AKARTA, KOMPAS — Pesantren sebagai pusat pembelajaran agama Islam diminta untuk menghasilkan ulama yang memiliki wawasan keagamaan sekaligus kebangsaan yang mendalam dan kredibel. Hal ini penting bagi pesantren guna menyebarkan nilai-nilai Islam yang sejuk, damai, dan menghargai keanekaragaman.

 

“Pesantren sangat membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa dan menyebarluaskan nilai Islam moderat,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin ketika menerima 30 kiai muda perwakilan pesantren se-Jawa dan Madura di kantor Kemenag di Jakarta, Kamis (8/6).

Kamaruddin yang juga merangkap Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag mengemukakan, beragama hendaknya di dalam konteks bangsa Indonesia yang majemuk. “Kemampuan mengelola keanekaragaman ini yang membuat para pendiri bangsa bisa mendirikan Indonesia,” ujarnya.

Hal itu karena di dalam budaya Indonesia, agama tidak terletak pada ranah privat yang sunyi. Agama kental dipraktikkan juga di dalam kehidupan sosial dan politik. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengejawantahkannya ke dalam nilai yang mendukung semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Kamaruddin mengungkapkan, di Indonesia terdapat 30.000 pesantren. Apabila satu persen saja dari jumlah pesantren tersebut menyebarkan ideologi dan propaganda kekerasan, dampak negatifnya sangat terasa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hendaknya pesantren bisa memberi pemahaman yang positif kepada masyarakat.

Kegiatan itu bagian dari program pesantren untuk perdamaian yang dipelopori Pusat Studi Agama dan Kebudayaan (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah dan Konrad-Adenauer Stiftung. Mereka bekerja sama dengan 750 pesantren se-Jawa dan Madura yang melibatkan 1.500 ustaz dan santri.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah, Irfan Abubakar, mengatakan, program itu berlangsung sejak 2015. UIN Syarif Hidayatulah bekerja sama dengan pesantren-pesantren mitra dan mengadakan pendalaman materi terkait Islam dan hak asasi manusia. “Anggota pesantren yang sudah mengikuti lokakarya kemudian menyebar pesan-pesan damai kepada pesantren lain dan warga di sekitar,” ujar Irfan.

Kurang aktif

Menurut Irfan, jumlah pesantren yang menebar semangat kebangsaan dan persaudaraan lebih banyak. Akan tetapi, mereka dinilai kurang aktif di ruang-ruang publik untuk menyosialisasikan nilai-nilai tersebut kepada khalayak lebih luas.

“Salah satu tujuan program ini ialah agar pesantren semakin aktif terlibat dengan masyarakat dan bisa memberi arahan cara beragama yang damai,” ucapnya.

Setelah mengikuti lokakarya selama dua hari di Jakarta, 30 kiai muda itu juga berkunjung ke MPR. Mereka disambut Ketua MPR Zulkifli Hasan yang menekankan pentingnya melakukan silaturahim terus-menerus di antara berbagai golongan agama, adat, dan sosial di Tanah Air.

Zulkifli menjelaskan, dengan berlangsungnya silaturahim, nilai Pancasila dan keagamaan bisa berjalan bahu-membahu. Jangan sampai tiap-tiap golongan menafsirkan Pancasila karena bisa disalahgunakan untuk mencapai tujuan golongan itu saja.

Di hadapan Zulkifli, para kiai muda membacakan deklarasi aliansi pesantren se-Jawa untuk penguatan Islam moderat. Ada lima butir pernyataan mereka. Pertama, pesantren berpegang teguh dan siap mempertahankan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua, menyadari pentingnya menumbuhkan sikap saling menghargai keyakinan dan pandangan yang berbeda dalam kehidupan sosial, politik dan keagamaan. Ketiga, pentingnya membangun kesepahaman dan kesepakatan yang terus-menerus di tengah umat dan bangsa tentang urgensi Pancasila.

