Koleksi Naskah Khutbah Kontra Narasi Extremis

Lia Cgs

Monday, 04 January 2016 14:36

Hasil Pemetaan Analisis Konflik Jawa Timur

Benih konflik Sunni-Syiah di Desa Nangkernang dan Blu’uran Kecamatan Omben dan Karangpenang, Kabupaten Sampang muncul sejak seorang tokoh ulama setempat, Kiyai Makmun, berniat mengirim anaknya untuk menuntut ilmu ke Pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil, Pasuruan, antara 1987 hingga 1993. Pesantren tersebut dikenal cenderung kepada madzhab Syiah.[1] Keputusan Kiyai Makmun tersebut diambil setelah beliau tertarik dengan sosok Imam Khomaeni danajaran Syiah dengan mempelajari buku-buku yang dikirim sahabatnya dari Iran.Keputusan Kiyai Makmun selanjutnya diketahui dan ditentang oleh sepupunya, Kiyai Ali Karrar Shinhaji, pengasuh pondok pesantren Darut Tauhid di Kabupaten Pamekasan yang saat itu baru pulang belajar dari Mekkah karena dianggapnya bertentangan dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. K. Makmun adalah ayah dari Tajul Muluk dan Raisul Hukamayang belakangan berkonflik.

Kiyai Karrar menjaga jarak dengan Kiayai Makmun setelah K. Makmun menganut Syiah. Bahkan menurut Iklil, putra K. Makmun, keduanya pernah perang argumen soal wafatnya cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein, yang menurut Kiyai Karrar keduanya meninggal sejak kecil. Namun, pandangan itu diluruskan oleh K. Makmun dalam rangka membantah pandangan Kiyai Karrar bahwa jika mereka berdua wafat sejak kecil mengapa Sayyed Maliki al-Hasani yang merupakan keturunan Hasan menjadi gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya pernah berdebat soal keyakinan masing-masing namun belum berujung pada konflik berdarah.

 

[1]Syiah hadir di tengah masyarakat Madura yang berjumlah 3,62 juta jiwa (versi BPS 2010), yang hampir seluruhnya adalah mayoritas Islam Sunni (NU) yang fanatik.

 

 

Untuk Laporan Selengkapnya bisa didownload dilink berikut

Laporan Penelitian Jawa Timur

Monday, 04 January 2016 14:12

Hasil Pemetaan Analisis Konflik Jakarta

Persoalan izin mendirikan gereja menjadi isu utama yang menyulut ketegangan antara Muslim dan Kristen di tiga wilayah padat penduduk di Tangerang, Bekasi, dan Bogor. Tak jarang ketegangan itu bahkan berujung pada kekerasan verbal maupun fisik, seperti penghujatan, demo anarkis, hingga pelemparan dengan batu dan kotoran. Konflik di tiga wilayah tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang dan melibatkan banyak faktor serta isu.

Di bagian ini akan dipaparkan terlebih dahulu konflik yang terjadi dan besarannya. Dari situ akan terlihat sejauh mana konflik ini dapat dikategorikan sebagai persoalan hak asasi manusia yang serius atau sekadar percikan belaka dari dinamika hubungan antaragama di wilayah-wilayah sub-urban yang padat penduduk dan heterogen tersebut.

 

Untuk Laporan Selengkapnya bisa didownload dilink berikut

Laporan Penelitian Jakarta

Thursday, 31 December 2015 12:05

Mitra Lokal

Link situs resmi pondok pesantren mitra lokal Pesantren for Peace di 5 daerah

Thursday, 24 December 2015 17:14

Laporan Field Trip Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai kota yang memiliki keragaman. Semua jenis etnis, agama, dan paham mulai dari yang paling kiri hingga yang paling kanan ada di Yogyakarta. Salah satu keanekaragaman penduduk Yogyakarta terlihat di kalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun untuk memilih hidup di Yogyakarta. Dengan penduduk hampir tiga setengah juta jiwa, Yogyakarta merupakan miniatur Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Itulah pepatah yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana pendatang seharusnya beradaptasi. Pendatang di Yogyakarta dapat diterima oleh masyarakat setempat ketika mereka menghargai prinsip saling menghormati dan menjaga kerukunan. Ketika pendatang menghargai nilai-nilai lokal, maka mereka akan lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat Yogyakarta. Diantaranya adalah budaya sopan santun yang sangat kental dan menghormati yang tua serta ramah yang ada dimiliki penduduk Yogyakarta (disingkat Jogja).

