Koleksi Naskah Khutbah Kontra Narasi Extremis

Lia Cgs

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Surabaya diselenggarakan di Hotel Quds Royal Surabaya pada tanggal 15-16 Maret 2017 yang juga menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi untuk sesi pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dan dimoderatori oleh Hindun Tajri. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Muhamad Hanif, M. Hum., Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan dimoderatori oleh Muhammad Khudhori. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP disampaikan oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si., dan dimoderatori oleh M. Saiful Anam.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan “Dari kurang lebih 90 pesantren yang terlibat dalam kegiatan sebelumnya sangat antusias dan tertarik untuk mengikuti workshop ini, tetapi karena kita terbentur dengan kuota yang harus 30 orang,  maka strategi dari partner lokal kita adalah mengundang yang kemungkinan untuk ikut pertamanya, tapi setelah itu, mendengar pesantren yang lain bahwa ada kegiatan ini, jadi mereka ikut mendaftar tetapi ya waiting list, sehingga kemudian dari 30 peserta itu  yang waiting list itu ada sekitar 10-15 pesantren, nah itu dari bentuk antusiasme mereka dalam mendaftar, karena bagi mereka persoalan mendasar yang dihadapi khususnya pesantren di jawa timur itu mereka masih lemah dalam hal melakukan berjejaring, jadi workshop ini penting bagi mereka untuk mengembangkan skill-skill dalam membangun jaringan”, ungkapnya

Idris menambahkan, “Dari sisi antusiasme peserta itu nampak misalnya, jam 8 sebelum acara dimulai itu sudah ada 28 peserta yang datang dari 30 orang, ketika acara dimulai, seluruh peserta sudah berkumpul 100% dan waktunya ontime dimulai sesuai jadwal yaitu pukul 8.30 WIB. Walaupun ada peserta dari trenggalek sana yang menempuh perjalanan lebih dari 3 jam, bahkan dia sampai pertama kali di hotel pukul 06.00 WIB. Itu bentuk komitmen dan antusias dari pesantren yang terlibat yang patut untuk diapresiasi,” tambahnya.

Kemudian dari sisi peserta, Idris melihat dari dinamika diskusi yang berlangsung ini juga menimbulkan kesan tersendiri bagi para narasumber. Contoh-contoh yang dimunculkan oleh peserta sesuai dengan konteks workshop, misalnya tentang bagaimana cara membangun jejaring dalam membantu untuk menyelesaikan permasalahan aturan pemerintah terhadap akses pendidikan bagi pengungsi syiah, itu merupakan pertanyaan yang tepat untuk dibahas dalam diskusi. Ahsan Jamet, selaku narasumber workshop mengaku sangat tertarik sekali dengan dinamika diskusi yang berkembang itu karena contoh-contohnya sesuai dengan konteks yaitu menyelesaikan konflik secara damai dan itu muncul sendiri dari peserta.[LH]

pesantrenforpeace.com – Bogor (25/02/2017) “Kegiatan seminar ini memiliki posisi yang sangat penting dalam kondisi Bangsa dan Negara seperti saat ini. Ini adalah tantangan bagi umat Islam, khususnya masyarakat pesantren, dalam menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya”, demikian pidato sambutan Pimpinan Pesantren Annur, KH. Hadiyanto Arief, SH. M.Bs. dalam acara seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan di Mini Hall Al-Hamra Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Setelah kagiatan seminar dibuka dengan lantunan Kalam Ilahi Surat Fushilat Ayat 30-34 dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, Pimpinan Pondok memberikan sambutan dengan menuturkan pengalaman pribadi dan pengalaman Pesantren Darunnajah dalam membangun perdamaian dan membina persaudaraan dunia. Menurutnya, Darunnajah sebagai pesantren yang terletak di tengah-tengah Ibu Kota Negara, selalu mejadi tuan rumah sekaligus miniatur toleransi dan persahabatan antar bangsa yang berlatar belakang suku, agama, dan budaya. Berbagai tamu mulai dari sekolah Kristen, duta besar negara-negara dunia Eropa-Amerika, bahkan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, datang silih berganti ingin menyaksikan wajah Islam Indonesia yang damai.

