Pancasila sebagai dasar negara termaktub secara yuridis konstitusional dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945. Selain bersifat yuridis konstitusional, Pancasila juga bersifat yuridis ketata-negaraan yang artinya Pancasila sebagai dasar negara, pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum. Nilai–nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila juga memiliki sifat obyektif–subyektif. Sifat subyektif maksudnya Pancasila merupakan hasil perenungan dan pemikiran para pendiri bangsa Indonesia, sedangkan bersifat obyektif artinya nilai Pancasila sesuai dengan kenyataan dan bersifat universal yang diterima oleh bangsa–bangsa beradab. Dengan nilai obyektif–universal dan diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia maka Pancasila bersifat final dan mengikat. Karena itu, Pancasila sebagai dasar negara memiliki peranan yang sangat penting dan fundamental dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga cita–cita para pendiri bangsa Indonesia dapat terwujud.

Dalam sila ketiga Pancasila berbunyi: “Persatuan Indonesia.” Sila ini menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari bermacam suku, ras, agama, bahasa, dan budaya. Hal demikian juga tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (1), Pasal 18 ayat (1), Pasal 18B ayat (1 dan 2), Pasal 25A, dan Pasal 37 ayat (5). Semua pasal itu merangkum kemajemukan realitas sosio-kultural masyarakat Indonesia ke dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semangat kesatuan secara ekstensif dinyatakan dalam beberapa frase yang mengandung nilai historis dan filosofis. Pertama, sila ketiga Pancasila yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Sila ini menunjukkan komitmen ideologis segenap warga negara untuk terikat dalam kesatuan nasional. Dengan kesadaran penuh, lahir maupun batin, seluruh komponen bangsa mengaku berbangsa dan bertanah air satu, yakni Indonesia.

Kedua, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah yang berisi pengakuan akan “bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia” dan “berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia” menjadi awal mula muculnya nasionalisme. Dari sini benih-benih persatuan nasional ditanamkan dan diekspresikan untuk pertama kalinya. Atas dasar kesamaan nasib, ketertindasaan di bawah kondisi keterjajahan, sekelompok pemuda membayangkan komunitas lebih besar—meminjam istilah B.Anderson—immagine communiity bernama Indonesia.

Ketiga, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan yang diambil dari Kitab Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular abad ke-14 ini diabadikan dalam lambang Garuda Pancasila sejak tahun 1950 dalam sebuah Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat. Dengan posisi dicengkram burung garuda, ungkapan dalam bahasa jawa kuno tersebut menjadi simbol integrasi nasional yang sarat makna.

Bhinneka (beragam) tunggal (satu) ika (itu) biasa diartikan “berbeda-beda tapi tetap satu.” Meski maksud awal istilah itu lebih ditujukan pada perbedaan agama, yaitu antara Budha (Jina) dan Hindu (Siwa) pada masa kerajaan Majapahit, tetapi oleh pendiri bangsa diberikan penafsiran baru yang lebih luas.

Karena perbedaan dan persamaan saling menegasi sekaligus menguatkan, maka keduanya sebenarnya berada dalam ketegangan terus menerus. Jika terlalu menonjolkan perbedaan, potensi konflik akan menguap ke permukaan. Sisi persamaan akan semakin tenggelam sampai akhirnya benar-benar terjadi perpecahan. Sebaliknya, jika terlalu merayakan persamaan akan “mematikan” perbedaan sehingga cenderung memaksakan, terjadi tirani mayoritas atas minoritas serta mengubur kearifan lokal atau perorangan.

Banyak contoh yang membenarkan premis tersebut terutama seiring meluasnya medan konflik baik konflik karena faktor agama, faktor etnis atau ras, kepentingan politik di pilkada, pemekaran wilayah atau karena faktor ketimpangan dan ketidak-adilan sosial.

