Lia Cgs

Round Table Discussion, sebuah diskusi lanjutan dari program "Pendidikan Berspektif Perdamaian di Ambon" yang diadakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan The Asia Foundation (TAF).

Diskusi pada 9 Desember 2013 di Hotel Santika BSD Serpong ini dihadiri oleh Irfan Abubakar (Direktur CSRC), Rita Pranawati (Project Officer Bina Damai Ambon) dan  peneliti CSRC yaitu Chaider S. Bualim, Ahmad Gaus AF, dan Muchtadirin. Diskusi dihadiri juga oleh Budi Munawarrahman (TAF), Abidin wakano (Konsultan Project Bina Damai Ambon), M. Miqdad (Institute Titian Perdamaian), M. Hafidz (Aman Indonesia), dan Nafi Muthohirin (Koran Sindo).

Kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan laporan riset singkat yang telah berhasil dikompilasi dan dikerangkakan oleh Irfan Abubakar (Penanggung jawab program) dan Rita Pranawati (Project Officer).

Diskusi diawali dengan sambutan Direktur CSRC Irfan Abubakar. Dalam sambutanya dia menjelaskan tentang tujuan kegiatan dan harapannya kepada para peserta diskusi agar memberikan saran dan kritik terhadap laporan tersebut.

Diskusi dilanjutkan dengan persentasi yang disampaikan oleh Irfan Abubakar dan Rita Pranawati. Dalam persentasinya Irfan Abubakar menyampaikan tentang beberapa potensi konflik terkini yang mungkin bisa menyebabkan kembalinya Ambon kedalam situasi konflik seperti tahun 1999. Sedangkan Rita Pranawati menyampaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan pendidikan berspektif perdamaian yang selama ini dijalankan di Ambon, termasuk kekurangan dan kelebihan yang ada dalam pendidikan itu.

Setelah persentasi, para peneliti menyampaikan penjelasan tambahan tentang laporan penelitian dan dilanjutkan dengan komentar umum dan masukan-masukan konstruktif yang diberikan oleh para peserta diskusi.

Dalam laporan tersebut ditemukan beberapa indikasi yang dapat memunculkan kembalinya konflik di Ambon. Salah satu indikasi yang cukup serius yaitu meningkatnya identitas keagamaan di masing-masing komunitas Muslim dan Kristen. Walaupun sekarang ini dalam suasana damai, dengan adanya indikasi-indikasi tersebut, dikhawatirkan Ambon rentan mengalami konflik komunal.

 

Sumber: csrc

Mr. Ronald Meyer dan Ms. Iris Ahr, dua orang dari Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Donor utama KAS Indonesia) bersama dengan Mr. Deniz Sertcan (Kedutaan Jerman) mengunjungi kantor Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Jum’at 6 Desember 2013. Mereka d idampingi oleh Dr. Jan Woischnik (Direktur KAS Indonesia-Timor Leste), Sarah Hasbar, dan Akim Enomoto.

Kunjungan mereka kali ini untuk lebih jauh mengenali program-program CSRC yang berkerjasama dengan KAS terutama program Pelatihan Agama dan HAM. Selain itu mereka juga mengunjungi Pondok Pesantren Darunnajah di Ulujami Jakarta Selatan. Kunjungan mereka ke Darunnajah untuk mengetahui lebih dekat tentang pesantren, dimana para peserta Pelatihan Agama dan HAM adalah Ustadz-Ustadzah pesantren.

Kunjungan dimulai dengan makan siang dan dilanjutkan dengan perkenalan para staf dan peneliti CSRC. Setelah itu dilanjutkan dengan persentasi oleh Direktur CSRC Irfan Abubakar tentang program-program CSRC berkerjasama dengan KAS. Program yang paling ditekankan pada persentasi ini adalah Pelatihan Agama dan HAM dimana dijelaskan tentang latar belakang, tujuan dan metode-metode yang digunakan dalam pelatihan. Selain itu dijelaskan juga tentang perkembangan dan kemajuan peserta setelah mengikuti pelatihan.

Setelah kunjunganya di kantor CSRC mereka melanjutkan kunjunganya ke Pondok Pesantren Darunnajah. Disana mereka melihat pesantren secara langsung dan mendapat pengetahuan lebih banyak tentang pesantren.

 

Sumber: csrc.or.id 

Nilai-nilai Hak Asasi Manusia di Indonesia belum sepenuhnya dapat diterima dan diterapkan dengan baik oleh masyarakat terutama di kalangan pesantren yang menganggap HAM bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam. Melihat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HAM, maka kehadiran para pemimpin muda Muslim yang berwawasan HAM sangat diperlukan untuk menjadi motor penggerak perubahan serta agen yang dapat mempromosikan dan memberi pemahaman tentang HAM di masyarakat. Selain itu, kurangnya skill para peserta pelatihan yang sebelumnya dalam analisis sosial dan pengorganisasian masyarakat menjadi kendala saat mempromosikan HAM. Hal ini menjadi latar belakang Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta berkerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan Religion and Human Rights Alumni-Program. Pelatihan dengan tema "Peningkatan Skill Analisis Sosial dan Pengorganisasian Masyarakat Untuk Promosi HAM" yang telah diselenggarakan di Hotel Singgasana Makassar pada tanggal 28 Oktober-1 November 2013. 

