Koleksi Naskah Khutbah Kontra Narasi Extremis

Lia Cgs

Pesantrenforpeace.com—Bertepatan dengan hari HAM Internasional (10/12), sebanyak 50 Santri dari 30 Pesantren Alumni Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam di Yogyakarta kembali berkumpul di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, mereka mengadakan diskusi tentang “Pesantren dan Penerbitan”. Sebelumnya mereka juga sempat mengumandangkan ‘Deklarasi Damai’ bersamaan dengan jatuhnya Hari Santri Nasional (22/10).

Diskusi yang berlangsung selama 2 jam (10.00 – 12.00 WIB) ini menghadirkan pembicara dari Galang Press. Sebagaimana diketahui, Galang press merupakan perusahaan penerbitan yang dimiliki oleh salah seorang narasumber Field trip di Yogyakarta, Julius Felicianus. Julius adalah salah satu korban kekerasan yang mengatasnamakan agama di Yogyakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Dr. Jazilus Sakhok. Jazilus sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, Ia menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kehadiran Galang Press dan juga kepada para santri yang telah meluangkan waktunya untuk mengikuti kegiatan ini.

Hadir ditengah diskusi tersebut, Ketua Yayasan Galang Press, Rendra Setiawan. Sebagai nara sumber, Ia menyampaikan bahwa Pesantren merupakan wadah kekuatan, dimana nilai-nilai perdamaian ditanamkan dari mulai hal-hal kecil. Pada kesempatan itu, ia secara khusus menyampaikan inisiatif Galang Press untuk menciptakan Komunitas Menulis bagi para santri agar dapat terus menyuarakan pemahaman perdamaian.

Kehadiran Rendra bersama tim dari Galang Press sekaligus untuk memberikan bantuan (hibah) buku dari Galang Press untuk 30 Pesantren yang hadir. Ini adalah penghargaan besar bagi pesantren yang telah berkontribusi dalam upaya mendiseminasikan Islam Rahmatan lil Alamin. 

“Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu terus dipupuk dan dilanjutkan” ungkap Ustadz Hasan Mahfudh selaku fasilitator. “Forum ini memiliki potensi yang luar biasa sebagai ajang silaturahim antar Pesantren lewat santri-santrinya untuk menyuarakan ide-ide dan nilai-nilai perdamaian yang berasal dari pesantren,” lanjutnya.

Hasan mengungkapakan rasa terimakasihnya kepada pihak CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menginisiasi Program Pesantren for Peace. Lewat program inilah para santri dapat menjalin silaturahim sambil menyerukan nilai-nilai perdamaian sampai lahirnya diskusi ini.

PESANTREN FOR PEACE

Engkau hadir sebagai jalan baru

Dimana kini kami semua bertemu...

Engkau datang dengan tersenyum

Merangkulku masuk ke dalamnya...

 

Kau pula hadir dalam sosok lain

Sebagai jawaban pertanyaanku...

Kalau dulu kupahami apa itu damai

Itu adalah ketika semuanya berwujud Islam...

 

Namun,

Kau menusap hatiku dengan lembut

Membuka mataku dengan penuh kasih

Dan membersihkan pikiranku dengan sayang

Kalau arti damai itu, ketika kita beda

Namun, kita memilih tetap bersama

 

Bandung, 26 November 2015

Inten Nurmalasari

Pesantrenforpeace.com--Aksi kekerasan dan teror atas nama agama marak terjadi, belum lama ini misalnya masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi kekerasan yang terjadi di Paris, Perancis yang mengakibatkan setidaknya 120 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Salah satu tersangka pelaku terorisme di Paris adalah Frederick C. Jean Salvi alias Ali, yang menurut berbagai sumber diketahui kerap mendatangi berbagai pesantren di Bandung. Salah satu pesantren yang pernah dikunjungi adalah Pondok Pesantren Al-Jawami di Cileunyi Bandung. Kami menilai, bila situasi ini tidak diantisipasi secara dini, fenomena ini dapat menimbulkan tafsiran lain wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang identik dengan kekerasan dan terorisme.

