Lia Cgs

Thursday, 24 December 2015 17:14

Laporan Field Trip Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai kota yang memiliki keragaman. Semua jenis etnis, agama, dan paham mulai dari yang paling kiri hingga yang paling kanan ada di Yogyakarta. Salah satu keanekaragaman penduduk Yogyakarta terlihat di kalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun untuk memilih hidup di Yogyakarta. Dengan penduduk hampir tiga setengah juta jiwa, Yogyakarta merupakan miniatur Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Itulah pepatah yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana pendatang seharusnya beradaptasi. Pendatang di Yogyakarta dapat diterima oleh masyarakat setempat ketika mereka menghargai prinsip saling menghormati dan menjaga kerukunan. Ketika pendatang menghargai nilai-nilai lokal, maka mereka akan lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat Yogyakarta. Diantaranya adalah budaya sopan santun yang sangat kental dan menghormati yang tua serta ramah yang ada dimiliki penduduk Yogyakarta (disingkat Jogja).

Kepemimpinan memegang kunci penting menjaga Jogja tetap aman dan damai. Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono ke X yang mengutamakan kedamaian Jogja menjadi salah satu kunci Jogja tetap damai. Setiap orang harus menjaga perdamaian di Jogja dan dilarang keras melakukan kekerasan. Pada masa era reformasi 98 dimana kota Solo terbakar, Jogja masih berhasil menjaga kedamaian. Simbol Keraton Jogja masih kuat menjaga Jogja yang damai. Oleh karenanya Jogja sering dianggap sebagai barometer Indonesia, jika Jogja bisa diobrak abrik maka tak bisa dibayangkan kondisi Indonesia.

Bukan hal yang mudah untuk tetap konsisten menjaga perdamaian di Yogyakarta karena banyaknya perbedaan dalam berperilaku, pemikiran, corak dan kebudayaan yang ada. Perbedaan yang ada masih dapat dikendalikan dengan mencari persamaan tujuan. Menurut KH Abdul Muhaimin, ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), Jogja dapat menjaga perdamaian dengan baik diantaranya karena tiga hal. Pertama, peran keraton sangat kuat dan masih eksis sebagai center of culture atau pusat budaya. Kedua, masyarakat Jogja merupaka masyarakat terdidik yang lebih mudah memahami dengan baik dan tidak mudah terprovokasi dibanding daerah lain. Ketiga, komunikasi yang baik antar warga dan para pemangku kepentingan yang ada di Yogyakarta.

Dinamika pembangunan dan perkembangan sosial budaya juga turut mempengaruhi dinamika damai di Jogja. Pertumbuhan hotel yang sangat masif di Jogja misalnya sedikit banyak mempengaruhi relasi warga dengan warga maupun dengan pemerintah setempat. Upaya meningkatkan pendapatan daerah melalui pembangunan hotel ternyata dianggap tidak sejalan dengan harapan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di sekitar pembangunan hotel mengalami kekurangan air. Contoh lain dari dinamika damai di Jogja adalah dinamika interaksi antar penduduk yang beragam kadang menimbulkan masalah. Persoalaan antara individu dapat menjadi persoalan kelompok dengan kelompok. Artinya, ada eskalasi konflik yang terjadi dari konflik personal menjadi konflik kelompok.

Damai yang aktif bukanlah tiadanya konflik. Damai yang aktif adalah kondisi masyarakat yang dapat hidup berdampingan secara damai, terjadi interaksi dan kerjasama, serta dapat menyelesaikan konflik jika terjadi. Jika sebelumnya Jogya sering disebut sebagai city of tolerance dengan segala perdamaian yang ada dengan penduduk yang sangat multi budaya, the Wahid Institute pada tahun 2014 menempatkan Yogyakarta sebagai propinsi intoleran kedua se-Indonesia setelah Jawa Barat. Tercatat terjadi 21 kasus intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama sepanjang tahun 2014 di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tulisan ini akan mendalami dialektika konflik dan inisiatif damai yang terjadi di Yogyakarta. Model penyelesaian konflik yang akan didalami adalah penyelesaian konflik yang menimpa Julius Felicianus, Direktur Galang Press, yang mengalami penyerangan dirumahnya oleh sekelompok orang tak dikenal. Sedangkan inisiatif damai akan mengulas upaya-upaya bina damai yang dilakukan oleh FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman) di Yogyakarta.

