Friday, 29 July 2016 15:36

Laporan Field Trip Bandung 2016

Masyarakat Jawa Barat selama ini dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan, senantiasa menjunjung tinggi tata-krama dalam kehidupan bermasyarakat, dan cenderung menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Karena itu, munculnya laporan-laporan yang menyatakan bahwa fenomena kekerasan atas nama agama di tanah Pasundan semakin meningkat dari tahun ke tahun, sungguh mengejutkan. Dalam laporan akhir tahun 2015 lalu, misalnya, Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan) menyebutkan bahwa Jawa Barat merupakan daerah dengan tingkat intoleransi agama paling tinggi dimana terjadi 18 kasus kekerasan agama. Bahkan sebelumnya, pada tahun 2014, tercatat 55 kali aksi pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Jawa barat. Angka ini jauh melampaui posisi kedua DI Yogyakarta dengan jumlah kekerasan 21 dan Ketiga Sumatera Utara yakni pada angka 18.

     Menurut komisioner Komnas HAM untuk bidang Kebebasan Beragama, Imdadun Rahmat, sejak tahun 2011, Jawa Barat berkali-kali masuk daftar teratas daerah dengan masyarakat yang tidak menghargai kebebasan beragama. Salah satu yang terbesar adalah pada 2013 ketika Setara Institute mencatat ada 80 kasus pelanggaran kebebasan beragama di Jawa Barat. Imdadun menyebut contoh kasus nyata pelanggaran kebebasan beragama di Jawa Barat adalah penyegelan  Gereja Yasmin di Bogor, pelarangan terhadap tujuh gereja di Bandung pada pertengahan Juni 2015, dan pelanggaran kebebasan ibadah bagi terhadap jemaat Ahmadiyah. Untuk kasus yang terakhir ini ia menyebut mulai dari perlakuan diskriminatif, larangan beribadah, larangan berkumpul, hingga larangan menyebarkan ajaran Ahmadiyah.

     Data-data tersebut memberi indikasi bahwa Jawa Barat termasuk kategori wilayah di Indonesia yang sensitif terhadap isu toleransi. Sekali lagi, data-data ini menjadi sebuah ironi yang memilukan terutama karena ia terjadi di tanah Pasundan, daerah yang mewarisi ajaran luhur “silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi” dari Prabu Siliwangi. Munculnya kelompok-kelompok intoleran di Jawa Barat juga menjadi spekulasi tersendiri bahwa orang Sunda kini sudah berubah, dari pribadi-pribadi yang ramah menjadi pribadi pemarah, dari sosok yang lembut dan santun menjadi pribadi yang beringas.

     Fakta-fakta diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah yang banyak terjadi di Jawa Barat bukan hanya mengindikasikan mulai lunturnya ajaran-ajaran luhur Sunda tentang silih asah-asih-asuh, namun juga memperlihatkan orientasi keagamaan yang mulai mengeras, dimana perbedaan pandangan atau ajaran cenderung disikapi secara sinis dan penuh kecurigaan. Dalam kondisi seperti ini, orang cenderung mudah menghakimi orang lain atau kelompok lain yang berbeda. Pelabelan sesat atau kafir mudah dilakukan dan menjadi pemicu bagi munculnya tindakan kekerasan seperti pengusiran, pelarangan, intimidasi, dan pemasungan hak-hak sipil warga penganut Ahmadiyah. Namun, jikapun benar Ahmadiyah adalah aliran sesat, lantas apakah jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemaksaan agar mereka bertaubat? Dan yang lebih penting lagi, apakah kekerasan adalah jalan terbaik yang dituntunkan oleh agama dalam mengatasi hal tersebut? Dalam banyak kasus dan peristiwa, tidak ada bukti-bukti yang meyakinkan bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah. Bahkan, ia akan menimbulkan masalah baru karena setiap kekerasan selalu menyisakan luka dan trauma yang tidak mudah dihapuskan dari memori kolektif korban. Dalam jangka panjang, ia seperti menyembunyikan api kebencian dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali.

     Inilah yang patut kita renungkan dalam kaitannya dengan kasus kekerasan agama. Kita tidak boleh berhenti untuk belajar, merenung, dan mempertanyakan apakah sikap dan perilaku keagamaan kita selama ini sudah benar.

