Pesantrenforpeace.com - Setelah penandatanganan kontrak penerima dana hibah yang dilaksanakan di kantor CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (3/8), lima dari 15 pesantren penerima dana hibah akan mengimplementasikan dana

 

tersebut untuk acara seminar Local Day of Human Right dalam waktu dekat ini. Seminar ini bertujuan untuk berbagi dan bertukar pengalaman tentang pembangunan perdamaian, penanganan konflik, dan peran pesantren dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap HAM.

Berikut jadwal pelaksanaan seminar Local Day of Human Right yang akan dilaksanakan di 5 wilayah (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan DKI Jakarta).

No.

Pesantren

Waktu Pelaksanaan

1

PP. Darut Tauhid

20 Agustus 2016

2

PP. Al-Muntaha

28 Agustus 2016

3

PP. Al-Luqmaniyah

28Agustus 2016

4

PP. Mahasiswa Universal

20 Agustus 2016

5

PP. An-Nur Darannujah 8

27 Agustus 2016

 

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muntaha Jawa Tengah, Ustadz Nashif Ubadah,  menyatakan bahwa semua persiapan untuk seminar tanggal 28 Agustus nanti telah hampir sempurna, sebagian besar pemateri sudah dihubungi dan telah konfirmasi hadir. Juga para peserta dari beragam elemen di kota Salatiga telah berhasil diundang dan siap menghadiri seminar.

“Kami sangat terkesan dengan adanya program Pesantren for Peace ini. Berbagai materi yang ada di dalamnya mewarnai pikiran-pikiran kami tentang HAM, perdamaian dan resolusi konflik. Bukan hanya wawasan dan pengetahuan yang meningkat, namun kapasitas kami sebagai bagian dari Pesantren for Peace juga memberi semangat bagi kami untuk menjaga keanekaragaman yang ada di Indonesia , dan menjadikan toleransi sebagai kewajiban bagi seluruh masyarakat.” Ungkap Ustadz Nashif

Sementara itu, Pondok Pesantren Darut Tauhid Surabaya, juga sudah sangat matang mempersiapkan seminar yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2016. Seminar tersebut akan dilaksanakan di lokasi Pondok Pesantren Darut Tauhid dengan mengundang 30 Pesantren di sekitar Jawa Timur serta menghadirkan pembicara dari perguruan tinggi/kementrian Agama di Surabaya, dan juga 3 orang santri peserta field trip yang akan menceritakan pengalamannya dalam mengikuti kegiatan Pesantren for Peace.

“Kesan kami sejak awal menjadi partner lokal di Surabaya sangat baik, sangat bermanfaat dan menambah wawasan buat kami, sekarang waktunya kami mengimplementasikannya di pesantren. Melalui dana subgrant ini, mudah mudahan manfaat dalam mempromosikan HAM, perdamaian dan juga resolusi konflik”, ungkap Ustadz Saiful Anam, Direktur Pondok Pesantren Darut Tauhid. [LH]

 

Wednesday, 03 August 2016 12:29

Inception Workshop Sub-Grant Pesantren for Peace

Written by

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung dengan dukungan dari Uni Eropa telah berhasil menjalankan program Pesantren for Peace selama 20 bulan sejak Januari 2015. Program PfP ini bertujuan untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting kelompok moderat Islam Indonesia (pesantren) sebagai kelompok agama yang dominan dalam rangka menegakkan dan memajukan hak asasi manusia (HAM), demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia. Sementara tujuan khususnya adalah untuk memperkuat dan membantu pesantren dalam menyadari tanggungjawabnya sebagai aktor berpengaruh di dalam masyarakat sehingga mampu berdialog secara damai dan hidup berdampingan dengan kelompok agama minoritas lainnya yang ada di Indonesia.

Hal ini juga disampaikan oleh Direktur CSRC, Irfan Abu Bakar saat menyampaikan sambutannya dalam pembukaan Inception Workshop Sub-Grant Pesantren for Peace yang dihadiri oleh 15 pimpinan Pondok Pesantren / yang mewakilinya. Acara yang dilaksanakan di meeting room kantor CSRC UIN Jakarta (2-3/8) ini juga di hadiri oleh Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste, Jan Senkyr, serta perwakilan dari Uni Eropa, Saiti Gusrini dan Savitri Hanartani.

