Lia Cgs

Pesantrenforpeace - Dari budaya yang ada di pesantren, santri dapat menggali dan merasakan keindahan bertoleransi, kerukunan dan perdamaian. Pesantren ini sejak dahulu telah berinteraksi dengan dunia luar, yaitu dengan pesantren lain dan juga komunitas antar agama. Kyai-kyai berkumpul membuat halaqah dengan semangat belajar dan bermuamalah hasanah dengan tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda dan dari agama yang berbeda.

Ini yang disampaikan Nashif Ubbadah dalam sambutannya, mewakili pengasuh Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ny. Hj. Siti Zulaecho dalam acara Seminar Ketiga Local Day of Human Rights di Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ahad 26 Februari 2017 lalu. Seminar kali ini bertema “Penegakan Hak Asasi Manusia, Toleransi dan Membangun Perdamaian dari Pesantren”, menghadirkan 4 pembicara dari dua pesantren yang telah live in selama dua minggu di pesantren lain.

Muchtadlirin selaku perwakilan dari CSRC Uin Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya memaparkan program Pesantren for Peace yang telah berjalan beberapa kali putaran, dan masih akan berlanjut dengan program lain yang tetap melibatkan pesantren-pesantren di pulau Jawa dan Madura. Beliau juga mengatakan, bahwa keunikan sebagian pesantren dalam berinteraksi dengan dunia luar adalah kekayaan pesantren yang menunjukkan sikap toleran, inklusif, dan mau saling berbagi, hal yang susah dilakukan oleh institusi lain yang rigid dalam menyikapi perbedaan.

Kuni Muftihatun dan Hesti Setianingrum, utusan dari PP Edi Mancoro Kab. Semarang mengamati keadaan PP Al-Qur’an Babussalam Bandung. Pesantren ini selalu mendapat fitnah bahwa pesantren ini adalah markasnya kelompok Syi’ah, namun anehnya isu ini selalu berhembus rutin tiap tahun menjelang penerimaan santri baru. Selain itu pengasuhnya, Kyai Muchtar Adam difitnah bahwa beliau adalah tahanan PKI di Puloburu. Padahal beliau memang ditugaskan selama 4 tahun untuk menyuluh agama dan berdakwah kepada para tahanan PKI di Puloburu.

Kyai Muchtar Adam dalam menyelesaikan perkara-perkara tersebut sangat bijak, beliau mengklarifikasi melalui media massa. Bahkan civitas pesantren masih menjalin silaturahmi dengan oknum-oknum yang memfitnahnya. Dan pesantren membuka diri agar orang berdatangan dan menyaksikan secara langsung seluk-beluk pesantren ini, tidak sesuai dengan isu yang berhembus.

Sementara Syaifudin Zuhri dan Ati Fathurrahmawati dari PP Kyai Gading Demak memaparkan pengalaman mereka selama live in di PP An-Najah Bogor. Suatu pengalaman baru bagi mereka, karena pesantren ini adalah pesantren modern, bertolak belakang dengan pesantren asal mereka.

Mengenai kasus kekerasan terhadap ustadz di pesantren ini, disebabkan salah satu santri dihukum karena melanggar peraturan. Pulang dari pesantren, ia lapor kepada orangtuanya. Ayahnya datang ke pesantren dan mencari ustadz yang menghukum anaknya. Karena tidak terima, akhirnya ia melakukan kekerasan kepada ustadz tersebut. Setelah pihak-pihak yang berkonflik dipertemukan dalam forum islah, akhirnya pimpinan pesantren mendamaikan diantara pihak yang berseteru dan menghasilkan kesepakatan bahwa tidak boleh ada kekerasan lagi di pesantren ini.[Nashif Ubbadah]

Pesantrenforpeace - Dari budaya yang ada di pesantren, santri dapat menggali dan merasakan keindahan bertoleransi, kerukunan dan perdamaian. Pesantren ini sejak dahulu telah berinteraksi dengan dunia luar, yaitu dengan pesantren lain dan juga komunitas antar agama. Kyai-kyai berkumpul membuat halaqah dengan semangat belajar dan bermuamalah hasanah dengan tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda dan dari agama yang berbeda.

Ini yang disampaikan Nashif Ubbadah dalam sambutannya, mewakili pengasuh Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ny. Hj. Siti Zulaecho dalam acara Seminar Ketiga Local Day of Human Rights di Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ahad 26 Februari 2017 lalu. Seminar kali ini bertema “Penegakan Hak Asasi Manusia, Toleransi dan Membangun Perdamaian dari Pesantren”, menghadirkan 4 pembicara dari dua pesantren yang telah live in selama dua minggu di pesantren lain.

Muchtadlirin selaku perwakilan dari CSRC Uin Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya memaparkan program Pesantren for Peace yang telah berjalan beberapa kali putaran, dan masih akan berlanjut dengan program lain yang tetap melibatkan pesantren-pesantren di pulau Jawa dan Madura. Beliau juga mengatakan, bahwa keunikan sebagian pesantren dalam berinteraksi dengan dunia luar adalah kekayaan pesantren yang menunjukkan sikap toleran, inklusif, dan mau saling berbagi, hal yang susah dilakukan oleh institusi lain yang rigid dalam menyikapi perbedaan.

Kuni Muftihatun dan Hesti Setianingrum, utusan dari PP Edi Mancoro Kab. Semarang mengamati keadaan PP Al-Qur’an Babussalam Bandung. Pesantren ini selalu mendapat fitnah bahwa pesantren ini adalah markasnya kelompok Syi’ah, namun anehnya isu ini selalu berhembus rutin tiap tahun menjelang penerimaan santri baru. Selain itu pengasuhnya, Kyai Muchtar Adam difitnah bahwa beliau adalah tahanan PKI di Puloburu. Padahal beliau memang ditugaskan selama 4 tahun untuk menyuluh agama dan berdakwah kepada para tahanan PKI di Puloburu.

Kyai Muchtar Adam dalam menyelesaikan perkara-perkara tersebut sangat bijak, beliau mengklarifikasi melalui media massa. Bahkan civitas pesantren masih menjalin silaturahmi dengan oknum-oknum yang memfitnahnya. Dan pesantren membuka diri agar orang berdatangan dan menyaksikan secara langsung seluk-beluk pesantren ini, tidak sesuai dengan isu yang berhembus.