“Selain tamu yang datang berkunjung untuk melihat Islam lewat Darunnajah, setiap tahun kita juga mengirim santri-santri dan guru ke sekolah Kristen di Inggris, Holy Family Catholic School. Siswa-siswi sekolah di sana juga nyantri di sini selama beberapa waktu”, ujar kiai muda lulusan Bristol University tersebut.

Menyambung sambutan tuan rumah, Bapak Idris Hemay, M.Si. selaku koordinator program Pesantren for Peace, memberi apresiasi kepada keberhasilan panitia dalam menyelenggarakan acara. Menurutnya, jumlah peserta acara seminar Local Day of Human Rights kali ini adalah yang terbanyak dari sebelumnya. Lebih dari 100 peserta hadir memenuhi ruangan.

Masih menurut Idris, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia dan dunia. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darunnajah 8. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, ujar Idris dalam pidato sambutannya.

Seperti dua seminar sebelumnya, kegiatan kali ini juga mengundang peserta dari berbagai lembaga dan organisasi. Pemuda NU dan Muhammadiyah, DKM dan remaja masjid, juga sekolah dan pesantren di sekitar Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Pada seminar ke-3 ini, dihadirkan tiga narasumber yang telah mengikuti program pertukaran santri antar pesantren se-Jawa. Mereka adalah Anisa Fauziyah dan Yusron Yasir dari Pesantren Annajah Rumpin Bogor, dan Julianda Dayanti dari Pesantren Madinatunnajah Jombang Ciputat.

Anisa dan Yusron menceritakan pengalaman mereka selama tinggal selama dua minggu, 16-29 Januari 2017, di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Candi Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Menurut penuturan Anisa di depan peserta seminar, pesantren yang didirikan oleh KH. Mufid Mas’ud yang merupakan keturunan Sunan Pandanaran ke-14 ini, menerapkan budaya Jawa sebagai jalan tengah untuk menyatukan budaya yang ada. Kegiatan dialog antara anggota organisasi NU-Muhammadiyah, serta dengan pemeluk agama selain Islam juga sering diselenggarakan di pesantren ini.

Yusron, santri Pesantren An-Najah Bogor berdarah Jawa-Sunda-Batak, sangat semangat menceritakan kisahnya selama mengikuti program petukaran santri. Ia sangat bangga dan bersyukur dipilih sebagai peserta program. Menurutnya ini pengalaman yang sangat mahal, karena tidak semua santri di pondoknya mendapatkan pengalaman sepertinya. Selain rasa bangganya, ia menceritakan dengan detail peran Pesantren Sunan Pandanaran ketika menjadi mediator kasus Cebongan. Yakni kasus perseteruan antara anggota KOPASSUS TNI dengan preman di Jogjakarta yang menimbulkan konflik SARA.

Julinda, santri Pondok Pesantren Madinatunnajah, tidak mau kalah dengan cerita pengalaman dua pemateri sebelumnya. Ia menuturkan pengalamannya selama tinggal di Pesantren Annuqoyah Gulukguluk Madura. Menurut catatan Julinda, Pondok Pesantren Annuqoyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi mediator perang Sampit. Hal tersebut dapat dilakukan oleh Pesantren Annuqoyah lantaran pesantren ini telah terbiasa mendidik santri-santrinya dengan sikap saling menghargai dan menghindari sikap keegoisan yang menimbulkan perpecahan.

