Lia Cgs

Center For the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa mengadakan Workshop untuk ustadz dan ustadzah dari pesantren-pesantren di sekitar JABOTABEK mengenai Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren yang diselenggarakan di hotel Soll Marina Serpong selama tiga hari, 18-20 Mei 2015.

Bertempat di hotel Novotel Yogyakarta, Program Pesantren For Peace (PFP) yang digagas oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan Uni Eropa mengadakan kegiatan Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren.

Sebanyak 30 Guru-guru muda Pesantren wilayah Jawa Barat mengikuti Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM, dan Perdamaian di Pesantren selama 3 hari, tanggal 18-20 Mei 2015 di Hotel Scarlet Dago, Bandung. Acara Ini diselenggarakan oleh CSRC bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa.

Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren untuk wilayah Jawa Tengah diselenggarakan di Hotel Pandanaran Semarang selama tiga hari, 22-24 Mei 2015. Workshop yang merupakan salah satu program CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa ini diikuti oleh 30 guru pesantren dari daerah Jawa Tengah.

Wednesday, 20 November 2013 16:54

 Islam In the Public Sphere

Islam dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Peran Gerakan Sosial Baru dalam Islam

Oleh Irfan Abubakar

 

Pendahuluan

Keberhasilan Indonesia mengubah sistem politik dari otoritarianisme menuju demokrasi dan melewati era transisi demokrasi secara relatif damai telah membawa negara ini menjadi sebuah kekuatan baru demokrasi dunia yang diperhitungkan. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia dapat disebut contoh utama, kalau bukan satu-satunya, yang berhasil menjadikan Islam dan demokrasi sebagai dua sejoli yang tak terpisahkan satu-sama lain.

Tuesday, 22 April 2014 16:38

Pelatihan Agama dan HAM (Semarang)

Namun, masih saja sering terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama yang mengatasnamakan agama, seperti kasus penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeusik dan pengusiran kelompok Syiah di Sampang, Madura. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang HAM dan sempitnya pemahaman ajaran agama merupakan dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dan konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dua faktor tersebut ditemukan di kalangan aktivis muda Muslim.

Melihat hal itu, upaya-upaya untuk memperluas pemahaman tentang nilai-nilai HAM dan hubunganya dengan Islam di kalangan aktivis muda Muslim menjadi penting. Harapanya mereka kelak bisa menjadi aktivis yang mampu mempromosikan nilai-nilai HAM di masyarakat. Pelatihan adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk mengubah pemikiran mereka tentang HAM. Untuk menunjang program pelatihan tersebut agar lebih efektif diperlukan sebuah metode yang dapat memudahkan para peserta pelatihan untuk memahami konsep dan nilai-nilai HAM. Dalam rangka membangun kesadaran aktivis muda Muslim tentang pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) berkerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Jerman, mengadakan Program Pelatihan Agama dan HAM.

Program Pelatihan Agama dan HAM telah dilakukan sejak tahun 2009. Pada tahun 2014 tepatnya tanggal 25 – 27 Februari bertempat di Hotel Pandanaran Semarang, CSRC dan KAS kembali mengadakan program pelatihan yang sama. Pelatihan ini melibatkan para peserta dari kalangan guru-guru pesantren di Kota Semarang dan sekitarnya. Para narasumber dan traineryang mengisi acara ini merupakan aktivis CSRC yang sudah sering menyampaikan materi training ini. Mereka terdiri dari Irfan Abubakar, Chaider S. Bamualim, Muchtadirin dan Siti Khadijah. Masing-masing trainer membawakan beberapa topik pembahasan yang berbeda yang terkait masalah HAM, mulai dari pengertian HAM, prinsip-prinsip HAM, kesesuaian Islam dan HAM, Perempuan dan HAM, kemudian studi kasus pelanggaran HAM di lingkungan sekitar, hingga advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Dalam penyampaian materi, penggunaaan metode yang tepat sangat diperlukan untuk memudahkan peserta memahami materi. Seperti pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, pelatihan ini menggunakan metode partisipatoris dimana masing-masing peserta diharapkan dapat berperan aktif mendiskusikan topik pembahasan. Beberapa metode yang digunakan yaitu Brainstorming, Diskusi Kelompok, Games, dan Role Play. Pada metode Role Play, peserta memerankan beberapa peran seperti menjadi aktifis HAM, pelaku pelanggaran HAM, korban pelanggaran HAM, pejabat public, anggota DPRD, dan lainnya. Metode ini biasanya diaplikasikan pada topik advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Pada tataran prinsip Islam dan HAM memiliki kesesuaian. Misalnya, Islam dan HAM mendukung kebebasan beragama. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk agama Islam. Ini disebutkan dalam Q.S. 18: 29, Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman maka ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir”. Selain itu, Islam dan HAM juga melindungi dan menghormati harkat dan martabat manusia, dan melarang diskriminasi manusia berdasarkan ras, agama, maupun jenis kelamin.