Sementara Syaifudin Zuhri dan Ati Fathurrahmawati dari PP Kyai Gading Demak memaparkan pengalaman mereka selama live in di PP An-Najah Bogor. Suatu pengalaman baru bagi mereka, karena pesantren ini adalah pesantren modern, bertolak belakang dengan pesantren asal mereka.

Mengenai kasus kekerasan terhadap ustadz di pesantren ini, disebabkan salah satu santri dihukum karena melanggar peraturan. Pulang dari pesantren, ia lapor kepada orangtuanya. Ayahnya datang ke pesantren dan mencari ustadz yang menghukum anaknya. Karena tidak terima, akhirnya ia melakukan kekerasan kepada ustadz tersebut. Setelah pihak-pihak yang berkonflik dipertemukan dalam forum islah, akhirnya pimpinan pesantren mendamaikan diantara pihak yang berseteru dan menghasilkan kesepakatan bahwa tidak boleh ada kekerasan lagi di pesantren ini.[Nashif Ubbadah]

Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah menyelenggarakan seminar sehari tentang toleransi dan Hak Asasi Manusia bertajuk Local Day of Human Right pada Minggu (26/2) hasil kerjasama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta. Seminar yang diselenggarakan di Aula Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah itu mengangkat tema “Menumbuhkan Peran Pesantren dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama di Indonesia.”

Hadir dalam seminar itu empat santri peserta program pertukaran santri yang difasilitasi oleh program Pesantren for Peace CSRC UIN Jakarta. Mereka adalah M. Amjad Maulana (PP. Sunan Pandanaran), Toipah (PP. Sunan Pandanaran), Zainab (PP. Nurul Ummahat), dan Siti Magfiroh (PP Al Munawwir Komplek Nurussalam).

M. Amjad Maulana dan Toipah menyampaikan proses pembangunan toleransi dan perdamaian di Pondok Pesantren Sirnarasa Ciamis tempat mereka melakukan pertukaran santri. Sementara Zainab dan Siti Magfiroh menyampaikan proses toleransi dan implementasi pembangunan perdamaian di Pondok Pesantren Madinatunnajah Ciputat, Tangerang Selatan.

Pesantren Sirnarasa mempunyai cara yang khas dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, yakni dengan membacakan tanbih atau sebuah wasiat dari seorang guru untuk muridnya dan bersifat turun temurun setiap generasi. Tanbih itu dibacakan setiap acara manaqiban layaknya pembacaan UUD pada upacara.

“Dalam tanbih disebutkan bahwa harus menyayangi orang yang membencimu. Wasiat dari guru itu tentu harus diamalkan murid-muridnya, bukan sekadar wacana melainkan pijakan untuk setiap tindakan nyata,” kata Toipah.

Sementara itu, Pondok Pesantren Madinatunnajah yang menjadi tempat Zainab dan Siti Magfiroh dalam program pertukaran santri telah mengajarkan toleransi pada kehidupan sehari-hari di pesantren. Ajaran toleransi di pesantren in mempunyai banyak ragam dari segi ibadah, sosial, maupun yang lainnya. Promosi toleransi selalu disampaikan saat kegiatan belajar, majelis taklim, seminar, khutbah, hingga saat pengabdian masyarakat.

“Para ustadz dan ustadzah selalu memberikan pandangan tentang keragaman manusia kepada para santrinya,” terang Zainab.

Dr. Suhadi dari Center for Religious and Cross-culturan Studies (SRCS) UGM yang menjadi narasumber ahli menegaskan jika toleransi sudah ada sejak zaman nabi dan sahabat. Dr. Suhadi memberikan contoh toleransi yang ada para perjanjian Hudaibiyah. Selain itu, Dr. Suhadi juga menyebut jika KH. Abdurrahman Wahid semasa hidupnya telah sering menyemai perdamaian dan toleransi.

“Gus Dur demi toleransinya rela mengunjungi semua negara yang dinilai basis negara intoleran,” ungkapnya.

Dr. Suhadi pun menegaskan jika menyikapi gerakan intoleran memang bisa berbeda-beda tergantung keberanian setiap individu. Tentunya setiap sikap yang diambil harus siap menerima hujatan dari orang yang tidak sepaham dengan pandangan kita.[LQ]

Pondok Pesantren Daruttauhid kembali menyelenggarakan seminar Local day of Human Rights untuk ketiga kalinya pada tanggal 19 Februari 2017. Kegiatan seminar ketiga ini diselenggarakan di Aula Gedung MTsN yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta No.7 Kota Bangkalan Madura Jawa timur. Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Peran Pesantren dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, HAM serta membangun perdamaian di Jawa Timur”.

Seminar ini menghadirkan lima narasumber, empat diantaranya merupakan peserta pertukaran santri, yaitu Dhiya’atul Haq dan Masluhah, santri dari PP. Assalafi Al Fithrah Kota Surabaya yang melakukan riset di PP. Nurul Ummahat Yogyakarta serta Abdul Warist dan Imam Fauroni, santri PP. Annuqoyah Guluk-guluk sumenep yang juga ditugaskan melakukan riset di PP. Edi Mancoro Semarang sedangkan narasumber yang lain adalah bapak Mahsan, SH.i, M.Pd.I salahsatu dosen di Unversitas Surabaya (UBAYA).

Acara diawali dengan pembukaan ummul qur an surat Al Fatihah dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia dalam hal ini disampaikan oleh M. Saiful Anam, M.Pd.I,. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa disetiap Negara pada umumnya, bahkan di setiap wilayah pasti pernah terjadi yang namanya konflik, entah itu Konflik sosial, antar kelompok sosial antar Negara, antar organisasi, antar partai politik Dan konflik antara individu dengan kelompok, untuk itu agar konflik tidak berkepanjangan perlu adanya sosialisasi atau penjelasan tentang pentingnya toleransi, memahami hak asasi mausia dan perdamaian, dari itu panitia sangat berterimakasih kepada koordinator program pesantren for peace yang telah memberi bantuan dana subgrant sehingga panitia bisa ikut berpartisipasi dalam mempromosikan HAM dan membangun perdamaian di Jawa Timur.