Sebagai narasumber pembanding, H. Robith Huda dari Pesantren Darunnajah 8 memberikan tambahan penjelasan tentang pengalaman pesantren dalam membangun perdamaian berdasarkan Hak Asasi Manusia dan Islam. Ustadz asal Madura ini menambahkan informasi tentang Pondok Pesantren Annuqoyah. Menurutnya, pesantren ini adalah salah satu yang terbesar dan tertua di Madura. Pengalaman pesantren ini dalam membina keharmonisan umat beragama sudah sangat tua, setua usia pesantren tersebut. Dengan candaan khas Madura, ustadz alumni pesantren Gontor tersebut mengubah suasana seminar seperti acara stand-up comedy.

Di akhir acara, para peserta dan pemateri beserta panitia penyelenggara seminar befoto bersama sebagai penutup kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga pukul 11.45. Tidak terasa lebih dari tiga jam peserta duduk mendengarkan pemaparan seminar yang diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dan dialog antar peserta dan narasumber. “Kapan ada seminar seperti ini lagi, Pak Ustadz?”, tanya seorang peserta kepada panitia setelah acara selesai. [aft]

Pesantrenforpeace.com - Bandung (26/2), Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adeneur-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste dengan dukungan bantuan hibah dari European Union (EU) mengadakan kegiatan Pesantren For Peace guna menguatkan tradisi dan bangunan perdamaian melalui pondok pesantren. Sebanyak 30 peserta delegasi dari berbagai pondok pesantren disekitar wilayah bandung mengikuti workshop Local day of human right yang berlangsung di Aula utama Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Kota Bandung.

Perwakilan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Junaedi Simun mengatakan, “kegiatan ini merupakan kegiatan yang bersifat riset, dimana kami menganalisis konflik seputar agama yang dilakukan di berbagai Provinsi di Pulau Jawa, Yang hasilnya digunakan untuk membuka wawasan bagi para santri dan Pondok Pesantren. Total, sekitar 70 santri dari 70 delegasi Pondok Pesantren mengikuti kegiatan Pesantren for Peace sampai saat ini”.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 kali, yakni bulan Agustus 2016, November 2016, dan Februari 2017 ini sangat di apresiasi oleh Sekretaris Kecamatan Cibiru, Didin Dikayuana. Didin mengungkapkan, “Dengan hadirnya kegiatan seperti ini selain mengajarkan toleransi, pesantren ikut berperan membantu pembangunan program Walikota Bandung, Ridwan Kamil”.

Kegiatan yang bertemakan Penguatan Jejaring Kerja Santri dan Pondok Pesantren Dalam Implementasi Nilai-Nilai HAM, Toleransi, dan Resolusi Konflik Secara Damai dan Bermatabat ini berlangsung pukul 9.30 hingga 16.30 WIB. kegiatan tersebut diisi oleh 4 presentator hasil pertukaran santri di 5 provinsi di pulau jawa, yakni Rizqi Fadillah (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Rodia Miftah  (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Citra Rahmawati (Ponpes Al Basyariah), serta Muhammad Zainal Mustafa (Ponpes Sirnarasa, Jawa Barat).

Dalam workshop tersebut, para presentator menjelaskan hasil pertukaran santri yang diberi waktu selama 2 minggu untuk menjalankan tugas kesantrian di pondok pesantren yang telah di tentukan. Dimana mereka ditugaskan untuk mencari informasi mengenai peran pesantren dalam membangun perdamaian dan resolusi konflik secara damai di pesantren tujuan.

Dari hasil workshop tersebut diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya Pondok Pesantren diharapkan mampu membangun dan meningkatkan kesadaran publik untuk meningkatkan toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai melalui menjadikan dirinya sebagai ruang publik yang netral dan damai tanpa kekerasan.

Selain itu, pondok pesantren diharapkan juga untuk terus meningkatkan komunikasi mengenai toleransi secara damai, baik dengan masyarakat, santri maupun alumni lulusan pondok pesantren agar terhindarnya stigma negatif yang beredar sebagai pandangan agama yang intoleran dan radikal. [PPMU]

Pesantrenforpeace - Dari budaya yang ada di pesantren, santri dapat menggali dan merasakan keindahan bertoleransi, kerukunan dan perdamaian. Pesantren ini sejak dahulu telah berinteraksi dengan dunia luar, yaitu dengan pesantren lain dan juga komunitas antar agama. Kyai-kyai berkumpul membuat halaqah dengan semangat belajar dan bermuamalah hasanah dengan tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda dan dari agama yang berbeda.

