Lia Cgs

Thursday, 03 November 2016 16:48

Membongkar rahasia berpikir pencinta perdamaian

  • 1. Selalu menghargai sekecil apapun usaha penyelesaian konflik secara damai
    2. Tidak memihak kubu-kubu yang berkonflik
    3. Memahami dan menghargai kepentingan kelompok-kelompok yang bertikai
    4. Tidak berkecil hati mendengar tawaran tertinggi dari kelompok yang berkonflik
    5. Menganggap tawaran tertinggi sebagai cara bernegosiasi
    6. Tidak menganggap moralitasnya lebih tinggi dari yang berantem -- semuanya sama saja memainkan peran --
    7. Tidak me-like setiap provokasi -- tapi tersenyum dalam hati saja --
    8. Mencermati setiap cara-cara kekerasan dan bersikap terhadapnya.
    9. Berpegang pada kepentingan umum dan kemanusiaan
    10. Percaya dan mendukung pemimpin yang negarawan. (kalau ada preferensi politik simpan dalam hati saja)
    11. Kalau dianggap musuh oleh yang berantem, sabar dan tersenyum dlm hati
    12. Me-like politisi yg berkualitas negarawan.
    13. Silaturrahmi diperkuat
    14. Berdoa dan selalu minta semangat dari pasangan sendiri ( suami-istri) atau pacar..:)
  • #pesantrenforpeace

Surabaya (28/10/2016) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, telah berhasil menggelar workshop tingkat Provinsi dengan Tema, “Pesantren sebagai Uswah dalam Mempromosikan HAM dan Penyelesaian Konflik secara Damai.” Workshop ini merupakan implementasi dari program dana hibah (Subgrant) Pesantren for Peace yang diinisiasi oleh Pondok Pesantren Al-Fithrah bekerja sama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dan Timor-Leste dengan dukungan Uni Eropa.

 

Acara ini dihadiri langsung oleh koordinator Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si. Melalui sambutannya, ia menyampaikan bahwa kerjasama dengan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya ini sudah dilaksanakan sebanyak empat kali. Dan kegiatan keempat ini merupakan yang paling berkesan karena dilaksanakan di Trawas Mojokerto yang bernuansa asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Selanjutnya ia menyampaikan kehadiran Pesantren for Peace adalah untuk meningkat peran pesantren dalam mempromosikan HAM dan menyelesaikan konflik secara damai. Hal ini didasari oleh masih rendahnya tingkat peran pesantren dalam menanggapi konflik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, dan masih rendahnya pemahaman masyarakat pesantren dalam memahami makna HAM dan Toleransi beragama.

Panitia penyelenggara workshop yang sekaligus mewakili Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ust. Abu Sari, M.Ag mengunkapkan bahwa kegiatan workshop ini menghadirkan 30 peserta dari 30 pesantren yang berada disekitar Provinsi Jawa Timur. Harapannya sepulang dari kegiatan workshop ini, para peserta dapat menjadi pelopor dan Uswah (Percontohan) dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai, di pesantren masing-masing.

Dalam pengantar dan perkenalan ketua panitia Ust. Fathur Rozi, M.H.I menyampaikan bahwa kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dimulai dengan seminar sejarah dan fungsi pesantren dilanjutkan dengan peran pesantren dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai dan diakhiri seminar HAM dalam hokum nasional dan Islam tiga seminar ini penting agar menambah wawasan pesantren dan kesadaran pesantren bahwa selama ini pesantren sudah mengaplikasikan promosi HAM dan penyelesaian konflik secara damai namun karena keterbatasan wawasan tentang HAM dan strategi penyelesaian konflik para pemangku pesantren belum sadar apa yang dia lakukan adalah bagian dari promosi HAM dan penyelesaian konflik secara damai. Dan pesantren pantas untuk menjadi uswah, suri tauladan untuk promosi HAM dan penyelesaian konflik.

Nara sumber dalam workshop ini adalah 6 orang yakni, H. Muhammad Musyaffa’, S.Pd.I., M.Th.I kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya; Drs. Husnul Umami, M.Pd.I dari Kementrian Agama Kota Surabaya; Imam Mustaqim MR, S,Pd.I Ketua Pokjanas Pendidikan Diniyah Formal (PDF); K.H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I, ketua Toriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah Pusat; Ahmad Khoirul Mustamir, S.Pd.I., S.H., Kepala Departemen Center of Marginal Communitias Studies (CMARs) Surabaya. Dan yang terakhir Muhammad Khudhori, M.Th.I salah seorang trainer Pesantren for Peace.