“Program dana hibah ini diadakan berangkat dari kesadaran bahwa pesantren di Indonesia, khususnya di lima provinsi di Pulau Jawa merupakan sebuah lembaga yang dihormati dan cukup berpengaruh di masyarakat. Karenanya penting untuk memperkuat peran pesantren dalam upaya penguatan demokrasi, HAM, toleransi beragama dan membangun dialog dan hidup berdampingan secara damai khususnya dengan kelompok minoritas. Program dana hibah hadir untuk maksud tersebut,” tutur Irfan menambahkan.

Dalam sambutannya, sekaligus membuka secara resmi kegiatan inception workshop ini, Jan Senkyr mengungkapkan bahwa bagi KAS, Pesantren for Peace merupakan projek yang sangat penting. Ia berharap Progran ini dapat membantu mendorong peran umat Islam dalam hal demokrasi, HAM, dan resolusi konflik secara damai.

“Pada bulan April 2016, projek ini sudah berjalan selama 14 bulan saat saya diserahi tugas, bertepatan dengan penyerahan laporan Midterm Evaluasi, dan hasilnya memuaskan,” ungkap Jan Senkyr

Sarah Sabina Hasbar, Manager Project PfP menjelaskan pengantar program SubGrant ini lengkap dengan penjelasan mengenai kerjasama CSRC dan KAS dan juga peran Uni Eropa dalam mendukung program ini.

Kemudian ada 4 sesi dalam workshop ini, sesi pertama menjelaskan tentang panduan umum penerima subgrant yang disampaikan oleh Idris hemay, Koordinator Program PfP, sesi kedua tentang format penulisan laporan oleh Muchtadlirin, Sekretaris Program PfP, sesi ketiga format laporan keuangan oleh Efrida Yasni Nasution, Bendahara PfP, dan terakhir mengenai Monitoring dan Evaluasi yang kembali disampaikan oleh Idris Hemay.

Dengan terlaksananya kegiatan inception Workshop selama dua hari ini, diharapkan pihak pesantren penerima dana hibah (SubGrant) ini memiliki persiapan yang matang agar berbagai kegiatan yang telah direncanakan berjalan secara maksimal dan sesuai dengan poin penting tujuan umum SubGrant itu sendiri. [LH]

 

 

Kami ucapkan

 

SELAMAT DATANG

 

Kepada para peserta Inception Workshop Dana Hibah (SubGrant) Pesantren for Peace (PfP)

 

Sebagai tindak lanjut program Pesantren for Peace yang telah diselenggarakan semenjak Januari 2015 sampai dengan Juni 2016 di lima provinsi di Pulau Jawa, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa akan menyelenggarakan Inception Workshop Dana Hibah (Subgrant) Pesantren for Peace (PfP): Program untuk Mendukung Peran Pesantren dalam Mempromosikan HAM dan Penyelesaian Konflik secara Damai. Kegiatan ini diadakan dalam rangka untuk membahas hal-hal teknis terkait dengan penerima dana hibah yang meliputi panduan penerima dana hibah, format laporan kegiatan dan laporan keuangan, monitoring-evaluasi, dan penandatanganan kontrak kerja sama.

 

Friday, 29 July 2016 15:36

Laporan Field Trip Bandung 2016

Masyarakat Jawa Barat selama ini dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan, senantiasa menjunjung tinggi tata-krama dalam kehidupan bermasyarakat, dan cenderung menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Karena itu, munculnya laporan-laporan yang menyatakan bahwa fenomena kekerasan atas nama agama di tanah Pasundan semakin meningkat dari tahun ke tahun, sungguh mengejutkan. Dalam laporan akhir tahun 2015 lalu, misalnya, Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan) menyebutkan bahwa Jawa Barat merupakan daerah dengan tingkat intoleransi agama paling tinggi dimana terjadi 18 kasus kekerasan agama. Bahkan sebelumnya, pada tahun 2014, tercatat 55 kali aksi pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Jawa barat. Angka ini jauh melampaui posisi kedua DI Yogyakarta dengan jumlah kekerasan 21 dan Ketiga Sumatera Utara yakni pada angka 18.