Ini yang disampaikan Nashif Ubbadah dalam sambutannya, mewakili pengasuh Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ny. Hj. Siti Zulaecho dalam acara Seminar Ketiga Local Day of Human Rights di Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ahad 26 Februari 2017 lalu. Seminar kali ini bertema “Penegakan Hak Asasi Manusia, Toleransi dan Membangun Perdamaian dari Pesantren”, menghadirkan 4 pembicara dari dua pesantren yang telah live in selama dua minggu di pesantren lain.

Muchtadlirin selaku perwakilan dari CSRC Uin Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya memaparkan program Pesantren for Peace yang telah berjalan beberapa kali putaran, dan masih akan berlanjut dengan program lain yang tetap melibatkan pesantren-pesantren di pulau Jawa dan Madura. Beliau juga mengatakan, bahwa keunikan sebagian pesantren dalam berinteraksi dengan dunia luar adalah kekayaan pesantren yang menunjukkan sikap toleran, inklusif, dan mau saling berbagi, hal yang susah dilakukan oleh institusi lain yang rigid dalam menyikapi perbedaan.

Kuni Muftihatun dan Hesti Setianingrum, utusan dari PP Edi Mancoro Kab. Semarang mengamati keadaan PP Al-Qur’an Babussalam Bandung. Pesantren ini selalu mendapat fitnah bahwa pesantren ini adalah markasnya kelompok Syi’ah, namun anehnya isu ini selalu berhembus rutin tiap tahun menjelang penerimaan santri baru. Selain itu pengasuhnya, Kyai Muchtar Adam difitnah bahwa beliau adalah tahanan PKI di Puloburu. Padahal beliau memang ditugaskan selama 4 tahun untuk menyuluh agama dan berdakwah kepada para tahanan PKI di Puloburu.

Kyai Muchtar Adam dalam menyelesaikan perkara-perkara tersebut sangat bijak, beliau mengklarifikasi melalui media massa. Bahkan civitas pesantren masih menjalin silaturahmi dengan oknum-oknum yang memfitnahnya. Dan pesantren membuka diri agar orang berdatangan dan menyaksikan secara langsung seluk-beluk pesantren ini, tidak sesuai dengan isu yang berhembus.

Sementara Syaifudin Zuhri dan Ati Fathurrahmawati dari PP Kyai Gading Demak memaparkan pengalaman mereka selama live in di PP An-Najah Bogor. Suatu pengalaman baru bagi mereka, karena pesantren ini adalah pesantren modern, bertolak belakang dengan pesantren asal mereka.

Mengenai kasus kekerasan terhadap ustadz di pesantren ini, disebabkan salah satu santri dihukum karena melanggar peraturan. Pulang dari pesantren, ia lapor kepada orangtuanya. Ayahnya datang ke pesantren dan mencari ustadz yang menghukum anaknya. Karena tidak terima, akhirnya ia melakukan kekerasan kepada ustadz tersebut. Setelah pihak-pihak yang berkonflik dipertemukan dalam forum islah, akhirnya pimpinan pesantren mendamaikan diantara pihak yang berseteru dan menghasilkan kesepakatan bahwa tidak boleh ada kekerasan lagi di pesantren ini.[Nashif Ubbadah]

Pesantrenforpeace - Dari budaya yang ada di pesantren, santri dapat menggali dan merasakan keindahan bertoleransi, kerukunan dan perdamaian. Pesantren ini sejak dahulu telah berinteraksi dengan dunia luar, yaitu dengan pesantren lain dan juga komunitas antar agama. Kyai-kyai berkumpul membuat halaqah dengan semangat belajar dan bermuamalah hasanah dengan tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda dan dari agama yang berbeda.