Terkait konflik agama misalnya. Pada bulan Mei 2012, pemerintah Indonesia menyampaikan laporan terkait pemenuhan hak asasi manusia di depan forum Dewan HAM PBB, di Jenewa. Dalam forum empat tahunan yang dikenal dengan Universal Periodic Review (UPR) itu, isu kebebasan beragama dan berkeyakinan mendapat sorotan utama dari perwakilan negara lain. Catatan khususnya diberikan pada kasus tak berkesudahan dan terus berulang, seperti kasus Ahmadiyah dan persoalan rumah ibadah GKI Taman Yasmin, Bogor. Tentu saja catatan tersebut mendapat tanggapan dari dalam negeri. Diskursus yang kemudian berkembang adalah seputar toleransi agama.

Anggapan itu seolah benar dengan sendirinya menyusul laporan data akhir tahun SETARA Institute pada Desember 2012. Dilansir bahwa sepanjang tahun 2012, tercatat 264 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan disertai 371 bentuk tindakan (Setara Institute: Kondisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia 2012). Peristiwa dan tindakan itu menyebar di 28 provinsi. Sedangkan provinsi yang tingkat pelanggarannya paling tinggi adalah Jawa Barat (76 peristiwa), Jawa Timur (42 peristiwa), Aceh (36 peristiwa), Jawa Tengah (30 peristiwa), dan Sulawesi Selatan (17 Peristiwa).

Melihat realitas diatas, CSRC UIN Jakarta bekerja sama dengan Pusat Pengkajian MPR RI melihat penting untuk melakukan kajian akademik yang mendalam tentang pencegahan konflik sosial keagaaan melalui pengamalan nilai-nilai pancasila. Kajian ini bertujuan untuk: Pertama, merumuskan dan memetakan akar-akar konflik sosial keagamaan akibat merosotnya kesadaran dan penghayatan warga masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah masyarakat. Kedua, untuk melihat dan mengkaji sejaumana penerapan nilai-nilai Pancasila dapat mencegah konflik sosial keagamaan dalam masyarakat. Ketiga, untuk mengetahui strategi pendidikan nilai-nilai Pancasila yang efektif dalam menumbuhkan kesadaran toleransi dan perdamaian di kalangan masyarakat. Untuk memenuhi tujuan di atas, dipandang perlu untuk mengadakan Focus Group Discussion (FGD) guna memperoleh gambaran yang tepat dan genuin tentang pencegahan konflik sosial keagamaan melalui pengamalan nilai-nilai pancasila.

FGD yang di adakan 4 Desember 2014 di CSRC UIN Jakarta dihadiri oleh 18 orang peserta dari Pontianak, Poso, Ambon, Medan, Mataram, Madura, Tasikmalaya, Pandeglang, Jakarta dan sekitarnya. Peserta FGD mewakili unsur-unsur dibawah ini: Aktor dan Korban Konflik Sosial-Keagamaan, Akademisi, Tokoh Masyarakat, Pemerintah, NGO.

 

Sumber: csrc.or.id

 

Saturday, 25 October 2014 14:14

Peningkatan skill menulis dalam rangka promosi HAM

Written by

Hotel Marbella, Bandung 20-24 Oktober 2014

Setiap orang dipastikan bisa menulis, tetapi untuk menulis sebuah karya ilmiah tidak semua orang bisa melakukannya. Banyak mahasiswa, guru, maupun dosen masih kesulitan ketika diminta untuk menuliskan gagasan-gagasannya dalam sebuah karya, ini menandakan ada sesuatu yang harus diperbaiki. Bukan berarti mereka tidak mampu melainkan kesulitan untuk memulai dari mana, bagaimana memilih kata-kata yang tepat, bagaimana membuat tulisan yang bisa dipublikasikan dan menarik untuk dibaca. Kesulitan-kesulitan seperti ini dirasakan oleh banyak orang. Berangkat dari fenomena ini CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) bekerjasama dengan KAS (Konkrad Adenaeur Stiftung) mengadakan pelatihan menulis dengan tema “PENINGKATAN SKILL MENULIS DALAM RANGKA PROMOSI HAM” bagi alumni program Pelatihan HAM (Hak AsasiManusia) yang mayoritas sebagai ustadz dan ustadzah dari berbagai pesantren di Indonesia.