Idris Hemay, M.S.i sebagai koordinator program PFP kembali memberi sambutan dalam acara pembukaan. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia khususnya di Jawa Timur. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darut Tauhid Semampir Kota Surabaya. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, jelas idris hemay dalam pidato sambutannya, beliau menambahkan bahwa kesuksesan seseorang bukan hanya karna dia itu pintar tetapi sangat didukung dengan komitmen yang tinggi.

Para santri narasumber menceritakan pengalaman mereka setelah mengikuti program pertukaran santri. Dhiya’atul Haq dari Pesantren Assalafi Al Fithrah menuturkan pengalamannya selama di PP. Nurul Ummahat Yogyakarta. Menurutnya, Ponpes Nurul Ummahat mengajarkan para santri untuk bisa lebih berpandangan terbuka, modernis, moderat dan manusiawi dalam melihat segala perbedaan. Tentu saja ini sesuai dengan visi pondok pesantren. Ketika kita memandang dengan cara kemanusiaan, kita sudah tidak mengenal istilah mayoritas maupun minoritas. Karena semua orang harus dihormati dan dihargai tanpa memandang perbedaan. Karena dengan cara pandang itulah, yang mampu mendobrak berbagai sekat-sekat politik, teologis dan sosial. Karena tanpa itu, maka sulit bagi kita mewujudkan toleransi dan kerukunan didalam masyarakat Indonesia yang multikultural ini.  Selain itu bagaimana kita bisa merubah cara pandang kita dari cara teosentris menjadi antroposentris dalam melihat perbedaan. Karena bagaimanapun juga tidak ada titik temunya bila kita hanya melihat secara teosentris, namun bila kita lihat dari segi antroposentris, maka segalanya akan lebih masuk akal dan etis. Bukankah kita semua makhluk Tuhan dan segala perbedaan yang ada merupakan sunnatullah.

Masluhah dengan semangat berapi-api dengan khas maduranya menjelaskan peran pesantren Nurul Ummahat dalam membangun perdamaian, pesantren tersebut sangat welcome pada setiap orang yang datang untuk bertamu. Terhitung sudah 77 negara yang pernah berkunjung ke pesantren tersebut, baik itu Islam, Kristen, Konghucu bahkan yang tidak punya agama. Senada dengan Abdul Warits, Imam Fauroni dari Pesantren An Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep, mereka menambahkan perlunya masyarakat pesantren untuk melatih santri-santrinya mulai dari hal-hal yang kecil, semisal mendidik bagaimana mancari solusi konflik jika terjadi keributan antar santri yang diakibatkan pencurian sandal atau di kalangan pesantren biasa disebut ghosob.

Sebagai penguat dan narasumber pembanding, Bapak Mahsan, SH.i, M.Pd.I salah satu dosen agama di Universitas Agama di Universitas Surabaya dengan gaya bicaranya yang lembut dan tenang, berusaha merangkum semua materi dengan cukup detail dan terperinci. Menurutnya, perdamaian akan terwujud jika hak-hak setiap manusia dipenuhi. Ia memaparkan peran nyata agama Islam khususnya pesantren dalam membangun perdamaian di masyarakat. Menurutnya, Perdamaian adalah kata yang mudah diucapkan namun terkadang sulit dilakukan saat seseorang terjebak egosentris kelompok, budaya, ekonomi dan diperparah oleh pemberitaan rancu dan kebohongan,

Oleh karena itu,menurut beliau, kalimat perdamaian telah dijadikan premis pada semua langkah pembinaan di pesantren dalam upaya menciptakan kedamaian di lingkup lokal, nasional, regional dan dunia sesuai tujuan berdirinya pesantren yaitu rahmatan lil’alamin.[DT]

 

 

 

 

 

 

 

Pesantrenforpeace.com – Memasuki usianya yang kedua tahun, Pesantren for Peace mengadakan program pertukaran santri di 5 provinsi di Pulau Jawa. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program dana hibah (Subgrant) di mana pesantren penerima dana hibah kegiatan workshop di tingkat kabupaten maupun provinsi menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini, sekaligus bertanggung jawab untuk memilih 2 orang santri/santriwati (1 laki-laki dan/atau 1 perempuan) yang akan mengikuti Program Pertukaran Santri.

Sebanyak 20 santri dari 10 pesantren penerima dana hibah memulai kegiatan pertukaran santri tersebut hari ini (16/1). Ke-20 santri tersebut merupakan santri pilihan yang pernah mengikuti kegiatan training dan fieldtrip yang telah diselenggarakan tahun lalu di 5 provinsi. Berikut daftar pesantren asal dan pesantren tujuan pertukaran santri ini:

No

Asal Ponpes

Tujuan Ponpes

1.        

PP Annuqoyah (Jawa Timur)

PP Edi Mancoro (Jawa Tengah)

2.        

PP Al-Fitrah (Jawa Timur)

PP Nurul Ummahat (DI Yogyakarta)

3.        

PP Kyai Gading (Jawa Tengah)

PP An-Najah (DKI Jakarta)

4.        

PP Edi Mancoro (Jawa Tengah)

PP Al-Qur’an Babussalam (Jawa Tengah)

5.        

PP Nurul Ummahat (DI Yogyakarta)

PP Madinatunnajah (DKI Jakarta)

6.        

PP Sunan Padanaran (DI Yogyakarta)

Pesantren Sirnarasa (Jawa Barat)

7.        

Pesantren Sirnarrasa (Jawa Barat)

PP Kyai Gading (Jawa Tengah)

8.        

PP Al-Qur’an Babussalam (Jawa Barat)

PP Al-Fitrah (Jawa Timur)

9.        

PP An-Najah (DKI Jakarta)

PP Sunan Padanaran (DI Yogyakarta)

10.    