     Menurut komisioner Komnas HAM untuk bidang Kebebasan Beragama, Imdadun Rahmat, sejak tahun 2011, Jawa Barat berkali-kali masuk daftar teratas daerah dengan masyarakat yang tidak menghargai kebebasan beragama. Salah satu yang terbesar adalah pada 2013 ketika Setara Institute mencatat ada 80 kasus pelanggaran kebebasan beragama di Jawa Barat. Imdadun menyebut contoh kasus nyata pelanggaran kebebasan beragama di Jawa Barat adalah penyegelan  Gereja Yasmin di Bogor, pelarangan terhadap tujuh gereja di Bandung pada pertengahan Juni 2015, dan pelanggaran kebebasan ibadah bagi terhadap jemaat Ahmadiyah. Untuk kasus yang terakhir ini ia menyebut mulai dari perlakuan diskriminatif, larangan beribadah, larangan berkumpul, hingga larangan menyebarkan ajaran Ahmadiyah.

     Data-data tersebut memberi indikasi bahwa Jawa Barat termasuk kategori wilayah di Indonesia yang sensitif terhadap isu toleransi. Sekali lagi, data-data ini menjadi sebuah ironi yang memilukan terutama karena ia terjadi di tanah Pasundan, daerah yang mewarisi ajaran luhur “silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi” dari Prabu Siliwangi. Munculnya kelompok-kelompok intoleran di Jawa Barat juga menjadi spekulasi tersendiri bahwa orang Sunda kini sudah berubah, dari pribadi-pribadi yang ramah menjadi pribadi pemarah, dari sosok yang lembut dan santun menjadi pribadi yang beringas.

     Fakta-fakta diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah yang banyak terjadi di Jawa Barat bukan hanya mengindikasikan mulai lunturnya ajaran-ajaran luhur Sunda tentang silih asah-asih-asuh, namun juga memperlihatkan orientasi keagamaan yang mulai mengeras, dimana perbedaan pandangan atau ajaran cenderung disikapi secara sinis dan penuh kecurigaan. Dalam kondisi seperti ini, orang cenderung mudah menghakimi orang lain atau kelompok lain yang berbeda. Pelabelan sesat atau kafir mudah dilakukan dan menjadi pemicu bagi munculnya tindakan kekerasan seperti pengusiran, pelarangan, intimidasi, dan pemasungan hak-hak sipil warga penganut Ahmadiyah. Namun, jikapun benar Ahmadiyah adalah aliran sesat, lantas apakah jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemaksaan agar mereka bertaubat? Dan yang lebih penting lagi, apakah kekerasan adalah jalan terbaik yang dituntunkan oleh agama dalam mengatasi hal tersebut? Dalam banyak kasus dan peristiwa, tidak ada bukti-bukti yang meyakinkan bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah. Bahkan, ia akan menimbulkan masalah baru karena setiap kekerasan selalu menyisakan luka dan trauma yang tidak mudah dihapuskan dari memori kolektif korban. Dalam jangka panjang, ia seperti menyembunyikan api kebencian dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali.

     Inilah yang patut kita renungkan dalam kaitannya dengan kasus kekerasan agama. Kita tidak boleh berhenti untuk belajar, merenung, dan mempertanyakan apakah sikap dan perilaku keagamaan kita selama ini sudah benar.

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut :

Wednesday, 27 July 2016 12:40

Laporan Field Trip Yogyakarta 2016

Yogyakarta merupakan “rumah” bagi keberagaman, baik keragaman ras, suku, budaya, maupun agama. Yogyakarta memiliki 136 unit perguruan tinggi yang memiliki beberapa kategori diantaranya akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut,  dan universitas. Sehingga tidak mengherankan bila Yogyakarta dijuluki kota pendidikan. Hasilnya, Yogyakarta sangat diwarnai oleh dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan keragamannya Yogyakarta dapat dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Selain itu, Yogyakarta juga merupakan salah satu tujuan wisata yang banyak digemari turis manca negara maupun domestik. Hal ini yang kemudian menjadikan Yogyakarta semakin plural penduduknya.