Dalam rangka berkontribusi aktif dalam upaya mengurangi dan mencegah aksi kekerasan dan terorisme, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa mengembangkan dan menjalankan sebuah program penting bertajuk “Pesantren for Peace (PfP)”. Program ini dijalankan dengan melibatkan banyak pondok pesantren di 5 wilayah di Jawa, salah satunya di Jawa Barat. Program ini diadakan untuk mendorong dan mendukung peran Pesantren sebagai lokomotif moderasi Islam di Indonesia dalam rangka menegakkan dan memajukan HAM, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Hasil penelitian yang dilakukan PfP beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa pondok pesantren di Jawa Barat masih belum memaksimalkan perannya dalam membangun perdamaian dan mencegah aksi kekerasan. Penelitian tersebut juga mengkonfirmasi bahwa akar penyebab konflik dan kekerasan yang terjadi di Jawa Barat sangat beragam, mulai dari aspek teologis hingga ke persoalan ekonomi, politik, dan sosial budaya. Hal ini dipicu oleh hadirnya kebijakan yang tidak adil, sikap diskriminatif dan intoleran, rendahnya rasa kebersamaan, menguatnya identitas keagamaan, dan kentalnya prasangka (prejudice) di antara kelompok masyarakat baik di kalangan antar agama maupun intra agama itu sendiri.

Fenomena tersebut melatarbelakangi terselenggaranya Training dan Field Trip “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang dilaksanakan 26-29 November 2015 di Hotel Park View, Bandung. Kegiatan ini diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif Islam dan HAM. Di penghujung Training, para peserta difasilitasi untuk melakukan kunjungan (field trip) dan dialog ke JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP). Field Trip ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang best practicies bina damai dan penanganan konflik dengan harapan dapat membekali mereka dalam upaya pembangunan perdamaian dan penanganan konflik di Jawa Barat.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, mengungkapkan “Kegiatan Training dan Field Trip melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Garut dan Kab. Ciamis, yang terdiri dari 14 peserta perempuan dan 16 laki-laki. Berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi,” ungkapnya.

Idris menambahkan “Training ini diselenggarakan atas kerjasama Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste serta Uni Eropa dengan mitra lokal Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung,” ungkapnya.

Fasilitator dalam kegiatan training ini merupakan para Ustadz dan Ustadzah di wilayah Bandung dan sekitarnya, yang sebelumnya telah dibina oleh Tim PfP untuk menjadi Trainer bulan Agustus lalu. Mereka adalah Ahmad Agus Suryawinata (PP. Mahasiswa Universal Bandung), Ade Muslih (PP. Sirnarasa Ciamis), Agus Suryaman,Ss (PP. Darut Taqwa Bandung), Wahidah Rosyadah (PP. Al-Quran Babussalam Bandung), Arum Ningsih (PP. Al-Ihsan Bandung), dan Desi Nia Kurniasih (PP. Al Falah Dago).

 

Sunday, 22 November 2015 16:34

Testimoni Peserta Training Jakarta

Rangkaian kegiatan Pelatihan (Training) dan Field Trip Peningkatan Pemahaman perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam berakhir sudah. Selama empat hari penuh (19-22/11/2015), tiga puluh santri dari 30 pesantren di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang mengikuti pelatihan ini diberi materi secara menyeluruh oleh para trainer yang merupakan ustadz dan ustadzah yang sebelumnya telah dibina oleh tim PfP. Di penghujung kegiatan, ke-30 santri melakukan diskusi RTL (Rencana Tindak Lanjut). Mereka berkomitmen untuk tetap berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian berperspektif HAM dan Islam


Salah seorang santri dari Pondok Pesantren Jagad Arsy, Tangerang Selatan mengungkapkan testimoninya:

"Pada awalnya saya shock ketika menerima surat undangan dari CSRC, yang didalamnya tercantum kunjungan ke Ahmadiyah. Saat itu saya masih bingung, ada apa dengan Ahmadiyah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jangan-jangan kegiatan ini bagian dari 'ajaran sesat'. Kemudian saya datang kemari dengan Guru saya dan bergabung dengan teman-teman yang lain, dan ternyata berbeda dengan yang saya pikirkan. Tidak ada penyesatan dalam kegiatan ini. Yang dibahas dalam training ini hanya seputar HAM dan ini merupakan training yang bermanfaat buat kami selaku peserta."

