Lia Cgs

Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren untuk wilayah Jawa Tengah diselenggarakan di Hotel Pandanaran Semarang selama tiga hari, 22-24 Mei 2015. Workshop yang merupakan salah satu program CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa ini diikuti oleh 30 guru pesantren dari daerah Jawa Tengah.

Wednesday, 20 November 2013 16:54

 Islam In the Public Sphere

Islam dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Peran Gerakan Sosial Baru dalam Islam

Oleh Irfan Abubakar

 

Pendahuluan

Keberhasilan Indonesia mengubah sistem politik dari otoritarianisme menuju demokrasi dan melewati era transisi demokrasi secara relatif damai telah membawa negara ini menjadi sebuah kekuatan baru demokrasi dunia yang diperhitungkan. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia dapat disebut contoh utama, kalau bukan satu-satunya, yang berhasil menjadikan Islam dan demokrasi sebagai dua sejoli yang tak terpisahkan satu-sama lain.

Tuesday, 22 April 2014 16:38

Pelatihan Agama dan HAM (Semarang)

Namun, masih saja sering terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama yang mengatasnamakan agama, seperti kasus penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeusik dan pengusiran kelompok Syiah di Sampang, Madura. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang HAM dan sempitnya pemahaman ajaran agama merupakan dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dan konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dua faktor tersebut ditemukan di kalangan aktivis muda Muslim.

Melihat hal itu, upaya-upaya untuk memperluas pemahaman tentang nilai-nilai HAM dan hubunganya dengan Islam di kalangan aktivis muda Muslim menjadi penting. Harapanya mereka kelak bisa menjadi aktivis yang mampu mempromosikan nilai-nilai HAM di masyarakat. Pelatihan adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk mengubah pemikiran mereka tentang HAM. Untuk menunjang program pelatihan tersebut agar lebih efektif diperlukan sebuah metode yang dapat memudahkan para peserta pelatihan untuk memahami konsep dan nilai-nilai HAM. Dalam rangka membangun kesadaran aktivis muda Muslim tentang pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) berkerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Jerman, mengadakan Program Pelatihan Agama dan HAM.

Program Pelatihan Agama dan HAM telah dilakukan sejak tahun 2009. Pada tahun 2014 tepatnya tanggal 25 – 27 Februari bertempat di Hotel Pandanaran Semarang, CSRC dan KAS kembali mengadakan program pelatihan yang sama. Pelatihan ini melibatkan para peserta dari kalangan guru-guru pesantren di Kota Semarang dan sekitarnya. Para narasumber dan traineryang mengisi acara ini merupakan aktivis CSRC yang sudah sering menyampaikan materi training ini. Mereka terdiri dari Irfan Abubakar, Chaider S. Bamualim, Muchtadirin dan Siti Khadijah. Masing-masing trainer membawakan beberapa topik pembahasan yang berbeda yang terkait masalah HAM, mulai dari pengertian HAM, prinsip-prinsip HAM, kesesuaian Islam dan HAM, Perempuan dan HAM, kemudian studi kasus pelanggaran HAM di lingkungan sekitar, hingga advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Dalam penyampaian materi, penggunaaan metode yang tepat sangat diperlukan untuk memudahkan peserta memahami materi. Seperti pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, pelatihan ini menggunakan metode partisipatoris dimana masing-masing peserta diharapkan dapat berperan aktif mendiskusikan topik pembahasan. Beberapa metode yang digunakan yaitu Brainstorming, Diskusi Kelompok, Games, dan Role Play. Pada metode Role Play, peserta memerankan beberapa peran seperti menjadi aktifis HAM, pelaku pelanggaran HAM, korban pelanggaran HAM, pejabat public, anggota DPRD, dan lainnya. Metode ini biasanya diaplikasikan pada topik advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Pada tataran prinsip Islam dan HAM memiliki kesesuaian. Misalnya, Islam dan HAM mendukung kebebasan beragama. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk agama Islam. Ini disebutkan dalam Q.S. 18: 29, Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman maka ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir”. Selain itu, Islam dan HAM juga melindungi dan menghormati harkat dan martabat manusia, dan melarang diskriminasi manusia berdasarkan ras, agama, maupun jenis kelamin.