 

 Untuk laporan versi lengkapnya, download link berikut:

Laporan Field Trip Yogyakarta

    

Kami percaya sebagian besar masyarakat Muslim di negeri ini mendambakan kehidupan yang damai, toleran dan harmonis khususnya dalam relasi umat beragama. Berbagai perbedaan yang dapat memicu keretakan dan perpecahan selayaknya dihadapi secara bijaksana dan mengedepankan cara-cara dialogis atas dasar saling menghormati hak asasi manusia itu sendiri. Keyakinan luhur ini telah terkristalisasi dalam bentuk dasar negara Pancasila dan dikukuhkan dalam konstitusi serta undang-undang dan peraturan negara.

Dilihat dari kecenderungan umum dalam masyarakat dan juga rezim hukum yang melegitimasinya, upaya untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di masyarakat sudah selayaknya mendapatkan dukungan yang luas.

Namun tentu saja berbagai kesalahpahaman dan bahkan prasangka yang terbit dari minimnya wawasan dan akibat disinformasi harus dihadapi dengan menunjukkan fakta dan argumentasi. modul ini hadir antara lain untuk menepis kesalahpahaman dan prasangka yang terlanjur hinggap dalam kesadaran sebagian kita dalam menyikapi nilai-nilai HAM, perdamaian, toleransi dan resolusi konflik.

 

Modul Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berpespektif Islam dan HAM ini bisa di download di link-link di bawah ini:

BAB 0 PENGANTAR

BAB 1 Kontrak Belajar dan Perkenalan

BAB 2 Perdamaian dalam Islam

BAB 3 Mengenal Hak Asasi Manusia 

BAB 4 HAM dalam Islam

BAB 5 Memahami Konflik 

BAB 6 Analisis Konflik 

BAB 7 Penanganan Konflik Secara Damai  

 

Oleh:

Ahmad Hamdani[2]

 

Ahmad Hamdani adalah salah seorang peserta Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam yang terpilih sebagai penulis dalam kegiatan Fieldtrip pada 19-22 November lalu.

Ahmad Hamdani, Peserta Training Jakarta

 

        

         Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.504 pulau besar dan kecil (Bedjo Sujanto, 2007: 32), membentang dari Sabang sampai Merauke. Jumlah penduduk 237,6 juta jiwa (Sensus Penduduk Indonesia 2010) berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari budaya, bahasa, suku bangsa, ras, dan agama. Keragaman ini telah membentuk Indonesia menjadi negara dengan struktur sosial yang multikultural. Hal ini sesungguhnya telah disadari oleh para pendiri bangsa sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan. Karenanya, untuk tetap menjaga kerukunan nasional, mereka menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebuah semboyan persatuan. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai alasan bagi adanya permusuhan, namun dijadikan modal untuk membngun bangsa dengan semangat persatuan.

         Indonesia yang multikultural, apabila tidak dikelola dan ditangani dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu serta penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Peristiwa Ambon dan Poso, misalnya, merupakan contoh kekerasan dan konflik horizontal yang telah menguras energi dan merugikan tidak saja jiwa dan materi tetapi juga mengorbankan keharmonisan antar sesama masyarakat Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi bahan ajaran bagi anak sekolah, tak pernah dipraktikkan dalam dunia nyata. Media masa yang tak henti-hentinya memberitakan konflik dan perselisihan, turut memperparah keadaan ini. Mengutip Muhammad Saifullah (www.okezone.com, akses 22 Agustus 2014), bahwa konflik sosial pada 2013   trennya   mengalami   kenaikan   signifikan   yaitu   23,7   persen dibandingkan 2012. Sepanjang 2013 terjadi 153 konflik sosial di Indonesia. Hal tersebut sudah menjadi bukti, bahwa semboyan persatuan Bhinneka Tunggal Ika masih belum bisa kita wujudkan secara nyata, sehingga hal ini menjadi tantangan besar bangsa kita.