Drs. Husnul Umami, M.Pd.I dalam kesempetan ini berkenan menyampaikan sejarah pesantren, mulai cikal bakal hingga perkembangannya di masa moderen ini. Selanjutnya H. Muhammad Musyaffa’, S.Pd.I., M.Th.I menjelaskan bahwa pesantren yang merupakan peninggalan wali songo sudah seharusnya melestarikan nilai-nilai luhur tersebut sebagai ruh menyelesaikan konflik secara damai. Karena hakikat pondok pesantren terletak pada ruh dan nilai-nilai luhurnya. Yaitu, niat yang baik dan bangunan paradigma “rahmah li al-‘alamin” yang mempunyai implikasi pada berbuat ihsan (berbuat baik) dan husn al-khuluq (berprilaku baik) kepada siapa saja dan apa saja, termasuknya al-ulfah wa al-ukhuwah baik al-insaniyyah, al-Islamiyyah, al-wathaniyyah maupun al-‘ubudiyyah. Syuhud al-minnah juga termasuk nilai-nilai luhur yang tidak kalah pentingnya. Pembawaan keseharian orang yang berada di maqam syuhud al-minnah atau maqam iman akan selalu bersukur atau sabar serta selalu minta pertolongan, naungan dan perlindungan Allah swt, sehingga secara otomatis hatinya akan bersih dari penyakit maknawi seperti sombong, ‘ujub, riya’ dan yang lain.  

Imam Mustaqim MR, S,Pd.I mempresentasikan bahwa peran serta pesantren (Kyai/ustaz, santri dan masyarakat binaannya) secara aktif untuk mempromosikan hak asasi manusia yang bersifat universal tanpa membedakan suku, ras, dan agama apalagi masalah mazhab dan golongan dapat menjadi salah satu solusi dalam menyelesaikan dan mencegah konflik. Disamping itu, penyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan juga dapat dilakukan dengan cara memahami budaya, politik, ekonomi dan sosial serta akhlak mulia. Melakukan revolusi akhlak mulia untuk mereduksi konflik dengan mensinergikan akhlak dengan akidah, ibadah atau fikih.

K.H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I dalam kesempatan ini menjelaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis di masyarakat karena, hal dikarenakan pesantren di Indonesia mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim sebagai sebuah institusi yang mengajarkan cinta dan perdamaian. Untuk menyelesaiakan konflik pesantren berperan sebagai mediator yang dapat memfasilitasi kedua bilah pihak yang tengah berkonflik dengan norma-norma agama yang telah diajarkan dalam Islam.

Ahmad Khoirul Mustamir, S.Pd.I., S.H., mempresentasikan HAM dalam perspektif nasional. Menurutnya, nilai-nilai HAM sudah tercermin dalam Pancasila yang menjadi dasar negara republik Indonesia. Nilai-nilai tersebut adalah, sila pertama mencerminkan bahwa negara mengakui kehidupan beragama setiap warga negaranya untuk beribadah sesuai agama yang dianutnya. Sila kedua mencerminkan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan setiap bangsa bebas untuk bebas dari segala bentuk penjajahan; Sila ketiga, mencerminkan hasrat dan tujuan bangsa Indonesia untuk bersatu padu membangun negeri tanpa memperdulikan, ras, golongan, agama, dan status sosial rakyatnya; sila keempat, mencerminkan pengakuan harkat dan martabat manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi manusia yang terdapat dalam sila keempat meliputi hak untuk berserikat, menyuarakan pendapat, dan hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan; sila kelima, menegaskan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Sila tersebut menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kehidupan yang layak dalam hal sosial dan ekonomi. Keadilan sosial yang dimaksud dalam sila kelima juga meliputi hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan pekerjaan, dan hak milik.

Muhammad Khudhori, M.Th.I dikesempatam ini menyampaikan materi HAM dalam perspektif Islam. Ia menuturkan bahwa sebenarnya Islam sebagai agama yang membawa misi rahmat li al-‘alamin (menebarkan kasih sayang bagi semua mahluk dunia) telah menciptakan undang-undang yang bertujuan mewujudkan kemaslahatan da kesejahtraan umat manusia dengan berlandaskan al-maqasid al-shari‘ah (tujuan-tujuan penetapan hukum). dimana tujuan umum tashri‘ (penetapan hukum) dalam Islam adalah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dengan terpenuhinya hak-hak yang bersifat primer (daruriyyat), sekunder (hajiyyat) dan tersier (tahsiniyyat) mereka. Setiap hukum yang ditetapkan oleh Islam tujuan utamanya pasti tidak terlepas dari tiga hal tersebut. Hak-hak in terdiri dari hifz al-din (menjaga agama/jaminan kebebasan beragama), hifz al-nafs (menjaga jiwa/jaminan keselamatan jiwa), hifz al-‘aql (menjaga akal/jaminan kebebasan menyampaikan ide dan gagasan), hifz al-‘ird (menjaga harga diri/jaminan terhadap kemuliaan harga diri) dan hifz al-mal (menjaga harta/jaminan keamanan harta benda). Dari sinilah dia menyimpulkan bahwa nilai-nilai HAM juga termaktub dalam Islam.

Kegiatan selanjutya para peserta workshop diajak berdikusi tentang pengalaman masing-masing peserta dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai. Diskusi berlangsung sangat menarik penuh humor, namun tidak menghilangkan tujuan utama dari diskusi. Hal ini dibuktikan dengan hasil diskusi yang berkualitas dan disampaikan secara menarik dari setiap kelompok. Diakhir workshop para peserta berharap hasil diskusi yang telah dirumuskan dapat disampaikan dan direalisasikan oleh setiap pondok dinusantara dan  Jawa Timur khususnya. Dan kegiatan seperti ini dapat berlangsung secara terus menerus sehingga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat pesantren terhadap penting dan bahayanya pelanggaran HAM dan membiarkan konflik berlarut-larut.