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut :

Wednesday, 27 July 2016 12:40

Laporan Field Trip Yogyakarta 2016

Yogyakarta merupakan “rumah” bagi keberagaman, baik keragaman ras, suku, budaya, maupun agama. Yogyakarta memiliki 136 unit perguruan tinggi yang memiliki beberapa kategori diantaranya akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut,  dan universitas. Sehingga tidak mengherankan bila Yogyakarta dijuluki kota pendidikan. Hasilnya, Yogyakarta sangat diwarnai oleh dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan keragamannya Yogyakarta dapat dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Selain itu, Yogyakarta juga merupakan salah satu tujuan wisata yang banyak digemari turis manca negara maupun domestik. Hal ini yang kemudian menjadikan Yogyakarta semakin plural penduduknya.

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penduduk yang cukup padat. Berdasarkan Hasil Sensus penduduk oleh BPS pada tahun 2010, jumlah penduduk yang tinggal di wilayah DIY mencapai 3.457.491 jiwa, dengan komposisi 49,43% laki-laki dan 50,57% perempuan yang tersebar di lima kabupaten/kota. Padatnya penduduk ini merupakan konsekuensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota wisata yang sekaligus kota budaya di Indonesia. Dari demografi agama, berdasarkan data dari Kementrian Agama DIY pada tahun 2013, menunjukkan bahwa mayoritas penduduk DIY beragama Islam dengan persentase 92,204% atau sebanyak 3.355.990 orang. Hal ini juga ditunjukkan pada masing-masing kabupaten/kota di 5 kabupaten/kota di DIY. Komposisi ini diikuti oleh jumlah tempat ibadah dengan mayoritas tempat ibadah agama Islam yaitu dengan jumlah 12.834 bangunan yang terdiri dari masjid, musholla, dan langgar. Namun hal ini tidak berarti bahwa agama lain yang minoritas tidak mendapatkan haknya.

Keragaman kota berimplikasi pada perkembangan Yogyakarta sendiri, entah itu dari aspek sosial, politik, ekonomi, maupun keberagaman. Dari aspek ekonomi misalnya, untuk menunjang kebutuhan mahasiswa banyak berdiri apartement-apartement, real-estate, supermarket, mall, dan lain-lain yang dapat memenuhi apa yang diinginkan pendatang. Namun, di sisi lain, berdirinya bangunan-bangunan tersebut berdampak negatif pada masyarakat sekitar. Tak jarang masyarakat yang akhirnya menolak pendirian bangunan-bangunan tersebut karena dianggap mengganggu stabilitas sosial serta untuk tetap menjaga kearifan lokal yang selama ini sudah dibentuk masyarakat.

Meski diwarnai dengan keberagaman, Yogyakarta secara umum masih bertahan dengan stigma “adem ayem” artinya meskipun ada dan mungkin banyak konflik yang terjadi di balik “adem ayem”-nya sejauh ini Yogyakarta tetap berjiwa Jawa yang selalu menjunjung tinggi tradisi santun, tata karma, toleransi, dan budi pekerti dalam praktek kehidupan sehari-hari. Barangkali prinsip-prinsip tersebut yang menyatukan keberbedaan yang ada. Siapapun yang hidup di Yogyakarta harus menjunjung tinggi nilai-nilai tata karma dan sopan santun yang berlaku.

Yogyakarta memang sering didaulat sebagai the city of tolerance dengan perdamaian yang terwujud di antara penduduk yang multicultural. Hingga saat ini Yogyakarta belum memiliki sejarah konflik yang menghawatirkan, namun tak berarti Yogyakarta bebas dari kemungkinan terjadinya konflik sosial yang destruktif. Apalagi Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan dinamika sosial yang cukup signifikan. Peluang terjadinya konflikpun semakin besar Menurut Surwandono, konflik SARA merupakan konflik yang tertinggi di Yogyakarta dan kondisinya sangat memprihatinkan.

 

 

 

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut :

“ Tidak ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama. Tidak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama”. Sepertinya tagline Hans Kung berikut yang tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi belakangan ini yang terjadi pada sebagian besar bangsa di dunia. Tidak dapat dipungkiri banyak masalah kebangsaan mencuat ke permukaan yang mengatasnamakan agama.  Ini bukanlah sebuah masalah remehtemeh, setiap individu yang mendiami suatu bangsa maka berkewajiban ikut serta menjaga keutuhan dan perdamaian bangsanya.


