Lia Cgs

Keluarga Besar Pesantren for Peace menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya:

 

KH. Mahfudz Ridwan

 

Pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang, menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Minggu, 28 Mei 2017 sekitar pukul 14.45 WIB  setelah dirawat 13 hari di RSUD Salatiga karena menderita penyakit stroke.

Semoga Almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dilipat gandakan pahala dari semua amal kebaikannya. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan lahir dan bathin, diteguhkan iman dalam menghadapi cobaan ini. Amin

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Yogyakarta diselenggarakan di Hotel D’Salvatore, Yogyakarta pada tanggal 29-30 Maret 2017. Materi pertama yang disampaikan dalam workshop ini menghadirkan Alissa Qotrunnada Wahid, Koordinator Jaringan GUSDURian Indonesia yang membahas tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dengan dimoderatori oleh Mohamad Yahya. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Muhamad Hanif, M. Hum., Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan dimoderatori oleh Moh. Taufiq Ridho. Materi terakhir tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan oleh Muchtadlirin, M.Si., Sekretaris Program dan dimoderatori oleh Hasan Mahfudh.

Demikianlah, workshop Manajemen Pesantren ini mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang akan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidang manajerial, komunikasi dan manajemen berjejaring serta memiliki wawasan manajerial pesantren; dan sesi diskusi kelompok, dimana setiap peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mendiskusikan kasus yang berkaitan dengan komunikasi dan manajemen berjejaring ala pesantren.  Hal-hal yang akan didiskusikan dalam Workshop berkaitan dengan problematika pesantren dalam komunikasi dan manajemen berjejaring, di antaranya: leadership pesantren, pengalaman pesantren dalam berjejaring, komitmen pada isu, kapasitas persuasif pimpinan/pengurus pesantren, kapasitas manajerial kegiatan, team work, perencanaan dan pelaporan kegiatan, dan kapasitas dalam menulis. Pada sesi diskusi kelompok, peserta juga mensimulasikan membuat sistem berjejaring. Di akhir sesi, peserta diskusi kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Salatiga diselenggarakan di Hotel Laras Asri, Salatiga pada tanggal 28-29 Maret 2017 yang juga menghadirkan 3 pembicara yang kompeten di bidangnya. Sesi pertama tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi disampaikan oleh Dr. Ahmad Zainul Hamdi, Direktur Central for Maginalized Communities Studies (CIMARS) dan dimoderatori oleh Fahsin M. Fa’al. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Dr. Chaider S. Bamualim, Advisory Board of CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dimoderatori oleh M. Cholilullah. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan oleh KH. Anang Rizka Masyhadi, MA., Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang,  dengan dimoderatori oleh Nashif Ubbadah.

Koordinator Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan, “Di Salatiga, Jawa Tengah ini pesertanya sejumlah 32 ustadz/ustadzah. Dari workshop-workshop atau kegiatan-kegiatan sebelumnya, Jawa Tengah ini pesertanya terbilang belum cukup moderat, tidak ada yang memperbincangkan atau mempertentangkan tentang apa itu HAM dan relasi islam dan HAM. Namun di Salatiga ini mayoritas pesantrennya adalah moderat jadi mereka sebenarnya hanya perlu mengembangkan dirinya saja dari sisi peserta”, ungkap Idris.

“Dari sisi nara sumber dalam workshop ini kita menghadirkan Dr. Ahmad Zainul Hamdi atau yang akrab disapa Pak Inung dari CIMARs. Menurut saya memang pas sekali kita menghadirkan Pak Inung, karena memang berdasarkan pengalaman dari apa yang dilakukannya di CIMARs, khususnya bagi para pengungsi dan pembangunan perdamaian di Jawa Timur. Nah, dalam menyampaikan materi, dia menggali dari peserta, apa yang mereka hadapi di pesantren dan di Jawa Tengah secara umum, baru kemudian dia masuk dengan penjelasan-penjelasan berdasarkan pengalamannya dia selama di CIMARs,” tambah Idris.

Idris juga mengaku tertarik dengan Narasumber Anang Riska Masyhadi, Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang yang bercerita bagaimana membangun hubungannya dengan pemerintah, baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat  dalam membangun pesantren untuk menyuarakan perdamaian, tidak hanya itu misalnya ketika ada masalah yang dihadapi oleh pemerintahan lokal dia berdiri di tengah menyelesaikan masalahnya itu. Contohnya dia membangun kantor aula di kecamatan kemudian dia menyelesaikan masalah pembangunan kantor koramil, membelikan tanahnya, serta membangun fisiknya. Jadi, pesantrenlah yang banyak berpengaruh. Dia bisa memberikan keyword-keyword bagaimana pesantren di Jawa Tengah  ini bisa membangun hubungan berjejaring dengan pemerintah, khususnya dengan pengusaha,  dengan media, dan lain-lain, dia menyampaikannya dengan sangat detail sekali. [LH]

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Jabodetabek diselenggarakan di Hotel GG House Puncak, Bogor pada tanggal 21-22 Maret 2017. Sama seperti Workshop Bandung, workshop ini  juga menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi untuk sesi pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dan Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si untuk sesi Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren serta Irfan Abubakar untuk sesi terakhir. Moderator untuk setiap sesinya yaitu Sholehuddin A. Aziz, Muhammad Arsan dan M. Afthon Lubbi Nuriz.