Kepemimpinan memegang kunci penting menjaga Jogja tetap aman dan damai. Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono ke X yang mengutamakan kedamaian Jogja menjadi salah satu kunci Jogja tetap damai. Setiap orang harus menjaga perdamaian di Jogja dan dilarang keras melakukan kekerasan. Pada masa era reformasi 98 dimana kota Solo terbakar, Jogja masih berhasil menjaga kedamaian. Simbol Keraton Jogja masih kuat menjaga Jogja yang damai. Oleh karenanya Jogja sering dianggap sebagai barometer Indonesia, jika Jogja bisa diobrak abrik maka tak bisa dibayangkan kondisi Indonesia.

Bukan hal yang mudah untuk tetap konsisten menjaga perdamaian di Yogyakarta karena banyaknya perbedaan dalam berperilaku, pemikiran, corak dan kebudayaan yang ada. Perbedaan yang ada masih dapat dikendalikan dengan mencari persamaan tujuan. Menurut KH Abdul Muhaimin, ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), Jogja dapat menjaga perdamaian dengan baik diantaranya karena tiga hal. Pertama, peran keraton sangat kuat dan masih eksis sebagai center of culture atau pusat budaya. Kedua, masyarakat Jogja merupaka masyarakat terdidik yang lebih mudah memahami dengan baik dan tidak mudah terprovokasi dibanding daerah lain. Ketiga, komunikasi yang baik antar warga dan para pemangku kepentingan yang ada di Yogyakarta.

Dinamika pembangunan dan perkembangan sosial budaya juga turut mempengaruhi dinamika damai di Jogja. Pertumbuhan hotel yang sangat masif di Jogja misalnya sedikit banyak mempengaruhi relasi warga dengan warga maupun dengan pemerintah setempat. Upaya meningkatkan pendapatan daerah melalui pembangunan hotel ternyata dianggap tidak sejalan dengan harapan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di sekitar pembangunan hotel mengalami kekurangan air. Contoh lain dari dinamika damai di Jogja adalah dinamika interaksi antar penduduk yang beragam kadang menimbulkan masalah. Persoalaan antara individu dapat menjadi persoalan kelompok dengan kelompok. Artinya, ada eskalasi konflik yang terjadi dari konflik personal menjadi konflik kelompok.

Damai yang aktif bukanlah tiadanya konflik. Damai yang aktif adalah kondisi masyarakat yang dapat hidup berdampingan secara damai, terjadi interaksi dan kerjasama, serta dapat menyelesaikan konflik jika terjadi. Jika sebelumnya Jogya sering disebut sebagai city of tolerance dengan segala perdamaian yang ada dengan penduduk yang sangat multi budaya, the Wahid Institute pada tahun 2014 menempatkan Yogyakarta sebagai propinsi intoleran kedua se-Indonesia setelah Jawa Barat. Tercatat terjadi 21 kasus intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama sepanjang tahun 2014 di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tulisan ini akan mendalami dialektika konflik dan inisiatif damai yang terjadi di Yogyakarta. Model penyelesaian konflik yang akan didalami adalah penyelesaian konflik yang menimpa Julius Felicianus, Direktur Galang Press, yang mengalami penyerangan dirumahnya oleh sekelompok orang tak dikenal. Sedangkan inisiatif damai akan mengulas upaya-upaya bina damai yang dilakukan oleh FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman) di Yogyakarta.

 

 Untuk laporan versi lengkapnya, download link berikut:

Laporan Field Trip Yogyakarta

    

Kami percaya sebagian besar masyarakat Muslim di negeri ini mendambakan kehidupan yang damai, toleran dan harmonis khususnya dalam relasi umat beragama. Berbagai perbedaan yang dapat memicu keretakan dan perpecahan selayaknya dihadapi secara bijaksana dan mengedepankan cara-cara dialogis atas dasar saling menghormati hak asasi manusia itu sendiri. Keyakinan luhur ini telah terkristalisasi dalam bentuk dasar negara Pancasila dan dikukuhkan dalam konstitusi serta undang-undang dan peraturan negara.

Dilihat dari kecenderungan umum dalam masyarakat dan juga rezim hukum yang melegitimasinya, upaya untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di masyarakat sudah selayaknya mendapatkan dukungan yang luas.