Keempat, mendorong pemerintah dan lembaga negara untuk bergandengan tangan dengan kekuatan civil society dalam menegakkan amanat menjaga keutuhan NKRI serta memelihara kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. Kelima, pesantren bertekad saling mendukung dalam menjalankan aksi nyata mencegah dan menolak ekstremisme melalui penguatan sikap keagamaan yang tasamuh (toleran) dan tawassuth (moderat) di masyarakat. (DNE/ivv)

 

Berita ini dimuat di: https://kompas.id/baca/dikbud/2017/06/09/pesantren-agar-sebar-perdamaian/

Berita ini dipost di http://www.thejakartapost.com/news/2017/06/06/hundreds-of-pesantren-to-form-alliance-to-promote-moderate-islam.html

Jakarta | Wed, June 7, 2017 | 05:54 am
 

In a move to curb the intolerance triggered by growing sectarian sentiment, hundreds of pesantren (Islamic boarding schools) from across Java Island are set to gather in a workshop slated from June 7 to 8 where they will declare an alliance of pesantren promoting moderate Islam.

The workshop will conclude the “Pesantren for Peace” (PfP) program initiated by the Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) of the Syarif Hidayatullah Islamic State University (UIN) Jakarta, which kicked off in 2015 and involved 750 pesantren across the island.

(Read also: Muhammadiyah rejects hard-liners, promotes moderate Islam)

The program is aimed at strengthening the role of Indonesian Islamic schools in promoting human rights and peaceful conflict resolution.

CSRC director Irfan Abubakar told The Jakarta Post on Tuesday that the workshop and alliance were expected to help eliminate the contradiction between human rights values and Islamic teaching. Most pesantren, he said, tended to defy human rights concepts.

“We want to encourage them to understand that supporting human rights means you are being a better Muslim. We also aim to strengthen the role of Muslims in promoting tolerance,” Irfan said.

The two-day workshop will have three discussion sessions where UIN professor Azyumardi Azra, the secretary of the country’s second-largest Islamic organization Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, and executive of the largest Muslim organization Nahdlatul Ulaman (NU), Masdar F Mas’udi, are scheduled to speak.

“We have seen that intolerance is growing and moderate power is crumbling. We hope [teaching staff] at ‘pesantren’ can bring the human rights concept to their preaching and teaching," he said. (bbs)[Nurul Fitri Ramadhani]

Keluarga Besar Pesantren for Peace menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya:

 

KH. Mahfudz Ridwan

 

Pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang, menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Minggu, 28 Mei 2017 sekitar pukul 14.45 WIB  setelah dirawat 13 hari di RSUD Salatiga karena menderita penyakit stroke.

Semoga Almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dilipat gandakan pahala dari semua amal kebaikannya. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan lahir dan bathin, diteguhkan iman dalam menghadapi cobaan ini. Amin

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Yogyakarta diselenggarakan di Hotel D’Salvatore, Yogyakarta pada tanggal 29-30 Maret 2017. Materi pertama yang disampaikan dalam workshop ini menghadirkan Alissa Qotrunnada Wahid, Koordinator Jaringan GUSDURian Indonesia yang membahas tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dengan dimoderatori oleh Mohamad Yahya. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Muhamad Hanif, M. Hum., Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan dimoderatori oleh Moh. Taufiq Ridho. Materi terakhir tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan oleh Muchtadlirin, M.Si., Sekretaris Program dan dimoderatori oleh Hasan Mahfudh.

Demikianlah, workshop Manajemen Pesantren ini mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang akan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidang manajerial, komunikasi dan manajemen berjejaring serta memiliki wawasan manajerial pesantren; dan sesi diskusi kelompok, dimana setiap peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mendiskusikan kasus yang berkaitan dengan komunikasi dan manajemen berjejaring ala pesantren.  Hal-hal yang akan didiskusikan dalam Workshop berkaitan dengan problematika pesantren dalam komunikasi dan manajemen berjejaring, di antaranya: leadership pesantren, pengalaman pesantren dalam berjejaring, komitmen pada isu, kapasitas persuasif pimpinan/pengurus pesantren, kapasitas manajerial kegiatan, team work, perencanaan dan pelaporan kegiatan, dan kapasitas dalam menulis. Pada sesi diskusi kelompok, peserta juga mensimulasikan membuat sistem berjejaring. Di akhir sesi, peserta diskusi kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Salatiga diselenggarakan di Hotel Laras Asri, Salatiga pada tanggal 28-29 Maret 2017 yang juga menghadirkan 3 pembicara yang kompeten di bidangnya. Sesi pertama tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi disampaikan oleh Dr. Ahmad Zainul Hamdi, Direktur Central for Maginalized Communities Studies (CIMARS) dan dimoderatori oleh Fahsin M. Fa’al. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Dr. Chaider S. Bamualim, Advisory Board of CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dimoderatori oleh M. Cholilullah. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan oleh KH. Anang Rizka Masyhadi, MA., Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang,  dengan dimoderatori oleh Nashif Ubbadah.

