Lia Cgs

Setelah sukses dengan training pertamanya di Surabaya, Pesantren for Peace (PfP) kembali mengadakan training untuk para santri di wilayah Semarang dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan program lanjutan dari serangkaian program yang telah sukses dijalankan tim PfP sejak Januari 2015, dan merupakan program unggulan yang digagas oleh CSRC Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan dari Uni Eropa dalam rangka meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam mendorong moderasi Islam di Indonesia untuk menegakkan dan memajukan Hak Asasi Manusia, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Kegiatan dengan tema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” ini dilaksanakan pada tanggal 29 September – 2 Oktober 2015 di Hotel Pandanaran, Semarang. Sebanyak 30 santri yang berasal dari sejumlah pesantren di kabupaten/kota di Jawa Tengah (Kabupaten dan Kota Semarang, Salatiga, Demak, Blora, Cepara, Kudus, dan Grobogan) mengikuti training ini dengan penuh antusias.

Sekretaris PfP, Idris Hemay, dalam sambutannya menyampaikan latar belakang terbentuknya PfP, tujuan PfP secara keseluruhan dan tujuan khusus kegiatan training ini, “Training ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), perdamaian dalam Islam, dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam,” terang Idris. Ia menambahkan, bahwa betapa pentingnya santri dalam menyebarkan Islam yg ramah dan menjadi juru damai dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Pimpinan Pondok Pesantren Edi Macoro Semarang, Muhammad Hanif (Gus Hanif), dalam sambutannya menjelaskan tentang program PfP di Semarang Sebelumnya yaitu “Workshop Desain Modul Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang melibatkan 30 ustadz-ustadzah dari wilayah Semarang dan sekitarnya. Ia juga memberikan pemahaman kepada peserta tentang peran penting santri-santri pesantren dalam membangun jejaring antar pesantren dalam membangun perdamaian di Jawa Tengah. “Saya berharap, seluruh santri peserta training ini mengikuti kegiatan ini sebaik mungkin dan seaktif mungkin,” ujar Gus Hanif.

Dalam pelaksanaannya, training ini difasilitasi oleh para Trainer (ustadz-ustadzah dari daerah tersebut) yang sebelumnya telah dibekali oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainers yang dilaksanakan bulan Agustus kemarin (18-21Agustus 2015). Para trainer tersebut adalah Choirul Iman, Alfiatu Rohmah, M. Aris Rofiqi,Cholilullah, Nasif Ubadah, dan Fahsin M. Faal. Mereka semua merupakan bagian dari tim penulis modul “Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang dijadikan bahan ajar dalam training tersebut.

Di penghujung kegiatan training ini, para peserta akan diajak untuk melakukan Field Trip ke PERCIK dan PP Edi Mancoro Salatiga dengan didampingi oleh Junaidi Simun, salah seorang supervisor dari CSRC yang akan membimbing para peserta untuk melakukan wawancara dan menuliskan laporan hasil pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut. Field trip ini dimaksudkan agar para peserta bersentuhan langsung dengan kehidupan empiris di lapangan dalam memperdalam pemahaman tentang perdamaian, HAM dan penyelesaian konflik secara damai.

Training peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam berikutnya, direncanakan akan dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Oktober 2015.

Center for the Study of Religion and Culture UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerima kunjungan studi banding dari mahasiswa Pusat Studi Melayu (Department of Malay Studies) di Universitas Kebangsaan Singapura (NUS) pada tanggal 22 September 2015 dengan tema “Hukum, Advokasi dan Pembaruan”.

Sebanyak 17 mahasiswa S1 dan S2 Universitas Kebangsaan Singapura (NUS) disambut hangat oleh Direktur CSRC, Irfan Abubakar yang didampingi oleh researcher CSRC, Ahmad Gaus dan Junaidi Simun. Ketujuh-belas mahasiswa Universitas Kebangsaan Singapura (NUS) ini dikoordinir oleh Muhamed Imran, dan didampingi pula oleh Ketua Pusat Studi Melayu Universitas Kebangsaan Singapura (NUS), Noor Aisha Abdul Rahman.

Dalam pengantarnya, Mohamed Imran menyampaikan tujuannya berkunjung ke CSRC. Menurutnya, ada beberapa hal menarik yang ingin pihaknya ketahui tentang bagaimana advokasi dan pelatihan pembangunan masyarakat dalam bidang filantropi, perdamaian dan anti radikalisme yang diterapkan di Indonesia. “Juga, kami ingin mengetahui penelitian-penelitian yang telah dan sedang dilakukan di CSRC,” kata Mohamed Imran menambahkan.

Irfan Abubakar menjelaskan sejarah terbentuknya CSRC, tujuan, dan program-program yang telah dan sedang dilakukan di CSRC. Dalam hal ini, Irfan juga memperkenalkan salah satu program unggulan CSRC yang dijalankan sejak Januari 2015, program tersebut yaitu “Pesantren for Peace”.

