Lia Cgs

Jakarta, Parlemen Rakyat

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan aliansi Pesantren for Peace (PFP), sebuah jaringan pesantren Se-Pulau Jawa, menyelenggarakanSeminar "Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstremisme atau Terorisme". Seminar ini bertujuan untuk mendiskusikan dan mengurai problem serta berupaya mencarikan solusi terhadap maraknya aksi terorisme akhir akhir ini.

Seminar ini juga sekaligus membahas upaya upaya penguatan kapasitas Pesantren dalam turut berperan menyebarkan perdamaian melalui pencegahan terhadap wacana wacana kekerasan ekstremisme. Seminar berlangsung Hari ini Jumat, 25 Mei 2018, di Hotel Cemara Jalan KH. Wahid Hasyim No.69, Gondangdia, Menteng, Kota Jakarta Pusat

Hadir sebagai Pembicara: Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE (Guru Besar UIN Jakarta), Brigjen Pol. Ir. Hamil, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI), KH. Jazilu Sakhok, Ph.D (Koordinator Alisansi PFP atau PP.Sunan Pandanaran), dan Irfan Abubakar, MA (Direktur CSRC UIN Jakarta). Dan akan dihadiri 78 orang peserta dari Aliansi Pesantren for Peace (PFP), Pesantren pesantren di Jabodetabek, Lembaga lembaga pendidikan Islam, Lembag pemerintah, Aktivis Perdamaian dan media.

Indonesia tahun ini kembali dirundung duka yang ditandai dengan pemboman aksi terorisme yang terjadi di beberapa tempat di tanah air. Diawali peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua, bom bunuh diri di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur serta, aksi penyerangan di Mapolda Riau. Rangkaian aksi terorisme di atas telah menelan puluhan korban jiwa dan luka luka dari aparat polisi dan warga sipil. 

Hasil penelitian CSRC dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai di sebagian anak anak muda milenial, tidak terkecuali kalangan terpelajar dan mahasiswa. Penyebaran deologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos betapapun kebijakan pemerintah untuk menahan lajunya. Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ldeologi ekstremisme adalah tugas yang berat.

"Terorisme tidak hanya mengancam keamanan karena menyebarluaskan rasa takut, tapi juga dapat mengancam keutuhan bangsa dan harmoni dalam kehidupan sosial," ujar Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, MA.

Dia tambahkan, Narasi penyangkalan terorisme dari sebagain masyarakat yang berkembang di medsos hanya akan menciptakan keraguan sebagian masyarakat akan bahaya terorisme itu sendiri. Selain itu narasi yang sama akan menghambat upaya pemerintah dan masyarakat sipil untuk mencegah dan menangkal ideologi ekstremis yang menjadi daya dorong yang tak henti dari aksi aksi teror selama ini. 

Pemerintah, masyarakat dan media justru semakin diperlukan sinergi dan kekompakan untuk melancarkan kontra narasi terhadap narasi ekstremis dan memberikan narasi alternatif kepada masyarakat yang terpapar. Termasuk dalam hal ini pesantren sebagai benteng pertahanan Islam dari ideologi ekstremis semakin diharapkan perannya dalam mengembangkan strategi kontra narasi dan narasi alternatif yang mempromosikan persatuan, perdamaian, toleransi dan kesalehan yang sesungguhnya.

Target capaian seminar ini paling tidak: pertama, meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan pesantren untuk melakukan pencegahan terorisme melalui kontra narasi esktremis dan narasi alternatif. Kedua, memperkuat jaringan pesantren dan civil society melalui “Aliansi Pesantren for Peace” untuk menyebarluaskan ajara Islam yang pro perdamaian, toleran, terbuka dan mengedepankan maslahat umum, "Pungkas" Irfan Abubakar, MA. (Ahr)

 
 
Presiden The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) Azyumardi Azra saat ditemui di sela-sela acara The 6th Action Asia Peacebuilders Forum, di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (16/10/2017).
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra menyebutkan perlunya kurikulum kebangsaan dalam pendidikan di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan untuk menangkal radikalisme.
“Harus ada diklat pendidikan dan pelatihan yang pokoknya tentang ke-Indonesia-an jadi khususnya antara agama keislaman dan keindonesian,” ucap Azyumardi di acara seminar di Hotel Cemara, Jakarta, Jumat (25/5/2018).
 