Namun tentu saja berbagai kesalahpahaman dan bahkan prasangka yang terbit dari minimnya wawasan dan akibat disinformasi harus dihadapi dengan menunjukkan fakta dan argumentasi. modul ini hadir antara lain untuk menepis kesalahpahaman dan prasangka yang terlanjur hinggap dalam kesadaran sebagian kita dalam menyikapi nilai-nilai HAM, perdamaian, toleransi dan resolusi konflik.

 

Modul Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berpespektif Islam dan HAM ini bisa di download di link-link di bawah ini:

BAB 0 PENGANTAR

BAB 1 Kontrak Belajar dan Perkenalan

BAB 2 Perdamaian dalam Islam

BAB 3 Mengenal Hak Asasi Manusia 

BAB 4 HAM dalam Islam

BAB 5 Memahami Konflik 

BAB 6 Analisis Konflik 

BAB 7 Penanganan Konflik Secara Damai  

 

Oleh:

Ahmad Hamdani[2]

 

Ahmad Hamdani adalah salah seorang peserta Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam yang terpilih sebagai penulis dalam kegiatan Fieldtrip pada 19-22 November lalu.

Ahmad Hamdani, Peserta Training Jakarta

 

        

         Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.504 pulau besar dan kecil (Bedjo Sujanto, 2007: 32), membentang dari Sabang sampai Merauke. Jumlah penduduk 237,6 juta jiwa (Sensus Penduduk Indonesia 2010) berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari budaya, bahasa, suku bangsa, ras, dan agama. Keragaman ini telah membentuk Indonesia menjadi negara dengan struktur sosial yang multikultural. Hal ini sesungguhnya telah disadari oleh para pendiri bangsa sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan. Karenanya, untuk tetap menjaga kerukunan nasional, mereka menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebuah semboyan persatuan. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai alasan bagi adanya permusuhan, namun dijadikan modal untuk membngun bangsa dengan semangat persatuan.

         Indonesia yang multikultural, apabila tidak dikelola dan ditangani dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu serta penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Peristiwa Ambon dan Poso, misalnya, merupakan contoh kekerasan dan konflik horizontal yang telah menguras energi dan merugikan tidak saja jiwa dan materi tetapi juga mengorbankan keharmonisan antar sesama masyarakat Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi bahan ajaran bagi anak sekolah, tak pernah dipraktikkan dalam dunia nyata. Media masa yang tak henti-hentinya memberitakan konflik dan perselisihan, turut memperparah keadaan ini. Mengutip Muhammad Saifullah (www.okezone.com, akses 22 Agustus 2014), bahwa konflik sosial pada 2013   trennya   mengalami   kenaikan   signifikan   yaitu   23,7   persen dibandingkan 2012. Sepanjang 2013 terjadi 153 konflik sosial di Indonesia. Hal tersebut sudah menjadi bukti, bahwa semboyan persatuan Bhinneka Tunggal Ika masih belum bisa kita wujudkan secara nyata, sehingga hal ini menjadi tantangan besar bangsa kita.

 

Memahami Multikulturalisme

 

         Merupakan kenyataan yang tidak bisa ditolak, bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, bahasa, ras, dan agama. Hal ini menjadikan Indonesia yang multikultural. Sebagai sebuah konsep yang ramai dibicarakan setelah masa reformasi, multikulturalisme masih belum dipahami banyak orang, meski pemikiran yang menunjukan semangat yang sama dengan multikulturalisme sudah ditunjukan pada Sumpah Pemuda 1928. Oleh karenannya, pemahaman yang komprehensif mengenai multikulturalisme menjadi sangat dibutuhkan, mengingat realitas bangsa Indonesia yang heterogen dan multikultural.

         Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), culture (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik (Choirul Mahfud, 2006: 75). Dari konsep multikulturalisme inilah kemudian muncul gagasan normatif mengenai kerukunan, toleransi, saling menghargai perbedaan dan hak-hak masing-masing kebudayaan penyusun suatu bangsa (Achmad Fedyani Saefuddin, 2006: 4). Kemunculan multikulturalisme disebut-sebut sebagai sebuah upaya untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan dan keberagaman. Namun pertanyaannya, bagaimana kita menjaga pemahaman bahwa multikulturalnya Indonesia bisa terangkum dalam sebuah persatuan?