 

Memahami Multikulturalisme

 

         Merupakan kenyataan yang tidak bisa ditolak, bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, bahasa, ras, dan agama. Hal ini menjadikan Indonesia yang multikultural. Sebagai sebuah konsep yang ramai dibicarakan setelah masa reformasi, multikulturalisme masih belum dipahami banyak orang, meski pemikiran yang menunjukan semangat yang sama dengan multikulturalisme sudah ditunjukan pada Sumpah Pemuda 1928. Oleh karenannya, pemahaman yang komprehensif mengenai multikulturalisme menjadi sangat dibutuhkan, mengingat realitas bangsa Indonesia yang heterogen dan multikultural.

         Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), culture (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik (Choirul Mahfud, 2006: 75). Dari konsep multikulturalisme inilah kemudian muncul gagasan normatif mengenai kerukunan, toleransi, saling menghargai perbedaan dan hak-hak masing-masing kebudayaan penyusun suatu bangsa (Achmad Fedyani Saefuddin, 2006: 4). Kemunculan multikulturalisme disebut-sebut sebagai sebuah upaya untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan dan keberagaman. Namun pertanyaannya, bagaimana kita menjaga pemahaman bahwa multikulturalnya Indonesia bisa terangkum dalam sebuah persatuan?

         Sebagai jawabannya, konsep Bhineka Tunggal Ika harus dijadikan landasan bagi multikulturalnya bangsa ini. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan telah terbukti berhasil membawa Indonesia yang multikultural merdeka.   Nusantara ini disusun atas ribuan pulau dengan keragaman suku bangsa, budaya, bahasa, ras, dan agama, namun kita dipersatukan dalam Indonesia Raya. Semboyan yang mengandung arti “walaupun berbeda-beda tatap satu jua” ini, telah memberikan jawaban yang pasti untuk pertanyaan diatas. Oleh karenanya harus benar-benar dihayati sampai mengerti dan teraplikasi. Ketika semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan konsep multikulturalisme sudah dipahami dan dilaksanakan dengan baik, maka persatuan dan keharmonisan antar masyarakat Indonesia bisa terwujud secara nyata.

 

Multikulturalisme di Pesantren sebagai Simbol Ke-Bhineka Tunggal Ika-an

 

         Term “pesantren” secara etimologis berasal dari pe-santri-an yang berarti tempat santri; asrama tempat santri belajar agama atau; pondok. Dikatakan pula, pesantren berasal dari kata santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam (Haidar Putra Daulay, 2001: 7). Pesantren didefinisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang   menekankan pelajaran agaman Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen (Mujamil Qomar, 2002: 2). Dari pendapat-pendapat tersebut, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pesantren merupakan tempat dimana orang berkumpul untuk belajar agama Islam.

         Sebagai sebuah lembaga pendidikan keislaman tertua di Nusantara, ternyata pesantren memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang patut diapresiasi. Salah satu dari keunikan-keunikan tersebut adalah adanya kesadaran multikultural di pesantren jauh sebelum wacana multikulturalisme berkembang. Misalnya saja, Wali Songo yang disebut- sebut sebagai founding fathers pesantren melakukan dakwah di tengah bangsa kita melalui pendekatan beraneka ragam: ekonomi, sosial, kebudayaan, dan politik.

         Multikulturalisme di pesantren secara umum dapat kita lihat dari dua hal. Pertama, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial biasanya terdiri dari para santri dengan latar belakang yang multisuku, multibudaya, multietnik, multibahasa, dan multidialek. Hal ini menunjukkan bahwa realitas sosial di pesantren juga sangat plural. Walaupun adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi pesantren mampu menampakan sebuah keharmonisan. Seperti yang tercermin di Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta misalnya, diisi oleh ratusan mahasantri dari berbagai daerah di Indonesia dan mahasiswa luar negeri, namun tak pernah terlihat gejolak   untuk   berpecah-belah.   Mahasantri hidup   rukun   dan   saling membantu bagaikan saudara. Sistem asrama, mampu membangun kesadaran multikultural kepada para mahasantri tidak hanya dalam kerangka teoritis, tetapi langsung ditransformasikan secara nyata dalam kehidupan.