Materi tentang kebangsaan, lanjut dia, diperlukan lantaran kini mulai banyak beberapa pihak yang mempertentangkan antara keimanan, keagamaan, dan keindonesiaan.
Wawasan kebangsaan ini tak hanya dibutuhkan oleh para pelajar. Di sisi lain, Azyumardi melihat uru-guru di bidang mata pelajaran ilmu alam dan dosen di perguruan tinggi rentan terpapar paham radikalisme.
 
“Yang enggak pernah menghadapi pendidikan masalah kebangsaan kaitannya keagamaan itu para dosen dan guru,” ucap Azyumardi.
Bahkan, Azyumardi mengatakan, perlu mengintensifkan pendidikan kewarganegaraan di tingkat mahasiswa.
“Di tingkat mahasiswa kan ada pendidikan kewarganegaraan, civil education lebih diintensifkan lebih dikontekstualisasikan isu isu yang kita hadapi,” ucap dia.
 
Pada kesempatan tersebut, Azyumardi menuturkan kewajiban kementerian terkait untuk mencegah terorisme.
“Untuk dosen dua kementerian yakni kementerian riset pendidikan tinggi dan kementerian agama, untuk guru-guru adalah kementerian pendidikan dan budaya dan Kementerian Agama,” tutur dia.
 
Ia mengaku telah memberikan rekomendasi kepada kementerian terkait akan inisiasi mengenai pendidikan kebangsaan.
“Saya sudah usul kan berkali kali lama sekali belum pernah direalisasikan,” ucap dia.
 
 
 
 
 
 
Guru besar UIN Jakarta, Prof Azyumardi Azra, menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Afghanistan. Azyumardi mengungkapkan, kondisi Afghanistan berbeda jauh dengan Indonesia yang begitu subur.
 
"Saya beberapa kali ke Afghanistan. Saya lihat negerinya kering, tandus. Enggak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia," kata Azyumardi dalam diskusi bertajuk "Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstrimisme/Terorisme" di Hotel Cemara, Jakarta Pusat, Jumat (25/5).
 
Azyumardi pun mengkritik pandangan kelompok radikal yang kerap melakukan aksi teror dengan alasan ingin mendapatkan surga. Menurutnya, justru surga itu ada di Indonesia.
"Jadi kalau ada gambaran surga di Al-Quran, banyak air mengalir, gemercik, hijau, banyak buah yang tumbuh, itu Indonesia," ungkapnya.
 
Azyumardi juga menyebut, ideologi teroris yang ingin mengimpor konflik di Timur Tengah ke Indonesia sama saja dengan tidak mensyukuri nikmat yang ada. Ia pun mengimbau kelompok radikal untuk berpikir ulang.
"Kalau anda mau mengimpor Talibanism, ISIS, Al-Qaidah ke Indonesia bukan hanya kebliger. Anda kufur nikmat, anda menghancurkan citra surga yang ada di Al-Quran yang ada di Indonesia. Berpikir ulanglah," tegasnya.
 
"Jagalah Indonesia ini. Indonesia ini surga. Maka kita jangan ikut-ikutan menghancurkan diri dengan paham-paham tersebut. Pikiran-pikiran seperti itu harus dihilangkan," pungkasnya.

Jakarta detikNews - Seminar bertema 'Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstrimisme/Terorisme' digelar di Jakarta, Jumat (25/5/2018).

Hadir dalam seminar tersebut (kiri-kanan) Direktur CSRC UIN Jakarta, Irfan Abubakar, Direktur Pencegahan Terorisme BNPT Brigjen Pol Hamli, Wakil Ketua Komnas Perlindungan Anak Rita Pranawati, Guru Besar UN Jakarta Azyumardi Azra dan Koordinator Aliansi Pesantren for Peace, KH Jazilus Sakhok.

Para pembicara memaparkan pandanganya terkait fenomena terorisme dalam seminar 'Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstrimisme/Terorisme' di Jakarta, Jumat (25/5/2018).

 

Azyumardi Azra menyampaikan pendangannya.