Minggu, 12 Juni 2016. Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) Yogyakarta pada kesempatan kali ini benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi yang diajarkan Islam melalui kunjungannya ke Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng Poncowinatan. Kunjungan ini dilakukan oleh STAISPA (Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran), perguruan tinggi berbasis pesantren yang berada di bawah naungan yayasan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran untuk memenuhi aplikasi nyata salah satu matakuliah  kami, yaitu Studi Agama-agama. Kunjungan kali ini ditujukan untuk mengenal dasar-dasar agama dalam agama Katholik dan Konghuchu. Belajar bukan berarti harus mengamalkan, tapi setidaknya kami banyak bertukar wawasan, prinsip ini yang kami pegang ketika belajar lintas iman dengan teman-teman di Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng. Di Seminari kami dipandu oleh frater-frater[1] mengenal sekilas bagaimana iman dalam Khatolik dan ibadah apa saja yang mereka lakukan dalam sehari. Selain itu mereka juga memberi tahu kami apa saja aktifitas harian yang dilakukan di asrama, mulai dari bangun hingga tidur lagi. Berbeda dengan di Klentheng, di sana kami dipandu oleh pengurus Klentheng dan banyak melakukan dialog mengenai iman, ibadah, dan filosofi-filosofi dalam agama Konghuchu.

Pada dasarnya, Khatolik dan Islam adalah agama yang lahir dalam satu rahim monoteisme. Sebagaimana yang disampaikan frater Essa, agama Khatolik tetap mengesakan Allah. Bedanya, mereka menggunakan trinitas, dan Islam tidak. Berdasarkan dialog yang kami lakukan dengan frater-frater di Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng  Poncowinatan, entah itu pemeluk Islam, Khatholik maupun Konghuchu sama-sama ingin mencapai keselamatan dan mencari jalan menuju Allah namun hanya cara kita yang berbeda. Apa yang dilakukan oleh PPSPA adalah sebuah cerminan bahwa pesantren tidak selamanya kolot dalam memandang perbedaan. Selain kunjungan ini, insiatif damai juga dilakukan dengan cara tidak membatasi tamu maupun pelajar yang berasal dari luar Indonesia bahkan non-Muslim sekalipun. Semuanya diterima dengan dengan baik selama beri’tikad baik pula. Misalnya, pada setiap tahun Pondok Pesantren Sunan Pandanaran melakukan dialog dengan lintas iman di bawah lembaga DIAN. Yang menjadi titik tekan di sini, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mengusung “anti non-blok” artinya tidak barat sentris maupun timu sentris. Keduanya dirangkul dengan baik. Di bawah naungan al-Qur’an, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mengedepankan prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Keempat prinsip inilah yang benar-benar dijunjung oleh Ponpes Sunan Pandanaran untuk menanggapi multicultural, agar kita tidak terlalu latah. Apa yang dilakukan PPSPA benar-benar mengimplementasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi dalam Islam, sebagaimana yang tertuang dalam QS. An-Nisa’[4]: 1, QS. Al-Maidah [5]: 32 dan 48. Betapa indah ketika kita bisa hidup saling berdampingan di tengah masyarakat yang multikultural.

 

 

[1] Frater dalam agama Khatolik adalah calon pastor yang nantinya akan menjadi pastor ketika sudah menyelesaikan pendidikannya.

 

 

Ditulis Oleh :  Fatikhatul Faizah (Santri Pesantren for Peace Angkatan Kedua)

Thursday, 14 April 2016 15:07

Laporan Field Trip DKI Jakarta 2016

Adalah sunnatullah dan takdir Tuhan untuk menjadikan  manusia hadir di muka bumi ini dengan segala bentuk perbedaan sifat, kepentingan, keinginan, keyakinan, etnisitas, dan lain sebagainya. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari karunia dan rahmat Allah Swt. Namun mengapa keberagaman (pluralisme) itu menjadi cikal bakal manusia untuk terus berkubang dengan lumpur konflik yang tak kunjung berakhir. Perbedaan mengenai pemahaman atas sebuah ideologi (agama), seharusnya tidak lantas disikapi dengan melakukan tindak kekerasan, apalagi dengan mengatasnamakan agama.