         Kedua, secara paradigmatis. Di dalam kerangka berpikir, pesantren telah menjunjung tinggi prinsip toleransi dan keterbukaan. Pesantren mengajarkan kepada anak didiknya untuk lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan. Di dalam pengajaran disiplin ilmu fiqih, misalnya, pesantren memberikan pemahaman yang multi-madzhab terhadap para santri. Ada Madzhab Syafi’iyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Malikiyah. Bahkan, dalam satu payung madzhab pun masih banyak perbedaan-perbedaan pendapat, suatu hal yang dalam tradisi intelektual pesantren tak pernah memicu konflik dan permusuhan.

         Al-‘ilmu bila ‘amalin ka as-syajari bila tsamarin “pengetahuan tanpa pengamalan seperti pohon tanpa buah”, sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh pesantren menjadikan multikulturalisme tidak hanya sebatas wacana mati, tetapi harus dipraktikkan dalam bentuk nyata agar lebih berarti. Nilai-nilai multikulturalisme benar-benar dibumikan secara masif sehingga mengakar menjadi sebuah prinsip hidup. Masih ada sebongkah harapan dari pesantren untuk Indonesia yang lebih bijak menyikapi perbedaan. Pesantren, seperti disebutkan di muka, telah memberikan gambaran bagaimana keharmonisan itu tetap terjaga, walaupun perbedaan senantiasa ada. Kesuksesan pesantren dalam membangun kehidupan harmonis di tengah perbedaan, menunjukan bahwa multikulturalisme di pesantren simbol Bhineka Tunggal Ika yang tidak hanya dipahami tapi juga dijalani. Kita berharap apa yang ditunjukan oleh pesantren, bisa diwujudkan dalam skala yang lebih luas: negara-bangsa.

 

 Daftar Referensi

 

Achmad Fedyani Saefuddin. 2006. “Membumikan Multikulturalisme di Indonesia” dalam Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI. Volume 2, Nomor 1.

 

Bedjo Sujanto. 2007. Cet. I. Pemahaman Kembali Makna Bhineka Tunggal Ika Persaudaraan dalam Kemajemukan. Jakarta: CV. Sagung Seto.

 

Daulay, Haidar Putra. 2001. Historis dan Eksistensi Pesantren, Sekolah, dan Madrasah, Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

Choirul Mahfud. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

Qomar, Mujamil. 2002. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga.

 

Muhammad Saifullah, http://news.okezone.com/read/2014/01/02/339/920558/waspada- konflik-sosial-sudah-telan-203-nyawa (diakses Jum’at, 22 Agustus

2014 pukul 20:11 WIB)

 

 

[1] Tulisan ini sudah dilombakan dan mendapatkan juara 1 di provinsi Banten serta juara 3 di tingkat pusat pada lomba Artikel Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Kementrian Pertahanan RI, thun 2014.

[2] Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, No. Hp. 085711497878, email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Friday, 18 December 2015 12:45

Laporan Field Trip Jakarta

Kontroversi menyangkut aliran Ahmadiyah di Indonesia dalam 10 tahun terakhir telah berubah menjadi kekerasan massa yang menelan korban jiwa dan harta benda. Kekerasan ini ditengarai bersumber dari perbedaan doktrin Sunni atau Ahli Sunnah wal-Jamaah yang dianut oleh mayoritas kaum Muslim Indonesia dengan doktrin Ahmadiyah mengenai status atau kedudukan Nabi Muhammad vis a vis Mirza Ghulam Ahmad. Bagi kaum muslim Sunni, Nabi Muhammad ialah nabi terakhir yang diutus Tuhan, dan tidak ada nabi lagi setelahnya. Sementara bagi penganut aliran Ahmadiyah, yang biasa disebut Ahmadi, Mirza Ghulam Ahmad adalah juga seorang nabi utusan Tuhan, walaupun tidak membawa syariat baru. Pengikut Sunni tidak dapat menerima doktrin kenabian Mirza Ghulam Ahmad, bagaimanapun penjelasannya. Pengakuan adanya nabi setelah Muhammad itulah yang menjadi sumber kontroversi di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan belakangan merebak menjadi kekerasan berdarah dan menjurus pada pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM).