 

Sumber: https://news.detik.com/foto-news/d-4038674/menyoal-peran-pesantren-dalam-mengerem-terorisme/

Pesantrenforpeace.com - [22/03/2018] Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kedua kalinya mengadakan kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) masih dengan tema yang sama, yaitu "Readers Response: Narasi keagamaan dalam pandangan generasi muda muslim". FGD kedua ini juga melibatkan 15 peserta dari berbagai organisasi islam dan kepemudaan, seperti halnya FGD pertama, FGD kedua ini dilaksanakan di Meeting Room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa Lt.2

 



Diskusi ini membahas tentang respon pembaca terhadap narasi-narasi keagamaan yang tengah marak tersebar luas di berbagai media baik buku, media online dan media cetak.
Para peserta diminta menanggapi bahan bacaan narasi keagamaan yg disediakan panitia untuk kemudian didiskusikan bersama

Hadir dalam acara ini Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar dan para fasilitator diskusi: Idris Hemay, Afthon Lubbi Nuriz, dan Junaidi Simun.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com - [21/03/2018] Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) dengan tema "Readers Response: Narasi keagamaan dalam pandangan generasi muda muslim". Acara yang melibatkan 15 peserta dari berbagai organisasi islam dan kepemudaan ini dilaksanakan di Meeting Room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa Lt.2

Meskipun tindakan terorisme telah diminimalisir dengan adanya Densus 88, banyak pengamat dan pejabat pemerintah yang masih percaya bahwa penyebaran ideologi ekstemisme dan kekerasan masih begitu kuat, dan bisa menjadi akar tindakan terorisme di masa yang akan datang. Riset menunjukan sejumlah pemuda Muslim tertarik dengan apa yang disebut dengan pergerakan dan ideologi jihadis transnasional. Dengan adanya penyebaran yang masif dari radikalisme ini, dan juga penerimaan dari beberapa pemuda Muslim terhadapnya, pengamat menilai bahwa kelompok ekstemis baik individu maupun secara kelompok telah menyebarkan ajaran radikal mereka melalui media online dan offline.

Berdasarkan hasil penelitian CSRC UIN Jakarta (2017) menunjukkan konstruksi narasi Islamesme yang berkembang di masyarakat mengambil bentuk yang beragam. Kontruksi narasi Islamisme yang nantinya melahirkan bentuk ekstrimisme baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan dibangun melalui kesadaran kognitif dengan cara membangun pemahaman. Bentuk pemahaman tersebut adalah doktrin-doktrin teologis yang berkaitan dengan perbedaan keimanan, keyakinan, dan juga aliran-aliran dalam pemahaman keagamaan. Pemahaman yang sudah terbangun akan menjadi pijakan, sumber nilai dan legitimasi dalam bersikap, bertindak terhadap mereka yang berbeda (the others) pada tataran sosial praxis yang arah hilirnya pada sebuah tindakan.

Dari hasil pengamatan, observasi dan juga penelitian yang telah dilakulan, variasi dari respon yang muncul terhadap mereka yang berbeda terbangun atas dasar sikap oposisi berdasarkan perbedaan posisi dan pemahaman informan dari mereka yang berbeda (the other). Sentimen atas dinamika sosial politik agama dan ekonomi turut membentuk narasi militan terhadap sang lian tersebut. Pelabelan terhadap lian seperti musuh dan kafir adalah manifestasi dari pola pikir yang intoleran terhadap mereka yang berbeda. Ini dapat dianggap sebagai framing terhadap mereka yang dianggap berbeda dengan si subjek. Sasaran yang menjadi objek kebencian dari kelompok-kelompok Islmisme ini, berdasarkan pada hasil penelitian di atas, adalah kelompok-kelompok yang berbeda dari segi pemahaman keagamaan adalah seperti Syiah, Islam liberal dan Ahmadiyah. Adapun kelompok yang menjadi sasaran kebencian dari segi perbedaan agama adalah Nasrani dan Yahudi.

Naureen Chowdhurry dan Jack Barely, (CGCC, 2013) menilai bahwa alasan dibalik suksesnya organisasi ekstremis bisa menarik pemuda Muslim ialah karena mereka dengan lihainya menggunakan simbol-simbol dan refrensi Islami, yang sebenarnya juga disebarkan oleh kalangan Islam secara umum, namun mereka interpretasi secara salah. Dalam melakukan hal tersebut, dan ini menjadi faktor kunci kesuksesannya, mereka menggunakan keluhan-keluhan yang biasa umat Islam lihat (secara realistis maupun imaginatif) di masa sekarang, sehingga kelompok yang ditargetkan bisa dengan cepat yakin masuk ke kelompok ekstremis tersebut. Banyak pemuda Muslim, yang memiliki pemahaman sempit tentang Islam dan yang lemah pemikiran kritisnya, telah dengan gampang terpengaruh dengan kampanye ini. Dalam aspek ideologi konten ini, mereka secara besar-besaran menggunakan literatur dan bentuk retorika dalam menyampaikan dan mengkampanyekan pandangan radikal mereka. Metode komunikasi ini telah secara efektif digunakan untuk menjangkau emosi pemuda Muslim untuk mengukuti pemahaman mereka.