Di Indonesia, kekerasan atas nama agama, perampasan atas hak kaum minoritas, diskriminasi terhadap hak kaum marginal, masih sangat rentan terjadi tiap tahunnya. Situasi penghormatan dan perlindungan atas jaminan kebebasan menjalankan ibadah, beragama, dan berkeyakinan belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

Setidaknya menurut laporan KONTRAS, pada 2015, masih terdapat 96 kasus intoleransi kebebasan beragama, dimana terdapat 3 daerah yang paling banyak melakukan praktek ini yaitu Jawa Barat (18 kasus), menyusul DKI Jakarta dan Banten (masing-masing 11 kasus), serta Aceh (9 kasus). Jenis tindakan pelanggaran yang dilakukan berupa  intoleransi, penyesatan agama, penyebaran kebencian, perusakan rumah ibadah, dan penghentian kegiatan keagamaan lain. Realitas ini menunjukkan betapa kebebasan beragama masih menjadi batu kerikil implementasi HAM di negeri ini.

Salah satu kasus penting yang banyak disorot publik perihal intoleransi kebebasan beragama adalah kasus penyegelan Gereja Paroki St. Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, yang terjadi pada Minggu 22 September 2013 lalu. Kala itu, Gereja didemo sekelompok massa yang mengatasnamakan ummat Islam dengan nama “Forum Komunikasi Ummat Islam (FKUI)” yang meminta kegiatan ibadah dan pembangunan gereja dihentikan. Mereka berdalih, kehadiran gereja sangat meresahkan warga karena ditakutkan tersebarnya doktrin-doktrin ajaran Kristen kepada masyarakat sekitarnya (kristenisasi), dan adanya kecurigaan akan dijadikannya gereja ini sebagai gereja terbesar di Asia tenggara. Walau tuduhan tanpa bukti tersebut sudah dijelaskan dan dibantah, namun massa ini tetap memaksakan kehendaknya untuk terus menyegel dan  menutup seluruh aktivitas kegiatan ibadah di gereja tersebut.

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip DKI Jakarta 2016

Wednesday, 22 June 2016 15:39

Semedi di Pesantren

Suatu sore, aku duduk di teras gedung pondok sambil memandangi beberapa santri yang duduk-duduk di atas batu besar. Ada yang sibuk membaca buku, ada yang bercanda dengan temannya yang lain, sambil mendengarkan lantunan Al Quran yang mengalun lembut dari pengeras suara masjid menembus dinding-dinding asrama, dari kamar tidur hingga kamar mandi yang berjejer panjang, melengkapi riuh nyanyian santri yang sedang asik mengucek baju kotornya, berpadu dengan suara percikan air yang keluar dari keran-keran. Harmoni musik yang magis.

Hembusan angin menjatuhkan daun-daun yang menguning dari ranting-ranting pohon, menambah rasa damai yang tidak hanya hadir di sudut-sudut masjid, tapi juga hadir kepada siapa saja yang memandang, melalui mata, masuk ke dalam syaraf dan sel-sel otak, hingga merasuk ke ruang hati yang terdalam. Nyes! Sejuk!

Kehidupan indah nan damai di pesantren, kadang terusik (bisa juga diusik) oleh suara-suara parau dari kehidupan dunia luar sana. Kabar nasib bangsa dan negara yang pasang-surut jatuh-bangun sering hilir mudik ke telinga-telinga santri.

Santri yang baik akan menganggapnya sebagai dinamika dunia saja, tak akan kaget dan gumun terhadap apapun yang terjadi di luar sana. Karena ia tahu, bahwa ia sedang bersemedi di pesantren. Belum saatnya turun gunung, ia masih muda, masih banyak kitab yang harus ia pelajari. Maka belum saatnya keluar dari tempat persemedian, apalagi sok jadi pendekar yang ingin menyelamatkan Bangsa dan Negara ini dari penjahat-penjahat penjarah tanah warga.

Belum, belum saatnya, belum cukup ilmu. Jika santri memaksa diri keluar, nanti jadi sok jagoan, hantam sana hantam sini, semua orang yang berbeda dengan pendapat santri ini, akan dianggap musuh yang membahayakan agama dan juga negara. Padahal yang bahaya ia sendiri, karena ilmunya belum cukup, tapi ingin jadi jagoan. Bahaya!