 

Untuk laporan versi lengkapnya, download link berikut:

Laporan Field Trip Jakarta

 

Tuesday, 15 December 2015 14:59

Laporan Field Trip Semarang

Field trip atau kunjungan ke Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Kampoeng Persemaian Cinta Kemanusiaan atau umum dikenal sebagai Percik merupakan bagian dari kegiatan Training dan Field Trip “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang diselenggarakan 29 September – 2 Oktober 2015, di Semarang, Jawa Tengah. Field trip dilaksanakan pada 1 Oktober 2015, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan peserta training tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jawa Tengah dan memberikan pengalaman kepada peserta training tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik.

Alasan memilih Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Kampoeng Percik sebagai tujuan field trip tidak lain adalah bahwa kedua lembaga ini merupakan lembaga yang terlibat secara aktif dalam kajian, promosi dan advokasi kasus-kasus konflik yang terjadi, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun yang diulas dalam laporan ini hanya keterlibatan Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Percik dalam inisiatif perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai di Jawa Tengah.

Laporan field trip ini merupakan kompilasi dari lima laporan yang ditulis oleh lima orang peserta terbaik alumni training dalam kurun waktu satu minggu. Selain pendahuluan laporan ini juga akan membahas inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Percik, pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus-kasus yang ditangani, upaya penyelesaian konflik secara damai, dan rekomendasi.

 

Untuk Laporan Versi Lengkap, Download Link berikut:

Laporan Fieldtrip Semarang

 

Pesantrenforpeace.com—Bertepatan dengan hari HAM Internasional (10/12), sebanyak 50 Santri dari 30 Pesantren Alumni Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam di Yogyakarta kembali berkumpul di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, mereka mengadakan diskusi tentang “Pesantren dan Penerbitan”. Sebelumnya mereka juga sempat mengumandangkan ‘Deklarasi Damai’ bersamaan dengan jatuhnya Hari Santri Nasional (22/10).

Diskusi yang berlangsung selama 2 jam (10.00 – 12.00 WIB) ini menghadirkan pembicara dari Galang Press. Sebagaimana diketahui, Galang press merupakan perusahaan penerbitan yang dimiliki oleh salah seorang narasumber Field trip di Yogyakarta, Julius Felicianus. Julius adalah salah satu korban kekerasan yang mengatasnamakan agama di Yogyakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Dr. Jazilus Sakhok. Jazilus sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, Ia menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kehadiran Galang Press dan juga kepada para santri yang telah meluangkan waktunya untuk mengikuti kegiatan ini.

Hadir ditengah diskusi tersebut, Ketua Yayasan Galang Press, Rendra Setiawan. Sebagai nara sumber, Ia menyampaikan bahwa Pesantren merupakan wadah kekuatan, dimana nilai-nilai perdamaian ditanamkan dari mulai hal-hal kecil. Pada kesempatan itu, ia secara khusus menyampaikan inisiatif Galang Press untuk menciptakan Komunitas Menulis bagi para santri agar dapat terus menyuarakan pemahaman perdamaian.

Kehadiran Rendra bersama tim dari Galang Press sekaligus untuk memberikan bantuan (hibah) buku dari Galang Press untuk 30 Pesantren yang hadir. Ini adalah penghargaan besar bagi pesantren yang telah berkontribusi dalam upaya mendiseminasikan Islam Rahmatan lil Alamin. 

“Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu terus dipupuk dan dilanjutkan” ungkap Ustadz Hasan Mahfudh selaku fasilitator. “Forum ini memiliki potensi yang luar biasa sebagai ajang silaturahim antar Pesantren lewat santri-santrinya untuk menyuarakan ide-ide dan nilai-nilai perdamaian yang berasal dari pesantren,” lanjutnya.

Hasan mengungkapakan rasa terimakasihnya kepada pihak CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menginisiasi Program Pesantren for Peace. Lewat program inilah para santri dapat menjalin silaturahim sambil menyerukan nilai-nilai perdamaian sampai lahirnya diskusi ini.

PESANTREN FOR PEACE

Engkau hadir sebagai jalan baru

Dimana kini kami semua bertemu...

Engkau datang dengan tersenyum

Merangkulku masuk ke dalamnya...