Santri yang menguasai Bahasa Inggris dan Arab ini mengaku sangat terkesan dengan  training ini. Satu kata yang dia ungkapkan untuk Pesantren for Peace adalah "The Best".

Nur Ainun Septi Hedi, Pondok Pesantren Jagad Arsy, Tangerang Selatan

Ditemui terpisah, salah seorang pesertadari Pondok Pesantren Daar El-Qolam juga mengaku pada awalnya khawatir mengikuti training ini, berikut testimoninya:

Sebelum saya ikut acara ini, awalnya agak khawatir karena saya pernah punya masalah sedikit dengan orang-orang yang berkaitan dengan HAM. Kebetulan saya pernah punya hubungan nggak baik dengan walisantri yang bekerja di bidang HAM, saya masih merasa trauma dengan hal itu. kemudian ketika melihat agendanya ada kunjungan ke Ahmadiyah yang membuat paradigma negatif saya semakin besar. Tapi karena ini amanat dari pemimpin pondok, jadinya saya tetap ikut. Diluar dari praduga, ternyata disini kita malah banyak belajar bahwa hak asasi manusia itu memang harus ditegakkan. terlebih, dari rangkaian agenda dan pada hari terakhir mengadakan kunjungan lapangan dan langsung melihat konflik yang ada di depan mata, yang biasanya kita lihat dari tv dan film, saya banyak belajar bahwasanya hidup itu memang tak lepas dari konflik, namun pasti ada jalan keluarnya. disini kita belajar mediasi, negosiasi dan sebagainya merupakan bukti bahwa tidak semua konflik harus diselesaikan dengan kekerasan. satu kata untuk Pesantren for Peace "Keren Abisss".

Nurizka Awalia, Pondok Pesantren Daar El-Qolam

 

Oleh: Irfan Abubakar

 

Bhineka Tunggal Ika adalah Ruh Bangsa

Sebagai sebuah bangsa besar, Indonesia dibentuk oleh beragam kelompok dan identitas kesukuan, bahasa, kebudayaan, dan tentu saja keagamaan. Meskipun umat Islam banyak mewarnai landskap budaya di negeri ini, namun kelompok-kelompok umat lain juga memainkan perannya masing-masing untuk menyempurnakan konfigurasi kebangsaan kita. Bangsa Indonesia telah berusaha mengelola keragamannya demi tercapai tujuan bersama membangun sebuah negeri yang adil dan sejahtera. Mengelola keragaman yang kental seperti Indonesia merupakan projek yang menantang, namun sekaligus menghadirkan peluang. Para pendiri negara ini telah menyadari akan hal itu dan mengukuhkan semboyan berbangsa dan bernegara, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap bersatu.

Di balik frase Bhinneka Tunggal Ika terkandung serangkaian nilai dan prinsip hidup yang memungkinkan sebuah sistem sosial dan politik bekerja dengan baik. Semboyan ini semacam jiwa bagi tubuh, atau energi yang menggerakkan sebuah mesin. Energi itu mewujud ke dalam sikap berbagai kelompok untuk saling mengenal, saling memahami, saling percaya, saling menghargai, saling mengakui, dan akhirnya saling memberi manfaat. Dengan nilai-nilai itu kita menyaksikan tubuh Indonesia senantiasa sehat, kuat dan energik. Namun, berbagai konflik kekerasan yang terjadi antara kelompok masyarakat akhir-akhir ini membuat kita bertanya-tanya, apakah gejala ini sebuah isyarat bahwa bangsa ini sedang sakit?        