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penduduk yang cukup padat. Berdasarkan Hasil Sensus penduduk oleh BPS pada tahun 2010, jumlah penduduk yang tinggal di wilayah DIY mencapai 3.457.491 jiwa, dengan komposisi 49,43% laki-laki dan 50,57% perempuan yang tersebar di lima kabupaten/kota. Padatnya penduduk ini merupakan konsekuensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota wisata yang sekaligus kota budaya di Indonesia. Dari demografi agama, berdasarkan data dari Kementrian Agama DIY pada tahun 2013, menunjukkan bahwa mayoritas penduduk DIY beragama Islam dengan persentase 92,204% atau sebanyak 3.355.990 orang. Hal ini juga ditunjukkan pada masing-masing kabupaten/kota di 5 kabupaten/kota di DIY. Komposisi ini diikuti oleh jumlah tempat ibadah dengan mayoritas tempat ibadah agama Islam yaitu dengan jumlah 12.834 bangunan yang terdiri dari masjid, musholla, dan langgar. Namun hal ini tidak berarti bahwa agama lain yang minoritas tidak mendapatkan haknya.

Keragaman kota berimplikasi pada perkembangan Yogyakarta sendiri, entah itu dari aspek sosial, politik, ekonomi, maupun keberagaman. Dari aspek ekonomi misalnya, untuk menunjang kebutuhan mahasiswa banyak berdiri apartement-apartement, real-estate, supermarket, mall, dan lain-lain yang dapat memenuhi apa yang diinginkan pendatang. Namun, di sisi lain, berdirinya bangunan-bangunan tersebut berdampak negatif pada masyarakat sekitar. Tak jarang masyarakat yang akhirnya menolak pendirian bangunan-bangunan tersebut karena dianggap mengganggu stabilitas sosial serta untuk tetap menjaga kearifan lokal yang selama ini sudah dibentuk masyarakat.

Meski diwarnai dengan keberagaman, Yogyakarta secara umum masih bertahan dengan stigma “adem ayem” artinya meskipun ada dan mungkin banyak konflik yang terjadi di balik “adem ayem”-nya sejauh ini Yogyakarta tetap berjiwa Jawa yang selalu menjunjung tinggi tradisi santun, tata karma, toleransi, dan budi pekerti dalam praktek kehidupan sehari-hari. Barangkali prinsip-prinsip tersebut yang menyatukan keberbedaan yang ada. Siapapun yang hidup di Yogyakarta harus menjunjung tinggi nilai-nilai tata karma dan sopan santun yang berlaku.

Yogyakarta memang sering didaulat sebagai the city of tolerance dengan perdamaian yang terwujud di antara penduduk yang multicultural. Hingga saat ini Yogyakarta belum memiliki sejarah konflik yang menghawatirkan, namun tak berarti Yogyakarta bebas dari kemungkinan terjadinya konflik sosial yang destruktif. Apalagi Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan dinamika sosial yang cukup signifikan. Peluang terjadinya konflikpun semakin besar Menurut Surwandono, konflik SARA merupakan konflik yang tertinggi di Yogyakarta dan kondisinya sangat memprihatinkan.

 

 

 

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut :

“ Tidak ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama. Tidak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama”. Sepertinya tagline Hans Kung berikut yang tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi belakangan ini yang terjadi pada sebagian besar bangsa di dunia. Tidak dapat dipungkiri banyak masalah kebangsaan mencuat ke permukaan yang mengatasnamakan agama.  Ini bukanlah sebuah masalah remehtemeh, setiap individu yang mendiami suatu bangsa maka berkewajiban ikut serta menjaga keutuhan dan perdamaian bangsanya.


Minggu, 12 Juni 2016. Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) Yogyakarta pada kesempatan kali ini benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi yang diajarkan Islam melalui kunjungannya ke Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng Poncowinatan. Kunjungan ini dilakukan oleh STAISPA (Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran), perguruan tinggi berbasis pesantren yang berada di bawah naungan yayasan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran untuk memenuhi aplikasi nyata salah satu matakuliah  kami, yaitu Studi Agama-agama. Kunjungan kali ini ditujukan untuk mengenal dasar-dasar agama dalam agama Katholik dan Konghuchu. Belajar bukan berarti harus mengamalkan, tapi setidaknya kami banyak bertukar wawasan, prinsip ini yang kami pegang ketika belajar lintas iman dengan teman-teman di Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng. Di Seminari kami dipandu oleh frater-frater[1] mengenal sekilas bagaimana iman dalam Khatolik dan ibadah apa saja yang mereka lakukan dalam sehari. Selain itu mereka juga memberi tahu kami apa saja aktifitas harian yang dilakukan di asrama, mulai dari bangun hingga tidur lagi. Berbeda dengan di Klentheng, di sana kami dipandu oleh pengurus Klentheng dan banyak melakukan dialog mengenai iman, ibadah, dan filosofi-filosofi dalam agama Konghuchu.

