lolos dariku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka."
 
"Perhatikan perbedaan kalian dengan Rasulullah yang berusaha memberi petunjuk dan menjauhkan mereka dari neraka. Kalian berada di satu lembah, sedangkan Rasulullah berada di lembah lain." Pemuda itu hanya diam membisu mendengarnya.
 
Tempo hari, mantan Presiden Afghanistan yang sekarang menjabat Ketua High Peace Council (HCP), Muhammad Karim Khalili berkunjung ke Indonesia. Atas arahan presiden Joko Widodo, Pesantren Darunnajah Jakarta ditunjuk untuk menerima rombongan delegasi HCP.
 
Dalam pidatonya, Muhammad Karim berkeinginan Pemerintah Indonesia untuk mendirikan pesantren di Kabul. Ia menyampaikan bahwa Afghanistan lelah dengan konflik dan perang antar kelompok agama. Indonesia dengan ratusan perbedaan suku,  etnis, dan agama, mampu bertahan menjadi Negara yang damai. Sedangkan Afghanistan yang hanya memiliki beberapa suku dan perbedaan agama belum mampu mengatasi konflik dan perpecahan. 
 
Artinya, kita harus ber-positive thinking dan percaya diri bahwa dengan sistem demokrasi, Indonesia akan menjadi Negara yang besar bangsanya, maju negaranya, dan kuat ukhuwah umatnya dalam menghadapi ekstremisme, terorisme, dan radikalisme.
Monday, 04 December 2017 14:36

Santri Dilatih Siapkan Narasi Dakwah Damai

SALATIGA-Puluhan santri dari sejumlah pesantren di Jawa Tengah, mengikuti Pelatihan Penguatan Peran Pesantren dan Santri, di Grand Wahid Hotel Salatiga, Baru-Baru ini.

Dalam kegiatan itu, para santri dilatih menyiapkan narasi dakwah damai, sehingga materi yang disampaikan membawa kesejukan, serta terhindar dari kekerasan.

Berdampak Buruk

Muhamad Hanif, fasilitator dalam pelatihan itu mengatakan dakwah dengan naratif kontra ekstremis (antikekerasan), saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat, untuk membentuk kehidupan agama yang lebih damai. Dakwah dengan narasi yang mengarah pada kekerasan, sangat berdampak buruk  bagi perkembangan masyarakat, serta kehidupan beragama.

“kami ingin narasi pidato atau dakwah dengan bahasa-bahasa islami, yang lebih enak dinikmati,” kata pengasuh ponpes Edi Mancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang tersebut.

Menurutnya banyak ayat Al-Quran dan hadis yang bisa dijadikan acuan untuk menyampaikan dakwah yang penuh kelembutan, sebagaimana ciri khas Islam. Dengan dakwah yang lembut khas Islam tersebut, akan membawa pengaruh besar dan memotivasi kehidupan masyarakat.

Dalam pelatihan itu, para santri juga diajak berkreasi menciptakan model-model alternatif aksi antikekerasan. Misalnya membuat meme menarik, tulisan menyejukkan, atau aksi simpatik lainnya.

Sebagai contoh, TNI/Polri yang identik dengan pasukan bersenjata, ketika memasuki sebuah wilayah tidak menggunakan senjata lagi, tetapi dengan cara lain seperti membangun fasilitas umum, bangun tempat ibadah, atau lainnya. Cara itu sangat efektif menghilangkan kesan militer.

Adapun pelatihan tersebut menghadirkan sejumlah pakar di bidang HAM. Pelatihan itu digelar atas kerjasama Konrad-adenauer-Stiftung dan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam rangka melaksanakan program “Pesantren for Peace”. (H2-51)

 

Berita ini dimuat di Harian Suara Merdeka, Terbit hari Senin, 4 Desember 2017

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer- Stiftung (KAS) mengadakan Uji Coba (Try Out) Training “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis” di Hotel Grand Wahid Salatiga selama tiga hari, 28-30 November 2017.

Program ini melibatkan 15 ustadz/ustadzah untuk menjadi trainer dan fasilitator yang sudah dilatih dalam acara preliminary workshop sebelumnya. Sejalan dengan tujuannya, Preliminary Workshop tersebut telah berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online. Disamping itu, ustadz/ustadzah juga dibekali materi advance tentang HAM dan relasinya dengan Islam. Hal penting lain yang dicapai adalah ustadz/ustadzah memiliki keterampilan dan siap menjadi pembicara/trainer materi tentang Narasi Ekstremis, Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya melalui khutbah, ceramah maupun di media online, khususnya di kegiatan Try out Training ini dalam rangka persiapan untuk program lanjutan di tahun 2018 nanti.