Ini yang disampaikan Nashif Ubbadah dalam sambutannya, mewakili pengasuh Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ny. Hj. Siti Zulaecho dalam acara Seminar Ketiga Local Day of Human Rights di Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ahad 26 Februari 2017 lalu. Seminar kali ini bertema “Penegakan Hak Asasi Manusia, Toleransi dan Membangun Perdamaian dari Pesantren”, menghadirkan 4 pembicara dari dua pesantren yang telah live in selama dua minggu di pesantren lain.

Muchtadlirin selaku perwakilan dari CSRC Uin Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya memaparkan program Pesantren for Peace yang telah berjalan beberapa kali putaran, dan masih akan berlanjut dengan program lain yang tetap melibatkan pesantren-pesantren di pulau Jawa dan Madura. Beliau juga mengatakan, bahwa keunikan sebagian pesantren dalam berinteraksi dengan dunia luar adalah kekayaan pesantren yang menunjukkan sikap toleran, inklusif, dan mau saling berbagi, hal yang susah dilakukan oleh institusi lain yang rigid dalam menyikapi perbedaan.

Kuni Muftihatun dan Hesti Setianingrum, utusan dari PP Edi Mancoro Kab. Semarang mengamati keadaan PP Al-Qur’an Babussalam Bandung. Pesantren ini selalu mendapat fitnah bahwa pesantren ini adalah markasnya kelompok Syi’ah, namun anehnya isu ini selalu berhembus rutin tiap tahun menjelang penerimaan santri baru. Selain itu pengasuhnya, Kyai Muchtar Adam difitnah bahwa beliau adalah tahanan PKI di Puloburu. Padahal beliau memang ditugaskan selama 4 tahun untuk menyuluh agama dan berdakwah kepada para tahanan PKI di Puloburu.

Kyai Muchtar Adam dalam menyelesaikan perkara-perkara tersebut sangat bijak, beliau mengklarifikasi melalui media massa. Bahkan civitas pesantren masih menjalin silaturahmi dengan oknum-oknum yang memfitnahnya. Dan pesantren membuka diri agar orang berdatangan dan menyaksikan secara langsung seluk-beluk pesantren ini, tidak sesuai dengan isu yang berhembus.

Sementara Syaifudin Zuhri dan Ati Fathurrahmawati dari PP Kyai Gading Demak memaparkan pengalaman mereka selama live in di PP An-Najah Bogor. Suatu pengalaman baru bagi mereka, karena pesantren ini adalah pesantren modern, bertolak belakang dengan pesantren asal mereka.

Mengenai kasus kekerasan terhadap ustadz di pesantren ini, disebabkan salah satu santri dihukum karena melanggar peraturan. Pulang dari pesantren, ia lapor kepada orangtuanya. Ayahnya datang ke pesantren dan mencari ustadz yang menghukum anaknya. Karena tidak terima, akhirnya ia melakukan kekerasan kepada ustadz tersebut. Setelah pihak-pihak yang berkonflik dipertemukan dalam forum islah, akhirnya pimpinan pesantren mendamaikan diantara pihak yang berseteru dan menghasilkan kesepakatan bahwa tidak boleh ada kekerasan lagi di pesantren ini.[Nashif Ubbadah]

Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah menyelenggarakan seminar sehari tentang toleransi dan Hak Asasi Manusia bertajuk Local Day of Human Right pada Minggu (26/2) hasil kerjasama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta. Seminar yang diselenggarakan di Aula Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah itu mengangkat tema “Menumbuhkan Peran Pesantren dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama di Indonesia.”

Hadir dalam seminar itu empat santri peserta program pertukaran santri yang difasilitasi oleh program Pesantren for Peace CSRC UIN Jakarta. Mereka adalah M. Amjad Maulana (PP. Sunan Pandanaran), Toipah (PP. Sunan Pandanaran), Zainab (PP. Nurul Ummahat), dan Siti Magfiroh (PP Al Munawwir Komplek Nurussalam).