Pelatihan Agama dan HAM sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pemikiran aktivis muda Muslim tentang nilai-nilai HAM, dan menjadikan mereka sebagai agen promosi HAM di daerahnya masing-masing. Pelatihan ini juga perlu dikembangkan dan diadakan kembali di berbagai kota di Indonesia, karena secara tidak langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Sumber: csrc.or.id

Monday, 09 June 2014 16:33

Writerpreneurship Gelombang 5

Writerpreneurship Gelombang ke-5

Dunia penulisan mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan peradaban. Menulis menjadi media untuk menyampaikan sebuah gagasan. Tidak hanya itu, dewasa ini menulis telah menjadi kegiatan yang menghasilkan keuntungan materi. Menulis bahkan telah masuk dalam kegiatan industri komersil yang sedang berkembang pesat, termasuk di Indonesia. Namun, dibalik berkembangnya industri penerbitan, Indonesia masih memiliki jumlah terbitan buku yang rendah. Jumlah buku yang terbit di Indonesia hanya sekitar 2500 judul setiap tahun, ini lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai sekitar 44.000 judul setiap tahun, Amerika Serikat 100.000 judul dan Inggris 61.000 judul pertahun.

Rendahnya terbitan buku di Indonesia menjadikan kebutuhan terhadap tulisan dari seorang penulis baru maupun yang berpengalaman semakin meningkat. Hal ini memunculkan peluang bagi penulis untuk menjadikan tulisan-tulisannya sebuah karya yang dapat menghasilkan keuntungan materi. Dalam dunia akademik, menulis juga menjadi hal penting. Para akademisi seperti mahasiswa, guru dan dosen diwajibkan menulis sebuah karya tulis, namun banyak dari karya tulis mereka tidak dapat dipublikasikan oleh penerbit. Minimnya kemampuan menulis dan pengetahuan tentang dunia penerbitan diperkirakan menjadi penyebab tulisan mereka tidak layak masuk ke penerbit.

Sebagai upaya melahirkan para penulis-penulis baru yang berkualitas dan membantu para penulis meningkatkan kemampuannya dalam menulis, CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) mengadakan WriterPreneurship pelatihan menulis kreatif dan karya ilmiah populer.

Pelatihan ini menjadi kegiatan rutin yang diadakan CSRC. Sejak gelombang pertama dilaksanakan pada tahun 2013, pelatihan ini terus berjalan hingga sekarang telah mencapai gelombang ke-lima yang diadakan bulan Maret sampai April 2014 setiap hari kamis. Pelatihan ini diadakan dalam 4 pertemuan yang melibatkan 20 peserta dan 3 narasumber. Dua narasumber yang merupakan Aktivis CSRC yaitu Irfan Abubakar dan Ahmad Gaus AF, dan satu narasumber lain yaitu  Ilham Khoiri yang merupakan Wartawan Kompas.

Dalam pelatihan WriterPreneurship digunakan metode partisipatoris. Dengan metode ini peserta dapat berperan aktif dalam pelatihan. Ahmad Gaus AF dalam bukunya WriterPreneurship lebih spesifik lagi menyebutkan penggunaan metode “Write Now!” untuk pelatihan menulis. Menurutnya, metode pelatihan ini disusun untuk membantu calon-calon penulis menemukan cara yang efektif dalam membangun kepercayaan diri menjadi penulis. Metode ini dibuat berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar hambatan yang dialami calon penulis adalah masalah mental. Banyak calon penulis mengatakan kepadanya bahwa mereka telah merencanakan menulis sebuah buku sejak beberapa tahun lalu, tapi tak kunjung dilakukan karena tidak yakin bahwa mereka mampu.

Pemateri pelatihan memberikan beberapa materi penulisan yang berbeda dalam tiap pertemuanya. Keterampilan dasar menulis, penulisan kreatif, penulisan jurnalistik dan penulisan karya ilmiah popular. Selain materi itu di akhir pertemuan peserta diberikan kesempatan konsultasi dan tiap peserta mendapatkan buku WriterPreneurship yang ditulis oleh Ahmad Gaus AF. Sebagian peserta merasa puas dengan pelatihan ini. Menurut Rahmadita Aryani salah seorang peserta “Pelatihan ini memberikan cukup banyak materi bagaimana untuk membuat dan menyusun sebuah tulisan. Perlu diadakan sesi pelatihan lanjutan agar materinya berkelanjutan.”

Dalam pelaksanaan pelatihan ini, pelaksana mengalami beberapa kendala. “Tidak hadirnya sebagian peserta menjadi kendala dalam pelatihan ini, tiap pertemuan hanya sekitar 75% peserta yang hadir” ujar Tutur Ahsanil M sebagai panitia penyelenggara.

Dengan Pelatihan WriterPreneurship ini, diharapkan dapat melahirkan penulis-penulis baru yang berkualitas dan mampu menjadikan tulisan-tulisanya sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat. Dengan hal ini Indonesia diharapkan dapat menyaingi Negara-negara maju dalam hal penerbitan buku dan juga akan menambah minat masyarakat untuk menulis dan membaca.

 

Sumber: csrc.or.id

Page 20 of 24