Pelatihan Agama dan HAM sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pemikiran aktivis muda Muslim tentang nilai-nilai HAM, dan menjadikan mereka sebagai agen promosi HAM di daerahnya masing-masing. Pelatihan ini juga perlu dikembangkan dan diadakan kembali di berbagai kota di Indonesia, karena secara tidak langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Sumber: csrc.or.id

Monday, 09 June 2014 16:33

Writerpreneurship Gelombang 5

Writerpreneurship Gelombang ke-5

Dunia penulisan mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan peradaban. Menulis menjadi media untuk menyampaikan sebuah gagasan. Tidak hanya itu, dewasa ini menulis telah menjadi kegiatan yang menghasilkan keuntungan materi. Menulis bahkan telah masuk dalam kegiatan industri komersil yang sedang berkembang pesat, termasuk di Indonesia. Namun, dibalik berkembangnya industri penerbitan, Indonesia masih memiliki jumlah terbitan buku yang rendah. Jumlah buku yang terbit di Indonesia hanya sekitar 2500 judul setiap tahun, ini lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai sekitar 44.000 judul setiap tahun, Amerika Serikat 100.000 judul dan Inggris 61.000 judul pertahun.

Rendahnya terbitan buku di Indonesia menjadikan kebutuhan terhadap tulisan dari seorang penulis baru maupun yang berpengalaman semakin meningkat. Hal ini memunculkan peluang bagi penulis untuk menjadikan tulisan-tulisannya sebuah karya yang dapat menghasilkan keuntungan materi. Dalam dunia akademik, menulis juga menjadi hal penting. Para akademisi seperti mahasiswa, guru dan dosen diwajibkan menulis sebuah karya tulis, namun banyak dari karya tulis mereka tidak dapat dipublikasikan oleh penerbit. Minimnya kemampuan menulis dan pengetahuan tentang dunia penerbitan diperkirakan menjadi penyebab tulisan mereka tidak layak masuk ke penerbit.

Sebagai upaya melahirkan para penulis-penulis baru yang berkualitas dan membantu para penulis meningkatkan kemampuannya dalam menulis, CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) mengadakan WriterPreneurship pelatihan menulis kreatif dan karya ilmiah populer.

Pelatihan ini menjadi kegiatan rutin yang diadakan CSRC. Sejak gelombang pertama dilaksanakan pada tahun 2013, pelatihan ini terus berjalan hingga sekarang telah mencapai gelombang ke-lima yang diadakan bulan Maret sampai April 2014 setiap hari kamis. Pelatihan ini diadakan dalam 4 pertemuan yang melibatkan 20 peserta dan 3 narasumber. Dua narasumber yang merupakan Aktivis CSRC yaitu Irfan Abubakar dan Ahmad Gaus AF, dan satu narasumber lain yaitu  Ilham Khoiri yang merupakan Wartawan Kompas.

Dalam pelatihan WriterPreneurship digunakan metode partisipatoris. Dengan metode ini peserta dapat berperan aktif dalam pelatihan. Ahmad Gaus AF dalam bukunya WriterPreneurship lebih spesifik lagi menyebutkan penggunaan metode “Write Now!” untuk pelatihan menulis. Menurutnya, metode pelatihan ini disusun untuk membantu calon-calon penulis menemukan cara yang efektif dalam membangun kepercayaan diri menjadi penulis. Metode ini dibuat berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar hambatan yang dialami calon penulis adalah masalah mental. Banyak calon penulis mengatakan kepadanya bahwa mereka telah merencanakan menulis sebuah buku sejak beberapa tahun lalu, tapi tak kunjung dilakukan karena tidak yakin bahwa mereka mampu.

Pemateri pelatihan memberikan beberapa materi penulisan yang berbeda dalam tiap pertemuanya. Keterampilan dasar menulis, penulisan kreatif, penulisan jurnalistik dan penulisan karya ilmiah popular. Selain materi itu di akhir pertemuan peserta diberikan kesempatan konsultasi dan tiap peserta mendapatkan buku WriterPreneurship yang ditulis oleh Ahmad Gaus AF. Sebagian peserta merasa puas dengan pelatihan ini. Menurut Rahmadita Aryani salah seorang peserta “Pelatihan ini memberikan cukup banyak materi bagaimana untuk membuat dan menyusun sebuah tulisan. Perlu diadakan sesi pelatihan lanjutan agar materinya berkelanjutan.”