Koordinator Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan, “Di Salatiga, Jawa Tengah ini pesertanya sejumlah 32 ustadz/ustadzah. Dari workshop-workshop atau kegiatan-kegiatan sebelumnya, Jawa Tengah ini pesertanya terbilang belum cukup moderat, tidak ada yang memperbincangkan atau mempertentangkan tentang apa itu HAM dan relasi islam dan HAM. Namun di Salatiga ini mayoritas pesantrennya adalah moderat jadi mereka sebenarnya hanya perlu mengembangkan dirinya saja dari sisi peserta”, ungkap Idris.

“Dari sisi nara sumber dalam workshop ini kita menghadirkan Dr. Ahmad Zainul Hamdi atau yang akrab disapa Pak Inung dari CIMARs. Menurut saya memang pas sekali kita menghadirkan Pak Inung, karena memang berdasarkan pengalaman dari apa yang dilakukannya di CIMARs, khususnya bagi para pengungsi dan pembangunan perdamaian di Jawa Timur. Nah, dalam menyampaikan materi, dia menggali dari peserta, apa yang mereka hadapi di pesantren dan di Jawa Tengah secara umum, baru kemudian dia masuk dengan penjelasan-penjelasan berdasarkan pengalamannya dia selama di CIMARs,” tambah Idris.

Idris juga mengaku tertarik dengan Narasumber Anang Riska Masyhadi, Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang yang bercerita bagaimana membangun hubungannya dengan pemerintah, baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat  dalam membangun pesantren untuk menyuarakan perdamaian, tidak hanya itu misalnya ketika ada masalah yang dihadapi oleh pemerintahan lokal dia berdiri di tengah menyelesaikan masalahnya itu. Contohnya dia membangun kantor aula di kecamatan kemudian dia menyelesaikan masalah pembangunan kantor koramil, membelikan tanahnya, serta membangun fisiknya. Jadi, pesantrenlah yang banyak berpengaruh. Dia bisa memberikan keyword-keyword bagaimana pesantren di Jawa Tengah  ini bisa membangun hubungan berjejaring dengan pemerintah, khususnya dengan pengusaha,  dengan media, dan lain-lain, dia menyampaikannya dengan sangat detail sekali. [LH]

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Jabodetabek diselenggarakan di Hotel GG House Puncak, Bogor pada tanggal 21-22 Maret 2017. Sama seperti Workshop Bandung, workshop ini  juga menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi untuk sesi pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dan Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si untuk sesi Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren serta Irfan Abubakar untuk sesi terakhir. Moderator untuk setiap sesinya yaitu Sholehuddin A. Aziz, Muhammad Arsan dan M. Afthon Lubbi Nuriz.

Demikianlah, workshop Manajemen Pesantren ini mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang akan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidang manajerial, komunikasi dan manajemen berjejaring serta memiliki wawasan manajerial pesantren; dan sesi diskusi kelompok, dimana setiap peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mendiskusikan kasus yang berkaitan dengan komunikasi dan manajemen berjejaring ala pesantren.  Hal-hal yang akan didiskusikan dalam Workshop berkaitan dengan problematika pesantren dalam komunikasi dan manajemen berjejaring, di antaranya: leadership pesantren, pengalaman pesantren dalam berjejaring, komitmen pada isu, kapasitas persuasif pimpinan/pengurus pesantren, kapasitas manajerial kegiatan, team work, perencanaan dan pelaporan kegiatan, dan kapasitas dalam menulis. Pada sesi diskusi kelompok, peserta juga mensimulasikan membuat sistem berjejaring. Di akhir sesi, peserta diskusi kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok.[LH]