Sebelum peserta presentasi dari hasil diskusi kelompok masing masing, karena bertepatan dengan malam jumat, semua peserta melestarikan tradisi pessantren yaitu dengan bersama sama melakukan istighotsah, pembacaan yasin dan tahlil dan diakhiri dengan pembacaan maulid, ini dilakuakan untuk meningkatkan kecerdasan sepiritual mereka disamping dua hari penuh dilakukan seminar dan diskusi untuk meningkatkan kecerdasan intlektual.

Salah seorang peserta juga menyampaikan sangat terkesan sekali dengan workshop ini, menurutnya “dia belum pernah ada workshop yang diisi dengan acara istighosah, yasin, tahlil dan pembacaan maulidur rasul, hal ini menunjukkan bahwa workshop ini tidak hanya menanamkan nilai-nilai intelektual tapi juga nilai-nilai spiritual.”

Rumusan hasil diskusi tentang pengalaman pesantren dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai dirumuskan oleh fasilitator dimalam hari setelah presentasi peserta dengan kesimpulan bahwa pengalaman pesantren dalam mempromosikan HAM yaitu; 1. Mempromosikan HAM melalui materi pelajaran Ushul Fiqih tentang HAM dalam Islam, 2. Mempromosikan HAK Pendidikan, dengan bentuk  menerima anak-anak berkebutuhan khusus Rehabilitasi moral, memberikan  biaya bagi  anak yatim piatu, Menampung korban konflik  anak  Sambas, Menampung anak-anak yang telat belajar, Bebas biaya pendidikan bagi para muallaf, 3. Memperomosikan HAM melalui Pemenuhan Hak ekonomi masyarakat yang kurang mampu di dua desa sekitar pesantren dengan bentuk menjadi mediator antara masyarakat dan pejabat pemerintah, 4. Mempromosikan toleransi intra dan antar umat beragama.  5. Mempromosikan HAM melalui tata tertib pesantren, seperti larangan berbuat asusila, mencuri, bullying, atau tindak kriminal  yang dapat menciderai hak orang lain.

Adapun pengalam pesantren dalam menyelesaikan konflik secara damai dirumuskan 1. Bentuk bentuk konflik yang terjadi dipesantren dan 2. Pengalaman pesantren dalam penyelesaian konfli yaitu a. Melakukan klarifikasi (tabayyun) b. Melakukan negosiasi, c. Melakukan dialog d.Menjalin kerjasama dengan lembaga hukum, d. Meminimalisir peluang melebarnya konflik dengan cara memperbanyak pengajian di setiap titik  rawan. [Fathur Rozi/LH]

 

 

 

Pesantrenforpeace.com - Ciamis, Jawa Barat (21-23/9) Pesantren Sirnarasa yang berlokasi di Dusun Cisirri, Ciamis sukses menggelar Workshop Best Practices Tingkat Kabupaten yang merupakan implementasi dari Dana Hibah Pesantren for Peace. Program Pesantren for Peace ini terlaksana atas kerja sama dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa.

Workshop ini mengambil tema “Memahami Tanbih dan Pengaruhnya Terhadap Pemahaman HAM serta Penanggulangan Konflik Secara Damai”. Tema ini diambil karena teks Tanbih memuat nilai-nilai HAM sehingga perlu disosialisasikan dan dibahas bersama agar pengaruhnya bisa diterima oleh banyak orang. Hadir dalam workshop ini 38 peserta yang merupakan ustadz, ustadzah, dan santri perwakilan dari 38 Pesantren di sekitar Kabupaten Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, Garut dan Kuningan dengan usia 22-35 tahun.

Workshop Tingkat Kabupaten di Pesantren  Sirnarasa ini dibuka oleh Ketua Yayasan Sirnarasa Cisirri, KH. Dadang Muliawan, M.Sos., Rabu (21/9) pukul 11.00. Acara pembukaan ini juga dihadiri langsung oleh sesepuh Pesantren, Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul. Suasana khidmat dibalut dengan penampilan-penampilan kreasi seni dari santri Pesantren Sirnarasa, seperti tari saman dan musik tek-tek sebagai bagian dari penyambutan terhadap peserta dan tamu undangan, membuat workshop ini lain dari pada yang lain.

Materi workshop ini terdiri dari 6 sesi yang disampaikan oleh narasumber yang pakar di bidangnya. Materi pertama, Mengenal dan memahami Tanbih disampaikan oleh Kyai Ali Nurdin; materi kedua, memahami Hak Asasi Manusia disampaikan oleh Dr. KH. Fadhlullah M Said, MA; materi ketiga, Tanbih dalam perspektif HAM oleh Dr. Chaider S Bamuallim, MA; materi keempat, Tanbih untuk peradaban dunia disampaikan oleh KH. Dadang Muliawan, M.Sos; materi kelima, memahami konflik dan penanganannya versi Tanbih disampaikan oleh Ucup Fathudin Al-Maárif, M.Ag; dan terakhir, sesi diskusi yang difasilitatori oleh KH. Didin Solehudin, M.Sos., Danial Lutfi, M.Sos., dan Subhan Firdaus, M.Sos.