Pada dasarnya, Khatolik dan Islam adalah agama yang lahir dalam satu rahim monoteisme. Sebagaimana yang disampaikan frater Essa, agama Khatolik tetap mengesakan Allah. Bedanya, mereka menggunakan trinitas, dan Islam tidak. Berdasarkan dialog yang kami lakukan dengan frater-frater di Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng  Poncowinatan, entah itu pemeluk Islam, Khatholik maupun Konghuchu sama-sama ingin mencapai keselamatan dan mencari jalan menuju Allah namun hanya cara kita yang berbeda. Apa yang dilakukan oleh PPSPA adalah sebuah cerminan bahwa pesantren tidak selamanya kolot dalam memandang perbedaan. Selain kunjungan ini, insiatif damai juga dilakukan dengan cara tidak membatasi tamu maupun pelajar yang berasal dari luar Indonesia bahkan non-Muslim sekalipun. Semuanya diterima dengan dengan baik selama beri’tikad baik pula. Misalnya, pada setiap tahun Pondok Pesantren Sunan Pandanaran melakukan dialog dengan lintas iman di bawah lembaga DIAN. Yang menjadi titik tekan di sini, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mengusung “anti non-blok” artinya tidak barat sentris maupun timu sentris. Keduanya dirangkul dengan baik. Di bawah naungan al-Qur’an, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mengedepankan prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Keempat prinsip inilah yang benar-benar dijunjung oleh Ponpes Sunan Pandanaran untuk menanggapi multicultural, agar kita tidak terlalu latah. Apa yang dilakukan PPSPA benar-benar mengimplementasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi dalam Islam, sebagaimana yang tertuang dalam QS. An-Nisa’[4]: 1, QS. Al-Maidah [5]: 32 dan 48. Betapa indah ketika kita bisa hidup saling berdampingan di tengah masyarakat yang multikultural.

 

 

[1] Frater dalam agama Khatolik adalah calon pastor yang nantinya akan menjadi pastor ketika sudah menyelesaikan pendidikannya.

 

 

Ditulis Oleh :  Fatikhatul Faizah (Santri Pesantren for Peace Angkatan Kedua)

Thursday, 14 April 2016 15:07

Laporan Field Trip DKI Jakarta 2016

Adalah sunnatullah dan takdir Tuhan untuk menjadikan  manusia hadir di muka bumi ini dengan segala bentuk perbedaan sifat, kepentingan, keinginan, keyakinan, etnisitas, dan lain sebagainya. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari karunia dan rahmat Allah Swt. Namun mengapa keberagaman (pluralisme) itu menjadi cikal bakal manusia untuk terus berkubang dengan lumpur konflik yang tak kunjung berakhir. Perbedaan mengenai pemahaman atas sebuah ideologi (agama), seharusnya tidak lantas disikapi dengan melakukan tindak kekerasan, apalagi dengan mengatasnamakan agama.

Di Indonesia, kekerasan atas nama agama, perampasan atas hak kaum minoritas, diskriminasi terhadap hak kaum marginal, masih sangat rentan terjadi tiap tahunnya. Situasi penghormatan dan perlindungan atas jaminan kebebasan menjalankan ibadah, beragama, dan berkeyakinan belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

Setidaknya menurut laporan KONTRAS, pada 2015, masih terdapat 96 kasus intoleransi kebebasan beragama, dimana terdapat 3 daerah yang paling banyak melakukan praktek ini yaitu Jawa Barat (18 kasus), menyusul DKI Jakarta dan Banten (masing-masing 11 kasus), serta Aceh (9 kasus). Jenis tindakan pelanggaran yang dilakukan berupa  intoleransi, penyesatan agama, penyebaran kebencian, perusakan rumah ibadah, dan penghentian kegiatan keagamaan lain. Realitas ini menunjukkan betapa kebebasan beragama masih menjadi batu kerikil implementasi HAM di negeri ini.