Setiap kelompok dari manapun asalnya merasa terpanggil untuk mengemban tanggungjawab yang sama untuk memastikan persatuan dalam perbedaan tetap terpelihara dengan baik. Saling menunggu dan mengandalkan hanya akan menciptakan ketidakpastian. Meskipun semua umat beragama berdiri dalam posisi yang setara, namun umat Islam diharapkan menjadi pelopor agenda kebangsaan ini dengan menunjukkan kemauan yang kuat, tanggungjawab, serta kehandalan dalam pengetahuan dan ketrampilan. Tidak terkecuali pesantren sebagai bagian penting dari umat Islam Indonesia berpotensi untuk mendorong kehidupan bermasyarakat yang lebih damai dan toleran.

Pesantren Sebagai Negeri Damai

Di bawah misi mendidik generasi Muslim dengan ajaran, tradisi dan nilai-nilai Islam, pesantren sesungguhnya dapat menjalankan tugas kepeloporan tersebut dengan baik. Faktanya, lembaga sosial berusia tua ini telah menjadi bagian penting dari tonggak kehidupan damai di bumi nusantara. Kehadirannya mencerminkan sifat penyebaran Islam di tanah air yang berlangsung damai dan mampu sepenuhnya beradaptasi dengan tradisi dan kultur lokal yang telah berakar lama.

Hal itu dimungkinkan oleh kelenturan yang menjadi sifat bawaan pesantren, yang juga dipraktikkan kelak ketika pesantren dituntut beradaptasi dengan nilai-nilai dan tradisi yang dibawa serta oleh modernitas. Tidak heran hingga dewasa ini makin banyak pesantren yang mengadopsi ilmu-ilmu dan juga teknologi modern, seperti komputer dan internet, dalam sistem pendidikan dan pengajarannya. Singkat kata, dalam diri pesantren terdapat perpaduan antara komitmen pada nilai-nilai dan tradisi lama yang damai dan toleran dengan kesediaan beradaptasi dengan kultur lokal dan tuntutan modernitas.

Fakta ini diperkuat oleh distingsi pesantren yang menitikberatkan pada pendidikan karakter. Dengan orientasi ini pesantren telah melahirkan para alumni yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Organisasi Nahdatul Ulama (NU), ormas terbesar umat Islam Indonesia, didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, seorang tokoh utama dunia pesantren. Selanjutnya NU yang pada masa lalu merupakan partai politik telah melahirkan partai politik sendiri di era paska Orde Baru dimana kebanyakan alumni pesantren berkiprah. Muhammadiyah yang dikesankan non-pesantren, juga didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, seorang tokoh Islam yang mengenyam pendidikan pesantren.

Kedua organisasi besar tersebut kelak melahirkan banyak kader yang juga bekerja untuk tujuan-tujuan perdamaian, toleransi dan integrasi sosial. Para alumni pesantren yang melanjutkan studi di perguruan tinggi meningkatkan kepekaan sosialnya melalui keaktifan mereka di organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, yang tentu instrumental dalam pembangunan relasi sosial yang damai. Itu semua membuktikan bahwa pada tingkat tertentu pesantren melalui pendidikan leadership-nya telah menjalankan peran kepeloporan tersebut di atas.

Dengan pesatnya perkembangan pesantren, khususnya di pulau Jawa, semakin besar peluang untuk meningkatkan peran tersebut. Namun, semakin tingginya kompleksitas masalah yang terjadi di masyarakat menuntut kemampuan yang semakin canggih untuk mengenali dan menganalisisnya dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Terlebih, kebijakan negara (Masyarakat Ekonomi Asean) untuk membuka pintu masuknya berbagai macam barang, jasa dan orang-orang dari kawasan Asia Tenggara ke dalam negeri tak pelak akan membawa dampak sosial yang semakin kompleks dan apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi potensi gesekan dan bahkan konflik social baru. Sebagai langkah antisipatif pesantren perlu menyiapkan diri dengan cara meningkatkan kapasitasnya dalam memahami akar konflik serta menguasai prinsip-prinsip bekerja dan metode untuk mengelola dan mengatasinya.