Menulis menjadi sebuah kewajiban bagi para pendidik, guru disekolah maupun ustadz dan ustadzah di dalam pesantren. Melalui tulisan mereka bisa menuangkan gagasan, ide, maupun pemikiran yang ada di dalam benak. Gagasan-gagasan itu bagaikan air yang apabila tidak terwadahi dengan tepat akan meluber, maka dari itu butuh wadah dalam bentuk sebuah tulisan untuk mengikatnya sehingga dapat dibaca oleh berbagai golongan.

Kegiatan ini merupakan program lanjutan bagi alumni training dasar “AGAMA DAN HAM UNTUK KALANGAN AKTIVIS MUDA MUSLIM” yang sebelumnya telah dilakukan sebanyak 20 kali di 19 kota di Indonesia, di antaranya : Aceh, Makassar, Bandung, Jakarta, Samarinda dll. Kegiatan yang merupakan kegiatan Advance Training ke-4 ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan analisis sosial dan pengorganisasian masyarakat untuk promosi HAM. Acara yang diadakan di Hotel Marbella Bandung ini memakan waktu lima hari dimulai dari tanggal 20-24 Oktober 2014.

Fokus utama dalam kegiatan ini adalah pelatihan dasar menulis. Salah satu pembicara Ahmad Gaus AF mengibaratkan menulis itu seperti menyusun puzzle, yang satu menyusun kata yang lainnya menyusun benda, keduanya mudah untuk dilakukan. Metode yang digunakan adalah metode Writenow, dalam artian menulis itu harus dilakukan sekarang juga. Titik tekan materi tersebut adalah tidak ada alasan bagi peserta untuk tidak bisa menulis.

Hasil dari acara ini adalah bagaimana seorang ustadz atau ustadzah khususnya mampu mentranformasikan nilai-nilai HAM dalam bentuk tulisan untuk dipublikasikan di media cetak, koran, majalah, jurnal dan lain sebagainya hingga dapat dibaca oleh khalayak luas. Mampu berdiri di garda terdepan untuk menyebar luaskan dan memberi pemahaman yang baik mengenai HAM kepada santrinya dan masyarakat sekitarnya.

 

sumber : csrc.or.id

Kegiatan perdana dalam program PFP adalah penelitian “Conflict Analysis Mapping” yang didahului dengan kegiatan brainstorming untuk merumuskan berbagai hal penting dalam kegiatan penelitian. Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta diantaranya adalah Irfan Abubakar, Sholehudin A. Aziz, Idris Hemay, Efrida Yasnia, Chaider Bamualim, Muchtadlirin, Moh. Nabil, M. Nurhidayat, Haula Sofiana, dan Risma dari CSRC, Sarah Sabina Hasbar dari KAS, Ahmad Gaus AF dari PARAMADINA, Faisal Nurdin dari FISIP UIN, Junaidi Simun dari IMPARSIAL serta Ubed Abdillah dari ICRP.

Kegiatan Brainstorming ini berlangsung selama 3 hari, dimulai tanggal 9 Februari 2015 dan berakhir tanggal 11 Februari 2015 di GG House Puncak Bogor. Hal-hal yang dirumuskan dalam kegiatan brainstorming ini adalah:

  1. Mendiskusikan secara mendalam kerangka konseptual dan desain penelitian “Conflict Analysis Mapping”.
  2. Mendiskusikan secara mendalam kisi-kisi pertanyaan wawancara mendalam dan kriteria narasumbernya serta kisi-kisi pertanyaan FGD termasuk kriteria peserta FGD.
  3. Merumuskan panduan turun lapangan termasuk laporan hasil penelitian dan panduan laporan keuangan turun lapangan.

Hari pertama brainstorming ini diawali dengan sesi pembukaan yang diisi oleh sambutan direktur CSRC dan Manajer Program PFP perihal pentingnya program penelitian ini. Selanjutnya disampaikan Orientasi Program oleh koordinator program yang berisi penjelasan keseluruhan detail kegiatan penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan sessi seminar ”Pelanggaran HAM dan Diskriminasi: Studi Kasus di Pulau Jawa” disampaikan oleh Anick HT. Dan penyampaian Kerangka Konseptual Penelitian oleh Chaider S. Bamualim.