Dalam uraiannya, Chaider S. Bamualim menyatakan bahwa Tanbih dapat dijadikan sebagai jalan untuk memahami dan menghormati nilai-nilai HAM. Nilai-nilai universal yang terdapat dalam tanbih dianggap mampu menghantarkan seseorang untuk lebih menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan bisa dijadikan sebagai pedoman dalam resolusi konflik. Tanbih yang biasanya hanya dibahas di kalangan ikhwan (pengikut) TQN (Tariqat Qadariyah Naqsabandiyah) Pondok Pesantren Suryalaya, pada workshop kali ini menjadi bahasan di kalangan non ikhwan. Hal ini penting untuk melihat perspektif Tanbih dari orang di luar ikhwan TQN. Hasilnya, perspektif baik dari kalangan ikhwan maupun non-ikhwan tidak terlalu jauh berbeda.

Hal unik yang menjadi ciri khas workshop di Pesantren Sirnarasa ini, di setiap pergantian sesi disajikan penampilan kreasi seni dari para santri sekitar 5-10 menit, sehingga peserta tidak jenuh dan menambah semangat mengikuti sesi. Selain itu, di malam terakhir workshop, peserta dan panitia menggelar malam perdamaian yang diisi dengan muhasabah, sholat sunnat taubat dan talqin dzikir. Pagi harinya dipungkas dengan penyampaian pesan-pesan kebaikan dari sesepuh pesantren Sirnarasa yang sekaligus juga Mursyid TQN PP. Suryalaya. Selain mendapatkan ilmu dzohir, peserta juga mendapatkan ilmu ruhani untuk mensucikan jiwanya dari workshop ini peserta dan mendapatkan ijazah TQN PP. Suryalaya. [Ade Muslih/LH]

Pesantrenforpeace.com - Sumenep, Jawa Timur (26-29/09), Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk gelar Workshop best practices tingkat kabupaten dengan tema “Pesantren dan Implementasi Islam Rahmatan lil Alamin” di Ruang Pertemuan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Kegiatan tersebut terselenggara  atas kerjasama Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dengan dukungan dari Uni Eropa. Workshop ini terselenggara sebagai implementasi dari program dana hibah (subgrant) Pesantren for Peace. Hadir dalam workshop ini perwakilan dari CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Idris Hemay dan Efrida Yasni serta dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Sarah Sabina Hasbar.

Dalam kesempatan tersebut, Idris Hemay menyampaikan bahwa Pesantren for Peace bertujuan untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting kelompok Islam Indonesia yang moderat dalam rangka menegakkan dan memajukan nilai-nilai hak asasi manusia, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia melalui pondok pesantren. Workshop ini hanya salah satu dari sekian kegiatan yang dilakukan oleh Pesantren for Peace di lima provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Pelaksanaan Workshop nantinya akan dilanjutkan dengan pertukaran santri antarpesantren yang mengikuti program ini.  

Drs. KH. Washil M.Pd.I dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa saatnya pesantren memainkan peran penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang damai. Sejak zaman Nabi Muhammad hingga masuknya Islam ke Indonesia Islam selalu menggunakan cara-cara damai dan menghindari cara-cara kekerasan. Dan Islam di Indonesia sangatlah berbeda dengan negara-negara Islam di Timur Tengah yang saat ini tengah berkonflik.

Ach. Khotib, M.Pd.I, ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta dari 20 pesantren se-Kabupaten Sumenep. Dalam pelaksanaan Workhsop ada 6 materi yang disampaikan, meliputi Studium General: Pesantren dan Implementasi Islam Rahmatan lil Alamin yang disampaikan oleh Dr. Ach. Maimun, M.Ag; Materi I: Konsep Perdamaian dalam Islam yang disampaikan oleh M. Musthafa, M.A; Materi II: HAM dalam Islam yang disampaikan oleh K. Halimi, S.E, M.Pd.I; Materi III: Konflik dan Resolusi Konflik dalam Islam yang disampaikan oleh Fathur Rachman, M.Pd; Materi IV: Strategi Pesantren dalam Membendung Radikalisme yang disampaikan oleh Hj. Dewi Kholifah, SH.; dan Materi V: Nilai dan Tradisi Pesantren tentang Perdamaian serta Strategi Taktis Pengembangannya yang disampaikan oleh KH. Ilyas Siradj, SH., M.Ag. Ia juga menambahkan bahwa selepas kegiatan Workshop ini, santri atau pengurus yang diutus dalam kegiatan ini diharapkan dapat menularkan ilmunya kepada santri yang lain agar pesantren nantinya benar-benar bisa menjadi agen Islam rahmatan lil Alamin di pesantren masing-masing.