Aku teringat kawan, lebih tepatnya kakak kelas satu perguruan. Pribadinya tenang, santun, tidak banyak bicara kecuali hal-hal penting. Padahal, menurut kawanku yang lain yang pernah duduk satu kelas dengannya, ia memiliki wawasan yang sangat luas, tidak hanya ilmu agama, tapi juga berbagai disiplin ilmu yang lain. Ia bisa bergaul dengan siapa saja, mulai dari masyarakat biasa yang awam ajaran agama, hingga mereka yang mempunyai pendidikan dan jabatan yang tinggi di masyarakat. Ia bisa mengimbangi apa saja tema pembicaraan, tidak melebihi ataupun mengurangi, komunikasi yang baik kepada siapa saja adalah tujuannya.

Padahal, ketika menjadi santri, ia terlihat biasa-biasa saja. Mungkin karena ia dididik oleh ayah yang pernah menjadi ketua umum organisasi Islam terbesar di negeri ini, dan memiliki banyak guru dzahir dan juga guru batin, membuatnya menjadi pribadi yang "biasa-biasa saja", sangat tenang dan santun, menyadari diri bahwa ia masih harus bersemedi, belum saatnya turun gunung dan jadi pendekar. Ciaaaaat!!

Itulah santri di pesantren. Petapa yang harus kuat menahan segala godaan gelimang dunia. Matanya menerawang jauh ke dunia yang luas, namun hatinya tetap diajak duduk di atas batu sambil belajar, berdzikir, dan bertasbih, mengawasi dan mengamati keadaan diri. Tidak ada hal lain yang penting, kecuali terus memperbaiki sinyal komunikasi dirinya dan Tuhan yang menciptakannya.

Hanya saja, santri dan pesantren masa kini tidak seperti zaman dahulu. Atau boleh disebut sudah sangat sedikit yang bisa disebut "PESANTREN". Bahkan sudah jauh orientasinya. Jauh, sangat jauh. Kawah candra di muka yang seharusnya melahirkan generasi "mundzirul qoum idza roja'u" ini, sekarang tidak lagi. Keluar pesantren daftar jadi buruh di perusahaan-perusahaan besar yang terkadang mengabaikan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan demi mengejar keuntungan komersial. Ilmunya kurang tapi pandai berdalil.

Kenyataanya memang seperti itu. Banyak berdiri lembaga pendidikan dengan memasang plang pondok pesantren, tapi nyatanya tak ubahnya dengan pabrik pencetak buruh. Kurikulum pun disusun sedemikan rupa. Hingga pemahaman ajaran agamanya kurang, keluar pesantren jadi sok jagoan. Senggol dikit, bakar! Beda dikit, bubarkan!

Santri sekarang, tidak lagi duduk manis di atas batu untuk bersemedi. Tempat persemediannya berubah. Warnet dan rental Play Station adalah tempat mereka bersemedia. Maka tidak heran, karena tidak paham metodologi penentuan hukum, jika ditanya tentang hukum rujukannya adalah Hadrotu Al Syaikh Al 'Alaamah Kyai Al Haaj Al Googliyah.

Afthon Lubbi Nuriz
Cidokom Bogor, 17 Ramadhan 1437.

Monday, 20 June 2016 16:28

Pengumuman Hasil Seleksi Penerima Dana Hibah PfP

Written by

Berdasarkan hasil seleksi administrasi, verifikasi dokumen dan penilaian substansi proposal, dengan ini diumumkan bahwa nama-nama pesantren terlampir dinyatakan DITERIMA proposalnya untuk menerima dana hibah (sub-grant) program Pesantren for Peace sesuai dengan program diajukan.

selanjutnya, kami sampaikan ketentuannya dalam file yang dapat diakses melalui link di bawah ini:

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dikunjungi oleh direktur baru Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Jan Senkyr, dalam rangka meeting steering committee yang rutin dilakukan setiap bulan untuk melihat perkembangan program Pesantren for Peace yang telah berjalan selama 18 bulan.

Meeting Steering Committee bersama direktur baru KAS tersebut dihadiri oleh direktur CSRC, Irfan Abu Bakar dan tim inti program Pesantren for Peace, Sarah Sabina Hasbar (Manajer Program PfP), Idris Hemay (Koordinator Program PfP), Muchtadlirin (Sekretaris Program PfP), serta Efrida Yasni (Bendahara Program PfP).

Hal-hal yang akan dibahas dalam rapat tersebut diantaranya mengenai hasil midterm evaluation yang dilakukan oleh Prof. Derichs bulan April lalu, laporan pelaksanaan Training of Trainers santri yang dilaksanakan awal Juni lalu, serta perkembangan program Dana Hibah (Subgrant).