Hasil penelitian CSRC menyebutkan ada tiga pola penyeberan narasi ekstremisme. Pertama adalah media (komunikasi) yang mencakup media cetak, elektronik, dan online, bulletin, majalah, selebaran, dan blog. Pola penyebaran kedua adalah hubungan interpersonal yang dapat berupa hubungan keluarga, guru dan teman/sahabat. Pola penyebaran ketiga yaitu ruang atau setting sosial yang meliputi kegiatan pengajian dan khalaqah. Narasi Islamisme yang ditransmisikan melalui ruang ini cenderung lebih leluasa karena sifatnya yang eksklusif dan privat.

Dengan pola penyebaran yang sangat masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstrimisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Nah, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan meso-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk menjegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstimis.

Diharapkan, pendekatan ini bisa memperkuat peran keluarga dalam menjaga individu yang rawan terhadap kekerasan ini, dan dalam tatanan makro, diharapakan pendekatan ini akan memberi sumbangsih bagi pemerintah dalam menanggulangi penyebab struktural dari kekerasan ekstremisme, yang melibatkan konflik politik yang tak berkesudahan, pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi agama dan marginalisasi ekonomi sosial. Agar pelaku kemasyarakatan bisa menyediakan upaya penanggulangan terorisme yang kredibel, maka mereka harus terlepas dari kepentingan politik manapun.

Oleh karena itu, pelaku kemasyarakatan bersedia untuk berpartisipasi dalam pencegahan ektrimisme dengan menngunakan pendekatan CVE ini, yang tentunya dilengkapi dengan pengetahuan dan kemampuan yang relevan dalam menganalisa konten dan metode penyampaian pesan/narasi dari ektremisme itu sendiri. Ini akan secara efektif membantu mereka menyeimbangkan narasi ekstremisme dan bahkan bisa mendelegitimasi ideologi dan pemahaman keagamaan mereka.

Guru di Pondok Pesantren merupakan salah satu dari kalangan umat Islam yang dapat diandalkan untuk secara aktif berperan dalam membawa agenda ini. Ini tidak hanya karena mereka memiliki pemahaman yang cukup tentang ajaran dan argumentasi keislaman, tetapi mereka juga memiliki kapasitas untuk mengkomunikasi ini kepada masyarakat. Secara kelembagaan, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyatu dan mengakar di masyarakat. Di Indonesia terdapat 3.65 juta santri yang tersebar di 25000 pondok pesantren.

Pondok pesantren pendidikan dan melatih peserta didik atau para santri dengan ajaran- ajaran yang inklusif. Para santri yang terdapat di Pondok Pesantren datang dari latar belakang yang berbeda-beda dan juga dari kultur, budaya, dan bahasa yang berbeda pula. Perbedaan tersebut disatukan di satu lembaga bernama Pondok Pesantren. Dengan adanya perbedaan dan juga pengajaran yang mengandung nilai-nilai inklusif, toleran, terbuka dan saling menghargai dapat menjadi model dan modal dalam penyebaran pesan damai dan hidup harmoni di tengah-tengah masyarakat majemuk seperti di Indonesia. Dipilihnya guru di Pondok Pesantren sebagai agen penyampai perdamaian dengan menggunakan metode Counter Violent Extremism (CVE) selain karena sudah memiliki tingkat pemahaman yang cukup memadai terkait dengan nilai-nilai Islam yang damai dan rahmatan lil’alain, mereka juga sehari-hari dalam hubungan murid dan guru memiliki hubungan dan berkomunikasi secara langsung dan intens. Dengan komunikasi langsung dan secara kontinu, maka akan sangat mudah untuk menanamkan nilai-nilai Islam damai, sehingga menjadi satu gerakan masif dan dapat menghalau gerakan ekstrimisme itu sendiri.