Demikianlah, workshop Manajemen Pesantren ini mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang akan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidang manajerial, komunikasi dan manajemen berjejaring serta memiliki wawasan manajerial pesantren; dan sesi diskusi kelompok, dimana setiap peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mendiskusikan kasus yang berkaitan dengan komunikasi dan manajemen berjejaring ala pesantren.  Hal-hal yang akan didiskusikan dalam Workshop berkaitan dengan problematika pesantren dalam komunikasi dan manajemen berjejaring, di antaranya: leadership pesantren, pengalaman pesantren dalam berjejaring, komitmen pada isu, kapasitas persuasif pimpinan/pengurus pesantren, kapasitas manajerial kegiatan, team work, perencanaan dan pelaporan kegiatan, dan kapasitas dalam menulis. Pada sesi diskusi kelompok, peserta juga mensimulasikan membuat sistem berjejaring. Di akhir sesi, peserta diskusi kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok.[LH]

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Bandung diselenggarakan di Tune Hotel, Dago, Bandung pada tanggal 8-9 Maret 2017 dengan menghadirkan 3 pembicara yang kompeten di bidangnya. Materi sesi pertama, membicarakan tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi disampaikan oleh Ahsan Jamet Hamidi, Program Officer di The Asia Foundation dan dimoderatori oleh Wahidah Rosyadah. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si., Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) Bandung dan dimoderatori oleh Evi Kurniawati. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan langsung oleh Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dimoderatori oleh Arum Ningsih.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Problem di workshop Bandung ini yaitu masih banyak berbicara mengenai konten karena peserta workshop ini berbeda dari peserta workshop-workshop dan training-training sebelumnya. Dan uniknya, di bandung ini memang tipologi dari pesantrennya itu bermacam-macam, ada muhammadiyah, ada NU , ada persis dan lain lain , mereka punya pendapat sendiri-sendiri, wajar saya kira itu. Namun,   panitia menyiasatinya dengan menyampaikan konten tersebut di awal sebelum diskusi kelompok, karena kalau konten tersebut tidak diselesaikan terlebih dahulu, saya rasa akan jadi bias, jadi harus dimantapkan dulu. Barulah setelah itu masuk  bagaimana untuk melakukan jejaring, hambatan dan tantangan yang dihadapi”, jelas Idris. [LH]

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Surabaya diselenggarakan di Hotel Quds Royal Surabaya pada tanggal 15-16 Maret 2017 yang juga menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi untuk sesi pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dan dimoderatori oleh Hindun Tajri. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Muhamad Hanif, M. Hum., Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan dimoderatori oleh Muhammad Khudhori. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP disampaikan oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si., dan dimoderatori oleh M. Saiful Anam.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan “Dari kurang lebih 90 pesantren yang terlibat dalam kegiatan sebelumnya sangat antusias dan tertarik untuk mengikuti workshop ini, tetapi karena kita terbentur dengan kuota yang harus 30 orang,  maka strategi dari partner lokal kita adalah mengundang yang kemungkinan untuk ikut pertamanya, tapi setelah itu, mendengar pesantren yang lain bahwa ada kegiatan ini, jadi mereka ikut mendaftar tetapi ya waiting list, sehingga kemudian dari 30 peserta itu  yang waiting list itu ada sekitar 10-15 pesantren, nah itu dari bentuk antusiasme mereka dalam mendaftar, karena bagi mereka persoalan mendasar yang dihadapi khususnya pesantren di jawa timur itu mereka masih lemah dalam hal melakukan berjejaring, jadi workshop ini penting bagi mereka untuk mengembangkan skill-skill dalam membangun jaringan”, ungkapnya

Idris menambahkan, “Dari sisi antusiasme peserta itu nampak misalnya, jam 8 sebelum acara dimulai itu sudah ada 28 peserta yang datang dari 30 orang, ketika acara dimulai, seluruh peserta sudah berkumpul 100% dan waktunya ontime dimulai sesuai jadwal yaitu pukul 8.30 WIB. Walaupun ada peserta dari trenggalek sana yang menempuh perjalanan lebih dari 3 jam, bahkan dia sampai pertama kali di hotel pukul 06.00 WIB. Itu bentuk komitmen dan antusias dari pesantren yang terlibat yang patut untuk diapresiasi,” tambahnya.