Sementara itu, Dr. Ach. Maimun, M.Ag dalam Studium General menyampaikan bahwa rahmatan lil Alamin oleh ulama, salah satunya dimaknai dengan rahmat kepada semua manusia, baik Muslim maupun non-muslim. Bahkan, ada pula ulama yang memaknai “alam” itu berarti semua makhluk. Jadi Islam tidak hanya menjadi rahmat bagi manusia, tapi juga makhluk Allah yang lain seperti tumbuhan, hewan dan lainnya. Dalam pemaknaan ini, Islam menjadi agama yang memberikan kedamaian kepada seluruh alam, seluruh makhluk Allah meliputi manusia, hewan, tumbuhan dan semuanya. Dalam kerangka ini, ulama sebagai penerus nabi, mempunyai tugas untuk menyampaikan Islam kepada orang lain dengan mata kasih sayang, bukan dengan mata kebencian. Karenanya, prinsip penyampaian Islam melalui cara-cara bijaksana, dengan mauidzhah hasanah dan juga argumentasi yang mumpuni. Bukan malah dengan jalan kekerasan, permusuhan, dan penuh kebencian. Itulah Islam rahmata lil Alamin, yang dicontohkan oleh Nabi dan dilanjutkan oleh kyai pesantren hingga saat ini. 

Sedangkan KH. Ilyas Shiradj, SH., M.Ag, Pengasuh PP. Nurul Islam Karangcempaka dalam sesinya menyampaikan bahwa “Pesantren harus kuat membentengi diri agar tidak tersusupi paham-paham radikal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dengan cara meningkatkan pengetahuan dan membangun jejaring antar pesantren.” tuturnya [Tim Annuqayah/LH]

Pesantrenforpeace.com - Hotel Pramesthi, Yogyakarta (17-18/9) Pondok Pesantren Putri Nurul Ummahat Kotagede selenggarakan workshop best practices tingkat kabupaten dengan tema “Peran Pesantren dalam Mempromosikan Toleransi dan HAM: Upaya Membangun Perdamaian Dunia dari Jogja untuk Kemajuan Indonesia. Workshop ini merupakan implementasi dari program dana hibah (Subgrant) Pesantren for Peace yang bekerja sama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia serta Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dan Timor-Leste dengan dukungan Uni Eropa.

Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan “Jogja berhati nyaman” atau “Jogja city of toleran” akhir-akhir ini mulai tergerus karena banyaknya aksi intoleran yang kerap kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dengan latar belakang masyarakat Yogyakarta yang heterogen, sebagai miniatur Indonesia, Yogyakarta menjadi tantangan sekaligus harapan besar untuk kota-kota lain yang ada di Indonesia. Dengan adanya kasus-kasus tersebut, pesantren tidak lagi hanya berfungsi untuk mengajarkan ilmu agama, akan tetapi juga mengayomi masyarakat dan ikut serta dalam menyebarkan cinta kasih dan perdamaian untuk bangsa Indonesia

Beberapa pesantren dan organisasi-organisasi Islam yang berjumlah 30 peserta turut hadir dalam acara workshop yang berlangsung selama 2 hari 1 malam tersebut. Dengan menghadirkan 4 narasumber yaitu Dr. Muhammad Wildan, Dosen UIN Sunan Kalijaga; K.H Abdul Muhaimin, Pengasuh PPP. Nurul Ummahat;  Abdul Mu’thi Fithriyanto dan Kang Jadul Maula.

Dalam pemaparannya, K.H Abdul Muhaimin menyampaikan bahwa agama Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Agama yang mengayomi semua umat manusia. Disebutkan dalam surat Al Isra ayat 170, “Dan sungguh, kami telah memuliakan anak cucu Adam”. Ayat tersebut mengacu kepada umat manusia tanpa membedakan suku, ras, maupun agama. Beliau juga menyebutkan bahwa agama Islam, sejak zaman Nabi Muhammad sudah mengajarkan HAM. Dalam meperlakukan wanita contohnya, ketika wanita secara sosiologis tidak mempuyai tempat, Islam memuliakan wanita dan menghormati hak-haknya. Di pembahasaan lain, beliau juga menyebutkan bahwa pesantren adalah lembaga yang tak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi dapat berakulturasi, berakomodasi dan berkolaborasi dengan masyarakat.

Dr. Muhammad Wildan, dosen UIN Sunan Kalijaga dalam sesinya membahas tentang peta situasi sosial keagamaan Yogyakarta, khususnya tentang isu toleransi keberagamaan. Secara khusus, meskipun dikenal sebagai kota yang toleran, Yogyakarta mempunyai beberapa kasus kekerasan beragama yang cukup tinggi (versi Wahid Institute, no.2 tertinggi di Indonesia), terutama setelah munculnya kelompok-kelompok islam garis keras.

Dilanjutkan dengan sesi yang diisi oleh Kang Jadul Maula yang membahas Prinsip HAM dengan mendekonstruksi sejarah dan pemahaman HAM. “Pada dasarnya sudah ada dalam tradisi lokal nilai-nilai kemanusiaan sejak lebih dari 500 tahun yang lalu, jauh sebelum DUHAM ada”, ujarnya. “Dalam tradisi Sunda misalnya, yang mempunyai prinsip ‘Silih asah, silih asih, silih asuh’, Jawa dengan prinsip ‘tepo seliro’, begitu pula dengan pesantren yang memiliki prinsip ‘maslahat’. Hanya saja, tugas kita adalah untuk pintan menggali nilai-nilai yang ada di masayarakat supaya menjadi pedoman kita dalam mempromosikan HAM”, tambahnya.