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Bandung diselenggarakan di Tune Hotel, Dago, Bandung pada tanggal 8-9 Maret 2017 dengan menghadirkan 3 pembicara yang kompeten di bidangnya. Materi sesi pertama, membicarakan tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi disampaikan oleh Ahsan Jamet Hamidi, Program Officer di The Asia Foundation dan dimoderatori oleh Wahidah Rosyadah. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si., Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) Bandung dan dimoderatori oleh Evi Kurniawati. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan langsung oleh Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dimoderatori oleh Arum Ningsih.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Problem di workshop Bandung ini yaitu masih banyak berbicara mengenai konten karena peserta workshop ini berbeda dari peserta workshop-workshop dan training-training sebelumnya. Dan uniknya, di bandung ini memang tipologi dari pesantrennya itu bermacam-macam, ada muhammadiyah, ada NU , ada persis dan lain lain , mereka punya pendapat sendiri-sendiri, wajar saya kira itu. Namun,   panitia menyiasatinya dengan menyampaikan konten tersebut di awal sebelum diskusi kelompok, karena kalau konten tersebut tidak diselesaikan terlebih dahulu, saya rasa akan jadi bias, jadi harus dimantapkan dulu. Barulah setelah itu masuk  bagaimana untuk melakukan jejaring, hambatan dan tantangan yang dihadapi”, jelas Idris. [LH]

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Surabaya diselenggarakan di Hotel Quds Royal Surabaya pada tanggal 15-16 Maret 2017 yang juga menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi untuk sesi pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dan dimoderatori oleh Hindun Tajri. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Muhamad Hanif, M. Hum., Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan dimoderatori oleh Muhammad Khudhori. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP disampaikan oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si., dan dimoderatori oleh M. Saiful Anam.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan “Dari kurang lebih 90 pesantren yang terlibat dalam kegiatan sebelumnya sangat antusias dan tertarik untuk mengikuti workshop ini, tetapi karena kita terbentur dengan kuota yang harus 30 orang,  maka strategi dari partner lokal kita adalah mengundang yang kemungkinan untuk ikut pertamanya, tapi setelah itu, mendengar pesantren yang lain bahwa ada kegiatan ini, jadi mereka ikut mendaftar tetapi ya waiting list, sehingga kemudian dari 30 peserta itu  yang waiting list itu ada sekitar 10-15 pesantren, nah itu dari bentuk antusiasme mereka dalam mendaftar, karena bagi mereka persoalan mendasar yang dihadapi khususnya pesantren di jawa timur itu mereka masih lemah dalam hal melakukan berjejaring, jadi workshop ini penting bagi mereka untuk mengembangkan skill-skill dalam membangun jaringan”, ungkapnya

Idris menambahkan, “Dari sisi antusiasme peserta itu nampak misalnya, jam 8 sebelum acara dimulai itu sudah ada 28 peserta yang datang dari 30 orang, ketika acara dimulai, seluruh peserta sudah berkumpul 100% dan waktunya ontime dimulai sesuai jadwal yaitu pukul 8.30 WIB. Walaupun ada peserta dari trenggalek sana yang menempuh perjalanan lebih dari 3 jam, bahkan dia sampai pertama kali di hotel pukul 06.00 WIB. Itu bentuk komitmen dan antusias dari pesantren yang terlibat yang patut untuk diapresiasi,” tambahnya.

Kemudian dari sisi peserta, Idris melihat dari dinamika diskusi yang berlangsung ini juga menimbulkan kesan tersendiri bagi para narasumber. Contoh-contoh yang dimunculkan oleh peserta sesuai dengan konteks workshop, misalnya tentang bagaimana cara membangun jejaring dalam membantu untuk menyelesaikan permasalahan aturan pemerintah terhadap akses pendidikan bagi pengungsi syiah, itu merupakan pertanyaan yang tepat untuk dibahas dalam diskusi. Ahsan Jamet, selaku narasumber workshop mengaku sangat tertarik sekali dengan dinamika diskusi yang berkembang itu karena contoh-contohnya sesuai dengan konteks yaitu menyelesaikan konflik secara damai dan itu muncul sendiri dari peserta.[LH]