M. Amjad Maulana dan Toipah menyampaikan proses pembangunan toleransi dan perdamaian di Pondok Pesantren Sirnarasa Ciamis tempat mereka melakukan pertukaran santri. Sementara Zainab dan Siti Magfiroh menyampaikan proses toleransi dan implementasi pembangunan perdamaian di Pondok Pesantren Madinatunnajah Ciputat, Tangerang Selatan.

Pesantren Sirnarasa mempunyai cara yang khas dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, yakni dengan membacakan tanbih atau sebuah wasiat dari seorang guru untuk muridnya dan bersifat turun temurun setiap generasi. Tanbih itu dibacakan setiap acara manaqiban layaknya pembacaan UUD pada upacara.

“Dalam tanbih disebutkan bahwa harus menyayangi orang yang membencimu. Wasiat dari guru itu tentu harus diamalkan murid-muridnya, bukan sekadar wacana melainkan pijakan untuk setiap tindakan nyata,” kata Toipah.

Sementara itu, Pondok Pesantren Madinatunnajah yang menjadi tempat Zainab dan Siti Magfiroh dalam program pertukaran santri telah mengajarkan toleransi pada kehidupan sehari-hari di pesantren. Ajaran toleransi di pesantren in mempunyai banyak ragam dari segi ibadah, sosial, maupun yang lainnya. Promosi toleransi selalu disampaikan saat kegiatan belajar, majelis taklim, seminar, khutbah, hingga saat pengabdian masyarakat.

“Para ustadz dan ustadzah selalu memberikan pandangan tentang keragaman manusia kepada para santrinya,” terang Zainab.

Dr. Suhadi dari Center for Religious and Cross-culturan Studies (SRCS) UGM yang menjadi narasumber ahli menegaskan jika toleransi sudah ada sejak zaman nabi dan sahabat. Dr. Suhadi memberikan contoh toleransi yang ada para perjanjian Hudaibiyah. Selain itu, Dr. Suhadi juga menyebut jika KH. Abdurrahman Wahid semasa hidupnya telah sering menyemai perdamaian dan toleransi.

“Gus Dur demi toleransinya rela mengunjungi semua negara yang dinilai basis negara intoleran,” ungkapnya.

Dr. Suhadi pun menegaskan jika menyikapi gerakan intoleran memang bisa berbeda-beda tergantung keberanian setiap individu. Tentunya setiap sikap yang diambil harus siap menerima hujatan dari orang yang tidak sepaham dengan pandangan kita.[LQ]

Pondok Pesantren Daruttauhid kembali menyelenggarakan seminar Local day of Human Rights untuk ketiga kalinya pada tanggal 19 Februari 2017. Kegiatan seminar ketiga ini diselenggarakan di Aula Gedung MTsN yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta No.7 Kota Bangkalan Madura Jawa timur. Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Peran Pesantren dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, HAM serta membangun perdamaian di Jawa Timur”.

Seminar ini menghadirkan lima narasumber, empat diantaranya merupakan peserta pertukaran santri, yaitu Dhiya’atul Haq dan Masluhah, santri dari PP. Assalafi Al Fithrah Kota Surabaya yang melakukan riset di PP. Nurul Ummahat Yogyakarta serta Abdul Warist dan Imam Fauroni, santri PP. Annuqoyah Guluk-guluk sumenep yang juga ditugaskan melakukan riset di PP. Edi Mancoro Semarang sedangkan narasumber yang lain adalah bapak Mahsan, SH.i, M.Pd.I salahsatu dosen di Unversitas Surabaya (UBAYA).