Hal yang perlu dilakukan dengan Counter Violent Extremism (CVE) bagi para guru di Pondok Pesantren adalah meningkatkan kemampuan mereka, terutama dalam menganalisa konten-konten narasi ekstremis, sebagai bagian dari metode mereka mengkomunikasikan ini kepada masyarakat terutama melalui media online. Alasan kegiatan ini fokus pada media online karena, berdasarkan pada hasil penelitian di atas dan data yang dihimpun oleh BNPT bahwa pembentukan pemikiran radikal seseorang hingga menghasilkan aksi terorisme dipengaruhi oleh media online (internet). Bahkan, penggunaan media online dalam penyebaran rasa kebencian yang kemudian menjadi penyebab lahirnya ekstremisme dan radikalisme tidak hanya dalam ruang lingkup nasional, tetapi juga jaringan trans-nasional.

Berangkat dari alasan inilah, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) sejak juni 2017 mengembangkan program Penguatan Peran Pesantren dalam Promisi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis. Program ini telah menyelenggarakan empat kegiatan penting yaitu Brainstorming, Workshop, Concultation Meeting, Preliminary Workshop dan Try Out. Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, CSRC dan KAS ditahun 2018 mengembangkan sebuah program “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk menguatkan kapasitas institusi Pondok Pesantren di Indonesia dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui kontra narasi ekstremis dengan target capaian sebagai berikut: pertama, meningkatnya pengetahuan dan keterampilam guru dan murid di Pondok Peantren dalam melakukan analisis konten narasi ektremis, serta mengajarkan mereka metode penyampaiannya kepada masyarakat. Kedua, meningkatnya pengetahuan keterampilan guru dan murid di Pondok Pesantren dalam menyuarakan narasi-narasi keislaman yang damai dan melakukan kontra narasi kekerasan ektremis bagi umat Islam. Merujuk pada proposal yang diajukan CSRC dan telah disepakati KAS ada empat (4) kegiatan utama. Pada bulan Februari-Mei 2018 ada dua kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Penelitian kualitatif tentang narasi ektremis dan kontra narasinya di online maupun offline dan Penulisan dan publikasi modul.

MAKSUD DAN TUJUAN

Program ini bertujuan untuk melakukan Penelitian kualitatif Needs Assesment terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001”.

Program ini juga akan melakukan Penulisan dan publikasi modul “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”.

 

TARGET CAPAIAN

Terlaksananya Penelitian kualitatif Needs Assesment terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001”. Serta tersedinya modul “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”.

 

Penelitian Kualitatif terhadap terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa bentuk- bentuk berbeda dari pesan dan narasi ektremis dan kekerasan yang telah disuarakan melalui website dan sosial media, serta bentuk media lain seperti majalah, buletin dan karya sastra. Riset ini akan fokus pada menganalisa konten dari narasi tersebut, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan. Selain itu, studi ini juga akan mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam menanggulangi permasalahan ini dan juga menganalisa ciri dan karakteristik konten tersebut dan alat-alat komunikasinya. Analisis naratif terhadap teks-teks baik tertulis maupun secara audio/visual akan digunakan sebagai metode dalam pengumpulan data dan proses analisa. Satu peneliti utama dan dua peneliti senior akan dikerahkan untuk melakukan riset ini, yang rencananya akan dilakukan dalam waktu dua bulan, yaitu antara Februari-Maret 2018.

Guna memastikan kualitas proses dan hasil, keseluruhan riset ini akan berlangsung mengikuti tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut:

 

NO

KEGIATAN

TUJUAN

OUT PUT

Keterangan

1.

Workshop Desain Instrumen penelitian

Mendiskusikan secara mendalam desain dan instrumen penelitian

1.   Pedoman Pelaksanaan In- depth interview, Readers response dan Pengamatan narasi dan konra narasi ektremis di media online dan off line

2.   Pedoman Analisis Data dan Penulisan Hasil Riset

Workshop ini akan melibatkan 10       orang yang   terdiri dari         tim manajemen riset       dan peneliti

2.

Pengumpul an Data literatur di

media online dan off line

1. Identifikasi contoh- contoh narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis di media online dan off line

2. Mengidentifikasi dan menganalisa bentuk- bentuk narasi ektremis dengan fokus pada analisa konten dari narasi ekstremis, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan.

1. Tersedianya contoh- contoh narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis di media online dan off line

2. Tersedianya analisis bentuk-bentuk narasi ektremis dengan fokus pada menganalisa konten dari narasi ekstremis, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan.

Tim peneliti ada 3 orang yang terdiri dari 1 peneliti utama dan 2 peneliti senior

3.