Menjelang sore hari, para peserta diajak untuk  berdiskusi atau ngobras yang difasilitatori oleh Ade Supriyadi, Ahmad Afrizal dan Wardah. Tema yang diangkat dalam diskusi ini yaitu mengenai situasi terkini promosi HAM, Toleransi antar umat beragama di Yogyakarta, serta Peran Pesantren dalam  Mempromosikan Toleransi dan HAM di Yogyakarta.

Dari hasil diskusi yang beranggotakan 10 orang dalam tiap kelompoknya, disimpulkan bahwa agama dan negara mengalami benturan dalam praktek sosial karena kepentingan politik yang pada akhirnya mengkambinghitamkan agama. Maka dari itu, pesantren yang mempunyai basis agama yang kuat dan dapat menyentuh masyarakat secara langsung diharapkan dapat menjadi media dan problem solver dalam mengatasi intoleransi agama di Yogyakarta yang dijuluki Jogja City Of  Tolerant”. Pesantren yang  menjadi miniatur kehidupan, dapat menjadi contoh bagaimana seharusnya hubungan antar agama, antar manusia maupun antar alam semesta.

Di akhir acara, para peserta sangat mengapresiasi acara workshop tersebut. peserta sangat mengharapkan ada aksi lanjutan untuk menjadikan Yogyakarta, Pesantren maupun pemerintah tetap bersatu dalam menyatukan berbagai agama untuk kedamaian dan kenyaman Yogyakarta yang berhati nyaman, bukan Yogyakarta yang berhenti nyaman. [Minhatul Maula/LH]

Monday, 03 October 2016 09:55

Santri Demak Deklarasikan Tolak Radikalisme

DutaIslam.com - Sebanyak 30 santri yang merupakan perwakilan dari 30 Pondok Pesantren se-Kabupaten Demak mendeklarasikan Cinta Perdamaian dan Menolak Tindakan Radikalisme. Hal itu diikrarkan oleh para peserta di Aula Masjid Agung Demak pada hari Ahad, 25 September kemarin.

Deklarasi tersebut merupakan puncak kegiatan acara Workhsop Pesantren for Peace Tingkat Kabupaten yang diselenggarakan di Hotel Amantis semenjak Jum’at, 23 September sampai Ahad, 25 September 2016.

Workshop yang mengambil tema “Menyemai Toleransi, Menumbuhkan Perdamaian Abadi” tersebut diselenggarakan atas kerjasama Uni Eropa, KAS Jerman, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Pon-Pes kiyai Gading Mranggen Demak sebagi panitia lokal.

Sebelum acara deklarasi, peserta diajak untuk berziarah ke Makam Raden Patah dan mengunjungi Museum. Dalam kunjungan ke Museum ke Kota Wali tersebut peserta diperlihatkan bagaimana peran Walisongo dalam menyebarkan Islam di Bumi Nusantara dengan penuh perdamaian, dan tanpa melakukan penindasan kepada pemeluk agama lain. Agama Islam disebarkan oleh para Walisongo dengan tetap menghormati dan menyatu dengan kebudayaan-kebudayaan lokal.

Setelah berdiskusi sejenak, oleh panitia, para peserta diajak ke Aula Masjid Agung Demak untuk membacakan deklarasi Perdamaian dan Tolak Radikalisme. Panitia Lokal sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Kiyai Gading Mranggen Demak, Fahsin M Faal mengatakan  bahwa deklarasi yang dibacakan oleh para peserta merupakan bentuk penegasan kembali bahwa pesantren-pesantren di Kabupaten Demak yang selama ini dikenal penuh cinta perdamaian, toleransi, serta menyebarkan nilai-nilai rahmatan lil alamin.

"Pesantren-pesantren tersebut semenjak dahulu dan yang akan datang akan selalu berperan mengawal tegaknya NKRI serta menolak penyebaran faham-faham radikalisme dan faham yang dapat menggerogoti nilai-nilai pancasila," imbuhnya.

Adapun bunyi deklarasi yang dibacakan tersebut adalah sebagai berikut

Bismillaahirrahmaanirrahim,

Atas Nama Cinta Perdamaian

Dengan mengucapkan Asma Allah yang Rahman dan Rahim; yang memiliki  banyak sebutan namun Satu Ada-Nya; dengan tidak membedakan Tuhan karena perbedaan agama; yang merupakan jalan-jalan yang berbeda untuk menuju tuhan yang sama, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.

Kami Santri Indonesia yang lahir dalam keluarga muslim, dibesarkan dan dididik dengan nilai-nilai Islami yang universal dan merupakan rahmat bagi seluruh alam, bersama ini kami mendeklarasikan:

Satu, kami menolak segala macam dan bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama, dalam hal ini khususnya agama Islam.

Dua, kami menolak pemaksaan pemahaman atas nama Islam dengan cara intimidasi yang dilakukan oleh para penganut kekerasan.

Tiga, kami akan ikut berpartisipasi aktif dalam penanaman nilai-nilai Hak Asasi Manusia  (HAM) di tengah-tengah pesantren dan masyarakat.

Empat, kami akan ikut berperan aktif dalam pencegahan dan penanganan konflik di tengah-tengah masyarakat, dengan tetap menjunjung tinggi rasa toleransi, persaudaraan, serta penghormatan atas hak-hak orang lain.