Tugas utama pesantren mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dan mendidik para santri dengan karakter islami. Bagaimanapun penanaman nilai-nilai damai dan resolusi konflik, yang dikenal dengan Ishlah dalam bahasa pesantren, telah menjadi sesuatu yang inheren dalam karakter kehidupan pesantren itu sendiri. Bahkan karakter tersebut tercermin dari suasana kehidupan pesantren sehari-hari yang dirasakan penuh dengan ketenangan dan ketentraman. Sehingga tidak mengherankan banyak pesantren di tanah air yang diberi nama “Daarussalam” (Kampung Damai).

Toleransi Juga Bagian Dari Jihad

Di tengah krisis peperangan yang menimpa dunia Islam, khususnya yang menimpa negara-negara Timur Tengah dewasa ini, adalah saat yang tepat mengingatkan kembali pentingnya menghidupkan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, perdamaian, toleransi dan resolusi konflik secara damai. Terlebih bagi dunia pesantren yang memegang saham terbesar dalam usaha membentuk dan mewarnai corak pemikiran dan sikap generasi Muslim. Pembentukan karakter cinta damai dalam masyarakat Islam mustahil dilakukan secara instan tanpa usaha yang konsisten dan berkelanjutan.

Memilih jalan perdamaian dan kehidupan yang toleran dalam dunia yang dipenuhi oleh prasangka dan permusuhan sering dianggap sebagai bentuk kelemahan iman atau tipisnya militansi perjuangan. Ini adalah anggapan yang keliru, karena pilihan ini tidak muncul begitu saja tapi diperoleh melalui proses panjang pemikiran yang diperkukuh oleh dalil-dalil naqli dan aqli tentang bagaimana seharusnya menyikapi relasi kehidupan yang diwarnai konflik dan permusuhan. Islam mengajarkan bahwa asal dan sekaligus tujuan kehidupan ini adalah persatuan, persaudaraan dan perdamaian, bukan perpecahan, permusuhan dan konflik kekerasan.

Namun, perbedaan dan pertentangan antara manusia dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari watak kehidupan alamiah manusia itu sendiri. Menghadapi kenyataaan tersebut Islam menyeru kepada umat beriman untuk mengedepankan jalan damai (ishlâh) guna merestorasi hubungan yang retak akibat konflik. Menempuh jalan damai dalam kenyataannya jauh lebih sulit daripada memutuskan untuk bertikai dan berperang. Kesimpulan ini mengingatkan kita pada hadis Nabi Saw., usai kembali dari perang Tabuk, “Kita telah kembali dari jihad yang lebih kecil, menuju jihad yang lebih besar”.

Para ulama, termasuk Imam al-Suyuthi dalam Kitab al-Jami’ al-Shaghir, menafsirkan jihad yang lebih besar ini dengan “jihad melawa hawa nafsu”. Meskipun ungkapan” jihad melawan hawa nafsu” mengandung makna yang luas, namun makna yang paling logis darinya adalah melawan nafsu untuk berperang itu sendiri, karena konteks komunikasi munculnya hadis itu yang paling dekat adalah konteks perang. Dalam kenyataan, penggunaan cara-cara kekerasan untuk mengatasi konflik apabila tidak direm dapat membawa orang menerima budaya kekerasan itu sendiri. Dengan kata lain, nafsu untuk berperang menjadi tantangan perjuangan yang lebih berat daripada perang itu sendiri. Singkat kata, menempuh jalan damai adalah suatu pilihan perjuangan!

Kami percaya sebagian besar masyarakat Muslim di negeri ini mendambakan kehidupan yang damai, toleran dan harmonis khususnya dalam relasi umat beragama. Berbagai perbedaan yang dapat memicu keretakan dan perpecahan selayaknya dihadapi secara bijaksana dan mengedepankan cara-cara dialogis atas dasar saling menghormati hak asasi manusia itu sendiri. Keyakinan luhur ini telah terkristalisasi dalam betuk dasar negara Pancasila dan dikukuhkan dalam konstitusi serta undang-undang dan peraturan negara. Dilihat dari kecenderungan umum dalam masyarakat dan juga rejim hukum yang melegitimasinya, upaya untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di masyarakat sudah selayaknya mendapatkan dukungan yang luas.