         Sebagai jawabannya, konsep Bhineka Tunggal Ika harus dijadikan landasan bagi multikulturalnya bangsa ini. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan telah terbukti berhasil membawa Indonesia yang multikultural merdeka.   Nusantara ini disusun atas ribuan pulau dengan keragaman suku bangsa, budaya, bahasa, ras, dan agama, namun kita dipersatukan dalam Indonesia Raya. Semboyan yang mengandung arti “walaupun berbeda-beda tatap satu jua” ini, telah memberikan jawaban yang pasti untuk pertanyaan diatas. Oleh karenanya harus benar-benar dihayati sampai mengerti dan teraplikasi. Ketika semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan konsep multikulturalisme sudah dipahami dan dilaksanakan dengan baik, maka persatuan dan keharmonisan antar masyarakat Indonesia bisa terwujud secara nyata.

 

Multikulturalisme di Pesantren sebagai Simbol Ke-Bhineka Tunggal Ika-an

 

         Term “pesantren” secara etimologis berasal dari pe-santri-an yang berarti tempat santri; asrama tempat santri belajar agama atau; pondok. Dikatakan pula, pesantren berasal dari kata santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam (Haidar Putra Daulay, 2001: 7). Pesantren didefinisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang   menekankan pelajaran agaman Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen (Mujamil Qomar, 2002: 2). Dari pendapat-pendapat tersebut, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pesantren merupakan tempat dimana orang berkumpul untuk belajar agama Islam.

         Sebagai sebuah lembaga pendidikan keislaman tertua di Nusantara, ternyata pesantren memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang patut diapresiasi. Salah satu dari keunikan-keunikan tersebut adalah adanya kesadaran multikultural di pesantren jauh sebelum wacana multikulturalisme berkembang. Misalnya saja, Wali Songo yang disebut- sebut sebagai founding fathers pesantren melakukan dakwah di tengah bangsa kita melalui pendekatan beraneka ragam: ekonomi, sosial, kebudayaan, dan politik.

         Multikulturalisme di pesantren secara umum dapat kita lihat dari dua hal. Pertama, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial biasanya terdiri dari para santri dengan latar belakang yang multisuku, multibudaya, multietnik, multibahasa, dan multidialek. Hal ini menunjukkan bahwa realitas sosial di pesantren juga sangat plural. Walaupun adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi pesantren mampu menampakan sebuah keharmonisan. Seperti yang tercermin di Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta misalnya, diisi oleh ratusan mahasantri dari berbagai daerah di Indonesia dan mahasiswa luar negeri, namun tak pernah terlihat gejolak   untuk   berpecah-belah.   Mahasantri hidup   rukun   dan   saling membantu bagaikan saudara. Sistem asrama, mampu membangun kesadaran multikultural kepada para mahasantri tidak hanya dalam kerangka teoritis, tetapi langsung ditransformasikan secara nyata dalam kehidupan.

         Kedua, secara paradigmatis. Di dalam kerangka berpikir, pesantren telah menjunjung tinggi prinsip toleransi dan keterbukaan. Pesantren mengajarkan kepada anak didiknya untuk lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan. Di dalam pengajaran disiplin ilmu fiqih, misalnya, pesantren memberikan pemahaman yang multi-madzhab terhadap para santri. Ada Madzhab Syafi’iyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Malikiyah. Bahkan, dalam satu payung madzhab pun masih banyak perbedaan-perbedaan pendapat, suatu hal yang dalam tradisi intelektual pesantren tak pernah memicu konflik dan permusuhan.

         Al-‘ilmu bila ‘amalin ka as-syajari bila tsamarin “pengetahuan tanpa pengamalan seperti pohon tanpa buah”, sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh pesantren menjadikan multikulturalisme tidak hanya sebatas wacana mati, tetapi harus dipraktikkan dalam bentuk nyata agar lebih berarti. Nilai-nilai multikulturalisme benar-benar dibumikan secara masif sehingga mengakar menjadi sebuah prinsip hidup. Masih ada sebongkah harapan dari pesantren untuk Indonesia yang lebih bijak menyikapi perbedaan. Pesantren, seperti disebutkan di muka, telah memberikan gambaran bagaimana keharmonisan itu tetap terjaga, walaupun perbedaan senantiasa ada. Kesuksesan pesantren dalam membangun kehidupan harmonis di tengah perbedaan, menunjukan bahwa multikulturalisme di pesantren simbol Bhineka Tunggal Ika yang tidak hanya dipahami tapi juga dijalani. Kita berharap apa yang ditunjukan oleh pesantren, bisa diwujudkan dalam skala yang lebih luas: negara-bangsa.