pesantrenforpeace.com – Bogor (25/02/2017) “Kegiatan seminar ini memiliki posisi yang sangat penting dalam kondisi Bangsa dan Negara seperti saat ini. Ini adalah tantangan bagi umat Islam, khususnya masyarakat pesantren, dalam menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya”, demikian pidato sambutan Pimpinan Pesantren Annur, KH. Hadiyanto Arief, SH. M.Bs. dalam acara seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan di Mini Hall Al-Hamra Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Setelah kagiatan seminar dibuka dengan lantunan Kalam Ilahi Surat Fushilat Ayat 30-34 dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, Pimpinan Pondok memberikan sambutan dengan menuturkan pengalaman pribadi dan pengalaman Pesantren Darunnajah dalam membangun perdamaian dan membina persaudaraan dunia. Menurutnya, Darunnajah sebagai pesantren yang terletak di tengah-tengah Ibu Kota Negara, selalu mejadi tuan rumah sekaligus miniatur toleransi dan persahabatan antar bangsa yang berlatar belakang suku, agama, dan budaya. Berbagai tamu mulai dari sekolah Kristen, duta besar negara-negara dunia Eropa-Amerika, bahkan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, datang silih berganti ingin menyaksikan wajah Islam Indonesia yang damai.

“Selain tamu yang datang berkunjung untuk melihat Islam lewat Darunnajah, setiap tahun kita juga mengirim santri-santri dan guru ke sekolah Kristen di Inggris, Holy Family Catholic School. Siswa-siswi sekolah di sana juga nyantri di sini selama beberapa waktu”, ujar kiai muda lulusan Bristol University tersebut.

Menyambung sambutan tuan rumah, Bapak Idris Hemay, M.Si. selaku koordinator program Pesantren for Peace, memberi apresiasi kepada keberhasilan panitia dalam menyelenggarakan acara. Menurutnya, jumlah peserta acara seminar Local Day of Human Rights kali ini adalah yang terbanyak dari sebelumnya. Lebih dari 100 peserta hadir memenuhi ruangan.

Masih menurut Idris, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia dan dunia. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darunnajah 8. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, ujar Idris dalam pidato sambutannya.

Seperti dua seminar sebelumnya, kegiatan kali ini juga mengundang peserta dari berbagai lembaga dan organisasi. Pemuda NU dan Muhammadiyah, DKM dan remaja masjid, juga sekolah dan pesantren di sekitar Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Pada seminar ke-3 ini, dihadirkan tiga narasumber yang telah mengikuti program pertukaran santri antar pesantren se-Jawa. Mereka adalah Anisa Fauziyah dan Yusron Yasir dari Pesantren Annajah Rumpin Bogor, dan Julianda Dayanti dari Pesantren Madinatunnajah Jombang Ciputat.

Anisa dan Yusron menceritakan pengalaman mereka selama tinggal selama dua minggu, 16-29 Januari 2017, di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Candi Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Menurut penuturan Anisa di depan peserta seminar, pesantren yang didirikan oleh KH. Mufid Mas’ud yang merupakan keturunan Sunan Pandanaran ke-14 ini, menerapkan budaya Jawa sebagai jalan tengah untuk menyatukan budaya yang ada. Kegiatan dialog antara anggota organisasi NU-Muhammadiyah, serta dengan pemeluk agama selain Islam juga sering diselenggarakan di pesantren ini.

Yusron, santri Pesantren An-Najah Bogor berdarah Jawa-Sunda-Batak, sangat semangat menceritakan kisahnya selama mengikuti program petukaran santri. Ia sangat bangga dan bersyukur dipilih sebagai peserta program. Menurutnya ini pengalaman yang sangat mahal, karena tidak semua santri di pondoknya mendapatkan pengalaman sepertinya. Selain rasa bangganya, ia menceritakan dengan detail peran Pesantren Sunan Pandanaran ketika menjadi mediator kasus Cebongan. Yakni kasus perseteruan antara anggota KOPASSUS TNI dengan preman di Jogjakarta yang menimbulkan konflik SARA.

Julinda, santri Pondok Pesantren Madinatunnajah, tidak mau kalah dengan cerita pengalaman dua pemateri sebelumnya. Ia menuturkan pengalamannya selama tinggal di Pesantren Annuqoyah Gulukguluk Madura. Menurut catatan Julinda, Pondok Pesantren Annuqoyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi mediator perang Sampit. Hal tersebut dapat dilakukan oleh Pesantren Annuqoyah lantaran pesantren ini telah terbiasa mendidik santri-santrinya dengan sikap saling menghargai dan menghindari sikap keegoisan yang menimbulkan perpecahan.