Para mahasiswa tersebut tampak antusias menanggapi penjelasan yang dipaparkan Irfan Abubakar. Pada sesi tanya jawab, isu yang menarik perhatian mereka yaitu tentang penyelesaian konflik di indonesia serta bagaimana menangani hate speech dan radikalisme atas nama agama.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, tampil sebagai pembicara dalam kegiatan konferensi internasional yang bertajuk “Multinational Efforts to Promote Freedom of Religion or Belief” yang diselenggarakan oleh the International Panel of Parliamentarians for Freedom of Religion or Belief (IPP-FoRB) dan Konrad Adenauer Foundation di One UN Hotel, New York. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari 17-19 September 2015 dan dihadiri oleh lebih dari 100 anggota parlemen dan lebih dari 40 pimpinan NGO dan organisasi keagamaan dari berbagai negara di seluruh dunia.

Konferensi ini menampilkan pembicara dari berbagai tokoh agama, meliputi Islam (Sunni dan Syiah), Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks, Budha dan Hindu. Juga menampilkan Jan Eliasson yang mewakili Sekjen PBB Ban Ki Moon, Mr. Nasser Abdulaziz al-Nasser yang merupakan High Representative untuk Aliansi Peradaban PBB, serta tokoh-tokoh politik dari berbagai negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika, dan Asia.

Pada kesempatan ini, Irfan Abubakar diundang sebagai peserta sekaligus pembicara mewakili NGO dan Organisasi Masyarakat. Irfan menyampaikan topik “Membangun Toleransi dan Kebabasan Agama di Indonesia: Masalah, Tantangan dan Masa Depannya.”

Dalam presentasinya, Irfan memaparkan tantangan yang dialami bangsa Indonesia selama lebih dari satu dekade terakhir dalam menghadapi tendensi intoleransi keberagaman dan konflik di beberapa tempat di tanah air termasuk yg paling terbaru yaitu kasus Tolikara.

“Intoleransi dapat berupa kebencian atas nama agama, diskriminasi, hingga kekerasan atau penganiayaan atas nama agama. Semua masalah itu menuntut upaya kongkrit di semua level negara dan masyarakat untuk mencarikan penyelesaian yang lebih permanen dan berkelanjutan,” ungkap Irfan

“Menanggapi permasalahan tersebut, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupaya membantu memelihara dan meningkatkan kemampuan kemampuan muslim untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati martabat dan hak-hak asasi setiap orang,” tutur Irfan melanjutkan. Dijelaskannya juga tentang berbagai program pelatihan agama dan HAM untuk para guru pesantren, program alumni, dan yang sedang dijalankan saat ini yaitu Pesantren for Peace (PfP).

Berbagai pemaparan yang disampaikan dalam forum NGO dan tokoh keagamaan ini merupakan suatu masukan penting untuk merancang rembukan atau rekomendasi yang merupakan output dari konferensi ini. Selanjutnya rekomendasi ini akan diserahkan ke PBB sebagai masukan untuk pemerintah masing-masing negara.

Dalam pidato sambutannya, presiden Konrad Adenaeur Stiftung menyampaikan kebanggaanya atas kerja dan upaya CSRC dengan dukungan KAS untuk menjalankan berbagai program tersebut. Dia bahkan mendorong agar pendekatan CSRC dalam mengatasi masalah intoleransi agama dapat menjadi model yg bisa diterapkan di negara lain.

Pesan Kesan Peserta Field Trip

Farida Rosalinda

PP Darut Ta’lim

 

Kesan saya mengikuti training ini karena saya ingin tahu lebih dalam lagi apa itu HAM dan saya juga tertarik akan kunjungan ke tempat pengungsian. Karena waktu si’A berada di GOR Sampang tepat di sebelah rumah saya belum bisa mencari tau asal muasal kenapa konflik itu terjadi.

Sebelumnya saya juga pernah mengikuti seminar seperti ini di Jakarta, tetapi materi pembahasannya itu tentang bisnis. Jadi saya sangat bangga dengan adanya training Pesantren for Peace ini, dari sinilah saya tahu apa itu HAM lebih dalam lagi dan saya akan terapkan di lingkungan saya.

Pesan saya di Training ini, saya harap setelah adanya training seperti ini ada tindak lanjut dari pemerintah, karena jika tidak ada tindak lanjut, semua akan sia-sia.