 

*) Dikutip dari Pengantar Editor Modul Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam di Pesantren

Diterbitkan  Jumat, 20 / 11 / 2015 13:30 oleh Tangselpos.co.id

 

TANGSEL POS, SERPONG – Belum lama ini masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi kekerasan yang terjadi di Paris, Perancis yang mengakibatkan setidaknya 120 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka. Masyarakat dunia mengutuk dan mengecam aksi kekerasan tersebut, termasuk pemerintah dan bangsa Indonesia. Peristiwa ini disinyalir merupakan aksi kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh ISIS.

Kondisi di atas tentunya tidak boleh dibiarkan begitu saja karena efek negatif yang ditimbulkannya sangatlah besar. Maka dari itu butuh upaya sistematis dan integratif dalam rangka meningkatkan solidaritas kebersamaan, toleransi, penghargaan atas nilai-nilai HAM setiap individu, dan penyelesaian konflik secara damai demi terciptanya suasana yang lebih damai dan harmonis.

Junaidi Simon Peneliti menjelaskan, dalam konteks ini, posisi dan peran pesantren tentunya sangatlah signifikan. Pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga keagamaan yang memiliki legitimasi kuat menyuarakan nilai-nilai kebenaran agama yang selama ini banyak disalahtafsirkan oleh banyak kalangan yang pro dengan kekerasan. Pesantren pula diharapkan benar-benar mampu menjadi pilar utama promosi perdamaian dan penegakan nilai-nilai HAM.

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa berinisiatif menjalankan program penting dalam rangka mengurangi dan mencegah terjadinya kekerasan dan menyelesaikan konflik secara damai.

Program tersebut bertajuk “Pesantren for Peace (PfP): a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Human Rights and Peaceful Conflict Resolution”.

Program ini merupakan upaya CSRC, KAS dan Uni Eropa dalam rangka mendorong dan mendukung peran Pesantren dalam mempromosikan HAM dan resolusi konflik secara damai, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat secara luas.

“Secara umum, keseluruhan kegiatan program Pesantren for Peace (PfP) diharapkan dapat meningkatkan peran penting Pesantren sebagai lokomotif moderasi Islam di Indonesia dalam rangka menegakkan dan memajukan HAM, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai,”katanya.

Sejak Januari 2015 serangkaian kegiatan penting telah dilakukan: pertama, penelitian pemetaan analisis konflik (conflict analysis mapping); kedua, workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” di Surabaya , Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta; ketiga, penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam”; kempat, peluncuran program PfP dengan dukungan Menteri Agama; kelima, Training of Trainers (TOT) bagi para penulis modul, dimana mereka sekaligus dilatih untuk menjadi trainer dalam training di 5 kota di Pulau Jawa.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan TOT di atas, program PfP selanjutnya melaksanakan 10 rangkaian kegiatan Training dan Field Trip ”Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung. Kegiatan ini diselenggarakan sejak pertengahan kedua tahun 2015 hingga pertengahan pertama tahun 2016. Trainer dalam kegiatan ini adalah para ustadz/ustadzah pesantren dari 5 kota yang telah terlibat dalam mendesain dan penulisan modul serta telah dilatih menjadi trainer dalam TOT sebelumnya.(rls)

Dimuat di : KRjogja.com

YOGYA (KRjogja.com) - Sebanyak 30 santri dari pelbagai pesantren di DIY mengikuti Pesantren for Peace (PFP) Yang diselenggarakan Kamis-Minggu (22-25/10) di Hotel Jambuluwuk, Yogya. Kegiatan dertajuk Training & Fiekld Trip : Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam’ diselenggarakan CSRC Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad Adenaur Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa.

Pertemuan diawali dengan pembacaan Deklarasi ‘Damai Santri Jogja’. Dalam deklarasi para santri menyatakan : Berpegang teguh dan senantiasa siap mempertahankan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI serta menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika. Menyadari tanggungjawab utama sebagai santri, untuk senantiasa mengkaji, menghayati, mengamalman dan mengembangkan ilmu-ilmu warisan para ulama. Berkewajiban untuk turutserta mewujudkan negara yang berdaulat, pembangunan yang berkeadilan, kebudayaan yang dinamis dan saling menghormati dan turutserta menjaga perdamaia Indonesia dan dunia dengan semangat Islam yang <I>rahmatan lil alamin<P>.