Dalam pelaksanaan pelatihan ini, pelaksana mengalami beberapa kendala. “Tidak hadirnya sebagian peserta menjadi kendala dalam pelatihan ini, tiap pertemuan hanya sekitar 75% peserta yang hadir” ujar Tutur Ahsanil M sebagai panitia penyelenggara.

Dengan Pelatihan WriterPreneurship ini, diharapkan dapat melahirkan penulis-penulis baru yang berkualitas dan mampu menjadikan tulisan-tulisanya sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat. Dengan hal ini Indonesia diharapkan dapat menyaingi Negara-negara maju dalam hal penerbitan buku dan juga akan menambah minat masyarakat untuk menulis dan membaca.

 

Sumber: csrc.or.id

Beberapa tahun terakhir Ambon sekilas terlihat damai dan rukun, namun potensi konflik ternyata masih ada. Kerusuhan Ambon 11 September 2011 dan pawai obor Pattimura yang berakhir bentrok pada 15 Mei 2012 adalah bukti bahwa kepercayaan antar kelompok belum tumbuh sempurna di kalangan masyarakat. Meskipun telah ada Perjanjian Malino II pada 13 Februari 2002, namun trauma dan rasa saling tidak percaya akibat konflik 1999-2001 masih meninggalkan sisa.

Penguatan identitas etnis dan keagamaan sangat tampak selama konflik Ambon. Penggunaan rumah ibadah sebagai tempat berlindung menjadi salah satu buktinya.  Kelompok Muslim menggunakan Masjid Al-Fatah sebagai basis Muslim dan sebaliknya kelompok Kristen menggunakan Gereja Maranatha sebagai basis Kristen. Selain itu, isu etnis sebagai pemicu ketidak seimbangan ekonomi juga menyeruak muncul sebagai penyebab konflik, sehingga pasca konflik penguatan identitas kesukuan juga turut menguat. Sampai kini penguatan identitas etnis dan agama masih terus berlangsung. Buktinya, segregasi tempat tinggal dan beberapa ruang publik pasca konflik terjadi, walaupun sebagian ruang publik, seperti pasar dan sekolah, sudah mulai mencair.

Damai bukanlah tiadanya konflik, tetapi damai sesungguhnya adalah damai yang dinamis, partisipatif, dan berjangka panjang. Mengutip Albert Einstein, damai mensyaratkan keadilan, penegakan hukum dan ketertiban. Pembangunan perdamaian hendaknya diarahkan pada transformasi relasi sosial yang konstruktif yang membuka tidak hanya komunikasi tetapi juga kerja sama sehingga akan terwujud kohesi sosial.

Masyarakat Ambon saat ini belum mencapai level integrasi sosial yang kuat. Integrasi sosial mengharuskan tidak adanya kekerasan komunal, adanya organisasi dan asosiasi lintas kelompok, dan adanya kemauan masyarakat menjadikan dialog sebagai jalan keluar. Menurut Varshney, kota yang damai mensyaratkan adanya keterlibatan semua warga dalam kegiatan kewargaan (civic engagement). Civic engagement dalam rangka mencapai integrasi sosial memerlukan media berkumpul seperti organisasi, asosiasi, kelompok kewargaan, maupun organiasasi seni, olahraga, dan hobi, yang keanggotaannya lintas iman. Selain itu, tinggi rendahnya integrasi sosial dapat pula dilihat dari seberapa besar kesadaran warga untuk menggunakan dialog dan mengklarifikasi jika muncul potensi konflik.

Salah satu pendekatan bina damai yang penting adalah pendidikan, yaitu melalui pendidikan berperspektif perdamaian. Pendekatan menjadi penting karena ia dapat membentuk kesadaran generasi muda dalam membangun kepercayaan, mengurangi rasa saling curiga, membuka ruang publik agar terbangun komunikasi dan kerjasama intensif antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnis. Nilai-nilai tersebut apabila berhasil disemai dapat diharapkan menjadi platform bersama untuk mengurangi kekerasan antar kelompok dan membangun perdamaian di Ambon dalam jangka panjang.