“Good Luck”

Pesan Kesan Peserta training

Abd. Warits

PP Annuqayah Sumenep

 

“Sebuah Refleksi Tentang Perbedaan”

“Hidup Butuh perjuangan, dan perjuangan perlu perdamaian”

Begituah ungkapan sederhana dari saya terkait dengan semakin maraknya perbedaan. Perbedaan merupakan sunnatullah (Hukum Alam) yang dari situlah akan melahirkan kasih sayang. Seperti sabda Nabi SAW

Ikhtilaafu Ummatii rahmatun

Artinya: “perbedaan dari ummatku merupakan sebuah rahmat.”

Dari statement Nabi tersebut dapat saya ilustrasikan pada sebuah proses penciptaan Adam dan Hawa. Yang kemudian diciptakan dengan berbeda jenis kelamin, hingga melahirkan keturunan-keturunan sampai sekarang. Dan hal itu merupakan sebuah hikmah dari perbedaan.

Jika dipandang sebelah mata, perbedaan juga dapat memunculkan pertikaian. Baik karena berbedanya kepentingan masing-masing, keinginan, dan prinsip yang berbeda. Dalam satu agamapun karena berbedanya paham/aliran-alirannya tidak jarang sekali timbul benih-benih konflik.

Padahal dari perbedaan inilah kita harus saling melengkapi antara satu sama lain. Karena di dunia ini masih tidak ada yang sempurna dan serba kekurangan. Sangat selaras sekali dengan semboyan Indonesia, yaitu:

“BHINEKA TUNGGAL IKA”

“Berbeda-beda Tapi Tetap Satu Jua”

Pesan Kesan Peserta Training

Dhiya’ Atul Haq

PP Darul Ulum

 

Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur kepada Allah swt. Atas segala nikmat dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti workshop dan fieldtrip ini. Begitu banyak kesan yang saya syukuri dan rasakan, ini adalah anugerah yang besar. Segala ilmu dan pengalaman yang tak terlupakan dan mungkin tak bisa saya peroleh kembali. Selain itu, begitu bangganya saya mengikuti kegiatan ini. Saya berharap nanti dan seterusnya saya bisa memanfaatkan ilmu yang saya peroleh saat ini dengan sebaik-baiknya untuk sekarang atau seterusnya, demi terciptanya perdamaian. Perdamaian yang diimpikan banyak orang, begitu pula dengan saya. Saya akan mencoba dan berupaya menjadi agen perubahan untuk terciptanya perdamaian dimanapun saya berada, untuk keluarga, lingkungan, pesantren, masyarakat lebih-lebih untuk negara ini.

Saya berdoa indonesia dapat hidup damai, tak ada namanya konflik di berbagai daerah, apalagi yang menyangkut agama, Islam adalah agama yang damai, saya sangat setuju. Oleh karena itu santri-santri pesantren harus menjadi agen perdamaian yang membawa perubahan dan memberikan kontribusi besar bagi islam dan dunia.

Semoga masih banyak lagi orang-orang yang mendapat pencerahan lewat workshop ini, untuk membuka pemahaman yang sama demi membangun perdamaian. Saya ingin bersyukur berkesempatan mengikuti ini dan ingin mengikuti kembali. InsyaAllah.

CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad Adenauer Stiftung dengan dukungan Uni Eropa menyelenggarakan Capacity Training dan Field Trip dengan tema “”Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” pada tanggal 9-12 September 2015 di Hotel Novotel Surabaya. Kegiatan ini merupakan program lanjutan dari serangkaian program “Pesantren for Peace” yang telah dilaksanakan sejak awal tahun 2015 .

Training ini diikuti oleh 30 peserta yang merupakan santri dan santri wati dari sejumlah pesantren di 6 kabupaten/kota di Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep) dan di fasilitasi oleh para Trainer (ustadz-ustadzah dari daerah tersebut) yang sebelumnya telah dibekali oleh tim PfP dalam kegiatan Training of Trainers yang dilaksanakan bulan Agustus kemarin (18-21/8). Para trainer tersebut adalah Rosifi, Musriyah, Hindun Tajri, Muhammad Khudhori, Fathullah , dan Mohammad Mosleh. Mereka semua merupakan bagian dari tim penulis modul “Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang dijadikan bahan ajar dalam training tersebut.

Dalam sambutan pembukaan Training ini, Irfan Abubakar menegaskan bahwa, "Training ini diselenggarakan untuk menjadikan para santri dan komunitas pesantren sebagai pelopor perdamaian, menyebarkan semangat Islam rahmatan lilalamien. Selain itu, untuk menyiapkan mereka agar mampu menangani konflik secara damai. Sehingga mereka diharapkan mampu melanjutkan misi kenabian, yaitu menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia melalui penghormatan terhadap hak asasi manusia." (9/9)

Hindun Tajri, Salah seorang trainer dari pesantren yang telah mengikuti Training of Trainers CSRC menekankan pentingnya Muslim menghormati HAM karena Islam diturunkan sebagai agama kemanusiaan. Salah satu nilai HAM dalam Islam adalah kebebasan bergama: laa ikraaha fi al-dien, artinya tidak ada paksaan dalam agama. Selain itu, yang juga penting adalah keseteraan laki-laki dan perempuan.