 

 Daftar Referensi

 

Achmad Fedyani Saefuddin. 2006. “Membumikan Multikulturalisme di Indonesia” dalam Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI. Volume 2, Nomor 1.

 

Bedjo Sujanto. 2007. Cet. I. Pemahaman Kembali Makna Bhineka Tunggal Ika Persaudaraan dalam Kemajemukan. Jakarta: CV. Sagung Seto.

 

Daulay, Haidar Putra. 2001. Historis dan Eksistensi Pesantren, Sekolah, dan Madrasah, Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

Choirul Mahfud. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

Qomar, Mujamil. 2002. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga.

 

Muhammad Saifullah, http://news.okezone.com/read/2014/01/02/339/920558/waspada- konflik-sosial-sudah-telan-203-nyawa (diakses Jum’at, 22 Agustus

2014 pukul 20:11 WIB)

 

 

[1] Tulisan ini sudah dilombakan dan mendapatkan juara 1 di provinsi Banten serta juara 3 di tingkat pusat pada lomba Artikel Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Kementrian Pertahanan RI, thun 2014.

[2] Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, No. Hp. 085711497878, email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Friday, 18 December 2015 12:45

Laporan Field Trip Jakarta

Kontroversi menyangkut aliran Ahmadiyah di Indonesia dalam 10 tahun terakhir telah berubah menjadi kekerasan massa yang menelan korban jiwa dan harta benda. Kekerasan ini ditengarai bersumber dari perbedaan doktrin Sunni atau Ahli Sunnah wal-Jamaah yang dianut oleh mayoritas kaum Muslim Indonesia dengan doktrin Ahmadiyah mengenai status atau kedudukan Nabi Muhammad vis a vis Mirza Ghulam Ahmad. Bagi kaum muslim Sunni, Nabi Muhammad ialah nabi terakhir yang diutus Tuhan, dan tidak ada nabi lagi setelahnya. Sementara bagi penganut aliran Ahmadiyah, yang biasa disebut Ahmadi, Mirza Ghulam Ahmad adalah juga seorang nabi utusan Tuhan, walaupun tidak membawa syariat baru. Pengikut Sunni tidak dapat menerima doktrin kenabian Mirza Ghulam Ahmad, bagaimanapun penjelasannya. Pengakuan adanya nabi setelah Muhammad itulah yang menjadi sumber kontroversi di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan belakangan merebak menjadi kekerasan berdarah dan menjurus pada pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM).

 

Untuk laporan versi lengkapnya, download link berikut:

Laporan Field Trip Jakarta

 

Tuesday, 15 December 2015 14:59

Laporan Field Trip Semarang

Field trip atau kunjungan ke Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Kampoeng Persemaian Cinta Kemanusiaan atau umum dikenal sebagai Percik merupakan bagian dari kegiatan Training dan Field Trip “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang diselenggarakan 29 September – 2 Oktober 2015, di Semarang, Jawa Tengah. Field trip dilaksanakan pada 1 Oktober 2015, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan peserta training tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jawa Tengah dan memberikan pengalaman kepada peserta training tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik.

Alasan memilih Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Kampoeng Percik sebagai tujuan field trip tidak lain adalah bahwa kedua lembaga ini merupakan lembaga yang terlibat secara aktif dalam kajian, promosi dan advokasi kasus-kasus konflik yang terjadi, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun yang diulas dalam laporan ini hanya keterlibatan Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Percik dalam inisiatif perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai di Jawa Tengah.

Laporan field trip ini merupakan kompilasi dari lima laporan yang ditulis oleh lima orang peserta terbaik alumni training dalam kurun waktu satu minggu. Selain pendahuluan laporan ini juga akan membahas inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Percik, pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus-kasus yang ditangani, upaya penyelesaian konflik secara damai, dan rekomendasi.

 

Untuk Laporan Versi Lengkap, Download Link berikut:

Laporan Fieldtrip Semarang

 

Page 15 of 24