Lia Cgs

Keluarga Besar Pesantren ForPeace dengan bangga mengucapkan Selamat kepada salah satu peserta Training of Trainers, Lina Fatinah yang telah terpilih menjadi mahasiswa teladan di fakultas Syari'ah dan Hukum, Universitas Islam Negri Bandung.
 
Lina Fatinah (22) adalah sosok yang berprestasi. Ia terpilih menjadi mahasiswa teladan di fakultas Syari'ah dan Hukum, Universitas Islam Negri Bandung. Bersama tiga mahasiswa teladan lainnya, ia berhak atas voucher umroh dari rektor UIN Bandung. "Saya orangnya ga bisa diam, sering ikut kegiatan dan kepanitiaan diberbagai acara" katanya berbagi kisah.

Berkat keaktifannya di berbagai bidang, ia mendapatkan penghargaan beberapa kejuaraan dari berbagai bidang. Mahasiswa aktif ini pernah menjadi 150 penulis terpilih dalam buku "Unforgotable Moment", juara dua lomba puisi seJabar, mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama, beasiswa dari Bank Indonesia, dan kini ia magang di Bank Indonesia.
Thursday, 28 April 2016 15:04

Indonesia Berduka Atas Wafatnya Ulama Besar

Keluarga Besar Pesantren for Peace menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya:

 

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub

 

Salah satu ulama besar Indonesia, KH Ali Mustafa Yaqub berpulang. Pengasuh Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan yang merupakan mantan Imam Besar Masjid Istiqlal ini wafat pada pukul 06.00, di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, Tangerang Selatan.

Semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dilipat gandakan pahala dari semua amal kebaikannya. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan lahir dan bathin, diteguhkan iman dalam menghadapi cobaan ini. Amin

Dalam rangka Meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang perdamaian dalam perspektif Islam dan HAM, Pesantren for Peace (PfP) telah melaksanakan 10 rangkaian training bagi para santri di 5 kota. Training ke-10 telah sukses dilaksanakan di Yogyakarta yang diikuti oleh 32 peserta dengan komposisi komposisi 18 perempuan dan 14 laki-laki, berusia antara 17-21 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi.

Selama 4 hari (21-24/04) di Hotel Crystal Lotus, Yogyakarta peserta mengikuti training dan mendapatkan berbagai pengetahuan, wawasan dan teori. Selain itu, 32 santri yang terlibat dalam Training melakukan praktek langsung dari teori yang sudah didapatkan selama Training  dengan berinteraksi secara langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian (Field Trip).

Field Trip ini dilaksanakan pada hari terakhir Training dengan berkunjung dan berdialog secara langsung dengan Aktivis Forum Lintas Iman (FLI) di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Logandeng Gunung Kidul dan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta.

Hal-hal yang didiskusikan dalam fieldtrip tersebut meliputi Kasus kekerasan yang dialami aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Gunung Kidul serta dampak yang mereka alami selama ini; Respon pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah, masyarakat dan pihak lain terhadap kasus kekerasan yang dialami aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Gunung Kidul; Bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; Inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik, kasus-kasus, termasuk kasus kekerasan terhadap aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Gunung Kidul; serta Upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh aktivis Forum Lintas Iman (FLI) sendiri atau pihak lain baik Pemerintah (Daerah), masyarakat maupun pihak lain atas kasus dimaksud.

Sedangkan kunjungan ke Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mendiskusikan tentang bentuk dan inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dalam konteks lintas iman dan bina damai, serta apa saja kendala yang dihadapi; Respon/tanggapan Pemerintah (Daerah) dan masyarakat atas inisiatif perdamaian yang dilakukan;Bagaimana peran yang dilakukan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dalam kasus konflik (kekerasan) bernuansa agama yang terjadi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya; serta usulan konstruktif bagi Pemerintah dan masyarakat, khususnya kalangan Pesantren dalam upaya resolusi konflik secara damai.

Training terakhir ini dihadiri oleh Prof. Derichs dari Jerman sebagai observer dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan Training Pesantren for Peace. Selain itu, training ini juga di hadiri oleh Kasi Pondok Pesantren bidang pendidikan keagamaan wilayah DI Yogyakarta, H. Rokhwan, M.Si yang dalam hal ini menutup secara resmi dengan menyematkan pin kepada peserta dan mengukuhkannya sebagai duta perdamaian.

Harapannya, dengan terlaksananya 10 rangkaian capacity training ini mampu meningkatnya pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan memberikan pengalaman kepada mereka tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. [LH]

Pesantrenforpeace.com – Prof. Claudia Derichs tengah melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka mengevaluasi kegiatan Pesantren for Peace (PfP) yang telah berjalan selama 16 bulan. Dalam pertemuan pertamanya, profesor dari Jerman ini melakukan meeting dengan tim PfP, para peneliti, dan supervisor PfP (19/4).

Kunjungan dan dialog Prof. Derichs dengan Prof. Kamarudin Amin, Dirjen Pendis.

 

Prof. Derichs juga berkunjung dan dialog dengan Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendis, yang telah meluncurkan program PfP pada bulan Juni Lalu (30/6/2015). Disamping itu juga berkunjung ke Prof. Syafii Ma’arif dan ke Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) parung sebagai salah satu tempat field trip PfP.