Pada hari terakhir kegiatan training ini, para peserta akan diajak untuk melakukan Field Trip ke Sekretariat Pusham Surabaya dengan didampingi oleh Ubed Abdillah Syarif, salah seorang supervisor dari CSRC yang akan membimbing para peserta untuk melakukan wawancara dan menuliskan laporan hasil pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut.

Tak ada harapan yang lebih tinggi dari serangkaian Training dan Field Trip ini, kecuali keinginan untuk membantu menambah pengetahuan dan pemahaman para santri nilai-nilai toleransi, hak asasi manusia dan perdamaian serta meningkatkan kapasitas mereka sebagai ujung tombak terdepan perubahan masyarakat agar berperilaku lebih demokratis dan dilandasi nilai-nilai damai. Semoga seluruh rangkaian kegiatan Training dan Field Trip ini berjalan dengan lancar dan sukses. Amin.

Dalam rangka merealisasikan komitmennya untuk ikut membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih damai di Negeri ini, CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa jalankan agenda penting dalam program unggulannya, “Pesantren for Peace”, agenda tersebut adalah Capacity Training dan Field Trip yang akan melibatkan 300 santri dari berbagai pondok pesantren di lima kota.

Sebelum Capacity Training ini dimulai, 30 ustadz/ustadzah yang disiapkan oleh tim PfP melalui penyeleksian dalam beberapa workshop, mengikuti Training of Trainers (TOT) terlebih dahulu, yang diselenggarakan di Hotel Via Renata Puncak (18-21/08/2015). TOT ini merupakan pembekalan untuk para ustadz sebelum terjun langsung menjadi trainer bagi para santri. Direktur CSRC, Irfan Abubakar menjelaskan “Tujuan dari TOT ini adalah untuk memastikan guru ini benar-benar siap untuk menyampaikan Modul yang telah ditulis oleh mereka dalam program selanjutnya, yaitu Capacity Training yang melibatkan 300 santri dari berbagai pesantren.”

Untuk lebih melibatkan peran pesantren dalam program ini, 150 guru yang ikut serta dalam workshop pengembangan Modul yang telah dilaksanakan sebelumnya, diminta untuk memilih 2 santri terbaik mereka (1 laki-laki, 1 perempuan) dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh tim PfP.

“Setiap sesi capacity Training akan diikuti oleh 30 santri di setiap wilayah (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan DKI Jakarta), di mana 6 ustadz/ustadzah yang terlatih akan terlibat sebagai trainer dalam setiap sesinya. Artinya, capacity training ini akan berlangsung 10 kali di lima kota tersebut atau dua kali di setiap kotanya.” Ujar koordinator program, Sholehudin A.Aziz saat diwawancarai (3/9)

Segera setelah mengikuti Capacity Training ini, para santri tersebut di ajak untuk melakukan kunjungan lapangan (Field Trip) ke 10 lokasi terjadinya konflik dan kekerasan atau pelanggaran HAM di sekitar wilayah tersebut untuk memastikan keterkaitan dua kegiatan tersebut.

Berdasarkan pengalaman KAS-CSRC dalam melaksanakan program untuk alumni Training agama dan HAM, kegiatan field trip ke lokasi terjadinya konflik dan korban pelanggaran HAM telah terbukti menjadi salah satu cara yang paling efektif bagi pemuda aktivis Muslim untuk meyakinkan masyarakat yang memiliki sikap negatif kepada kelompok minoritas untuk mengubah pikiran mereka dan memiliki sikap yang lebih baik dan positif kepada mereka. Kegiatan semacam ini akan memberikan  "pengalaman nyata" bagi para santri dalam menerapkan pengetahuan teoritis mereka pada akar penyebab intoleransi agama, konflik dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Sekretaris Program PfP, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Kegiatan Capacity Training dan field Trip ini akan di Mulai di Surabaya pada tanggal 9-12 September 2015, kemudian kami lanjut di Semarang pada tanggal 29 September – 2 oktober 2015, di Yogyakarta pada tanggal 20 – 23 Oktober 2015, di Bandung pada tanggal 10 -13 November, serta terakhir di Jakarta pada tanggal 1 – 4 Desember 2015.” Ujar Idris menjelaskan.

Jadi, inti kegiatan Capacity Training dan Field Trip ini adalah, agar 300 santri pesantren ini memiliki pengalaman yang lebih mendalam terkait pentingnya perdamaian, toleransi, dan HAM. Seusai melakukan field trip, para peserta diminta menuliskan hasil wawancara dan pengamatannya atas kunjungan ke lokasi tersebut.

Page 21 of 27