Koleksi Naskah Khutbah Kontra Narasi Extremis

Lia Cgs

Aku lupa


Aku lupa kalau aku manusia
Aku lupa aku tak sempurna
Aku lupa jika aku punya agama
Aku lupa kalau aku tinggal di Negara
Dan aku lupa kalau punya pancasila

           Aku lupa kalau ada lelaki dan wanita
           Aku lupa aku punya teman sebaya
              Aku lupa aku punya tetangga
           Aku lupa aku tinggal di tanah siapa

Aku lupa kalau aku satu bangsa
Aku lupa kalau aku terdiri dari berbagai ras yang beraneka
Aku lupa kalau aku berbeda
Dan aku lupa bahwa aku mengidap penyakit besar kepala

           Aku lupa di kitab suci ada kata manusia
            Aku kira Tuhan hanya bercanda
              Aku lupa di kitab Suci Manusia begitu mulia
              Aku kira itu celotehan para pujangga

Aku lupa Tuhanpun melukis kata nasahra dan yahuda
Aku kira hanya agamaku saja yang ada
Tak kusangka?
Aku begitu lupa.

            Aku lupa Tuhan menciptakan adam dan hawa
               Aku lupa kalau aku berpijak di dunia
               Kusangka akhirat jualah yang ku cita
               Tak kusangka
               Aku begitu lupa.

Aku sangka itu hanya bualan belaka
Tak taunya ada kehendak yang Maha
aku ini kenapa?
manusia atau pencipta?
berani berkata benar atau salah
halal atau haramkah?
neraka atau surgakah?
teman atau musuhkah?
muslim atau kafirkah?
Tak kusangka penyakitku sudah sedemikian rupa.

           Sayang aku terlalu penyayang
              Pada egoku yang selalu kutimang
           Sayang aku terlalu perasa
             Pada perasaanku yang penuh durjana
             Sayang aku terlalu istiqomah
             Pada doaku yang berbunyi Robbana atina
             Hingga aku terlupa, jika yang selalu kusebut pertama adalah Fit dhunya

Sayang aku terlalu beriman
Pada sorgaku yang penuh dengan taman
Sayang sungguh sayang
Kusangka sorgaku hanya seorang
ternyata banyak orang yang lalu lalang.

 

Rafiq Mohammad, 23 Mei 2016

 


Friday, 03 June 2016 09:23

Training of Trainers Santri 5 Provinsi

Pesantrenforpeace.com – Sebagai tindak lanjut dari rangkaian kegiatan training untuk para santri yang diselenggarakan di lima provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat dan JABODETABEK), pesantren for peace kembali melibatkan 50 santri yang merupakan 5 terbaik dari 10 rangkaian capacity training untuk mengikuti kegiatan Training of Trainers.

Kegiatan Training of Trainers (ToT) ini berlokasi di DKI Jakarta, tepatnya di Hotel Ibis Cawang yang dimulai pada hari rabu (1/6/2016) dan akan berakhir pada sabtu (4/6/2016). Selama 4 hari ini, para santri disuguhi materi-materi untuk bekal mereka menjadi trainer. Materi dalam ToT ini dikemas menjadi 11 sesi, dimana sesi pertama yang membicarakan tentang “Relasi HAM dan Hukum Nasional” disampaikan langsung oleh Ketua Komnas HAM Republik Indonesia, Bapak Imdad Rahmat. Dalam sesi ini, para peserta sangat antusias untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai hukum nasional yang mengatur tentang HAM.

Pada hari kedua, peserta dari 5 provinsi ini melakukan perkenalan satu sama lain melalui permainan yang dipandu oleh sekretaris program Pesantren for Peace, Muchtadlirin. Usai perkenalan, para santri mengikuti sesi kedua bersama Dr. Chaider S. Bamualim, MA yang membahas tentang “Relasi HAM dan Islam”.

Setelah diberikan pemahaman yang mendalam mengenai HAM dan relasinya dengan hukum nasional dan Islam, peserta kemudian dibekali metode dan teknik-teknik pelatihan partisipatori, ice breaking dan energizer, serta komunikasi dasar dalam pelatihan yang disampaikan oleh pembicara yang ahli di bidangnya, diantaranya Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tanenji dan Yudhi Munadhi serta komisioner KPAI, Rita Pranawati.