PP Madinatunnajah (DKI Jakarta)

PP Annuqoyah (Jawa Timur)

 

Selama 2 minggu (16-29/1/2016), ke-20 santri itu akan menjalankan tugas “kesantrian” di pondok pesantren tujuan. Adapun aktifitas utama selama berlangsungnya kegiatan Pertukaran Santri adalah santri mukim (2 orang peserta pertukaran santri) bertanggung jawab untuk Mencari dan menggali informasi mengenai peran pesantren dalam membangun perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai di pesantren tempat mukim (Pesantren tujuan). Kegiatan ini bersifat penelitian sederhana (mini research) di pesantren lokasi mukim yang mencakup wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi lapangan.

Tujuan kegiatan pertukaran santri ini adalah mencari dan menggali informasi mengenai peran pesantren di tempat mukim dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap hak-hak minoritas; mencari dan menggali informasi mengenai peran pesantren di tempat mukim dalam membangun perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai; Sharing pengalaman dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap hak-hak minoritas dan pembangunan perdamaian dari pesantren asal; serta tersedianya laporan hasil Pertukaran santri.

Setelah mengikuti pertukaran santri ini, para peserta pertukaran santri berkewajiban untuk mempresentasikan temuan dan hasil laporannya dalam acara seminar local day of human rights ketiga di wilayahnya masing-masing.[LH]

Wednesday, 21 December 2016 10:47

Saatnya Pesantren Jadi Duta Perdamaian

Red: Agus Yulianto

Gunadi PM

Pondok Pesantren Alquran Babussalam Bandung menggelar acara silaturahim akbar di komplek pesantrennya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (22/8). Acara ini merupakan salah satu upaya Pontren Alquran Babussalam dalam mengampanyekan kerukunan hidup

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fadhlullah Muh Said *)

Pesantren sudah saatnya tampil menjadi duta dengan missi mempromosikan perdamaian dan menebarkan 'virus-virus' ini dalam tatanan kehidupan masyarakat dari akar bawah hingga atas. Perdamaian adalah inti dan pokok seluruh ajaran agama baik agama-agama bumi (earthly religions) dan agama-agama wahyu (revealed religions). Cita-cita tertinggi semua agama adalah terwujudnya perdamaian tanpa kekerasan.

Namun pada kenyataannya, semua agama tidak selalu dapat memainkan peran tersebut. Ketiga agama yang diklaim agama Nabi Ibrahim (Abrahami religions), Yahudi, Kristianitas, dan Islam sering dipandang bahkan tertuduh sebagai agama yang lebih rawan bagi kekerasan, radikalisme, konflik, dan terorisme. Terbukti dari waktu ke waktu, agama digunakan kelompok yang memiliki agenda keagamaan dan politik tertentu untuk menyebar kebencian, konflik, kekerasan, bahkan perang.

Hal ini sulit dipungkiri, karena diberbagai belahan dunia termasuk Timur Tengah masih terjadi konflik, kekerasan, terorisme, dan perang atas nama agama. Di Indonesia sendiri mengalami kondisi ini. Kasus dugaan penistaan agama mulai berkeliaran, teror bom rumah ibadah seperti gereja mulai marak. Pelecehan ulama menjadi penyakit baru masyarakat  melalu media soial.

Pembunuhan karakter dari berbagai linik sangat terasa. Tensi dan konflik ini terjadi bukan hanya antaragama, melainkan intraagama -di antara mazhab (Sunni-Syiah dan Ibadiyah), aliran (Ahmadiyah dan Islam Jamaah), atau denominasi dalam agama tertentu. Kebencian sektarian, salah satu sumber kekerasan agama, bahkan sering disebut menjadi penyebab intoleransi agama secara kronis.

Perbedaan pemahaman dan amaliyah praktis, ritual yang bisa saja muncul secara alamiah dalam agama manapun, sepanjang sejarah sering sangat pahit, keras, dan kejam. Apalagi, pertikaian dan kekerasan sektarian hampir selalu bermuatan politis, baik dari segi kelompok agama pelaku kekerasan maupun dari segi negara. Hal ini, karena perbedaan yang ada di antara berbagai aliran dan paham dalam satu agama dan apalagi di antara agama berbeda cenderung dijadikan sebagai sumber pertikaian, dan takfiri yang sering tidak berujung.

Kenyataan ini terus berlanjut, seolah memperkuat dugaan bahwa wajah agama yang terkesan ambigu, sehingga menimbulkan skeptisisme sebagian orang pada agama. Pada satu pihak, ada wajah agama yang ditampilkan untuk  mengajarkan perdamaian, harmoni, dan hidup berdampingan di antara umat beragama yang berbeda sebagai inti dan pokok ajaran agama itu.

Tetapi, pada pihak lain, ada wajah agama yang ditampilkan oleh sebagian kecil penganutnya sebagai wajah yang sangar, dan intoleran, seolah-olah mengajarkan pertikaian dan kekerasan dengan menampilkan ketidakrukunan, tensi, konflik, dan bahkan perang. Keadaan ini, semakin membuat sebagian masyarata phobia terhadap agama dan menganggap agama bukanlah bagian dari solusi tetapi bagian dari masalah.

Sulit ditolak, sebagian orang khususnya para Islampobia menuduh bahwa agama secara inheren (mengajarkan) kekerasan telah diterima begitu saja atau diamini take of granted dan nyata dengan sendirinya self evident. Meskipun ajaran agama yang dipegangi mayoritas umat beragama saat ini adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan kecintaan. Bagian terbesar umat beragama adalah orang-orang pencinta damai yang ingin mengabdikan dirinya melalui penyerahan diri sepenuhnya (submission) kepada Tuhan untuk kemaslahatan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agamanya.

Kemajemukan Rasial dan Budaya

Sejak awal agama Islam menyadari penghadapannya dengan kemajemukan rasial dan budaya. Karena itu, ia tumbuh kembang bebas dari klaim-klaim eksklusivitas rasialistis ataupun linguistis. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, tidak pernah mentolerir pemeluknya menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan (al-ghayat). Bahkan, untuk mencapai tujuan yang baik sekalipun, umat Islam tidak ditolerir untuk menempuh jalur kekerasan, harus secara damai seperti pepatah orang Sunda 'herang cainya menang lauknya'. Maksudnya, airnya tetap jernih dan ikannya tetap dapat, artinya masalah dapat diselesaikan tanpa memperkeruh suasana meskipun prakteknya diakui amat sulit.

