Lia Cgs

Friday, 22 May 2015 10:24

Peserta Workshop Semarang

Daftar Nama Peserta

Workshop Pesantren For Peace

Di Hotel Pandanaran Semarang

22-24 Mei 2015

 

    NO
Nama
Pesantren
 

    1
Naimatus Tsaniyah
PP Edi Mancoro

    2
Striana Farhana
PP Edi Mancoro

    3
Alfi
PP Edi Mancoro

    4
M Aris Rofiqi
PP An-Nuur

    5
Gunawan Aji Laksono
PPTI Al Falah

    6
Muhammad Nastain
PP Al Riyadloh

    7
Cholilullah
PPTI Al Asnawiyah

    8
Fahsin M Faal
PP Kyai Gading

    9
Wahyu Najib Fikri
PP Assalafiyah

    10
Imam Safrudi
PP Hidayatul Mubtadi'in

    11
M. Muhibburrohman
PP Agro Nur El Falah

    12
Taufiq Ashari
PP Edi Mancoro

    13
Mahbub
PP Nurul Asna

    14
Fakhrustiqlal
PP Al Ghufron

    15
M Sholeh Fahmi
PP Sabilul Huda

    16
Muhayat
PP Sabilul Huda

    17
M Ja'farin
PP Raudlatut Thalibin

    18
Mansur Hidayat
PP Pancasila

    19
Nashif Ubadah
PP Al Azhar

    20
Erham Masykuri
PP Al Azhar

    21
Sufyan Arif
PM Darul Amanah

    22
Zumrotul Choiriyyah
PP An Nur

    23
Minan Syarifudin
PP Al Hidayat

    24
Sunarnoto
PP Al Islah

    25
Aviv Irwansyah
PP Al Hasan

    26
Shobirin
PP Al Hasan

    27
Choirul Iman
PP Ash Shodiqiyah

    28
Fahmi Arif Dewo Putro
PP Ash Shodiqiyah

    29
Luthfi Ainun Nafiin
PP Roudlotul Furqon

    30
Abdullah Al Rosyid
PP Roudlotul Furqon

Center For the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa mengadakan Workshop untuk ustadz dan ustadzah dari pesantren-pesantren di sekitar JABOTABEK mengenai Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren yang diselenggarakan di hotel Soll Marina Serpong selama tiga hari, 18-20 Mei 2015.

Bertempat di hotel Novotel Yogyakarta, Program Pesantren For Peace (PFP) yang digagas oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan Uni Eropa mengadakan kegiatan Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren.

Sebanyak 30 Guru-guru muda Pesantren wilayah Jawa Barat mengikuti Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM, dan Perdamaian di Pesantren selama 3 hari, tanggal 18-20 Mei 2015 di Hotel Scarlet Dago, Bandung. Acara Ini diselenggarakan oleh CSRC bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa.

Workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren untuk wilayah Jawa Tengah diselenggarakan di Hotel Pandanaran Semarang selama tiga hari, 22-24 Mei 2015. Workshop yang merupakan salah satu program CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung dan Uni Eropa ini diikuti oleh 30 guru pesantren dari daerah Jawa Tengah.

Wednesday, 20 November 2013 16:54

 Islam In the Public Sphere

Islam dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Peran Gerakan Sosial Baru dalam Islam

Oleh Irfan Abubakar

 

Pendahuluan

Keberhasilan Indonesia mengubah sistem politik dari otoritarianisme menuju demokrasi dan melewati era transisi demokrasi secara relatif damai telah membawa negara ini menjadi sebuah kekuatan baru demokrasi dunia yang diperhitungkan. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia dapat disebut contoh utama, kalau bukan satu-satunya, yang berhasil menjadikan Islam dan demokrasi sebagai dua sejoli yang tak terpisahkan satu-sama lain.

Tuesday, 22 April 2014 16:38

Pelatihan Agama dan HAM (Semarang)

Namun, masih saja sering terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama yang mengatasnamakan agama, seperti kasus penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeusik dan pengusiran kelompok Syiah di Sampang, Madura. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang HAM dan sempitnya pemahaman ajaran agama merupakan dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dan konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dua faktor tersebut ditemukan di kalangan aktivis muda Muslim.

Melihat hal itu, upaya-upaya untuk memperluas pemahaman tentang nilai-nilai HAM dan hubunganya dengan Islam di kalangan aktivis muda Muslim menjadi penting. Harapanya mereka kelak bisa menjadi aktivis yang mampu mempromosikan nilai-nilai HAM di masyarakat. Pelatihan adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk mengubah pemikiran mereka tentang HAM. Untuk menunjang program pelatihan tersebut agar lebih efektif diperlukan sebuah metode yang dapat memudahkan para peserta pelatihan untuk memahami konsep dan nilai-nilai HAM. Dalam rangka membangun kesadaran aktivis muda Muslim tentang pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) berkerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Jerman, mengadakan Program Pelatihan Agama dan HAM.

Program Pelatihan Agama dan HAM telah dilakukan sejak tahun 2009. Pada tahun 2014 tepatnya tanggal 25 – 27 Februari bertempat di Hotel Pandanaran Semarang, CSRC dan KAS kembali mengadakan program pelatihan yang sama. Pelatihan ini melibatkan para peserta dari kalangan guru-guru pesantren di Kota Semarang dan sekitarnya. Para narasumber dan traineryang mengisi acara ini merupakan aktivis CSRC yang sudah sering menyampaikan materi training ini. Mereka terdiri dari Irfan Abubakar, Chaider S. Bamualim, Muchtadirin dan Siti Khadijah. Masing-masing trainer membawakan beberapa topik pembahasan yang berbeda yang terkait masalah HAM, mulai dari pengertian HAM, prinsip-prinsip HAM, kesesuaian Islam dan HAM, Perempuan dan HAM, kemudian studi kasus pelanggaran HAM di lingkungan sekitar, hingga advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Dalam penyampaian materi, penggunaaan metode yang tepat sangat diperlukan untuk memudahkan peserta memahami materi. Seperti pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, pelatihan ini menggunakan metode partisipatoris dimana masing-masing peserta diharapkan dapat berperan aktif mendiskusikan topik pembahasan. Beberapa metode yang digunakan yaitu Brainstorming, Diskusi Kelompok, Games, dan Role Play. Pada metode Role Play, peserta memerankan beberapa peran seperti menjadi aktifis HAM, pelaku pelanggaran HAM, korban pelanggaran HAM, pejabat public, anggota DPRD, dan lainnya. Metode ini biasanya diaplikasikan pada topik advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Pada tataran prinsip Islam dan HAM memiliki kesesuaian. Misalnya, Islam dan HAM mendukung kebebasan beragama. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk agama Islam. Ini disebutkan dalam Q.S. 18: 29, Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman maka ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir”. Selain itu, Islam dan HAM juga melindungi dan menghormati harkat dan martabat manusia, dan melarang diskriminasi manusia berdasarkan ras, agama, maupun jenis kelamin.

Pelatihan Agama dan HAM sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pemikiran aktivis muda Muslim tentang nilai-nilai HAM, dan menjadikan mereka sebagai agen promosi HAM di daerahnya masing-masing. Pelatihan ini juga perlu dikembangkan dan diadakan kembali di berbagai kota di Indonesia, karena secara tidak langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Sumber: csrc.or.id

Page 21 of 25