Lia Cgs

Friday, 03 July 2015 12:11

Kampanyekan Toleransi

 July 1, 2015 by Acdp Indonesia

Kompas, halaman 12

Pusat Kajian Agama dan Budaya (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, meluncurkan “Pesantren untuk Perdamaian (Pesantren for Peace/PFP)” bekerja sama dengan Yayasan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Jerman dan didukung Uni Eropa, di Jakarta, Selasa (30/6). Program yang dimulai pada Januari 2015 dan akan berakhir pada 2017 itu berusaha mendorong peran pesantren dalam mengkampanyekan toleransi ke seluruh dunia.

Program selama sekitar tiga tahun ini menyasar sejumlah pesantren di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Timur. PFP melibatkan 600 ulama dan 300 santri/santriwati yang kemudian menyebarkan program kepada para ulama dan santri lain.

PFP kini tengah menyiapkan situs untuk perdamaian dan resolusi konflik serta pelatihan dan studi lapangan bersama para santri. Ada juga pertukaran santri dan pembentukan jaringan untuk mempromosikan Islam rahmatan lil alamin (Islam yang membawa rahmat bagi alam semesta)

Direktur Pusat Kajian Agama dan Budaya (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Irfan Abubakar memaparkan, bibit kekerasan atas nama agama sudah ada sejak dua dekade terakhir. Muncul ekspresi Islam yang mendukung kekerasan hingga aksi terorisme. PFP menjadi kampanye toleransi kepada dunia. Pesantren itu mendidik orang menjadi saleh, toleran, dan pluralis.

Survei oleh tim peneliti UIN pada 2012 menunjukkan, 80 persen orientasi umat Islam cenderung moderat. Sebanyak 19 persen masyarakat Muslim bertendensi untuk menjadikan Islam sebagai landasan hidup, tetapi kurang dari 1 persen di antaranya yang melakukan aksi. Kondisi ini berbeda dengan di Timur Tengah.

 

sumber: www.acdp-indonesia.org

Wednesday, 01 July 2015 12:34

Peluncuran Program Pesantren for Peace

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung dengan dukungan dari Uni Eropa secara resmi meluncurkan Program “Pesantren for Peace (PfP)” di Hotel Ambhara, Selasa (30/6/2015). Program ini adalah upaya untuk turut mendorong dan mendukung peran pesantren dalam mempromosikan Hak Asasi Manusia (HAM) dan penyelesaian konflik secara damai.

Dalam sambutan pembukaan acara, rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada memberikan apresiasi tehadap kegiatan ini, ia bercerita bagaimana proses awal masuknya Islam ke Nusantara yang bermula dari pendidikan pesantren. “Sangat disayangkan, pesantren yang dulunya menjadi tonggak awal pendidikan Islam di Indonesia, kini dicurigai sebagai sarang teroris dan muara gerakan radikalisme” ujarnya. Ia berharap dengan program ini CSRC bisa menjadi fasilitator bagi para guru-guru di pesantren untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa pesantren di Indonesia, tidak seperti yang didefinisikan selama ini, pesantren di sini merupakan muara dari perdamaian, toleransi dan penghormatan HAM. Ia menambahkan “tidak fair apabila pesantren dianggap radikal, pesantren itu sangat toleran dan peduli dengan agama-agama lainnya”.

Hadir dalam acara tersebut direktur KAS untuk Indonesia dan Timor Leste Dr. Jan Woischnik. Ia memaparkan tentang KAS, dari sejarah berdirinya hingga hubungan bilateral dengan Negara-negara lainnya. Ia menyampaikan bahwa kerjasama dengan CSRC UIN Jakarta telah dimulai dari tahun 2002. Adapun kegiatannya berupa seminar, workshop, pelatihan, penelitian dan pembuatan buku. Dalam peluncuran program PfP ia berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan khususnya kepada Uni Eropa. Kehadirannya untuk meluncurkan program “Pesantren for Peace” ini cukup berat baginya, karena hari diselenggarakannya peluncuran program tersebut merupakan hari terakhirnya bertugas di Indonesia, dan akan memulai tugas barunya di Brazil.