Hari kedua, diisi diskusi tentang Metodologi FGD (Focus Group Discussion) dan In-dept Interview dan dilanjutkan dengan pembuatan draft guidelines wawancara mendalam beserta kriteria para nara sumber yang akan diwawancarai dan draft guidelines focus Groups Discussion (FGD) terutama terkait dengan topik-topik yang akan didalami beserta dengan kriteria para peserta yang akan diundang nantinya. Diskusi kelompok ini kemudian dipresentasikan di rapat pleno untuk dikritisi kembali hingga mendapatkan draft guidelines yang cukup operasional dan matang. Hari ketiga, diisi oleh pembahasan Format Laporan Penelitian.

Kegiatan brainstorming ini sangatlah dibutuhkan dan tepat dilakukan untuk mematangkan konsep penelitian dan design operasional penelitian demi menjamin terlaksananya keseluruhan rangkaian penelitian ini dengan baik.

Wednesday, 14 January 2015 14:12

Inception Workshop and Management Training di BOGOR

Written by

Sebagai langkah awal pelaksanaan program besar "Pesantren for Peace" maka terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan "Ïnception Workshop" yang berisi penjelasan tentang segala hal terkait dengan mekanisme kerja program, contens program dan pelaporan program sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh EU dan KAS pusat. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh tim project PFP diantaranya adalah DR. Jan Woischnick, Mr. Thomas Yoshimura, Mr. Ari Stauss, Mrs. Sarah Sabina Hasbar, Mr. Irfan Abubakar, Mr. Chaider Bamualim, Mr. sholehudin, Mrs. Efrida YAsnia and Idris. Dan bertindak sebagai fasilitator kegatan ini adalah Mr. Lukas Lingenthal yang secara khusus datang dari German sebagai perwakilan langsung KAS Berlin untuk kegiatan EU Project.

Kegiatan inception workshop ini berlangsung selama 4 hari di hotel Novotel Bogor. Beberapa topic penting yang dibahas diantaranya adalah:

  1. Penjelasan umum perihal tujuan dan agenda workshop.
  2. Penjelasan umum perihal tujuan dari project PFP.
  3. Penjelasan umum perihal kegiatan-kegiatan dalam project PFP.
  4. Mekanisme pelaksanaan project: EU, KAS Berlin dan CSRC
  5. Penanda-tanganan kontrak kerja tim PFP.
  6. Rencana keuangan dan Pelaporan keuangan
  7. Rencana kegiatan dan dokumentasi
  8. Monitoring dan evaluasi
  9. Praktik pelaporan keuangan.

Menurut coordinator program PFP, Sholehudin A Aziz (CSRC UIN Jakarta), kehadiran program ini sungguh sangat penting dan bermanfaat karena seluruh hal terkait dengan program PFP dibahas secara detail baik terkait dengan mekanisme kerja, rencana kegiatan, pelaporan kegiatan, struktur kerja dan banyak hal lain lagi yang sangat penting.

Dengan hadirnya inception workshop ini diharapkan seluruh kegiatan dalam bingkai program PFP dapat berjalan lancer dan sukses. Amien

Pesantren For Peace (PFP) menyelenggarakan workshop Pengembangan Desain Modul Pendidikan Toleransi, HAM dan Perdamaian di Pesantren.

Wednesday, 13 May 2015 15:22

Aktivitas 1

Aktifitas 1

  1. Ïnception Workshop yang berlangsung selama 4 hari, bulan Januari 2015
  2. Pemetaan analisis Konflik yang berlangsung selama 3 bulan, yaitu bulan Februari-April 2015
  3. Proyek Pembuatan Website yang berlangsung selama 2 bulan, yaitu bulan Mei-Juni 2015
  4. Pengembangan Modul Manual yang berlangsung selama 3 bulan, yaitu bulan Mei-Juli 2015
  5. Pelatihan Kapasitas lokakarya dengan fokus khusus pada pengembangan prinsip-prinsip dan praktek pencegahan konflik dan mitigasi yang akan dimulai pada bulan Juli 2015 sampai bulan Juni 2016
  6. Kunjungan Turun Lapangan ke lokasi konflik yang akan dimulai pada Juli 2015 sampai bulan Juni 2016
  7. Penulisan Laporan yang akan dimulai pada bulan Juli 2015 sampai bulan Juni 2016
Page 14 of 14