Peserta yang terlibat dalam Try Out Training ini yaitu 25 ustadz/ustadzah muda pesantren yang terdiri dari 12 orang peserta terbaik Capacity Training dan Field Trip dan 13 orang terdiri dari peserta baru baik dari pesantren yang pernah atau belum pernah terlibat kegiatan PfP sebelumnya.

Pembukaan dilaksanakan selasa (28/11) pukul 14.00 WIB. Sambutan pertama diisi oleh Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Muhamad Hanif, dalam hal ini menjadi Mitra Lokal Pesantren for Peace untuk wilayah Salatiga, dilanjut oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, dan Terakhir Sambutan dari Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, sekaligus membuka acara Try Out Training ini secara resmi.

Acara berlanjut sampai pukul 22:00 Malam disela waktu itu peserta shalat dan makan malam, Selama 3 hari jadwal sama tidak berubah. Suasana yang dirasa para peserta sangat nyaman, dan memotivasi serta saling silaturahmi antar peserta dan didorong aktif untuk berdiskusi.

Try Out Training ini sangat menarik sekali, karena berhasil mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang disampaikan oleh 15 trainer/fasilitator dari ustadz/ustadzah yang sudah dilatih dalam preliminary workshop di Malang, serta sesi diskusi kelompok untuk menyusun Kontra Narasi Ekstremis dan Kontra Propaganda Ekstremis Lainnya Melalui Khutbah, Ceramah dan di media online. Di akhir sesi, perwakilan peserta diskusi kelompok mempraktikkan penyampaian khutbah dan ceramah kontra narasi ekstremis.

kesan yang didapat dari para peserta ialah salah seorang peserta, Najih Fikriyah mengungkapkan “Acaranya bagus, di season ini kita dibawa untuk bisa berperan di media tulis terutama dedia online, baik itu facebook, tweeter, dan lain sebagainya. Kita belajar untuk menyampaikan ilmu-ilmu yang disampaikan para trainer dalam bentuk narasi yang menarik sehingga mampu meng-Counter narasi ekstremis yang berkembang”.

Najih menambahkan, acara ini sangat bermanfaat khususnya di Solo yang dikenal sebagai kota Radikal, meskipun multikultural, tapi di sana sarangnya kelompok ekstremis juga, yang sangat aktif berdakwah di medsos, baik artikel, meme, dan anjuran-anjuran lainnya yang bernada ekstreme. Dari training ini, saya terinspirasi untuk menerapkannya di pondok, baik dalam bentuk pelatihan penulisan dan kegiatan lain yang sifatnya meng-Counter narasi-narasi ekstreme.

Harapannya, semoga dengan di adakan nya Try Out Training ini menjadikan para Trainer dan peserta dapat mengamalkan ilmu sebaik-baiknya, khususnya di bidang kontra narasi ekstremis. [LH]

 

 

 

Selama 30 bulan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dengan dukungan Uni Eropa telah menyelesaikan berbagai program Pesantren for Peace (PFP). PFP berhasil membentuk jaringan 1.500 Ustadz/Ustadzah, kyai muda dan santri dari 750 Pondok Pesantren se-Jawa yang terlibat dalam kegiatan kajian, pelatihan, penerbitan, dialog dengan kelompok minoritas, promosi HAM di pesantren, serta pengembangan kapasitas melalui pemberian skema dana hibah.

Setelah melakukan serangkaian kegiatan tersebut, hari ini, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) akan mengadakan Preliminary Workshop “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis”, di Hotel Atria Malang, 30 Oktober – 2 November 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Ustadz/Ustadzah pesantren tentang HAM dan relasinya dengan Islam, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online.

Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung, Jan Senkyr, hadir dan memberikan sambutan dalam kegiatan workshop ini. Dalam sambutannya Jan Senkyr menyampaikan bahwa KAS dan CSRC sedang menyiapkan serangkaian kegiatan yang bertujuan menungkatkan peran pesantren dalam menyusun dan menyuarakan kontra narasi ekstremis dan propaganda ektremis lainnya. Kegiatan kali ini adalah awal dari seluruh rangkaian program tersebut. Harapannya semoga kegiatan ini akan mengulang kesuksesan program PfP yang sebelumnya.

Selain dihadiri oleh 30 Ustadz/ustadzah dan kyai muda dari 5 daerah (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta),  workshop ini juga dihadiri oleh tim monitoring dan evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri pusat dan dari Kementerian Republik Indonesia yang akan mengevaluasi program kerjasama KAS-CSRC selama tahun 2017.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, Menyampaikan bahwa “Ciri utama propaganda ekstremisme adalah memilah dunia menjadi hitam dan putih; menekankan pemisahan dan perbedaan; mengeksploitasi rasa takut yang didasarkan pada ketidaktahuan dan prasangka.”