Direktur CSRC, Irfan Abubakar memaparkan latar belakang hingga tujuan-tujuan dari program PfP ini. Ia menilai konflik dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok beragama sebenarnya punya latar belakang yang rumit. Tak semata agama, konflik dan kekerasan yang mereka timbulkan pun disebabkan unsur lainnya seperti politik dan budaya.

"Survei nasional mengatakan tendensi keislaman di Indonesia mengarah pada politik dan budaya. Di atas 80 persen menganut culture oriented," ujar Irfan.

Hal itu, menurut Irfan yang menyebabkan kondisi umat Islam di Indonesia berbeda dengan negara-negara di Timur Tengah. "Indonesia bisa berbeda dengan negara Timur Tengah yang mengalami sesuatu yang chaos karena demokrasinya mundur," katanya.

Maraknya stigma negatif di dalam masyarakat tentang pesantren menjadi salah satu alasan program ini diadakan, kita ingin mengatakan pesantren bukanlah sarang teroris, bukan sumber konflik komunal keagamaan, bukan muara dari gerakan radikalisme. Justru pesantrenlah sumber dari perdamaian, toleransi dan penghormatan kepada kaum minoritas.

Ia menambahkan, program ini melibatkan 600 Ustad/ustadzah dan 300 Santri pesantren di 5 Provinsi yaitu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sebagai sarana komunikasi kita meluncurkan website www.pesantrenforpeace.com, dan juga handbook produk yang lahir dari para ustad/ustadzah yang telah bekerja keras bersama kami.

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Kamaruddin Amin saat membacakan pidato Menteri Lukman Hakim Saifuddin mengatakan "Idealisme dan perdamaian memiliki makna yang strategis seiring dengan  dinamika politik islam yang memanas. Islam nusantara kembali meneguhkan cinta damai dan anti kekerasan. Dan yang terjadi di Timur Tengah tidak bisa mewakili Islam," kata Kamaruddin.

Program ini menjadi menarik karena menjadikan pesantren sebagai ikon perdamaian di tengah stigma buruk terhadap pesantren. Kamaruddin juga menyebutkan kalau Islam di nusantara lebih toleran, damai, inklusif, dan akomodatif.

Acara launching PfP dihadiri 145 peserta dari berbagai kalangan, kedutaan Jerman, Kemendagri, Kemenag, LSM-LSM, Media online dan cetak, peneliti, pengamat, dosen dan mahasiswa dari berbagai Organisasi.

 

Saturday, 02 May 2015 15:16

Workshop DKI Jakarta

Center For the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa mengadakan Workshop untuk ustadz dan ustadzah dari pesantren-pesantren di sekitar JABOTABEK mengenai Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren yang diselenggarakan di hotel Soll Marina Serpong selama tiga hari, 18-20 Mei 2015.

Monday, 11 May 2015 12:40

Peserta Workshop Surabaya

Daftar Nama Peserta

Workshop Pesantren For Peace

Di Hotel Novotel Surabaya

11-13 Mei 2015

 