Dalam sejarahnya, Islam terbukti lebih banyak menampilkan perdamaian daripada pertikaian, konflik, dan peperangan. Kehadiran Islam sudah didiskenariokan oleh Tuhan menjadi agama terakhir karena kahadirannya harus mewujudkan kedamaian. Tuhan Maha Tahu bahwa problem manusia di akhir zaman adalah kedamaian. Dalam Alquran istilah perdamaian lebih banyak daripada istilah perang. Kata damai atau perdamaian terkandung dalam kata al-silm, al-salam al-Islam atau al-shulhu dan al-‘afwu dan musyawarah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu sendiri adalah agama perdamaian, bukan agama perang, lebih menekankan hidup damai daripada kekacauan.

Secara harfiah, ditegaskan dalam Alquran, bahwa pertamakali yang menyadari makna al-Islam ini sebagai inti agama yang  memberikan kedamaian, memberikan keamanan, menyelamatkan dan kepasrahan adalah Nabi Nuh as, Rasul Allah urutan ketiga dalam deretan dua puluh lima Rasul setelah Adam dan Idris. "...dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang al-muslimun (pasrah yang damai)," QS Yunus [10]:71-72.

Kesadaran al-Islam ini tumbuh dengan kuat dan tegas pada diri Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim diperintahkan ber-Islam seperti hanya Nabi Nuh, QS al-Baqarah [2]:131-132. Al-Islam ini kemudian diwasiatkan Nabi Ibrahim kepada anak dan keturunannya yaitu Nabi Ya’qub dan Israil agar tidak bergeser walaupun sejengkal atau sedetik pun hingga kematian menjemputnya. Al-Islam sebagai inti agama sebagai ajaran Nabi Musa, QS al-Maidah [5]:44 dan Yunus [10]:90. Begitu juga Nabi Isa as. Putra Maryam, beliau datang dengan membawa al-Salam (kedamaian) sebagaimana tercermin dari penuturan Nabi Isa kepada pengikutnya, QS Alu Imran [3]:52 al-Maidah [5]:111.

Atas dasar itu, al-Islam adalah inti semua agama yang benar, maka Islam menjadi landasan universal kehidupan manusia, berlaku untuk setiap manusia, dan setiap tempat dan waktu, QS Alu Imran [3]:20. Karena al-Islam merupakan titik temu semua ajaran yang benar, maka di antara sesama penganut agama kepasrahan dan kedamaian pada perinsipnya harus dibina hubungan dan pergaulan yang harmonis, damai, cinta kecuali dalam kondisi terpaksa seperti jika ada salah satu yang bertindak zalim terhadap yang lainnya. Islam menjadi nama sebuah agama sebagai pemberian Tuhan langsung. Namun ia bukan sekedar nama, tapi nama yang tumbuh karena hakekat dan inti ajaran ini adalah kepasrahan kepada Allah dan kedamaian yang penuh cinta.

Dengan itu, seorang pengikut Muhammad adalah seorang Muslim par excellence yang senantiasa sadar akan hakikat kedamaian, kepasrahan, ketulusan yaitu al-Islam. Karena kesadaran akan makna hakiki Islam itu maka al-Islam, muslim, dan umat Islam mempunyai inpulse universalisme kesatuan umat manusia, QS. Yunus [10]:19 dan al-Baqarah[2]:213. (wihdat al-insaniyah, the unity of humanity) sebagai kelanjutan konsep ke-Maha Esa-an Tuhan (wahdaniyah atau tauhid, the unity of god). Bahkan dalam perang pun, sebelum Nabi SAW perang beliau terlebih dulu mengajak lawan-lawannya berdamai. Perang terjadi ketika komunikasi sudah buntu dan terputus, negosiasi memiliki jalan buntu.

Dalam konteks perdamaian, Islam dapat dimaknai bahwa hakikat Islam adalah agama cinta yang menjunjung tinggi kedamaian. Islam adalah agama yang diturunkan Allah sejak Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan agama sebelumnya. Islam bukanlah sekte atau agama etnis, ia adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi yang terdahulu. Islam adalah agama perdamaian yang mengajarkan sikap pasrah kepada Sang Pencipta al-Khaliq Tuhan Yang Maha Esa. Kepasrahan ini tanpa membatasi hanya kepada komunitas atau kelompok agama-agama tertentu, karena itu al-Islam bersifat alami, wajar, fitri dan natural.

Bertebaran ayat-ayat Alquran serta hadis Nabi berkaitan dengan kedamaian. Agama yang disampaikan Nabi tidak dinisbatkan pada dirinya berbeda dengan agama lain karena hakikat agama yang dibawa adalah kedamaian, maka Tuhan menamakannya al-Islam. Islam dilihat dari aspek semiotika dan simantik berarti damai.

Terbukti, dalam kehidupan Nabi SAW, beliau lebih menonjolkan kedamaian daripada pertentangan, konflik dan kekerasan. Sejak awal, Nabi SAW mempertontonkan kecintaannya pada perdamaian, sikapnya selalu tampil sebagai penengah dan pembawa perdamaian baik disaat beliau tinggal di Mekah maupun di Madinah.

Pada saat Nabi SAW di Mekah, beliau telah banyak  mendamaikan kaum Quraisy. Salah satunya ketika kaum Quraish berselisih bahkan bertengkar mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajaratu al-Aswad di tempatnya semula. Demikian halnya di saat Nabi di Madinah, pertikaian suku Aus dan Khazraj secara massif dan intensif di Madinah jauh sebelum Islam hadir tanpa bisa didamaikan oleh siapapun, akibatnya tidak sedikit harta  dan darah tumpah. Namun kehadiran Nabi SAW di Madinah membawah berkah bagi kedua suku ini, termasuk umat-umat lainnya. Nabi SAW tampil menjadi pahlawan perdamaian diantara kedua suku yang bertikai. Bahkan kedua suku ini tampil menjadi pembela setia Rasulullah dan mendapatkan gelar kaum Anshar (kaum penolong).