Pengumpul an data dengan wawancara mendalam

Mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam melakukan kontra narasi ekstremis

Tersedianya informasi yang akurat tentang narasi ektremis yang berpengaruh baik karakteristik tokoh, konten, bahasa, fakta dan alat-alat komunikasinya.

Akan mewawancar a 10 orang yang terdiri dari orang yang terpengaruh dan orang yang tidak terpengaruh dengan narasi ekstremis serta akademisi ekstremisme

4.

Pengumpul an data dengan Readers response

Mengidentifikasi retorika narasi ektremis yang berpengaruh tidaknya terhadap santri di pondok pesantren

Tersedianya data dan analisis tentang retorika narasi ektremis yang berpengaruh tidaknya terhadap santri di pondok pesantren

30 santri pondok pesantren di Jakarta

5.

Analisis Data dan Penulisan Laporan

Melakukan analisis data untuk melihat keseluruhan data dan mengidentifikasi isu dan ide pokok untuk menafsirkan data atau informasi yang diperoleh melalui literatur review, in- Depth Interview dan readers response dengan mengacu kepada tujuan, kerangka konseptual penelitian

Tersedianya laporan hasil penelitian sesuai dengan tujuan dan kerangka konseptual penelitian

Penulisan laporan mengacu pada format penulisan laporan

  

Penulisan dan publikasi manual dari “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”

Kegiatan ini diajukan dengan tujuan men-draft sebuah manual yang didasarkan pada penelitian untuk guru dan murid Pondok Pesanten terkait bagaimana agar bisa secara efektif menyuarakan pesan-pesan dan wacana-wacana perdamaian dan penanggulangan terhadap narasi ekstremis. Untuk menciptakan efek multiplier dari manual ini bagi banyak group Muslim dan komunitas di Indonesia, penting agar ini dicetak dalam jumlah banyak dan didistribusikan kepada stakeholders yang akan mendapat benifit dari manual tersebut dengan tujuan yang sama. Manual ini akan dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Dan kegiatan ini akan dilaksanakan dalam dua bulan, April-Mei 2018.

 

Guna memastikan kualitas proses dan hasil, keseluruhan penulisan ini akan berlangsung mengikuti tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut:

 

NO

KEGIATAN

TUJUAN

OUT PUT

Keterangan

1.

Workshop Desain Modul

Mendiskusikan secara mendalam desain matriks modul yang tepat bagi kalangan Pesantren berdasarkan hasil penelitian dan program sebelumnya ditahun

2017

Tersedianya Matriks dan format penulisan Modul

Workshop ini akan melibatkan 10      orang yang   terdiri dari        tim manajemen dan penulis

2.

Penulisan Modul

Melakukan penulisan modul berdasarkan matriks dan format penulisan yang telah ditentukan

Tersedinya naskah modul

Penulis modul sebanyak 15 orang   yang terdiri dari 5 orang penulis utama dan 10       orang ustadz/ustad zah

3.

Editing

Melakukan editing naskah modul yang sudah ditulis oleh para penulis modul

Tersedianya naskah modul yang siap dilayout

Editing modul akan dilakukan oleh 2 orang

4.

Layout

Melakukan layout modul

Tersedinya naskah modul yang siap dicetak

Lay out modul akan dilakukan oleh 1 orang

5.

Proof reader

Melakukan Proof reader naskah sebelum naik cetak

Tersedinya naskah modul yang siap dicetak

Proof reader akan dilakukan oleh 2 orang

6.

Cetak Modul

Modul akan dicetak sebanyak 1.000

eksemplar

Tercetaknya 1.000 eksemplar modul

 

Menjaga Indonesia Sebagai Darus Salamah

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Kaum Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, yakni menjalankan segala perintah Allah  dan menjauhi laranganNya.

Kita bersama  sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati madzhab, agama atau pandangan politik kita berbeda. Kita adalah berketuhanan Yang Maha Esa. Kita satu bangsa, satu tanah air, dan kita semua telah sepakat berbhineka tunggal ika . Islam tidak melarang kita berbeda. Yang dilarangNya adalah berselisih dalam perbedaan yang merujuk pada kekerasan.

“Janganlah menjadi serupa dengan orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih dalam tujuan, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih.” Demikian Allah menjelaskan dalam QS Al Imran ayat 105.

 Harus kia sadari, akhir-akhir ini marak sekali, orang-orang yang mengkampanyekan sistem khilafah. Dengan dalih kembali ke al Quran dan As Sunah serta menjalankan syariat secara kaffah.