    NO
Nama
Pesantren
 

    1
Mohammad Siddik
PP Darussalam Pamekasan

    2
Rosifi, S.Pd.I
PP An Nuqoyah

    3
Mohammad Sholeh
PP Al Hamidi

    4
Hamidi
PP Taswirul Afkar

    5
Ust. Khudori
PP Al Fithrah Banin

    6
Ust. Lutfi Amin
PP Madzahibul Arba'ah

    7
Ust. Abdul Hamid
PP Darul Barokah

    8
Ust. Misnawi
PP Miftahul Ulum

    9
ust. Fathul Haris
PP An Najiyah

    10
Ust. Mas Mundir
PP Khoirul Ridwan

    11
Ust. Sofwan
PP Roudotul Ulum

    12
Ust. Syahri
PP Nurul Huda

    13
Ust. Mukhlas Adi Putra
PP Uswatun Hasanah

    14
Ust. Juliadi
PP Darul Ulum

    15
Ust. Isma'il
PP Sunan Giri

    16
Ust. Fathullah
PP Manba'us Sholihin

    17
Ust. Saiful Anam
PP Bustanul Athfal

    18
Ust. Abdullah
PP Al Falah

    19
Ustdz. Hindun
PP Al Fithrah Banat

    20
Ustdz. Soimah
PP Al Hasyimi

    21
Ustdz. Hullah
PM Nahdotul Atfal

    22
Ustdz. Indah Fitriani
PP Fathul Bashor

    23
Ustdz. Fallahah
PP Darut Ta'lim

    24
Ustdz. Fatimatuz Zahroh
PP Darut Tauhid

    25
Ustdz. Ulis Sa'adah
PP Darul Rahman

    26
Ustdz. Lailatun Nadzifah
PP Ihyaul Ulum

    27
Ustdz. Musriyah
PP Al Bar

    28
Ustdz. Nur Rofiqoh
PP Raudotul Falihin

    29
Ustdz. Fatimatuz Zahroh
PP Roudlotus Sholihin

    30
Ustdz. Halimatus Sahro
PP Darus Salam

Friday, 22 May 2015 10:24

Peserta Workshop Semarang

Daftar Nama Peserta

Workshop Pesantren For Peace

Di Hotel Pandanaran Semarang

22-24 Mei 2015

 

    NO
Nama
Pesantren
 

    1
Naimatus Tsaniyah
PP Edi Mancoro

    2
Striana Farhana
PP Edi Mancoro

    3
Alfi
PP Edi Mancoro

    4
M Aris Rofiqi
PP An-Nuur

    5
Gunawan Aji Laksono
PPTI Al Falah

    6
Muhammad Nastain
PP Al Riyadloh

    7
Cholilullah
PPTI Al Asnawiyah

    8
Fahsin M Faal
PP Kyai Gading

    9
Wahyu Najib Fikri
PP Assalafiyah

    10
Imam Safrudi
PP Hidayatul Mubtadi'in

    11
M. Muhibburrohman
PP Agro Nur El Falah

    12
Taufiq Ashari
PP Edi Mancoro

    13
Mahbub
PP Nurul Asna

    14
Fakhrustiqlal
PP Al Ghufron

    15
M Sholeh Fahmi
PP Sabilul Huda

    16
Muhayat
PP Sabilul Huda

    17
M Ja'farin
PP Raudlatut Thalibin

    18
Mansur Hidayat
PP Pancasila

    19
Nashif Ubadah
PP Al Azhar

    20
Erham Masykuri
PP Al Azhar

    21
Sufyan Arif
PM Darul Amanah

    22
Zumrotul Choiriyyah
PP An Nur

    23
Minan Syarifudin
PP Al Hidayat

    24
Sunarnoto
PP Al Islah

    25
Aviv Irwansyah
PP Al Hasan

    26
Shobirin
PP Al Hasan

    27
Choirul Iman
PP Ash Shodiqiyah

    28
Fahmi Arif Dewo Putro
PP Ash Shodiqiyah

    29
Luthfi Ainun Nafiin
PP Roudlotul Furqon

    30
Abdullah Al Rosyid
PP Roudlotul Furqon

Center For the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa mengadakan Workshop untuk ustadz dan ustadzah dari pesantren-pesantren di sekitar JABOTABEK mengenai Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren yang diselenggarakan di hotel Soll Marina Serpong selama tiga hari, 18-20 Mei 2015.

Bertempat di hotel Novotel Yogyakarta, Program Pesantren For Peace (PFP) yang digagas oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan Uni Eropa mengadakan kegiatan Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren.

Sebanyak 30 Guru-guru muda Pesantren wilayah Jawa Barat mengikuti Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM, dan Perdamaian di Pesantren selama 3 hari, tanggal 18-20 Mei 2015 di Hotel Scarlet Dago, Bandung. Acara Ini diselenggarakan oleh CSRC bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa.

Page 19 of 23