Sebagai bentuk respon kepedulian terhadap proses pembangunan perdamaian yang terjadi di Ambon, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan The Asia Foundation telah melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian. Intervensi program ini merupakan hasil dari proses Needs Assessment “Program Bina Damai di Ambon” yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Intervensi program menggunakan bentuk workshop yang diselenggarakan sebanyak empat kali. Model workshop diharapkan dapat membangun kesepahaman tentang visi, misi, serta pengelolaan pendidikan berperspektif perdamaian. Untuk  mencapai hasil yang maksimal, workshop dilakukan dengan metode yang partisipatif dan berorientasi bottom up sehingga hasilnya akan akan lebih mengakar dan dipahami dengan lebih baik.

Workshop diselenggarakan selama empat kali tahapan, yaitu Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon, Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah, Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon, dan Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon.

Dua workshop pertama telah terselenggara pada 16–20 Juni 2014 di Ambon yang diikuti oleh 40 orang guru. Workshop tersebut menghasilkan format pendidikan yang paling mungkin bisa terlaksana adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian ke dalam materi dan proses pembelajaran sekaligus disempurnakan dengan pembudayaan sekolah (school culture). Oleh karena itu pendidikan perdamaian sendiri bukanlah pelajaran khusus, namun merupakan materi yang diintegrasikan dengan mata pelajaran yang ada. Para pengampu pendidikan perdamaian harus kreatif menginisiasi pola pendidikan ini seperti dalam kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan kegiatan kreatif lainnya yang mendorong peran aktif siswa.

Workshop tahap ketiga diselenggarakan pada 19–21 Agustus 2014 di Swiss-Belhotel Ambon dan melibatkan 40 guru yang berasal dari Ambon dan sekitarnya. Workshop ini lebih menitik beratkan praktik pembelajaran pendidikan perdamaian dengan mengajak para guru untuk langsung mempraktikkannya dalam bentuk micro-teaching. Workshop terdiri dari dua kategori sesi, yaitu sesi seminar dan sesi diskusi kelompok. Pada sesi seminar melibatkan dua narasumber yang kompeten, yaitu Yudhi Munadi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyampaikan materi “Strategi Pembelajaran Berbantuan Media” dan Pdt. Jacky Manuputty yang berfokus pada materi “Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian”. Pdt. Jacky Manuputty mengajak para peserta untuk memahami bagaimana menciptakan dan menguasai teknik komunikasi yang efektif dalam pembelajaran khususnya nilai-nilai perdamaian, sementara Yudhi Munadi membawa para peserta agar mampu memanfaatkan media untuk pembelajaran nilai-nilai perdamaian. Sebagai apresiasi kepada peserta, Yudhi Munadi memberikan buku karyanya sendiri yang berjudul “Media Pembelajaran” kepada 5 peserta teraktif di masing-masing kelompok.

Workhsop keempat diselenggarakan pada 22-23 Agustus 2014 di Swiss-Belhotel Ambon, berfokus pada advokasi pendidikan perdamaian dengan tujuan untuk menemukan kesepahaman dalam mengimplementasikan pendidikan perdamaian di sekolah serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk implementasi pendidikan perdamaian di sekolah. Hasilnya, para peserta yang terdiri dari 20 orang yang merupakan tokoh masyarakat, agamawan, kementerian agama provinsi Maluku, kepala sekolah, yayasan pendidikan, guru, LSM, dan media, sepakat untuk memahami arti penting pendidikan perdamaian di Ambon (atau dalam skala lebih luas lagi Maluku). Maka mereka bersemangat untuk membentuk “Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku” yang secara bersama-sama dideklarasikan di Ambon pada 21 Agustus 2014. Aliansi ini berada di bawah koordinasi Abidin Wakano dengan 3 ketua, yaitu Theo Latumahina, Embong Salampessy, dan Heny L. Likliwatil.