Kemudian dari sisi peserta, Idris melihat dari dinamika diskusi yang berlangsung ini juga menimbulkan kesan tersendiri bagi para narasumber. Contoh-contoh yang dimunculkan oleh peserta sesuai dengan konteks workshop, misalnya tentang bagaimana cara membangun jejaring dalam membantu untuk menyelesaikan permasalahan aturan pemerintah terhadap akses pendidikan bagi pengungsi syiah, itu merupakan pertanyaan yang tepat untuk dibahas dalam diskusi. Ahsan Jamet, selaku narasumber workshop mengaku sangat tertarik sekali dengan dinamika diskusi yang berkembang itu karena contoh-contohnya sesuai dengan konteks yaitu menyelesaikan konflik secara damai dan itu muncul sendiri dari peserta.[LH]

pesantrenforpeace.com – Bogor (25/02/2017) “Kegiatan seminar ini memiliki posisi yang sangat penting dalam kondisi Bangsa dan Negara seperti saat ini. Ini adalah tantangan bagi umat Islam, khususnya masyarakat pesantren, dalam menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya”, demikian pidato sambutan Pimpinan Pesantren Annur, KH. Hadiyanto Arief, SH. M.Bs. dalam acara seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan di Mini Hall Al-Hamra Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Setelah kagiatan seminar dibuka dengan lantunan Kalam Ilahi Surat Fushilat Ayat 30-34 dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, Pimpinan Pondok memberikan sambutan dengan menuturkan pengalaman pribadi dan pengalaman Pesantren Darunnajah dalam membangun perdamaian dan membina persaudaraan dunia. Menurutnya, Darunnajah sebagai pesantren yang terletak di tengah-tengah Ibu Kota Negara, selalu mejadi tuan rumah sekaligus miniatur toleransi dan persahabatan antar bangsa yang berlatar belakang suku, agama, dan budaya. Berbagai tamu mulai dari sekolah Kristen, duta besar negara-negara dunia Eropa-Amerika, bahkan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, datang silih berganti ingin menyaksikan wajah Islam Indonesia yang damai.

“Selain tamu yang datang berkunjung untuk melihat Islam lewat Darunnajah, setiap tahun kita juga mengirim santri-santri dan guru ke sekolah Kristen di Inggris, Holy Family Catholic School. Siswa-siswi sekolah di sana juga nyantri di sini selama beberapa waktu”, ujar kiai muda lulusan Bristol University tersebut.

Menyambung sambutan tuan rumah, Bapak Idris Hemay, M.Si. selaku koordinator program Pesantren for Peace, memberi apresiasi kepada keberhasilan panitia dalam menyelenggarakan acara. Menurutnya, jumlah peserta acara seminar Local Day of Human Rights kali ini adalah yang terbanyak dari sebelumnya. Lebih dari 100 peserta hadir memenuhi ruangan.

Masih menurut Idris, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia dan dunia. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darunnajah 8. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, ujar Idris dalam pidato sambutannya.

Seperti dua seminar sebelumnya, kegiatan kali ini juga mengundang peserta dari berbagai lembaga dan organisasi. Pemuda NU dan Muhammadiyah, DKM dan remaja masjid, juga sekolah dan pesantren di sekitar Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Pada seminar ke-3 ini, dihadirkan tiga narasumber yang telah mengikuti program pertukaran santri antar pesantren se-Jawa. Mereka adalah Anisa Fauziyah dan Yusron Yasir dari Pesantren Annajah Rumpin Bogor, dan Julianda Dayanti dari Pesantren Madinatunnajah Jombang Ciputat.

Anisa dan Yusron menceritakan pengalaman mereka selama tinggal selama dua minggu, 16-29 Januari 2017, di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Candi Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Menurut penuturan Anisa di depan peserta seminar, pesantren yang didirikan oleh KH. Mufid Mas’ud yang merupakan keturunan Sunan Pandanaran ke-14 ini, menerapkan budaya Jawa sebagai jalan tengah untuk menyatukan budaya yang ada. Kegiatan dialog antara anggota organisasi NU-Muhammadiyah, serta dengan pemeluk agama selain Islam juga sering diselenggarakan di pesantren ini.

Yusron, santri Pesantren An-Najah Bogor berdarah Jawa-Sunda-Batak, sangat semangat menceritakan kisahnya selama mengikuti program petukaran santri. Ia sangat bangga dan bersyukur dipilih sebagai peserta program. Menurutnya ini pengalaman yang sangat mahal, karena tidak semua santri di pondoknya mendapatkan pengalaman sepertinya. Selain rasa bangganya, ia menceritakan dengan detail peran Pesantren Sunan Pandanaran ketika menjadi mediator kasus Cebongan. Yakni kasus perseteruan antara anggota KOPASSUS TNI dengan preman di Jogjakarta yang menimbulkan konflik SARA.