Secretary Project Pesantren for Peace (PFP) Idris Hemay posisi pesantren sangat signifikan dalam terciptanya suasana damai dan harmoni.  “Pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga keagamaan yang memiliki legitimasi kuat menyuarakan nilai-nilai kebenaran agama yang selama ini banyak disalahtafsirkan oleh banyak kalangan yang pro kekerasan,” jelas Idris Hemay.

Dikatakan,  setiap konflik dan kekerasan selalu dipicu sikap hadirnya diskriminasi dan intoleran. Juga  rendahnya kebersamaan bahkan kentalnya prasangka di antara kelompok.. “Yang kadang menyedihkan, sikap itu kadangkala dilegitimasi elite keagamaan,” tambahnya. Kondisi di atas menurutnya tidak boleh dibiarkan, karena efek negative yang ditimbulan tentu sangat besar. (Fsy)

JAKARTA, Pesantrenforpeace.com-Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa menyelenggarakan Training dan Field Trip yang bertajuk “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam”. Training tersebut dilaksanakan di Soll Marina Hotel, Serpong, Kamis - Sabtu 19-2 November 2015, dan Field Trip pada hari Sabtu – Minggu 21-22 November 2015 .

 

Sarah Sabina Hasbar, Manager Program Pesantren for Peace, dalam sambutannya menyampaikan bahwa training ini merupakan training ke-4 yang dihadiri oleh santri setelah sebelumnya di Surabaya, Semarang dan Yogyakarta, dan menyusul yang akan datang di Bandung, 26-29 November 2015. Ke-5 rangkaian Training ini difasilitasi oleh para ustadz dan ustadzah penulis modul yang sebelumnya telah dibina oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainer, 30 juli – 1 Agustus 2015 lalu.

“Melalui kegiatan ini para santri dari berbagai pesantren di wilayah DKI Jakarta dan Sekitarnya (DKI Jakarta, Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, dan Serang) dilatih menjadi ‘Duta Perdamaian’, untuk meningkatkan kapasitas pesantren agar lebih berperan dalam mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan konflik secara damai”, ungkap Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan training secara resmi.

Irfan menambahkan, “Dilihat dari sejarah berdirinya, Pesantren mewakili masuknya agama Islam di Indonesia dengan jalan damai. Berbeda dengan di negara-negara Timur Tengah yang penyebaran Islamnya tak lepas dari perang. Namun, meskipun sejak dulu telah tertanam watak ‘cinta damai’ di Pesantren, tapi pesantren belum mampu untuk menjadi agen perdamaian dan resolusi konflik secara damai.” Hal itulah yang melatarbelakangi terselenggaranya Training peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren ini.

Koordinator program Pesantren for Peace, Idris Hemay, menyebutkan bahwa peserta training ini melibatkan 30 santri dari 30 pesantren di sekitar Jakarta: Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Serang dengan komposisi 14 perempuan dan 16 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi. Selain itu, acara pembukaan training ini dihadiri oleh perwakilan dari Uni Eropa, Mariana Pinto.

Para Trainer yang menjadi fasilitator dalam training ini diantaranya Ustadz Miftah Farid (PP An-Nuqtah), Ustadz Muhammahd Arsan (PP Madinatunnajah), Ustadzah Nurul Khariroh (PP Nur Medina), Ustadz Afthon Lubbi Nuriz (PP Darunnajah), Ustadz Muhammad Mahsun (PP Nurul Huda), dan Ustadz Zulkarnaen (PP Nur Medina). Setelah mengikuti training, selanjutnya 30 santri tersebut akan mengikuti field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah.

Field Trip dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Ahmadiyah; dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. Setelah Field Trip, ke-30 santri ini akan melakukan penulisan hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.

 

Page 16 of 24