“Maka dari itu, kita memerlukan serangkaian narasi yang dibuat untuk tujuan menandingi narasi ekstremis sehingga audiens menolak mendukung tujua ekstremis. Itulah yang kemudian kita sebut ‘kontra narasi ekstremis’,” tambahnya.

Diakhir acara, para ustadz-ustadzah dengan semangatnya menyampaikan berbagai macam rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam program ini kedepannya.[LH]

 

Selama 30 bulan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dengan dukungan Uni Eropa telah menyelesaikan berbagai program Pesantren for Peace (PFP). PFP berhasil membentuk jaringan 1.500 Ustadz/Ustadzah, kyai muda dan santri dari 750 Pondok Pesantren se-Jawa yang terlibat dalam kegiatan kajian, pelatihan, penerbitan, dialog dengan kelompok minoritas, promosi HAM di pesantren, serta pengembangan kapasitas melalui pemberian skema dana hibah.

Setelah melakukan serangkaian kegiatan tersebut, hari ini, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) akan mengadakan Preliminary Workshop “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis”, di Hotel Atria Malang, 30 Oktober – 2 November 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Ustadz/Ustadzah pesantren tentang HAM dan relasinya dengan Islam, serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online.

Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung, Jan Senkyr, hadir dan memberikan sambutan dalam kegiatan workshop ini. Dalam sambutannya Jan Senkyr menyampaikan bahwa KAS dan CSRC sedang menyiapkan serangkaian kegiatan yang bertujuan menungkatkan peran pesantren dalam menyusun dan menyuarakan kontra narasi ekstremis dan propaganda ektremis lainnya. Kegiatan kali ini adalah awal dari seluruh rangkaian program tersebut. Harapannya semoga kegiatan ini akan mengulang kesuksesan program PfP yang sebelumnya.

Selain dihadiri oleh 30 Ustadz/ustadzah dan kyai muda dari 5 daerah (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta),  workshop ini juga dihadiri oleh tim monitoring dan evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri pusat dan dari Kementerian Republik Indonesia yang akan mengevaluasi program kerjasama KAS-CSRC selama tahun 2017.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, Menyampaikan bahwa “Ciri utama propaganda ekstremisme adalah memilah dunia menjadi hitam dan putih; menekankan pemisahan dan perbedaan; mengeksploitasi rasa takut yang didasarkan pada ketidaktahuan dan prasangka.”

“Maka dari itu, kita memerlukan serangkaian narasi yang dibuat untuk tujuan menandingi narasi ekstremis sehingga audiens menolak mendukung tujua ekstremis. Itulah yang kemudian kita sebut ‘kontra narasi ekstremis’,” tambahnya.

Diakhir acara, para ustadz-ustadzah dengan semangatnya menyampaikan berbagai macam rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan dalam program ini kedepannya.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com – Bandung – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) berkomitmen untuk melanjutkan program PFP dengan tema ”Pesantren for Peace: a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Civil-Human Rights and to Counter Extremist Narratives”. Kegiatan awal dari program lanjutan Pesantren for Peace ini yaitu Workshop dengan tema “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM melalui Kontra Narasi Ekstremis”. Workshop ini diselenggarakan pada tanggal 23-25 Agustus 2017 di Hotel Scarlet, Bandung.

 

Tujuan Workshop ini adalah untuk mendiskusikan secara mendalam konsep dan teori Narasi Ekstremis dan Kontra Narasi Ekstremis, Menggali pengalaman pesantren dalam melakukan Kontra Narasi Ekstremis, serta merumuskan materi Narasi Ekstremis dan Kontra Narasi Ekstremis.

Peserta workshop ini merupakan 30 ustadz/ustadzah yang secara aktif terlibat sebagai trainer di berbagai kegiatan Pesantren for Peace di 5 provinsi di Pulau Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jabodetabek).

Pendekatan yang digunakan dalam workshop ini yaitu dengan mengkombinasikan sesi penyampaian materi oleh narasumber yang kompeten di bidang Kontra Narasi Ekstremis  dan sesi diskusi kelompok.

Hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Sarah Sabina Hasbar dan Direktur CSRC, Irfan Abubakar yang menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Workshop. Serta beberapa Narasumber ahli yang menyampaikan materi di setiap sesinya, diantaranya Dr. Chaider S. Bamualim, MA (UKP-Pemantapan Ideologi Pancasila) yang menyampaikan materi “Konstruksi Narasi Ekstremis dan Counternya dalam perspektif Teoritis”; Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute) yang menyampaikan materi “Narasi Keislaman di Pesantren dalam Kapasitasnya Menangkal Ekstremisme”; Dr. Zaki Mubarak (FISIP UIN Jakarta) dan Irfan Abubakar, MA membahas tentang Analisis contoh Narasi Ekstremis dan Counternya; serta Irfan Amalee, MA (Gerakan Islam Cinta) dan Imam Malik (BNPT) yang membahas tentang Strategi menagkal Narasi Ekstremis. Sedangkan untuk Sesi Diskusi kelompok, hadir sebagai fasilitator diskusi Rita Pranawati, Junaidi Simun dan Muchtadlirin.

Demikian kegiatan Workshop ini diselenggarakan, harapannya dengan terselenggaranya workshop ini dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan Ustadz/ustadzah pesantren tentang konsep dan teori narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis, tergalinya pengalaman pesantren dalam melakukan kontra narasi ekstremis, serta tersedianya rumusan materi narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis.[LH]

 

 

 

 

Tim Paskibra Pondok Pesantren Al-Qur'an Babussalam Bandung.

Pengibaran Bendera Merah Putih di Pondok Pesantren Salafi Al-Fitrah, Jawa Timur.

Suasana Khidmat Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih Di Pondok Pesantren Salafi Al-Fitrah, Jawa Timur.

Santri Daruttauhid, Jawa Timur Gelar Upacara Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia Dengan Mengenakan Sarung.

Tak Kalah Menarik, Santri Kyai Gading Peringati Hari Kemerdekaan Dengan Sarung Warna Warni, Sesuai Semboyan Negara "Bhinneka Tunggal Ika".

 

 Santri Edi Mancoro Bentuk Formasi "RI 72" Usai pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan.

Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Bandung juga gelar Upacara HUT RI ke-72 dengan busana ala Santri.

Santri Darunnajah Annur 8 meriahkan HUT RI dengan berbagai perlombaan usai laksanakan Upacara kemerdekaan.

 

Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meluncurkan logo baru Hari Santri Nasional 2017  (10/8). Peringatan Hari Santri untuk yang ketiga kalinya ini menjadi momentum penegasan tiada tempat bagi ideologi khilafah dan radikalisme atas nama agama bagi santri Nusantara.

Ketua panitia Hari Santri (Hasan) 2017 Ahmad Athoillah mengatakan, santri Nusantara tidak anti Pancasila dan anti nasionalisme. Melalui Hasan 2017, para santri Nusantara diingatkan untuk tidak menyebar kebencian kepada negara dan wajib menjaga NKRI tanpa berselisih dengan kelompok etnis, suku, ras, dan pemeluk agama lain.

“Ini juga sekaligus menjadi penegasan bahwa radikalisme atas nama agama bukan mazhab dari santri Nusantara,” ujar Ahmad Athoillah.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj mengatakan untuk mengisi kemerdekaan sudah tidak waktunya lagi berdebat mengenai dasar negara dan Undang-Undang Dasar 1945. Pancasila, Aqil, sudah mutlak. Saat ini hal yang harus dilakukan adalah bagaimana memperkuat, mendalami, dan menyebarkan nilai-nilai Pancasila.

Secara terpisah, Direktur Pusat Studi Agama dan Kebudayaan (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Irfan Abubakar mengatakan, komunitas santri di Indonesia harus mampu menunjukkan komitmen keagamaan itu selaras dengan komitmen kebangsaan. Komitmen kebangsaan, menurut Irfan, bukan sekadar mencintai Tanah Air, konstitusi, antiradikalisme, dan setia tehadap Pancasila.

Hal yang tidak kalah penting bagi Irfan adalah dari sisi kemajemukan. Irfan berharap, komunitas santri bisa lebih kuat lagi membuktikan bahwa mereka adalah pengawal dari kemajemukan. Santri dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), kata Irfan, sangat menonjol dalam hal tersebut dengan ikon Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Yang lebih dalam lagi adalah komitmen terhadap nilai nilai Pancasila yang mencerminkan integritas pribadi seorang santri yang bersih. ketika berada di pemerintahan mereka menerapkan good governanceantikorupsi. Bukan sekadar mendapatkan peran yang lebih besar dalam konstelasi politik dan ekonomi. Sehingga yang lain merasa kehadiran santri merupakan bentuk berkah atau kemaslahatan,” tutur Irfan. (DD10)/Harian KOMPAS

 

Sumber: Harian Kompas Terbit Pada Jum'at, 11 Agustus 2017

dan http://baranews.co/blog/2017/08/11/hari-santri-nasional-santri-nusantara-teguhkan-komitmen-antiradikalisme/

Page 1 of 24