Sebagai narasumber pembanding, H. Robith Huda dari Pesantren Darunnajah 8 memberikan tambahan penjelasan tentang pengalaman pesantren dalam membangun perdamaian berdasarkan Hak Asasi Manusia dan Islam. Ustadz asal Madura ini menambahkan informasi tentang Pondok Pesantren Annuqoyah. Menurutnya, pesantren ini adalah salah satu yang terbesar dan tertua di Madura. Pengalaman pesantren ini dalam membina keharmonisan umat beragama sudah sangat tua, setua usia pesantren tersebut. Dengan candaan khas Madura, ustadz alumni pesantren Gontor tersebut mengubah suasana seminar seperti acara stand-up comedy.

Di akhir acara, para peserta dan pemateri beserta panitia penyelenggara seminar befoto bersama sebagai penutup kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga pukul 11.45. Tidak terasa lebih dari tiga jam peserta duduk mendengarkan pemaparan seminar yang diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dan dialog antar peserta dan narasumber. “Kapan ada seminar seperti ini lagi, Pak Ustadz?”, tanya seorang peserta kepada panitia setelah acara selesai. [aft]

Pesantrenforpeace.com - Bandung (26/2), Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adeneur-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste dengan dukungan bantuan hibah dari European Union (EU) mengadakan kegiatan Pesantren For Peace guna menguatkan tradisi dan bangunan perdamaian melalui pondok pesantren. Sebanyak 30 peserta delegasi dari berbagai pondok pesantren disekitar wilayah bandung mengikuti workshop Local day of human right yang berlangsung di Aula utama Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Kota Bandung.

Perwakilan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Junaedi Simun mengatakan, “kegiatan ini merupakan kegiatan yang bersifat riset, dimana kami menganalisis konflik seputar agama yang dilakukan di berbagai Provinsi di Pulau Jawa, Yang hasilnya digunakan untuk membuka wawasan bagi para santri dan Pondok Pesantren. Total, sekitar 70 santri dari 70 delegasi Pondok Pesantren mengikuti kegiatan Pesantren for Peace sampai saat ini”.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 kali, yakni bulan Agustus 2016, November 2016, dan Februari 2017 ini sangat di apresiasi oleh Sekretaris Kecamatan Cibiru, Didin Dikayuana. Didin mengungkapkan, “Dengan hadirnya kegiatan seperti ini selain mengajarkan toleransi, pesantren ikut berperan membantu pembangunan program Walikota Bandung, Ridwan Kamil”.

Kegiatan yang bertemakan Penguatan Jejaring Kerja Santri dan Pondok Pesantren Dalam Implementasi Nilai-Nilai HAM, Toleransi, dan Resolusi Konflik Secara Damai dan Bermatabat ini berlangsung pukul 9.30 hingga 16.30 WIB. kegiatan tersebut diisi oleh 4 presentator hasil pertukaran santri di 5 provinsi di pulau jawa, yakni Rizqi Fadillah (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Rodia Miftah  (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Citra Rahmawati (Ponpes Al Basyariah), serta Muhammad Zainal Mustafa (Ponpes Sirnarasa, Jawa Barat).

Dalam workshop tersebut, para presentator menjelaskan hasil pertukaran santri yang diberi waktu selama 2 minggu untuk menjalankan tugas kesantrian di pondok pesantren yang telah di tentukan. Dimana mereka ditugaskan untuk mencari informasi mengenai peran pesantren dalam membangun perdamaian dan resolusi konflik secara damai di pesantren tujuan.

Dari hasil workshop tersebut diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya Pondok Pesantren diharapkan mampu membangun dan meningkatkan kesadaran publik untuk meningkatkan toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai melalui menjadikan dirinya sebagai ruang publik yang netral dan damai tanpa kekerasan.

Selain itu, pondok pesantren diharapkan juga untuk terus meningkatkan komunikasi mengenai toleransi secara damai, baik dengan masyarakat, santri maupun alumni lulusan pondok pesantren agar terhindarnya stigma negatif yang beredar sebagai pandangan agama yang intoleran dan radikal. [PPMU]

Page 2 of 14