La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim. Alfatihah.

Deklarasi Perdamaian dan Tolak Radikalisme

 

 

Hadir dalam pembacaan deklarasi perwakilan KAS Jerman dan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, para pemateri, fasilitator serta segenap panitia lokal. Kegiatan tersebut juga menarik perhatian banyak pengunjung yang sedang berziarah untuk ikut menyaksikan pembacaan deklarasi. [dutaislam.com/ julius hisna/muhammad najmuddin huda]

 

Source: KBAswaja

Berita ini dimuat di : http://www.dutaislam.com/2016/09/santri-demak-deklarasikan-tolak-radikalisme.html

Monday, 26 September 2016 14:28

Jadikan Santri Sebagai Duta Perdamaian

Berita Workshop Demak dimuat di harian Jawa Pos, Senin, 26 September 2016

DEMAK – Maraknya peperangan terjadi di bumi ini, bahkan konflik sosial di Indonesia tentunya menjadi keprihatinan. Semua pemicu konflik tersebut terindikasi tiadanya lagi toleransi antarumat, utamanya terkait Hak Asasi Manusia (HAM).

Sehubungan itu workshop Pesantren for Peace digelar Pondok Pesantren (Ponpes) Kyai Gading Mranggen bekerja sama CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Konrad-Adenauer-Stiftung untuk Jakarta dan Timor Leste dengan dukungan dari Uni Eropa. Dimaksudkan meningkatkan peran pesantren dalam mempromosikan sekaligus mengadvokasikan nilai toleransi, HAM serta penyelesaian konflik secara damai.

Panitia penyelenggara sekaligus pengasuh Ponpes Kyai Gading, Fahsin M Faal menuturkan, selain mengawal Islam melalui dakwah, pesantren sebagai lembaga pendidikan turut andil memperkuat nilai dasar Islam pada kehidupan kultural, ekonomi, dan sosial politik. Sehubungan peran strategis pesantren itulah maka sudah tepat menjadikan ponpes wahana menyemai toleransi dan menjunjung tinggi HAM.

“Bahkan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin sudah selaiknya perdamaian digelorakan mulai dari bilik pesantren. Atau dengan kata lain menjadikan santri sebagai duta perdamaian,” ucapnya, Minggu (25/9).

Di sisi lain, Koordinator Pesantren for Peace Idris Hemay menambahkan, ditilik dari perannya pesantren tidak hanya mendidik umat, namun juga ikut serta menciptakan perdamaian. Maka itu pesantren pun turut berperan menegakkan HAM utamanya dalam penyelesaian konflik secara damai. Maka itu inti dari workshop Pesantren for Peace adalah menyemai generasi toleransi, menumbuhkan perdamaian abadi.

Sementara Bupati HM Natsir menuturkan, toleransi telah ada di negeri ini sejak ada istilah Bhinneka Tunggal Ika. Maka itu pluralisme tumbuh subur dan bisa hidup berdampingan, tanpa sedikitpun muncul konflik. Hingga datangnya penjajahan yang sengaja menggunakan politik adu domba untuk menghancurkan perdamaian di bumi nusantara. ssi/SR

Pesantrenforpeace.com – Jakarta (17-18/9). Pondok Pesantren Annajah Rumpin Bogor selenggarakan workshop tingkat Kabupaten untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya dengan tema “Kesadaran Multikultural, Toleransi, dan HAM dalam Kehidupan Beragama.” Kegiatan yang merupakan bagian dari program Pesantren for Peace ini, diusung oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dengan dukungan Uni Eropa (EU). Diharapkan melalui workshop ini, akan meningkatnya peran pesantren di Jakarta dan sekitarnya serta terbangunnya kesadaran publik dalam rangka mempromosikan dan mengadvokasikan nilai-nilai kesadaran multikultural, toleransi dan HAM sebagai bentuk upaya penanganan konflik dalam kehidupan beragama.

Workshop yang melibatkan 30 peserta dari 22 pondok pesantren ini berlangsung selama dua hari, 17-18 September 2016 di Swiss-Belinn Simatupang Jakarta dengan menghadirkan pembicara Ahmad Ma’rufi dari Kementrian Luar Negeri, Ivan Ahda dari Maxima Indonesia, dan Muhammad Sofwan Yahya dari Yayasan Said Agil Siroj. Hadir juga dalam kesempatan tersebut Pendiri dan Pembina Yayasan Keluarga Besar Annajah, Dra. Hj. Maisaroh Madsuni; Ketua Yayasan Keluarga Besar Annajah, Arief Budiman, S.H, L.LM; Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, MA; dan perwakilan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Sarah Sabina Hasbar.

“pesantren adalah inti dari pada umat Islam. Kalau kita bicara tentang Islam Indonesia sebagai kiblat peradaban Islam dunia, sesungguhnya kita berbicara tentang pesantren sebagai tulang punggung dari Ummat Islam Indonesia," tutur Irfan Abubakar dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa pesantrenlah yang bertanggung jawab melanjutkan tradisi Islam Indonesia. Ada ataupun tiada pemerintah, pesantren akan tetap ada, karena pesantren telah ada sebelum Republik ini lahir. Bahkan, pada saat penjajahan, pesantrenlah yang merupakan benteng pertahanan kebudayaan, tradisi, dan peradaban Islam.