Rapat ini akan dimulai pukul 10.30 WIB di meeting room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Bahasa dan Budaya Lt.2. [LH]  

Aku lupa


Aku lupa kalau aku manusia
Aku lupa aku tak sempurna
Aku lupa jika aku punya agama
Aku lupa kalau aku tinggal di Negara
Dan aku lupa kalau punya pancasila

           Aku lupa kalau ada lelaki dan wanita
           Aku lupa aku punya teman sebaya
              Aku lupa aku punya tetangga
           Aku lupa aku tinggal di tanah siapa

Aku lupa kalau aku satu bangsa
Aku lupa kalau aku terdiri dari berbagai ras yang beraneka
Aku lupa kalau aku berbeda
Dan aku lupa bahwa aku mengidap penyakit besar kepala

           Aku lupa di kitab suci ada kata manusia
            Aku kira Tuhan hanya bercanda
              Aku lupa di kitab Suci Manusia begitu mulia
              Aku kira itu celotehan para pujangga

Aku lupa Tuhanpun melukis kata nasahra dan yahuda
Aku kira hanya agamaku saja yang ada
Tak kusangka?
Aku begitu lupa.

            Aku lupa Tuhan menciptakan adam dan hawa
               Aku lupa kalau aku berpijak di dunia
               Kusangka akhirat jualah yang ku cita
               Tak kusangka
               Aku begitu lupa.

Aku sangka itu hanya bualan belaka
Tak taunya ada kehendak yang Maha
aku ini kenapa?
manusia atau pencipta?
berani berkata benar atau salah
halal atau haramkah?
neraka atau surgakah?
teman atau musuhkah?
muslim atau kafirkah?
Tak kusangka penyakitku sudah sedemikian rupa.

           Sayang aku terlalu penyayang
              Pada egoku yang selalu kutimang
           Sayang aku terlalu perasa
             Pada perasaanku yang penuh durjana
             Sayang aku terlalu istiqomah
             Pada doaku yang berbunyi Robbana atina
             Hingga aku terlupa, jika yang selalu kusebut pertama adalah Fit dhunya

Sayang aku terlalu beriman
Pada sorgaku yang penuh dengan taman
Sayang sungguh sayang
Kusangka sorgaku hanya seorang
ternyata banyak orang yang lalu lalang.

 

Rafiq Mohammad, 23 Mei 2016

 


Friday, 03 June 2016 09:23

Training of Trainers Santri 5 Provinsi

Written by

Pesantrenforpeace.com – Sebagai tindak lanjut dari rangkaian kegiatan training untuk para santri yang diselenggarakan di lima provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat dan JABODETABEK), pesantren for peace kembali melibatkan 50 santri yang merupakan 5 terbaik dari 10 rangkaian capacity training untuk mengikuti kegiatan Training of Trainers.

Kegiatan Training of Trainers (ToT) ini berlokasi di DKI Jakarta, tepatnya di Hotel Ibis Cawang yang dimulai pada hari rabu (1/6/2016) dan akan berakhir pada sabtu (4/6/2016). Selama 4 hari ini, para santri disuguhi materi-materi untuk bekal mereka menjadi trainer. Materi dalam ToT ini dikemas menjadi 11 sesi, dimana sesi pertama yang membicarakan tentang “Relasi HAM dan Hukum Nasional” disampaikan langsung oleh Ketua Komnas HAM Republik Indonesia, Bapak Imdad Rahmat. Dalam sesi ini, para peserta sangat antusias untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai hukum nasional yang mengatur tentang HAM.

Pada hari kedua, peserta dari 5 provinsi ini melakukan perkenalan satu sama lain melalui permainan yang dipandu oleh sekretaris program Pesantren for Peace, Muchtadlirin. Usai perkenalan, para santri mengikuti sesi kedua bersama Dr. Chaider S. Bamualim, MA yang membahas tentang “Relasi HAM dan Islam”.

Setelah diberikan pemahaman yang mendalam mengenai HAM dan relasinya dengan hukum nasional dan Islam, peserta kemudian dibekali metode dan teknik-teknik pelatihan partisipatori, ice breaking dan energizer, serta komunikasi dasar dalam pelatihan yang disampaikan oleh pembicara yang ahli di bidangnya, diantaranya Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tanenji dan Yudhi Munadhi serta komisioner KPAI, Rita Pranawati.