Salah satu kasus penting yang banyak disorot publik perihal intoleransi kebebasan beragama adalah kasus penyegelan Gereja Paroki St. Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, yang terjadi pada Minggu 22 September 2013 lalu. Kala itu, Gereja didemo sekelompok massa yang mengatasnamakan ummat Islam dengan nama “Forum Komunikasi Ummat Islam (FKUI)” yang meminta kegiatan ibadah dan pembangunan gereja dihentikan. Mereka berdalih, kehadiran gereja sangat meresahkan warga karena ditakutkan tersebarnya doktrin-doktrin ajaran Kristen kepada masyarakat sekitarnya (kristenisasi), dan adanya kecurigaan akan dijadikannya gereja ini sebagai gereja terbesar di Asia tenggara. Walau tuduhan tanpa bukti tersebut sudah dijelaskan dan dibantah, namun massa ini tetap memaksakan kehendaknya untuk terus menyegel dan  menutup seluruh aktivitas kegiatan ibadah di gereja tersebut.

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip DKI Jakarta 2016

Wednesday, 22 June 2016 15:39

Semedi di Pesantren

Suatu sore, aku duduk di teras gedung pondok sambil memandangi beberapa santri yang duduk-duduk di atas batu besar. Ada yang sibuk membaca buku, ada yang bercanda dengan temannya yang lain, sambil mendengarkan lantunan Al Quran yang mengalun lembut dari pengeras suara masjid menembus dinding-dinding asrama, dari kamar tidur hingga kamar mandi yang berjejer panjang, melengkapi riuh nyanyian santri yang sedang asik mengucek baju kotornya, berpadu dengan suara percikan air yang keluar dari keran-keran. Harmoni musik yang magis.

Hembusan angin menjatuhkan daun-daun yang menguning dari ranting-ranting pohon, menambah rasa damai yang tidak hanya hadir di sudut-sudut masjid, tapi juga hadir kepada siapa saja yang memandang, melalui mata, masuk ke dalam syaraf dan sel-sel otak, hingga merasuk ke ruang hati yang terdalam. Nyes! Sejuk!

Kehidupan indah nan damai di pesantren, kadang terusik (bisa juga diusik) oleh suara-suara parau dari kehidupan dunia luar sana. Kabar nasib bangsa dan negara yang pasang-surut jatuh-bangun sering hilir mudik ke telinga-telinga santri.

Santri yang baik akan menganggapnya sebagai dinamika dunia saja, tak akan kaget dan gumun terhadap apapun yang terjadi di luar sana. Karena ia tahu, bahwa ia sedang bersemedi di pesantren. Belum saatnya turun gunung, ia masih muda, masih banyak kitab yang harus ia pelajari. Maka belum saatnya keluar dari tempat persemedian, apalagi sok jadi pendekar yang ingin menyelamatkan Bangsa dan Negara ini dari penjahat-penjahat penjarah tanah warga.

Belum, belum saatnya, belum cukup ilmu. Jika santri memaksa diri keluar, nanti jadi sok jagoan, hantam sana hantam sini, semua orang yang berbeda dengan pendapat santri ini, akan dianggap musuh yang membahayakan agama dan juga negara. Padahal yang bahaya ia sendiri, karena ilmunya belum cukup, tapi ingin jadi jagoan. Bahaya!

Aku teringat kawan, lebih tepatnya kakak kelas satu perguruan. Pribadinya tenang, santun, tidak banyak bicara kecuali hal-hal penting. Padahal, menurut kawanku yang lain yang pernah duduk satu kelas dengannya, ia memiliki wawasan yang sangat luas, tidak hanya ilmu agama, tapi juga berbagai disiplin ilmu yang lain. Ia bisa bergaul dengan siapa saja, mulai dari masyarakat biasa yang awam ajaran agama, hingga mereka yang mempunyai pendidikan dan jabatan yang tinggi di masyarakat. Ia bisa mengimbangi apa saja tema pembicaraan, tidak melebihi ataupun mengurangi, komunikasi yang baik kepada siapa saja adalah tujuannya.