Kita harus sadar bahwa keragamaan dan perbedan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untu seluruh makhluk termasuk manusia. Kita harus belajar kepada Rasulullah bagaimana beliau memimpin negara madinah. madinah itu artinya negara yang masyarakatnya modern, sejahtera, berbudaya, bermartabat. Ini madinah. itulah alasan kenapa Nabi Muhammad membangun sebuah kota dan menyebutkan dengan nama Negara Madinah. “Bukan negara Islam, bukan negara Arab, bukan negara agama.

Indonesia ini adalah Darussalam, negeri yang damai dan sentosa. Masih ingat langkah para ulama pada Muktamar NU di Banjarmasin pada tahun 1936, yang menghasilkan keputusan penting, yakni mereka menempatkan negara Indonesia sebagai Darussalam, bukan Darul Islam. Dikatakan sangat penting karena hingga saat ini konstruksi tersebut sangat relevan dan konsisten dengan berdirinya NKRI dibawah payung Pancasila dan UUD 45.

Sejarah  bahwa rasulullah SAW, telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa mencintai tanah air sebagai wujud iman kepada Allah, bisa dilihat pada tahun 622, dimana nabi Muhammad bersama warga Madinah membuat sebuah kesepakatan bersama yang dikenal dengan Piagam Madinah. Sebuah undang bernegara, berbangsa dan beragama yang berdasar kesepakatan bersama. Piagam ini merupakan kesepakatan hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh pemeluk agama di Madinah. 

Ini bagian dari bentuk cinta dan hormat kepada negara.

حب الوطن من الايمان

Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Saudara-saudara seiman

Salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita adalah memberikan kita sebuah negara yang besar, negara yang kaya akan sumber daya alam, suku, bahasa, budaya dan lain sebagainya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Perlu diketahui, hari ini di Timur tengah, yang mayoritas penduduknya muslim sedang terjadi kekacauan, peperangan, teror-teror dan kekacauan politk yang tiada henti. Kabar terbaru, telah terjadi pengeboman di daerah Sinai, Mesir. Tepatnya di Masjid Raudhah dimana kau muslimin sedang melaksanaan sholat jumat. Belum lagi  kekacauan di  Suriah, irak, dan negara-negara islam lainnya.. Apakah  kita menginginkan indonesia seperti itu.

Semua itu sumbernya adalah pudarnya rasa nasionalisme. Menjaga rasa nasionalisme, menjaga negara secara tidak langsung kita telah menjaga kenyamanan peribadatan kita kepada Allah. Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang menganjurkan kita untuk mencintai tanah air atau negeri kita. Nabi Ibrahim disebutkan dalam  Al Qur'an berdoa kepada Allah untuk memberkahi negeri yang didiaminya.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa.." [Al Baqarah 126]

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." [Ibrahim 35]

Tapi harus kita sadari. Keberagaman dengan saling menghargai antar sesama warga negara Indonesia akhir-akhir ini nampak sedikit pudar. Banyak ujaran kebencian, berita bohong, fitnah, dan hal-hal yang meruntuhkan negeri ini. Kita harus mengedepankan nilai-nilai pluralisme, toleransi dan keberagaman.sudah jelas Allah sendiri yang telah menjadikan perbedaan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

 

 

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai umat Islam yang dan warga yang baik. Kita ikuti aturan pemerintah sebagai bagian dari menjalakankan perintah Allah. Tidak bisa dipungkiri bahwa negara kita telah memiliki pemerintahan yang sah yang telah disepakati oleh para pendiri-pendiri terdahulu. Sebagai warga negara yang beriman kita harus mentaati pemerintahan yang shah, seperti halnya firman Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ : 59)

Sebagai warga negara yang taat dan beriman maka wajib hukumnya kita patuh kepada pemimpin-pemimpin adil dan yang sah. Jika kita membangkang kepada negara dan pemerintah, berarti kita tidak mengindahkan firman Allah tersebut.

Saudar-saudara yang dimuliakan Allah.

Di akhir khutbah ini, marilah kita perkuat rasa cinta kita kepada bangsa ini, kita adalah negara salamah. Negara yang damai yang harus kita jaga.mari kita bersama-sama senantiasa meminta ampun kepada Allah dan selalu berdoa agar negara kita damai, tentram dan sejahtera.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

 

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

Page 3 of 27