Dalam konteks yang lain, tercermin dalam sikap Nabi SAW ketika beliau tinggal di Madinah. Beliau melakukan perjanjian dengan kelompok agama yang ada di Madinah yang dikenal shahifah al-Madinah (Piagam Madinah) dengan maksud agar saling menjaga perdamaian. Perjanjian Hudaibiyah bersama kaum Qurasy Kufar Makkah yang diprotes oleh mayoritas sahabat meskipun dari aspek kekuatan Nabi bisa melakukan pemaksaan dan melumpuhkan kekuatan kafir Quraisy kala itu.

Dalam Fathu Makkah, Nabi SAW bukan unjuk kekuatan kaum muslimin kepada oligarki Quraisy yang menguasai Makkah tetapi “long march” itu adalah prosesi religius manusia dalam menundukkan amarah. Nabi SAW mempertontonkan perang perdamaian yaitu perang manusia mengendalikan amarah seraya beliau mengumumkan bahwa siapa yang masuk Masjidil Haram akan aman, siapa yang menutup pintu dan jendela rumanya akan aman, dan siapa yang masuk berkumpul di rumah Abu Sufyan dan Umayah akan aman.

Akhlak Nabi SAW Bermuatan Perdamaian

Banyak akhlak Nabi SAW bermuatan perdamaian. Beliau menebarkan kedamaian bukan hanya di antara kaum muslimin termasuk kepada manusia pada umumnya dan makhluk lainnya. Nabi SAW menghormati jenazah orang Yahudi dengan cara berdiri sebagai ungkapan hormatnya ketika jenazah lewat di depannya, (HR Bukhari dan Muslim). Memaafkan penduduk Thaif yang telah menolak dan mengusirnya, bahkan mendoakannya supaya lahir dari sulbi mereka anak keturunan yang menyembah Tuhannya satu saat.

Memaafkan dan meminta ampunkan orang yang enggan masuk Islam. Seorang kaum Anshar minta izin kepada Rasulullah agar anaknya yang Nasrani bisa dipaksa menjadi seorang Muslim. Rasulullah menolak permintaan sahabatnya seraya membacakan surat al-Baqarah [2]:256. Rasulullah tidak pernah memukul dan menghukum kecuali setelah jelas pelanggarannya. Menghargai perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara sahabatnya termasuk dalam bacaan Alquran.

Meskipun telah terjadi peperangan dalam perjuangan dakwah Islam, tetapi Islam telah mempertontonkan perdamaian yang dikehendaki. Hal ini bisa dirujuk dalam Piagam Madinah, perjanjian Hudaibiyah, dan pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Kisah bermuatan nilai-nilai perdamaian sulit disangkal adanya. Rasulullah SAW hidup berdampingan dengan Yahudi, dan Nashrani di Madinah dan tersirat secara gamblang betapa Rasulullah SAW menghargai kerukuran hidup beragama secara damai.

Islam atau al-Islam dengan berbagai derivasinya sebagaimana makna harfiahnya menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap perinsip-prinsip perdamaian. Esensi perdamaian ini sangat penting dipahami karena umat manusia pada hakikarnya berasal dari satu garis nenek moyang yaitu Adam dan Hawa, QS al-Nisa [4]:1. Perselisihan yang terjadi harus ishlah (damai). Untuk bisa menegakkan perdamaian dan islah itu, agama memerintahkan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dan melarang kesyirikan melalui penegakan Ma’rifatullah (pengenalan dan pemantapan diri pada Allah swt.).

Islam memerintahkan untuk menegakkan kejujuran dan melarang kizib/bohong. Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya. Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka. Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim. Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka tanpa melihat agamanya, dan lain-lain.

Selain itu, Islam memerintahkan tasamuh/toleran terhadap perbedaan, memberikan penyadaran bahwa perpedaan yang terjadi adalah sunatullah,  QS al-Maidah [5]:48 sekaligus ditegaskan bahwa perbedaan itu bukanlah ukuran sebuah kehormatan dan kemuliaan, tetapi lebih pada kualitas takwanya, QS al-Hujurat [49]:13. Pada Perang Uhud, beliau yang celaka tidak mau mendoakan laknat kepada musuh-musuhnya. Bahkan beliau mengungkapkan yang artinya: “Aku tidak diutus oleh Allah sebagai pelaknat. Aku adalah seorang penyeru dan rahmat bagi manusia.” Selanjutnya Nabi berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, karena sesungguhnya mereka tak mengetahuinya.” (Hr. Al-Baihaqi)

Pendeknya, keberagaman itu mestinya senantiasa menyebarkan vibrasi damai dan kasih sayang bagi lingkungan ( rahmatan lil alamin), bukannya menyebarkan rasa sesak dan semangat untuk berantem dan mengalahkan orang lain dengan kedok agama. Setiap orang yang beragama mestinya jiwa dan badannya menjadi sehat, kehormatan dirinya terjaga, dan perilaku serta tutur katanya enak dipandang dan didengar. Mestinya dengan agama seseorang lebih percaya diri, enak bergaul, dan sehat jiwa raganya. Pendek kata, orang itu harus merasa nyaman terhadap dirinya di mana pun ia berada sekaligu memberikan rasa damai. Begitulah sikap ke;:beragaman, ibaratnya pakaian yang dia pakai ukurannya pas, serasi, dan kelihatan elok jika tidak pas pasti ada yang salah.

Berdasarkan uraian di atas, tergambarkan bahwa hakikat perdamaian yang dikehendaki Islam tidak terbatas pada zona Islam, tetapi melampaui teritorial Islam bahkan seluruh makhluk Tuhan. Peperangan dan hukuman pelanggaran bukanlah dimaksudkan untuk mentolerir kezaliman, kekerasan, konflik, tetapi sebaliknya untuk melindungi dan menolak kezaliman, intoleransi, kekerasan, konflik sesuai dengan porsinya. Semuanya ini, dimaksudkan untuk menjaga perdamaian, hidup rukun, aman dan tenang, sebagai agama yang dikenal “Islam is a religion of Peace”.