 

Kau pula hadir dalam sosok lain

Sebagai jawaban pertanyaanku...

Kalau dulu kupahami apa itu damai

Itu adalah ketika semuanya berwujud Islam...

 

Namun,

Kau menusap hatiku dengan lembut

Membuka mataku dengan penuh kasih

Dan membersihkan pikiranku dengan sayang

Kalau arti damai itu, ketika kita beda

Namun, kita memilih tetap bersama

 

Bandung, 26 November 2015

Inten Nurmalasari

Pesantrenforpeace.com--Aksi kekerasan dan teror atas nama agama marak terjadi, belum lama ini misalnya masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi kekerasan yang terjadi di Paris, Perancis yang mengakibatkan setidaknya 120 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Salah satu tersangka pelaku terorisme di Paris adalah Frederick C. Jean Salvi alias Ali, yang menurut berbagai sumber diketahui kerap mendatangi berbagai pesantren di Bandung. Salah satu pesantren yang pernah dikunjungi adalah Pondok Pesantren Al-Jawami di Cileunyi Bandung. Kami menilai, bila situasi ini tidak diantisipasi secara dini, fenomena ini dapat menimbulkan tafsiran lain wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang identik dengan kekerasan dan terorisme.

Dalam rangka berkontribusi aktif dalam upaya mengurangi dan mencegah aksi kekerasan dan terorisme, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa mengembangkan dan menjalankan sebuah program penting bertajuk “Pesantren for Peace (PfP)”. Program ini dijalankan dengan melibatkan banyak pondok pesantren di 5 wilayah di Jawa, salah satunya di Jawa Barat. Program ini diadakan untuk mendorong dan mendukung peran Pesantren sebagai lokomotif moderasi Islam di Indonesia dalam rangka menegakkan dan memajukan HAM, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Hasil penelitian yang dilakukan PfP beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa pondok pesantren di Jawa Barat masih belum memaksimalkan perannya dalam membangun perdamaian dan mencegah aksi kekerasan. Penelitian tersebut juga mengkonfirmasi bahwa akar penyebab konflik dan kekerasan yang terjadi di Jawa Barat sangat beragam, mulai dari aspek teologis hingga ke persoalan ekonomi, politik, dan sosial budaya. Hal ini dipicu oleh hadirnya kebijakan yang tidak adil, sikap diskriminatif dan intoleran, rendahnya rasa kebersamaan, menguatnya identitas keagamaan, dan kentalnya prasangka (prejudice) di antara kelompok masyarakat baik di kalangan antar agama maupun intra agama itu sendiri.

Fenomena tersebut melatarbelakangi terselenggaranya Training dan Field Trip “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang dilaksanakan 26-29 November 2015 di Hotel Park View, Bandung. Kegiatan ini diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif Islam dan HAM. Di penghujung Training, para peserta difasilitasi untuk melakukan kunjungan (field trip) dan dialog ke JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP). Field Trip ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang best practicies bina damai dan penanganan konflik dengan harapan dapat membekali mereka dalam upaya pembangunan perdamaian dan penanganan konflik di Jawa Barat.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, mengungkapkan “Kegiatan Training dan Field Trip melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Garut dan Kab. Ciamis, yang terdiri dari 14 peserta perempuan dan 16 laki-laki. Berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi,” ungkapnya.

Idris menambahkan “Training ini diselenggarakan atas kerjasama Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste serta Uni Eropa dengan mitra lokal Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung,” ungkapnya.

Fasilitator dalam kegiatan training ini merupakan para Ustadz dan Ustadzah di wilayah Bandung dan sekitarnya, yang sebelumnya telah dibina oleh Tim PfP untuk menjadi Trainer bulan Agustus lalu. Mereka adalah Ahmad Agus Suryawinata (PP. Mahasiswa Universal Bandung), Ade Muslih (PP. Sirnarasa Ciamis), Agus Suryaman,Ss (PP. Darut Taqwa Bandung), Wahidah Rosyadah (PP. Al-Quran Babussalam Bandung), Arum Ningsih (PP. Al-Ihsan Bandung), dan Desi Nia Kurniasih (PP. Al Falah Dago).

 

Page 15 of 23