Dalam sambutan pembukaan, pimpinan Yayasan Keluarga Besar Annajah, Dra. Hj. Maisaroh Madsuni menjelaskan bahwa pondok pesantren adalah pelopor sekaligus pelaku utama praktik multikultural, toleransi, dan HAM sebagaimana yang selama ini telah dikembangkan di Pondok Pesantren Annajah. “Meneruskan cita-cita salah satu pendiri pondok, alm. Dr. H. Sabaruddin Tain, Annajah berkembang dalam kearifan budaya menghargai, menyayangi, dan memberikan kesempatan memperbaiki diri”, tuturnya. Ia menambahkan bahwa hal tersebut diwujudkan dalam kebiasaan menghindari hukuman fisik terhadap santri (internal) dan memberikan hak tetangga pada masyarakat non muslim dalam pembagian daging kurban (eksternal).

Praktik toleransi yang demikian selaras dengan pemikiran yang disampaikan Ahmad Ma’rufi pada sesi pertama yang bertema “Pesantren dan Upaya Membangun Kesadaran Multikultural, Toleransi, dan HAM. Menurutnya, orang yang memiliki sifat kasih sayang mestilah menjadi pribadi yang diterima baik di masyarakat, toleran, dan jauh dari melanggar HAM. Dengan demikian, Pesantren dapat menjadi ‘kawah candradimuka’ dalam mengajarkan nilai-nilai multikultural, toleransi dan HAM.

Pembahasan kian menarik ketika Muhammad Sofwan Yahya mencoba untuk menghadirkan imaji dan multikultural ala pondok pesantren. Bagaimana keanekaragaman budaya pada akhirnya mampu diserap lalu kemudian dihadirkan dalam bentuk penerjemahan kebudayaan yang sama sekali baru. Beberapa gambaran multikultural ala pondok pesantren yang coba dihadirkan oleh Sofwan yaitu, tulisan arab melayu dan budaya berpakaian barat yang disandingkan dengan elemen-elemen pesantren seperti sarung sebagai identitas kesantrian. Kesemuanya merupakan imaji yang terbentuk dalam menerjemahkan pondok pesantren sebagai lembaga yang mampu melestarikan tradisi yang baik dan mengikuti tradisi yang lebih baik.

Pelestarian tradisi yang beragam merupakan praktik multikultural mendasar yang baru akan terwujud jika toleransi dan HAM dipahami dan diterapkan dalam keseharian di pondok pesantren. Hal ini sebagaimana yang dikuatkan oleh Ivan Ahda dalam sesi terakhir materi. Ivan menyampaikan bahwa multikultural, toleransi, dan HAM  dapat diterjemahkan dalam satu kata, yaitu empati. Dengan menghadirkan empati, keberagaman manusia yang heterogen di pondok pesantren dapat diseleraskan dalam kebersamaan harmoni. Dengan demikian akan muncul kesadaran bahwa toleransi dan HAM bukan soal membuat yang berbeda menjadi sama sepenuhnya, melainkan soal sadar bahwa yang berbeda tetap saling membutuhkan dan harus tetap hidup bersama secara berdampingan.

Yang menarik dalam pelaksanaan workshop ini, ke-30 peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk mendiskusikan tiga konsep, yaitu Komunikasi, Toleransi, dan HAM. Masing-masing kelompok yang beranggotakan 10 orang diberikan satu konsep untuk digali lebih mendalam, guna menemukan pemahaman menyeluruh tentang kesadaran multikultural, khususnya di pondok pesantren.

Antusiasme para peserta dalam berbagi pengalaman di pondok pesantrennya masing-masing pada akhirnya membawa diskusi pada kesimpulan bahwa selama ini, pondok pesantren merupakan lembaga pionir yang telah membumikan konsep multikultural, toleransi, dan HAM. Keberadaan pondok pesantren mampu mendialogkan keberagaman dengan sangat baik dalam praktik saling menyayangi, beradaptasi, menghargai (toleransi dan HAM), dan menghidupkan tradisi  musyawarah (menjalin komunikasi). Dengan kontribusinya yang sangat besar dalam praktik multikultural, toleransi, dan HAM, pondok pesantren tentu harus didukung oleh orang-orang besar yang memiliki kepercayaan diri yang besar. Orang-orang besar itu tentu salah satunya merujuk pada para pengajar yang harus dengan percaya diri mengawal pondok pesantren sebagai agen perubahan.

Ide sebagai agen perubahan dengan penuh semangat dicetuskan oleh satu-satunya peserta sepuh berusia 60 tahun, KH. Imam Zarkasy Rowi dari Pondok Pesantren Nurul Jannah Al Muthohir Jakarta Timur yang kemudian diamini oleh seluruh peserta dalam perumusan hasil workshop di akhir acara, “kami siap menjadi agen perubahan!”, seru seluruh peserta.

Demikian kesadaran mulitikultural, toleransi, dan HAM yang selama ini direpresentasikan, dikembangkan, dan ditularkan dalam kehidupan pondok pesantren. [Imas Uliyah/LH].

 

Page 7 of 23