Hari ketiga, para peserta dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan tema yang terdapat di modul untuk kemudian mempraktekkan fasilitasi bersama fasilitator yang berpengalaman, seperti Ahmad Gaus (peneliti CSRC), Ubed Abdillah (Peneliti CSRC), Wahidah Rosyadah (Trainer PfP Bandung), Hasan Mahfudh (Trainer PfP Yogyakarta), Fahsin Fa’al (Trainer PfP Semarang), Arsan (Trainer PfP DKI Jakarta), Afthon Lubis (Trainer PfP DKI Jakarta), dan Khudlori (Trainer PfP Surabaya).

Setelah praktek fasilitasi, para peserta diberikan kesempatan untuk menampilkan kreasi seni dan bakat dari daerah masing-masing yang dikemas dalam sebuah acara “Malam Perdamaian”. Acara ini akan menjadi kesan tersendiri bagi para peserta dan menjadi malam penutup kegiatan ToT ini.

Harapannya, setelah mengikuti training ini, para santri memiliki keterampilan dengan metode partisipatori terkait dengan tema pendidikan perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam. [LH]

 

Kami informasikan kepada seluruh pesantren, khususnya yang berlokasi di Pulau Jawa, bahwa Program Dana Hibah (Sub-Grant) yang telah dibuka sejak 1 Maret 2016 masih menerima pengajuan proposal dana hibah sampai tanggal 31 Mei 2016.

Dalam menentukan dan memutuskan penerima dana hibah PfP, Tim Penilai Proposal Dana Hibah yang dipilih secara profesional dan independen akan mengacu kepada kriteria umum berikut:

  1. Pesantren penerima dana hibah adalah pondok pesantren di lima provinsi di Pulau Jawa (Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur).
  2. Pesantren penerima dana hibah bersedia menjadi role model dalam upaya membangun dan meningkatkan kesadaran publik untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai.
  3. Penanggungjawab dan pelaksana kegiatan dalam program dana hibah memiliki pengalaman dalam mengelola, mengimplementasikan dan melaporkan kegiatan (laporan naratif dan laporan keuangan).
  4. Pesantren pengaju proposal dana hibah harus memiliki legalitas pendirian pesantren dan rekening bank atas nama pesantren.

 

 

Pengajuan Proposal Dana Hibah

Proposal dana hibah yang akan diajukan harus mencantumkan beberapa hal berikut (Lihat format/template Proposal Pengajuan Dana Hibah. Klik link ini):

  • Informasi umum mengenai pesantren (tahun berdiri, legalitas pendirian, jumlah santri, jumlah staf pengajar, pimpinan pesantren, susunan kepengurusan).
  • Alamat lengkap pesantren (termasuk mencantumkan nomor telepon dan/atau nomor fax, alamat e-mail, website [jika ada], rekening bank milik Pesantren).
  • Uraian singkat mengenai aktifitas dan keterlibatan pesantren atau individu di dalam pesantren (pimpinan, pengajar, staf administrasi maupun santri) dalam hal promosi nilai-nilai toleransi, perdamaian, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud bisa berlangsung baik di dalam maupun di luar pesantren.
  • Daftar individu yang akan melaksanakan kegiatan dalam program dana hibah (nama lengkap, posisi di pesantren, nomor telepon/handphone, dan alamat e-mail).
  • Gambaran tentang proses implementasi kegiatan dalam program dana hibah dan akan melibatkan siapa dan bagaimana skema/model/cara pelibatan.
  • Perkiraan anggaran dan durasi waktu implementasi kegiatan.

 

Segala informasi terkait program dana hibah ini bisa diakses di web www.pesantrenforpeace.com , atau dengan mendownload file dari link di bawah ini:

Panduan Umum Pengajuan Proposal

Template Proposal dan Checklist

Template Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Panduan Pengelolaan Dana Hibah

 

Atau dapat dikomunikasikan langsung dengan Tim Manajemen Program Pesantren for Peace (PfP).

Alamat korespondensi (surat dan elektronik):

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gedung PBB Lantai 2, Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan, Ciputat, Jakarta 15419

    Telp    : (021) 7445173

    Fax     : (021) 7490756

    E-mail : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

    Web    : www.pesantrenforpeace.com, www.csrc.or.id

Contact person Tim Manajemen PfP:

Program Officer           : Junaidi Simun (0813-1709-5360, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Sekretaris Program       : Muchtadlirin (0812-877-0421, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

 

 

Page 6 of 14