Hari ketiga, para peserta dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan tema yang terdapat di modul untuk kemudian mempraktekkan fasilitasi bersama fasilitator yang berpengalaman, seperti Ahmad Gaus (peneliti CSRC), Ubed Abdillah (Peneliti CSRC), Wahidah Rosyadah (Trainer PfP Bandung), Hasan Mahfudh (Trainer PfP Yogyakarta), Fahsin Fa’al (Trainer PfP Semarang), Arsan (Trainer PfP DKI Jakarta), Afthon Lubis (Trainer PfP DKI Jakarta), dan Khudlori (Trainer PfP Surabaya).

Setelah praktek fasilitasi, para peserta diberikan kesempatan untuk menampilkan kreasi seni dan bakat dari daerah masing-masing yang dikemas dalam sebuah acara “Malam Perdamaian”. Acara ini akan menjadi kesan tersendiri bagi para peserta dan menjadi malam penutup kegiatan ToT ini.

Harapannya, setelah mengikuti training ini, para santri memiliki keterampilan dengan metode partisipatori terkait dengan tema pendidikan perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam. [LH]

 

Kami informasikan kepada seluruh pesantren, khususnya yang berlokasi di Pulau Jawa, bahwa Program Dana Hibah (Sub-Grant) yang telah dibuka sejak 1 Maret 2016 masih menerima pengajuan proposal dana hibah sampai tanggal 31 Mei 2016.

Dalam menentukan dan memutuskan penerima dana hibah PfP, Tim Penilai Proposal Dana Hibah yang dipilih secara profesional dan independen akan mengacu kepada kriteria umum berikut:

  1. Pesantren penerima dana hibah adalah pondok pesantren di lima provinsi di Pulau Jawa (Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur).
  2. Pesantren penerima dana hibah bersedia menjadi role model dalam upaya membangun dan meningkatkan kesadaran publik untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai.
  3. Penanggungjawab dan pelaksana kegiatan dalam program dana hibah memiliki pengalaman dalam mengelola, mengimplementasikan dan melaporkan kegiatan (laporan naratif dan laporan keuangan).
  4. Pesantren pengaju proposal dana hibah harus memiliki legalitas pendirian pesantren dan rekening bank atas nama pesantren.

 

 

Pengajuan Proposal Dana Hibah

Proposal dana hibah yang akan diajukan harus mencantumkan beberapa hal berikut (Lihat format/template Proposal Pengajuan Dana Hibah. Klik link ini):

  • Informasi umum mengenai pesantren (tahun berdiri, legalitas pendirian, jumlah santri, jumlah staf pengajar, pimpinan pesantren, susunan kepengurusan).
  • Alamat lengkap pesantren (termasuk mencantumkan nomor telepon dan/atau nomor fax, alamat e-mail, website [jika ada], rekening bank milik Pesantren).
  • Uraian singkat mengenai aktifitas dan keterlibatan pesantren atau individu di dalam pesantren (pimpinan, pengajar, staf administrasi maupun santri) dalam hal promosi nilai-nilai toleransi, perdamaian, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud bisa berlangsung baik di dalam maupun di luar pesantren.
  • Daftar individu yang akan melaksanakan kegiatan dalam program dana hibah (nama lengkap, posisi di pesantren, nomor telepon/handphone, dan alamat e-mail).
  • Gambaran tentang proses implementasi kegiatan dalam program dana hibah dan akan melibatkan siapa dan bagaimana skema/model/cara pelibatan.
  • Perkiraan anggaran dan durasi waktu implementasi kegiatan.

 

Segala informasi terkait program dana hibah ini bisa diakses di web www.pesantrenforpeace.com , atau dengan mendownload file dari link di bawah ini:

Panduan Umum Pengajuan Proposal

Template Proposal dan Checklist

Template Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Panduan Pengelolaan Dana Hibah

 

Atau dapat dikomunikasikan langsung dengan Tim Manajemen Program Pesantren for Peace (PfP).