Ke depan, aliansi ini akan terus mengadakan konsolidasi khususnya dengan para stakeholders demi terlaksananya konsep pendidikan perdamaian yang integratif ini. Dalam jangka pendek mereka berkomitmen untuk memperkenalkan konsep ini sekaligus mensosialisasikan aliansi yang telah terbentuk kepada masyarakat luas. Harapannya, ke depan pemerintah dan DPRD dapat mengeluarkan peraturan daerah yang dapat menjadi payung bagi terimplementasinya pendidikan perdamaian.

 

Sumber: csrc.or.id

Friday, 20 February 2015 16:02

Pelatihan Writerpreneurship Gelombang 6

"Imam al-Ghazali"

Menulis memang menjadi salah satu alternatif untuk menuangkan pikiran dan perasaan. Dengan menulis seseorang bisa menuangkan gagasan-gagasan hebatnya, dengan menulis seseorang bisa mencurahkan isi hatinya, dikala senang, bahagia ataupun gundah gulana. Dikala tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan curahan isi hati kita maka menulis menjadi salah satu alternatif untuknya, kertas akan dengan senantiasa memberikan lembaran-lembarannya untuk dihiasi curahan hati, perasan dan pikiran kita dengan media pena.

semua orang mampu bercerita namun tidak semua orang mampu menuliskan cerita-ceritanya. Masalah utamanya adalah selalu mengulur-ngulur waktu dan tidak pernah memulai. Lalu dengan lihainya bersembunyi dibalik alasan tidak ada waktu. Padahal semua orang mempunyai waktu yang sama 24 jam, mereka para penulis hebat juga sama mempunyai waktu 24 jam sehari semalam. Calon-calon penulis berguguran di tengah jalan bukan karena mereka tidak mampu menulis tapi karena selalu bermain petak umpet dengan waktu: nanti, besok, lusa, minggu depan dan seterusnya.

Berangkat dari permasalahan-permasalahan di atas dan upaya untuk mencetak penulis-penulis handal dan berkualitas maka CSRC (Center For The Study of Religion and Culture) UIN Jakarta mengadakan Writerpreneurship pelatihan menulis kreatif dan karya ilmiah populer gelombang ke-6. Pelatihan ini menjadi kegiatan rutin yang diadakan CSRC. Sejak gelombang pertama dilaksanakan pada tahun 2013, pelatihan ini terus berjalan hingga sekarang telah mencapai gelombang ke-enam yang diadakan bulan November hingga Desember 2014 setiap hari kamis dimulai pukul 14.00-16.00. Pelatihan ini diadakan dalam 4 pertemuan yang 4 narasumber yang semuanya merupakan praktisi di dunia penulisan dan penerbitan.

Salah seorang Trainer dalam pelatihan ini Ahmad Gaus AF, dalam bukunya WriterPreneurship lebih spesifik menyebutkan penggunaan metode "WriteNow!" atau Lakukan sekarang! Menulis dimulai dari sekarang juga. Tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk memulai sesuatu selain sekarang. Kalau sudah dimulai dengan kalimat pertama, maka di depan akan terbentang beratus-ratus, bahkan beribu-ribu kalimat. Menurutnya, metode pelatihan ini disusun untuk membantu calon-calon penulis menemukan cara yang efektif dalam membangun kepercayaan diri menjadi penulis. Metode ini dibuat berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar hambatan yang dialami calon penulis adalah masalah mental block (hambatan psikologi). Trainer lainnya Irfan Abu Bakar dalam memberikan materinya selalu dibarengi dengan praktek-praktek, setelah ada hasilnya lalu dibahas dan dikoreksi secara bersama-sama, metode seperti ini juga membantu penulis pemula membuang rasa takut akan kesalahan dalam menulis. Di dalam materi juga terlihat kesungguhan dari peserta dikarenakan niat dari mereka yang kuat untuk benar-benar menjadi seorang penulis yang hebat, meskipun tidak sedikit yang mengikuti kegiatan ini lebih karena tuntutan akademis guna menyusun skripsi, tesis atau disertasi.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bermunculan penulis-penulis handal yang mampu membuat karya untuk dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga meningkatkan kualitas penerbitan di Indonesia dan menularkan bakat menulisnya kepada orang lain.

 

Sumber: csrc.or.id

Page 20 of 23