Acara diawali dengan pembukaan ummul qur an surat Al Fatihah dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia dalam hal ini disampaikan oleh M. Saiful Anam, M.Pd.I,. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa disetiap Negara pada umumnya, bahkan di setiap wilayah pasti pernah terjadi yang namanya konflik, entah itu Konflik sosial, antar kelompok sosial antar Negara, antar organisasi, antar partai politik Dan konflik antara individu dengan kelompok, untuk itu agar konflik tidak berkepanjangan perlu adanya sosialisasi atau penjelasan tentang pentingnya toleransi, memahami hak asasi mausia dan perdamaian, dari itu panitia sangat berterimakasih kepada koordinator program pesantren for peace yang telah memberi bantuan dana subgrant sehingga panitia bisa ikut berpartisipasi dalam mempromosikan HAM dan membangun perdamaian di Jawa Timur.

Idris Hemay, M.S.i sebagai koordinator program PFP kembali memberi sambutan dalam acara pembukaan. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia khususnya di Jawa Timur. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darut Tauhid Semampir Kota Surabaya. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, jelas idris hemay dalam pidato sambutannya, beliau menambahkan bahwa kesuksesan seseorang bukan hanya karna dia itu pintar tetapi sangat didukung dengan komitmen yang tinggi.

Para santri narasumber menceritakan pengalaman mereka setelah mengikuti program pertukaran santri. Dhiya’atul Haq dari Pesantren Assalafi Al Fithrah menuturkan pengalamannya selama di PP. Nurul Ummahat Yogyakarta. Menurutnya, Ponpes Nurul Ummahat mengajarkan para santri untuk bisa lebih berpandangan terbuka, modernis, moderat dan manusiawi dalam melihat segala perbedaan. Tentu saja ini sesuai dengan visi pondok pesantren. Ketika kita memandang dengan cara kemanusiaan, kita sudah tidak mengenal istilah mayoritas maupun minoritas. Karena semua orang harus dihormati dan dihargai tanpa memandang perbedaan. Karena dengan cara pandang itulah, yang mampu mendobrak berbagai sekat-sekat politik, teologis dan sosial. Karena tanpa itu, maka sulit bagi kita mewujudkan toleransi dan kerukunan didalam masyarakat Indonesia yang multikultural ini.  Selain itu bagaimana kita bisa merubah cara pandang kita dari cara teosentris menjadi antroposentris dalam melihat perbedaan. Karena bagaimanapun juga tidak ada titik temunya bila kita hanya melihat secara teosentris, namun bila kita lihat dari segi antroposentris, maka segalanya akan lebih masuk akal dan etis. Bukankah kita semua makhluk Tuhan dan segala perbedaan yang ada merupakan sunnatullah.

Masluhah dengan semangat berapi-api dengan khas maduranya menjelaskan peran pesantren Nurul Ummahat dalam membangun perdamaian, pesantren tersebut sangat welcome pada setiap orang yang datang untuk bertamu. Terhitung sudah 77 negara yang pernah berkunjung ke pesantren tersebut, baik itu Islam, Kristen, Konghucu bahkan yang tidak punya agama. Senada dengan Abdul Warits, Imam Fauroni dari Pesantren An Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep, mereka menambahkan perlunya masyarakat pesantren untuk melatih santri-santrinya mulai dari hal-hal yang kecil, semisal mendidik bagaimana mancari solusi konflik jika terjadi keributan antar santri yang diakibatkan pencurian sandal atau di kalangan pesantren biasa disebut ghosob.

Sebagai penguat dan narasumber pembanding, Bapak Mahsan, SH.i, M.Pd.I salah satu dosen agama di Universitas Agama di Universitas Surabaya dengan gaya bicaranya yang lembut dan tenang, berusaha merangkum semua materi dengan cukup detail dan terperinci. Menurutnya, perdamaian akan terwujud jika hak-hak setiap manusia dipenuhi. Ia memaparkan peran nyata agama Islam khususnya pesantren dalam membangun perdamaian di masyarakat. Menurutnya, Perdamaian adalah kata yang mudah diucapkan namun terkadang sulit dilakukan saat seseorang terjebak egosentris kelompok, budaya, ekonomi dan diperparah oleh pemberitaan rancu dan kebohongan,