Alamat korespondensi (surat dan elektronik):

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gedung PBB Lantai 2, Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan, Ciputat, Jakarta 15419

    Telp    : (021) 7445173

    Fax     : (021) 7490756

    E-mail : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

    Web    : www.pesantrenforpeace.com, www.csrc.or.id

Contact person Tim Manajemen PfP:

Program Officer           : Junaidi Simun (0813-1709-5360, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Sekretaris Program       : Muchtadlirin (0812-877-0421, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

 

 

Keluarga Besar Pesantren ForPeace dengan bangga mengucapkan Selamat kepada salah satu peserta Training of Trainers, Lina Fatinah yang telah terpilih menjadi mahasiswa teladan di fakultas Syari'ah dan Hukum, Universitas Islam Negri Bandung.
 
Lina Fatinah (22) adalah sosok yang berprestasi. Ia terpilih menjadi mahasiswa teladan di fakultas Syari'ah dan Hukum, Universitas Islam Negri Bandung. Bersama tiga mahasiswa teladan lainnya, ia berhak atas voucher umroh dari rektor UIN Bandung. "Saya orangnya ga bisa diam, sering ikut kegiatan dan kepanitiaan diberbagai acara" katanya berbagi kisah.

Berkat keaktifannya di berbagai bidang, ia mendapatkan penghargaan beberapa kejuaraan dari berbagai bidang. Mahasiswa aktif ini pernah menjadi 150 penulis terpilih dalam buku "Unforgotable Moment", juara dua lomba puisi seJabar, mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama, beasiswa dari Bank Indonesia, dan kini ia magang di Bank Indonesia.
Thursday, 28 April 2016 15:04

Indonesia Berduka Atas Wafatnya Ulama Besar

Keluarga Besar Pesantren for Peace menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya:

 

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub

 

Salah satu ulama besar Indonesia, KH Ali Mustafa Yaqub berpulang. Pengasuh Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan yang merupakan mantan Imam Besar Masjid Istiqlal ini wafat pada pukul 06.00, di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, Tangerang Selatan.

Semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dilipat gandakan pahala dari semua amal kebaikannya. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan lahir dan bathin, diteguhkan iman dalam menghadapi cobaan ini. Amin

Dalam rangka Meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang perdamaian dalam perspektif Islam dan HAM, Pesantren for Peace (PfP) telah melaksanakan 10 rangkaian training bagi para santri di 5 kota. Training ke-10 telah sukses dilaksanakan di Yogyakarta yang diikuti oleh 32 peserta dengan komposisi komposisi 18 perempuan dan 14 laki-laki, berusia antara 17-21 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi.

Selama 4 hari (21-24/04) di Hotel Crystal Lotus, Yogyakarta peserta mengikuti training dan mendapatkan berbagai pengetahuan, wawasan dan teori. Selain itu, 32 santri yang terlibat dalam Training melakukan praktek langsung dari teori yang sudah didapatkan selama Training  dengan berinteraksi secara langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian (Field Trip).

Field Trip ini dilaksanakan pada hari terakhir Training dengan berkunjung dan berdialog secara langsung dengan Aktivis Forum Lintas Iman (FLI) di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Logandeng Gunung Kidul dan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta.

Hal-hal yang didiskusikan dalam fieldtrip tersebut meliputi Kasus kekerasan yang dialami aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Gunung Kidul serta dampak yang mereka alami selama ini; Respon pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah, masyarakat dan pihak lain terhadap kasus kekerasan yang dialami aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Gunung Kidul; Bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; Inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik, kasus-kasus, termasuk kasus kekerasan terhadap aktivis Forum Lintas Iman (FLI) Gunung Kidul; serta Upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh aktivis Forum Lintas Iman (FLI) sendiri atau pihak lain baik Pemerintah (Daerah), masyarakat maupun pihak lain atas kasus dimaksud.

Sedangkan kunjungan ke Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mendiskusikan tentang bentuk dan inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dalam konteks lintas iman dan bina damai, serta apa saja kendala yang dihadapi; Respon/tanggapan Pemerintah (Daerah) dan masyarakat atas inisiatif perdamaian yang dilakukan;Bagaimana peran yang dilakukan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dalam kasus konflik (kekerasan) bernuansa agama yang terjadi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya; serta usulan konstruktif bagi Pemerintah dan masyarakat, khususnya kalangan Pesantren dalam upaya resolusi konflik secara damai.