Dalam konteks itu, peningkatan peran agama dalam mempromosikan nilai-nilai perdamaian dunia perlu didukung kondisi dan iklim politik yang kondusif. Sistem dan proses politik otoriter, represif, dan tidak adil mendorong terciptanya situasi tidak damai yang penuh konflik dan kekerasan. Dengan demikian, saatnya pesantren tampil mengisi ruang ini, berperan menjadi promotor nilai-nilai perdamaian dalam berbagai forum nasional, regional, dan internasional, khususnya di wilayah Nusantara dalam berbangsa, bernegara dan beragama. Inilah sekelumis harapan perdamaian yang terurai dalam acara Pesantern for Peace baru-baru ini di Pon-Pes Alquran Babussalam al-Muchtariah Ciburial Dago Atas Bandung. Allahu ‘Alam bil al-shawab.

*) Ketua Yayasan Ponpes Babussalam Ciburial Dago Bandung

 

artikel ini dimuat di: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/16/11/30/ohgpv5396-saatnya-pesantren-jadi-duta-perdamaian

dok Republika
Sikap penuh toleransi terhadap agama lain merupakan hal esensial dalam kehidupan.
Sikap penuh toleransi terhadap agama lain merupakan hal esensial dalam kehidupan.
 

REPUBLIKA.CO.ID, DR. H Fadhlullah M Said *)

Jawa Barat ditempatkan sebagai wilayah dengan tingkat intoleransi keberagamaan tertinggi di Indonesia. Lima tahun terakhir ini, beberapa hasil riset menggambarkan, betapa wilayah tersebut sangat rentan terjadi konflik. Data terbaru disampaikan dalam Laporan Kehidupan Beragama tahun 2013 oleh Center for Religious and Cross Culture Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada yang dipublikasikan pada Kamis, 25 April 2013. Penelitian CRCS (Cholil, dkk., 2010) tahun 2009 mencatat, terdapat delapan belas kasus kekerasan yang dipicu sengketa pendirian rumah ibadah. Sedangkan tahun 2010 ini terdapat 39 kasus.

Dengan cakupan wilayah data yang relatif sama, penelitian itu menunjukan bahwa kasus di seputar rumah ibadah pada tahun 2010 itu, lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Dari 39 kasus seputar rumah ibadah, konflik atau ketegangan yang melibatkan konflik antarumat beragama masih mendominasi, yaitu 32 kasus (82 persen). Sedangkan empat kasus (10 persen) melibatkan konflik internal umat beragama seperti internal umat Muslim satu kasus, internal umat Protestan satu kasus, dan internal umat Katholik satu kasus. Sejumlah tiga kasus (8 persen) lain tidak bisa diidentifikasi.

Data tersebut menegaskan bahwa persoalan kerukunan tidak hanya melibatkan antara agama-agama yang berbeda. Namun, juga terjadi pada intra-umat beragama. Namun, angka kekerasan dan konflik yang melibatkan antar-kelompok berbeda agama jauh lebih tinggi dengan 32 kasus atau sekitar 82 persen. Sedangkan empat kasus (10 persen) melibatkan konflik internal umat beragama seperti internal umat Muslim satu kasus, internal umat Protestan satu kasus, dan internal umat Katholik satu kasus.

Data yang dikeluarkan Forum Ulama Umat Islam (FUUI) pada 2007, kemunculan aliran sesat mencapai angka 250, dengan 50 kelompok di antaranya berkembang di Jawa Barat. Kemunculan kelompok ini menjadi pemicu konflik antar kelompok agama.

Di Indonesia kemunculan aliran agama (religious subculture) kerap memicu konflik internal antar penganut agama (conflict from within). Selama rentang tahun 2003-2004 saja, tercatat hampir tiga belas peristiwa konflik antar-pemeluk agama yang dilatarbelangi kemunculan sekte, mazhab atau aliran agama. Misalnya, konflik komunitas Eden, aliran Abah Ended di Serang, Sekte Hari Kiamat, dan Al Qiyadah Al Islamiyah.

Kasus yang sama juga terjadi dalam komunitas agama Kristen. Empat kasus konflik intern Kristen yang menyita perhatian publik di Jawa Barat adalah konflik perebutan gereja di kalangan internal HKBP di Jl Riau Bandung pada 2007, HKBP di Ciketing Bekasi, penyesatan pendeta Hadassah pimpinan gereja Bethel di Jl. Lengkong, serta konflik di SMAK Dago (Farida, Anik, 2012).

Fakta tentang angka kekerasan tersebut dapat dijelaskan dengan melihat dua aspek berikut: pertama, aspek historis di mana terdapat peristiwa konflik keagamaan di Jawa Barat. Kedua, terjadinya perubahan sosial kontemporer yang terjadi di wilayah ini. Secara historis ada beberapa peristiwa konflik bernuansa agama di Jawa Barat, baik vertikal antara negara dengan masyarakat, maupun horisontal yang melibatkan sesama kelompok masyarakat.

Tingginya intoleransi di Jawa Barat juga dapat dipahami dari perubahan sosial yang terjadi di wilayah ini. Banyak kelompok sosial, kebudayaan  dan keagamaan tampil ke publik dengan identitasnya masing-masing. Kelompok keagamaan seperti Ahmadiyah dan kelompok agama minoritas yang berbasis pada nilai agama lokal menjadi relatif lebih leluasa dalam menjalankan aktivitasnya.

Konflik di Jawa Barat dapat dijelaskan dengan tadarus perubahan sosial kontemporer di wilayah ini, terutama pada wilayah-wilayah urban. Proses perpindahan penduduk yang tidak terkendali dan terkontrol dalam banyak kasus, telah menjadi salah satu faktor yang dapat memicu konflik antar etnis dan berlanjut menjadi konflik antar pemeluk agama.

Tingginya tingkat migrasi (kelompok kepentingan) disertai motivasi untuk maju, menyebabkan banyak ruang, waktu, dan sumber daya alam, telah dikuasai oleh kelompok pendatang. Pada batas tertentu, penduduk lokal terusik bahwa sejumlah sumber daya alam dan manusia telah diambil alih pendatang. Kondisi demikian dapat menimbulkan pola hubungan sosial yang timpang dan tidak seimbang antara penduduk pendatang dan penduduk lokal. Hubungan yang tidak seimbang merupakan potensi bagi munculnya konflik sosial.