Oleh karena itu,menurut beliau, kalimat perdamaian telah dijadikan premis pada semua langkah pembinaan di pesantren dalam upaya menciptakan kedamaian di lingkup lokal, nasional, regional dan dunia sesuai tujuan berdirinya pesantren yaitu rahmatan lil’alamin.[DT]

 

 

 

 

 

 

 

Pesantrenforpeace.com – Memasuki usianya yang kedua tahun, Pesantren for Peace mengadakan program pertukaran santri di 5 provinsi di Pulau Jawa. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program dana hibah (Subgrant) di mana pesantren penerima dana hibah kegiatan workshop di tingkat kabupaten maupun provinsi menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini, sekaligus bertanggung jawab untuk memilih 2 orang santri/santriwati (1 laki-laki dan/atau 1 perempuan) yang akan mengikuti Program Pertukaran Santri.

Sebanyak 20 santri dari 10 pesantren penerima dana hibah memulai kegiatan pertukaran santri tersebut hari ini (16/1). Ke-20 santri tersebut merupakan santri pilihan yang pernah mengikuti kegiatan training dan fieldtrip yang telah diselenggarakan tahun lalu di 5 provinsi. Berikut daftar pesantren asal dan pesantren tujuan pertukaran santri ini:

No

Asal Ponpes

Tujuan Ponpes

1.        

PP Annuqoyah (Jawa Timur)

PP Edi Mancoro (Jawa Tengah)

2.        

PP Al-Fitrah (Jawa Timur)

PP Nurul Ummahat (DI Yogyakarta)

3.        

PP Kyai Gading (Jawa Tengah)

PP An-Najah (DKI Jakarta)

4.        

PP Edi Mancoro (Jawa Tengah)

PP Al-Qur’an Babussalam (Jawa Tengah)

5.        

PP Nurul Ummahat (DI Yogyakarta)

PP Madinatunnajah (DKI Jakarta)

6.        

PP Sunan Padanaran (DI Yogyakarta)

Pesantren Sirnarasa (Jawa Barat)

7.        

Pesantren Sirnarrasa (Jawa Barat)

PP Kyai Gading (Jawa Tengah)

8.        

PP Al-Qur’an Babussalam (Jawa Barat)

PP Al-Fitrah (Jawa Timur)

9.        

PP An-Najah (DKI Jakarta)

PP Sunan Padanaran (DI Yogyakarta)

10.    

PP Madinatunnajah (DKI Jakarta)

PP Annuqoyah (Jawa Timur)

 

Selama 2 minggu (16-29/1/2016), ke-20 santri itu akan menjalankan tugas “kesantrian” di pondok pesantren tujuan. Adapun aktifitas utama selama berlangsungnya kegiatan Pertukaran Santri adalah santri mukim (2 orang peserta pertukaran santri) bertanggung jawab untuk Mencari dan menggali informasi mengenai peran pesantren dalam membangun perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai di pesantren tempat mukim (Pesantren tujuan). Kegiatan ini bersifat penelitian sederhana (mini research) di pesantren lokasi mukim yang mencakup wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi lapangan.

Tujuan kegiatan pertukaran santri ini adalah mencari dan menggali informasi mengenai peran pesantren di tempat mukim dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap hak-hak minoritas; mencari dan menggali informasi mengenai peran pesantren di tempat mukim dalam membangun perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai; Sharing pengalaman dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap hak-hak minoritas dan pembangunan perdamaian dari pesantren asal; serta tersedianya laporan hasil Pertukaran santri.

Setelah mengikuti pertukaran santri ini, para peserta pertukaran santri berkewajiban untuk mempresentasikan temuan dan hasil laporannya dalam acara seminar local day of human rights ketiga di wilayahnya masing-masing.[LH]

Page 4 of 24