Kunjungan dan dialog Prof. Derichs dengan Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Parung

 

Sebagai salah satu rangkaian penting dari program evaluasinya, Prof. derichs menghadiri Training dan Field Trip di Yogyakarta sebagai Observer. Selain mengamati pelaksanaan training dari mulai pembukaan hingga field trip, Prof. Derichs juga melakukan dialog dengan para Trainer dan juga perwakilan santri terpilih pada training Yogya sebelumnya.[LH]


 

 

Pesantrenforpeace.com—Hari ini (18/4) Pesantren for Peace (PfP) kedatangan Prof. Claudia Derichs dari Jerman. Kehadirannya di Indonesia ini dalam rangka untuk mengevaluasi sejauh mana implementasi program PfP yang telah berjalan selama 1 tahun 4 bulan.

Dalam kurun waktu tersebut, Pesantren for Peace yang diinisiasi oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan berbagai kegiatan yang melibatkan ratusan pesantren di Pulau Jawa.

Sampai saat ini, Pesantren for Peace telah sukses menyelesaikan serangkaian kegiatan  penting, diantaranya :

  1. Penelitian “Conflict Analysis Mapping” yang dilaksanakan di 5 provinsi di Pulau Jawa;
  2. Workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang diikuti oleh ustad-ustadzah di lima kota (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta);
  3. Peluncuran Program Pesantren for Peace oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Prof. Dr. Phil. Kamarudin Amin, MA (Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI);
  4. Penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang ditulis langsung oleh para ustadz-ustadzah pesantren;
  5. Training of Trainers bagi Ustadz dan Ustadzah penulis Modul kemudian menjadi trainer dalam semua kegiatan training;
  6. 10 rangkaian Capacity Training dan Field Trip bagi para santri dengan tema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif Islam dan HAM” yang diselenggarakan di  5  kota  (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta).

Selama seminggu ke depan, Prof. Derichs akan mengevaluasi rangkaian program yang telah dilaksanakan oleh team PfP. Aspek yang dievaluasi meliputi pelaksanaan kegiatan baik dari sisi relevansinya dengan desain program, efektifitas dan efisiensinya, dampaknya, pembelajaran yang bisa diperoleh, serta keberlangsungannya di masa mendatang.

Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Pesantren for Peace akan diwawancarai langsung oleh Prof. Derichs, diantaranya perwakilan dari fasilitator workshop dan training, supervisor penulisan modul dan laporan field trip, pesantren-pesantren mitra lokal PfP, trainer dan penulis modul, santri yang terpilih sebagai penulis dan calon peserta ToT santri, serta berkunjung langsung ke lokasi target field trip Pesantren for Peace.

Harapannya, kegiatan evaluasi ini dapat menjadi pembelajaran bagi tim untuk terus giat meningkatkan implementasi program dan mengembangkannya secara lebih maksimal. [LH]

 

Monday, 04 April 2016 17:13

Laporan Field Trip Salatiga 2016

Kegiatan Field Trip ke Gereja St. Petrus Paulus dan Komunitas GUSDURian Temanggung merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam, tanggal 1-4 Maret di Salatiga-Jawa Tengah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) UIN Syarif Hidayatullah dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa. Kegiatan field trip dilaksanakan tanggal 3 Maret 2016. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan tentang Bina damai penyelesaian konflik yang ada di Temanggung, serta memberikan pengalaman best practice bagaimana menyelesaikan persoalan konflik yang ada secara damai, berpihak kepada HAM sesuai ajaran Islam.

Pemilihan lokasi Gereja St. Paulus Petrus dan Komunitas GUSDURian, terkait peristiwa kerusuhan amuk massa yang terjadi tanggal 8 Februari 2011. Gereja St. Paulus Petrus merupakan salah satu gereja yang mengalami kerusakan oleh sekelompok massa pada saat terjadinya sidang putusan pengadilan atas terdakwa pelaku penistaan agama Antonious Richmond Bawengan. Sedangkan komunitas Gus Durian adalah sebuah kelompok masyarakat sipil yang memiliki komitmen untuk meneruskan dan memperjuangkan gagasan pemikiran Gus Dur tentang perdamaian, toleransi, multikurturalisme, HAM dan Kemajemukan. Komunitas GUSDURian bersama pihak Gereja St. Paulus Petrus terlibat aktif melakukan inisiasi perdamaian pasca konflik amuk massa tanggal 8 Februari 2011

Laporan Field Trip ini merupakan kompilasi dari laporan yang dibuat oleh 5 orang terpilih peserta pelatihan. Dalam laporan ini dijelaskan tentang profil dari Gerja St. Paulus Petrus dan Komunitas GUSDURian, latar belakang dan kronologis kejadian kerusuhan konflik atas nama agama pada saat terjadinya amuk massa tanggal 8 Februari 2011, Pelanggaran HAM yang terjadi saat terjadinya konflik dan pasca konflik, inisiatif/upaya penyelesaian konflik secara damai yang dilakukan oleh berbagai pihak, serta rekomendasi yang bisa diberikan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa pada masa mendatang.