Training terakhir ini dihadiri oleh Prof. Derichs dari Jerman sebagai observer dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan Training Pesantren for Peace. Selain itu, training ini juga di hadiri oleh Kasi Pondok Pesantren bidang pendidikan keagamaan wilayah DI Yogyakarta, H. Rokhwan, M.Si yang dalam hal ini menutup secara resmi dengan menyematkan pin kepada peserta dan mengukuhkannya sebagai duta perdamaian.

Harapannya, dengan terlaksananya 10 rangkaian capacity training ini mampu meningkatnya pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan memberikan pengalaman kepada mereka tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai. [LH]

Pesantrenforpeace.com – Prof. Claudia Derichs tengah melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka mengevaluasi kegiatan Pesantren for Peace (PfP) yang telah berjalan selama 16 bulan. Dalam pertemuan pertamanya, profesor dari Jerman ini melakukan meeting dengan tim PfP, para peneliti, dan supervisor PfP (19/4).

Kunjungan dan dialog Prof. Derichs dengan Prof. Kamarudin Amin, Dirjen Pendis.

 

Prof. Derichs juga berkunjung dan dialog dengan Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendis, yang telah meluncurkan program PfP pada bulan Juni Lalu (30/6/2015). Disamping itu juga berkunjung ke Prof. Syafii Ma’arif dan ke Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) parung sebagai salah satu tempat field trip PfP.

Kunjungan dan dialog Prof. Derichs dengan Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Parung

 

Sebagai salah satu rangkaian penting dari program evaluasinya, Prof. derichs menghadiri Training dan Field Trip di Yogyakarta sebagai Observer. Selain mengamati pelaksanaan training dari mulai pembukaan hingga field trip, Prof. Derichs juga melakukan dialog dengan para Trainer dan juga perwakilan santri terpilih pada training Yogya sebelumnya.[LH]


 

 

Pesantrenforpeace.com—Hari ini (18/4) Pesantren for Peace (PfP) kedatangan Prof. Claudia Derichs dari Jerman. Kehadirannya di Indonesia ini dalam rangka untuk mengevaluasi sejauh mana implementasi program PfP yang telah berjalan selama 1 tahun 4 bulan.

Dalam kurun waktu tersebut, Pesantren for Peace yang diinisiasi oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan berbagai kegiatan yang melibatkan ratusan pesantren di Pulau Jawa.

Sampai saat ini, Pesantren for Peace telah sukses menyelesaikan serangkaian kegiatan  penting, diantaranya :

  1. Penelitian “Conflict Analysis Mapping” yang dilaksanakan di 5 provinsi di Pulau Jawa;
  2. Workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang diikuti oleh ustad-ustadzah di lima kota (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta);
  3. Peluncuran Program Pesantren for Peace oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Prof. Dr. Phil. Kamarudin Amin, MA (Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI);
  4. Penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang ditulis langsung oleh para ustadz-ustadzah pesantren;
  5. Training of Trainers bagi Ustadz dan Ustadzah penulis Modul kemudian menjadi trainer dalam semua kegiatan training;
  6. 10 rangkaian Capacity Training dan Field Trip bagi para santri dengan tema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif Islam dan HAM” yang diselenggarakan di  5  kota  (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta).

Selama seminggu ke depan, Prof. Derichs akan mengevaluasi rangkaian program yang telah dilaksanakan oleh team PfP. Aspek yang dievaluasi meliputi pelaksanaan kegiatan baik dari sisi relevansinya dengan desain program, efektifitas dan efisiensinya, dampaknya, pembelajaran yang bisa diperoleh, serta keberlangsungannya di masa mendatang.

Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Pesantren for Peace akan diwawancarai langsung oleh Prof. Derichs, diantaranya perwakilan dari fasilitator workshop dan training, supervisor penulisan modul dan laporan field trip, pesantren-pesantren mitra lokal PfP, trainer dan penulis modul, santri yang terpilih sebagai penulis dan calon peserta ToT santri, serta berkunjung langsung ke lokasi target field trip Pesantren for Peace.

Harapannya, kegiatan evaluasi ini dapat menjadi pembelajaran bagi tim untuk terus giat meningkatkan implementasi program dan mengembangkannya secara lebih maksimal. [LH]

 

Page 11 of 24