Tujuan pelatihan ini meningkatkan pengetahuan dan skill peserta dalam melakukan analisis sosial untuk promosi HAM. Selain itu, pelatihan ini juga meningkatkan pengetahuan peserta tentang pengorganisasian masyarakat untuk promosi HAM. 

Untuk mencapai tujuannya, pelatihan ini menggunakan gabungan 2 metode, yaitu pendalaman materi dan praktik. Metode yang digunakan lebih variatif dan kreatif agar seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal. Pendalaman materi melalui seminar dimaksudkan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan dari sejumlah pakar mengenai isu-isu dasar dan penting perihal analisis sosial, identifikasi kasus atau masalah, pemetaan "kawan dan lawan", teknik lobbying, dan teknik kampanye untuk promosi HAM. Sementara itu, praktik dimaksudkan untuk memberikan keterampilan bagaimana cara melakukan analisis sosial dan pengorganisasian masyarakat untuk promosi HAM. Untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan, para peserta mengunjungi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Makassar. 

Peserta pelatihan yaitu 23 orang ustadz-ustadzah pesantren alumni program pelatihan Agama dan HAM dari 21 Kota. Mereka adalah para peserta terpilih dari kegiatan advanced training periode pertama dan kedua di Bogor dan Lombok. 

Pelatihan dimulai dengan acara pembukaan dan sambutan oleh direktur CSRC Irfan Abubakar dan juga oleh Representatif KAS untuk Indonesia dan Timor-Leste Jan Woischnik. Hadir pula para pembicara yang kompeten di bidang HAM seperti Otto Nur Abdullah (KOMNAS HAM), Chaider S Bamualim (CSRC), Irfan Abubakar (CSRC UIN),  Junaidi Simun (Forum-Asia),dan Khaerul Anam (HRWG). 

Pada akhir sesi pelatihan diadakan kunjungan ke LBH Makassar. Perserta berdialog dan bertemu langsung dengan para pelaku lapangan yang berkerja menangani kasus-kasus hukum dan HAM. Mereka berdialog tentang bagaimana perjuangan, kendala dan langkah-langkah yang mereka lakukan dalam menangani kasus-kasus HAM terutama membela rakyat miskin untuk mendapatkan akses keadilan. 

Setelah pelatihan ini berakhir peserta semakin memiliki kesadaran dan komitmen untuk melakukan dan melanjutkan promosi HAM. Hal ini terlihat dari beberapa peserta yang mulai menunjukan komitmenya untuk mempromosikan HAM, dan mereka sudah mulai membuat proposal kegiatan HAM untuk dilaksanakan di daerahnya masing-masing.

 

Sumber: csrc.or.id

Presiden parlemen Jerman yang juga merupakan wakil ketua Konrad-Adenauer-Stiftung, ikut serta dalam workshop penutupan dan memuji kerjasama antara yayasan KAS dan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) dalam mendukung dan mengembangkan Islam yang moderat, yang sejak bulan Januari 2015 terus dilanjutkan dalam rangka proyek „Pesantren for Peace“ yang ikut didanai oleh Uni Eropa.

Syarat-syarat penting bagi keberhasilan penegakan HAM dan demokrasi menjadi inti dari training alumni guru pesantren ke-3 yang diadakan dari tanggal 28 Oktober hingga 1 November 2013 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari tanggal 20 hingga 24 Mei yang lalu, 24 guru pesantren dari seluruh Indonesia mengambil bagian dalam workshop alumni yang pertama. Dalam bulan-bulan mendatang para peserta ini akan dilatih menjadi multiplikator atau pengganda gagasan demokrasi dan HAM – keberhasilan awal sudah mulai tampak.

KAS Indonesia bersama dengan mitra kooperasinya, CSRC melanjutkan kegiatannya dalam bidang Hak Asasi Manusia dan toleransi melalui pelatihan selama dua hari untuk 25 guru pesantren dari provinsi Gorontalo. Dalam kegiatan ini, kembali menjadi jelas bahwa Hak Asasi Manusia dan Islam dapat berjalan beriringan.

Bekerjasama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) dari Universitas Islam Negeri (UIN) serta 24 pesantren terpilih, KAS Indonesia dan Timor Leste mengembangkan sebuah Program Alumni untuk pengembangan demokrasi dan HAM.

Page 22 of 23