 

 

Untukn Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip Salatiga 2016

Pesantrenforpeace.com – Manager Program Pesantren for Peace, Sarah Sabina Hasbar, menyerahkan Interim Report Program PfP 2015 kepada Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, selaku Steering Committee Program Pesantren for Peace pada Selasa, 8 Maret 2016.

Penyerahan laporan ini dilakukan dalam rangkan mempertanggungjawabkan kegiatan Pesantren for Peace yang bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung Jerman dan didukun oleh Uni Eropa yang telah berjalan selama satu tahun sejak Januari 2015.

Pertemuan Steering committee tersebut dihadiri oleh Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung untuk Indonesia dan Timor Leste, Thomas Yoshimura didampingi oleh Fynn-Niklas Kopte; Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar; Manager Program PfP, Sarah Sabina Hasbar; Koordinator Program PfP, Idris Hemay; Sekretatis PfP, Muchtadlirin; dan Bendahara PfP, Efrida Yasni Nasution.

Selama periode satu tahun, Pesantren for Peace telah berhasil menyelesaikan berbagai ragam kegiatan penting. Pertama, penelitian lapangan “Conflict Analysis Mapping” di lima provinsi di Pulau Jawa. Kedua, workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Ketiga, peluncuran program PFP yang didukung oleh dari Menteri Agama. Keempat, penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam untuk Kalangan Pesantren”. Modul ini ditulis sendiri oleh para ustadz-ustadzah Pesantren dari lima provinsi tersebut berdasarkan tema-tema yang telah disepakati bersama serta disesuaikan dengan kebutuhan pesantren. Kehadiran modul bernuansa pesantren ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman kalangan pesantren terhadap isu-isu toleransi, HAM, dan perdamaian. Kelima, Training of Trainers (ToT) bagi para penulis modul yang akan menjadi trainer dalam kegiatan training di lima kota di Pula Jawa: Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Dan yang Keenam, Training dan Field Trip ”Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” tahap pertama di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung (September-November 2015) yang diperuntukkan bagi kalangan santri/santriwati.

Thursday, 10 March 2016 10:50

Laporan Field Trip Surabaya 2016

Sudah beberapa tahun ini kelompok minoritas Syi’ah asal Sampang-Madura, Jawa Timur terusir dari kampung halamannya dan tinggal sebagai pengungsi di rumah susun sewa (Rusunawa) Puspo Agro, Jemundo-Sidoarjo Jawa Timur. Hingga saat ini pula belum ada kejelasan sampai kapan mereka berstatus sebagai pengungsi ini, padahal mereka sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman di Sampang untuk menjalani kehidupan normal kembali seperti sebelum terjadinya kerusuhan yang diakibatkan oleh sentimen agama ini.

Kami awalnya hendak berkunjung langsung ke tempat pengungsian mereka di rumah susun Jemundo-Sidoarjo untuk bersilaturahmi dengan para pengungsi, sekaligus lebih mengenal dekat kondisi mereka. Namun, tampaknya tidak mudah untuk berkunjung ke sana, apalagi dalam jumlah peserta yang akan berkunjung cukup banyak. Proses perijinan dan pemberitahun telah kami ajukan ke Pemerintah Daerah Jawa Timur sekitar satu bulan sebelum hari yang direncanakan, Kamis, 7 Januari 2016 . Namun, surat balasan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemda Jawa Timur baru kami terima satu minggu sebelum kunjungan dilakukan.

Pada prinsipnya, pihak Pemerintah Daerah tidak mengijinkan kunjungan kami ke pengungsian komunitas Syi’ah di rumah susun Puspo Agro-Jemundo. Alasannya, kedatangan kami dalam jumlah orang yang cukup banyak dikhawatirkan mengundang penafsiran lain yang bisa memicu fitnah atau tindakan yang tidak diinginkan baik oleh pengungsi maupun oleh masyarakat luar. Kehadiran kami bisa dianggap menimbulkan potensi kegaduhan dan atau dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin membuat kasus ini ramai kembali. Pemerintah masih menganggap masalah hubungan Sunni-Syi’ah di Sampang ini adalah masalah yang sensitif.

Pemerintah yang dalam hal ini terwakili oleh Pemerintah Daerah JawaTimur pada surat tersebut menyatakan agar isu relasi Sunni-Syi’ah, khususnya pada kasus Sampang, disikapi secara hati-hati. Pemerintah juga merasa perlu tetap melakukan pengawasan terhadap para pengungsi itu dengan ketat. Pada poin terakhir dalam surat balasan tersebut, Pemerintah Daerah Jawa Timur khawatir jika muncul anggapan bahwa pemerintah dan elemen masyarakat tertentu lebih berpihak kepada para pengungsi. Padahal, tujuan kami seperti yang kami sampaikan kepada pemerintah, hanyalah untuk dialog, silaturrahim dan belajar tentang bagaimana menerima perbedaan, serta bagian dari cara kami belajar tentang membangun perdamaian dan Hak Asasi Manusia (HAM).

 

 

 

Untukn Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip Surabaya 2016

Page 11 of 23