Julinda, santri Pondok Pesantren Madinatunnajah, tidak mau kalah dengan cerita pengalaman dua pemateri sebelumnya. Ia menuturkan pengalamannya selama tinggal di Pesantren Annuqoyah Gulukguluk Madura. Menurut catatan Julinda, Pondok Pesantren Annuqoyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi mediator perang Sampit. Hal tersebut dapat dilakukan oleh Pesantren Annuqoyah lantaran pesantren ini telah terbiasa mendidik santri-santrinya dengan sikap saling menghargai dan menghindari sikap keegoisan yang menimbulkan perpecahan.

Sebagai narasumber pembanding, H. Robith Huda dari Pesantren Darunnajah 8 memberikan tambahan penjelasan tentang pengalaman pesantren dalam membangun perdamaian berdasarkan Hak Asasi Manusia dan Islam. Ustadz asal Madura ini menambahkan informasi tentang Pondok Pesantren Annuqoyah. Menurutnya, pesantren ini adalah salah satu yang terbesar dan tertua di Madura. Pengalaman pesantren ini dalam membina keharmonisan umat beragama sudah sangat tua, setua usia pesantren tersebut. Dengan candaan khas Madura, ustadz alumni pesantren Gontor tersebut mengubah suasana seminar seperti acara stand-up comedy.

Di akhir acara, para peserta dan pemateri beserta panitia penyelenggara seminar befoto bersama sebagai penutup kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga pukul 11.45. Tidak terasa lebih dari tiga jam peserta duduk mendengarkan pemaparan seminar yang diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dan dialog antar peserta dan narasumber. “Kapan ada seminar seperti ini lagi, Pak Ustadz?”, tanya seorang peserta kepada panitia setelah acara selesai. [aft]

Pesantrenforpeace.com - Bandung (26/2), Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adeneur-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste dengan dukungan bantuan hibah dari European Union (EU) mengadakan kegiatan Pesantren For Peace guna menguatkan tradisi dan bangunan perdamaian melalui pondok pesantren. Sebanyak 30 peserta delegasi dari berbagai pondok pesantren disekitar wilayah bandung mengikuti workshop Local day of human right yang berlangsung di Aula utama Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Kota Bandung.

Perwakilan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Junaedi Simun mengatakan, “kegiatan ini merupakan kegiatan yang bersifat riset, dimana kami menganalisis konflik seputar agama yang dilakukan di berbagai Provinsi di Pulau Jawa, Yang hasilnya digunakan untuk membuka wawasan bagi para santri dan Pondok Pesantren. Total, sekitar 70 santri dari 70 delegasi Pondok Pesantren mengikuti kegiatan Pesantren for Peace sampai saat ini”.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 kali, yakni bulan Agustus 2016, November 2016, dan Februari 2017 ini sangat di apresiasi oleh Sekretaris Kecamatan Cibiru, Didin Dikayuana. Didin mengungkapkan, “Dengan hadirnya kegiatan seperti ini selain mengajarkan toleransi, pesantren ikut berperan membantu pembangunan program Walikota Bandung, Ridwan Kamil”.

Kegiatan yang bertemakan Penguatan Jejaring Kerja Santri dan Pondok Pesantren Dalam Implementasi Nilai-Nilai HAM, Toleransi, dan Resolusi Konflik Secara Damai dan Bermatabat ini berlangsung pukul 9.30 hingga 16.30 WIB. kegiatan tersebut diisi oleh 4 presentator hasil pertukaran santri di 5 provinsi di pulau jawa, yakni Rizqi Fadillah (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Rodia Miftah  (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Citra Rahmawati (Ponpes Al Basyariah), serta Muhammad Zainal Mustafa (Ponpes Sirnarasa, Jawa Barat).

Dalam workshop tersebut, para presentator menjelaskan hasil pertukaran santri yang diberi waktu selama 2 minggu untuk menjalankan tugas kesantrian di pondok pesantren yang telah di tentukan. Dimana mereka ditugaskan untuk mencari informasi mengenai peran pesantren dalam membangun perdamaian dan resolusi konflik secara damai di pesantren tujuan.

Dari hasil workshop tersebut diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya Pondok Pesantren diharapkan mampu membangun dan meningkatkan kesadaran publik untuk meningkatkan toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai melalui menjadikan dirinya sebagai ruang publik yang netral dan damai tanpa kekerasan.

Selain itu, pondok pesantren diharapkan juga untuk terus meningkatkan komunikasi mengenai toleransi secara damai, baik dengan masyarakat, santri maupun alumni lulusan pondok pesantren agar terhindarnya stigma negatif yang beredar sebagai pandangan agama yang intoleran dan radikal. [PPMU]

Page 3 of 23