Konflik merupakan kejadian yang secara alamiah selalu ada dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, agar konflik tidak mengakibatkan kekerasan dan petaka sosial maka konflik perlu dikelola dengan tepat. Mengelola konflik tidak semata-mata ditujukan bagi penghentian konflik atau penandatanganan kesepakatan antara kelompok-kelompok yang bertikai.

Lebih dari itu, manajemen konflik seyogyanya diikuti dengan pemahaman tentang hak asasi manusia (HAM) dan penanganan konflik secara damai. Upaya promosi HAM dan penanganan konflik secara damai dapat melalui seminar dan workshop. Pihak yang dilibatkan meliputi santri, ustaz/ustazah, organisasi pemuda, organisasi masyarakat, organisasi agama, remaja masjid, mubaligh, dan majlis taklim. Hal ini supaya setiap bagian masyarakat di Jawa Barat mampu menjadi pribadi yang mencintai perdamaian.

Seminar dan workshop promosi HAM dan penanganan konflik secara damai merupakan sebuah proses untuk berbagi pengetahuan dan pengembangan pemahaman. Kegiatan ini, menjadi upaya menanamkan sikap saling menghormati, toleran, penuh perdamaian, saling membantu, dan anti-kekerasan. Seminar dan workshop perdamaian yang digagas oleh Pondok Pesantren Babussalam pada 9-11 November 2016 ini bertujuan untuk mewujudkan  persaudaraan sejati di tengah perbedaan. Persaudaraan yang dilandasi dengan sikap toleransi-aktif, kejujuran, dan penghargaan terhadap kebebasan hak asasi manusia.

 

*) Ketua Yayasan Ponpes Babussalam, Ciburial, Dago, Bandung

 

Artikel ini dimuat di : http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/11/02/ofzz4v396-pesantren-sebagai-promotor-ham-dan-penanganan-konflik-secara-damai

Pesantrenforpeace.com – Bandung (27/11) Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) menggelar  diskusi panel Local Day of Human Rights kedua sebagai implementasi dari program Dana Hibah Pesantren for Peace yang diprakarsai oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan dari Uni Eropa.

Halaqoh kedua acara diskusi panel Local Day of Human Rights ini mengusung tema “Peran Pondok Pesantren dalam Inisiasi, Promosi, Advokasi, dan Implementasi Nilai-nilai HAM,Toleransi, dan Resolusi Konflik secara Damai dan Bermartabat”.

Kemajemukan Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Berbagai etnis, suku, serta agama dan beberapa aliran kepercayaan hidup di bumi yang kita cintai ini ibarat mozaik nan indah. Kemanjemukan ini membentuk falsafah hidup bangsa:  “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tapi satu jua). Namun, jika kemajemukan tersebut tidak mampu dikelola secara baik, ia menyimpan potensi konflik yang sangat besar dan dapat memporak-porandakan bangsa.

“Pondok Pesantren adalah institusi penting dalam masyarakat Indonesia yang dalam perjalanan sejarahnya telah terbukti mampu mengangkat kehidupan masyarakat di sekitarnya. Keberadaan Pondok Pesantren di tengah-tengah masyarakat memiliki kedudukan dan peranan yang sangat strategis, tidak terbatas dalam bidang pendidikan dan dakwah. Pondok pesantren secara aktif terlibat sebagai inisiator dalam membangkitkan semangat dan gairah masyarakat untuk meraih kehidupan yang lebih baik serta membangun budaya damai tanpa kekerasan”, tutur Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Dr. KH. Tatang Astarudin, S.Ag, SH, M.Si dalam sambutannya.

Keynote speaker pada kegiatan ini, Sekretaris daerah provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa menyampaikan bahwa pemerintah daerah mengapresiasi dan akan terus mendukung kegiatan-kegiatan serupa yang membantu pemerintah dalam membangun perdamaian khususnya di Jawa Barat. Menurutnya dengan keanekaragaman dan bangunan perdamaian yang kuat di Indonesia dapat menampilkan citra Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang  ramah dan cinta damai.

Narasumber dalam diskusi panel ini terdiri dari 3 orang ustadz yang terlibat dalam kegiatan workshop tingkat Provinsi dan Kabupaten, yaitu Ahmad Hidayat yang menjelaskan terdapat kearifan lokal, yakni "Tanbih" yang dapat digunakan untuk memberikan Pemahaman HAM dan Penanggulangan Konflik Secara Damai khususnya di Ciamis; Ridwan yang menyampaikan langkah-langkah dalam penyelesaian konflik; serta Ahmad Dasuki yang menjelaskan bahwa selama nilai-nilai HAM tidak bertentangan dengan Islam, HAM dapat terus untuk digali dan dihormati.

Sementara itu Narasumber Utama yakni kepala bidang pendidikan diniyyah dan pondok pesantren Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Dr. KH. Abu Bakar Sidik, M.Ag memaparkan  tentang penguasaan kedalaman pada kajian yang diajarkan di pondok pesantren akan menghadirkan sikap yang lebih arif dalam memandang perbedaan. Beliau mencontohkan ketika seorang telah banyak mengkaji kitab-kitab rujukan, maka keterbukaan pemikiran dan sikap toleransi pun akan tumbuh dan tidak mudah menyesatkan orang lain.

Diakhir acara, Dr. Chaider. S. Bamualim, MA dari pihak CSRC UIN Jakarta memberikan apresiasi tinggi ke pihak PPMU karena berhasil menggelar kegiatan ini. Diharapkan para peserta diskusi panel yang terdiri dari 30 orang ustadz dan ustadzah di kota Bandung dan sekitarnya dapat terus mempromosikan HAM dan perdamaian kepada umat dilingkungannya masing-masing.

Diskusi panel ini telah mampu untuk menguatkan tradisi peran pesantren dalam inisiasiasi dan implementasi nila-nilai HAM , toleransi dan resolusi konflik secara damai dan bermartabat ditengah gelombang kecurigaan masyarakat pada stigma pesantren sebagai ‘sarang’ radikalisme. Islam yang mencintai damai, Islam yang toleran ditengah perbedaan yang terjadi.[ppmu]

Page 4 of 23