Padahal, ketika menjadi santri, ia terlihat biasa-biasa saja. Mungkin karena ia dididik oleh ayah yang pernah menjadi ketua umum organisasi Islam terbesar di negeri ini, dan memiliki banyak guru dzahir dan juga guru batin, membuatnya menjadi pribadi yang "biasa-biasa saja", sangat tenang dan santun, menyadari diri bahwa ia masih harus bersemedi, belum saatnya turun gunung dan jadi pendekar. Ciaaaaat!!

Itulah santri di pesantren. Petapa yang harus kuat menahan segala godaan gelimang dunia. Matanya menerawang jauh ke dunia yang luas, namun hatinya tetap diajak duduk di atas batu sambil belajar, berdzikir, dan bertasbih, mengawasi dan mengamati keadaan diri. Tidak ada hal lain yang penting, kecuali terus memperbaiki sinyal komunikasi dirinya dan Tuhan yang menciptakannya.

Hanya saja, santri dan pesantren masa kini tidak seperti zaman dahulu. Atau boleh disebut sudah sangat sedikit yang bisa disebut "PESANTREN". Bahkan sudah jauh orientasinya. Jauh, sangat jauh. Kawah candra di muka yang seharusnya melahirkan generasi "mundzirul qoum idza roja'u" ini, sekarang tidak lagi. Keluar pesantren daftar jadi buruh di perusahaan-perusahaan besar yang terkadang mengabaikan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan demi mengejar keuntungan komersial. Ilmunya kurang tapi pandai berdalil.

Kenyataanya memang seperti itu. Banyak berdiri lembaga pendidikan dengan memasang plang pondok pesantren, tapi nyatanya tak ubahnya dengan pabrik pencetak buruh. Kurikulum pun disusun sedemikan rupa. Hingga pemahaman ajaran agamanya kurang, keluar pesantren jadi sok jagoan. Senggol dikit, bakar! Beda dikit, bubarkan!

Santri sekarang, tidak lagi duduk manis di atas batu untuk bersemedi. Tempat persemediannya berubah. Warnet dan rental Play Station adalah tempat mereka bersemedia. Maka tidak heran, karena tidak paham metodologi penentuan hukum, jika ditanya tentang hukum rujukannya adalah Hadrotu Al Syaikh Al 'Alaamah Kyai Al Haaj Al Googliyah.

Afthon Lubbi Nuriz
Cidokom Bogor, 17 Ramadhan 1437.

Monday, 20 June 2016 16:28

Pengumuman Hasil Seleksi Penerima Dana Hibah PfP

Written by

Berdasarkan hasil seleksi administrasi, verifikasi dokumen dan penilaian substansi proposal, dengan ini diumumkan bahwa nama-nama pesantren terlampir dinyatakan DITERIMA proposalnya untuk menerima dana hibah (sub-grant) program Pesantren for Peace sesuai dengan program diajukan.

selanjutnya, kami sampaikan ketentuannya dalam file yang dapat diakses melalui link di bawah ini:

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dikunjungi oleh direktur baru Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Jan Senkyr, dalam rangka meeting steering committee yang rutin dilakukan setiap bulan untuk melihat perkembangan program Pesantren for Peace yang telah berjalan selama 18 bulan.

Meeting Steering Committee bersama direktur baru KAS tersebut dihadiri oleh direktur CSRC, Irfan Abu Bakar dan tim inti program Pesantren for Peace, Sarah Sabina Hasbar (Manajer Program PfP), Idris Hemay (Koordinator Program PfP), Muchtadlirin (Sekretaris Program PfP), serta Efrida Yasni (Bendahara Program PfP).

Hal-hal yang akan dibahas dalam rapat tersebut diantaranya mengenai hasil midterm evaluation yang dilakukan oleh Prof. Derichs bulan April lalu, laporan pelaksanaan Training of Trainers santri yang dilaksanakan awal Juni lalu, serta perkembangan program Dana Hibah (Subgrant).

Rapat ini akan dimulai pukul 10.30 WIB di meeting room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Bahasa dan Budaya Lt.2. [LH]  

Page 6 of 14