Monday, 18 April 2016 15:01

Selamat Datang di Indonesia, Prof. Claudia Derichs

Written by

Pesantrenforpeace.com—Hari ini (18/4) Pesantren for Peace (PfP) kedatangan Prof. Claudia Derichs dari Jerman. Kehadirannya di Indonesia ini dalam rangka untuk mengevaluasi sejauh mana implementasi program PfP yang telah berjalan selama 1 tahun 4 bulan.

Dalam kurun waktu tersebut, Pesantren for Peace yang diinisiasi oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan berbagai kegiatan yang melibatkan ratusan pesantren di Pulau Jawa.

Sampai saat ini, Pesantren for Peace telah sukses menyelesaikan serangkaian kegiatan  penting, diantaranya :

  1. Penelitian “Conflict Analysis Mapping” yang dilaksanakan di 5 provinsi di Pulau Jawa;
  2. Workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” yang diikuti oleh ustad-ustadzah di lima kota (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta);
  3. Peluncuran Program Pesantren for Peace oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Prof. Dr. Phil. Kamarudin Amin, MA (Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI);
  4. Penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang ditulis langsung oleh para ustadz-ustadzah pesantren;
  5. Training of Trainers bagi Ustadz dan Ustadzah penulis Modul kemudian menjadi trainer dalam semua kegiatan training;
  6. 10 rangkaian Capacity Training dan Field Trip bagi para santri dengan tema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif Islam dan HAM” yang diselenggarakan di  5  kota  (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta).

Selama seminggu ke depan, Prof. Derichs akan mengevaluasi rangkaian program yang telah dilaksanakan oleh team PfP. Aspek yang dievaluasi meliputi pelaksanaan kegiatan baik dari sisi relevansinya dengan desain program, efektifitas dan efisiensinya, dampaknya, pembelajaran yang bisa diperoleh, serta keberlangsungannya di masa mendatang.

Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Pesantren for Peace akan diwawancarai langsung oleh Prof. Derichs, diantaranya perwakilan dari fasilitator workshop dan training, supervisor penulisan modul dan laporan field trip, pesantren-pesantren mitra lokal PfP, trainer dan penulis modul, santri yang terpilih sebagai penulis dan calon peserta ToT santri, serta berkunjung langsung ke lokasi target field trip Pesantren for Peace.

Harapannya, kegiatan evaluasi ini dapat menjadi pembelajaran bagi tim untuk terus giat meningkatkan implementasi program dan mengembangkannya secara lebih maksimal. [LH]

 

Monday, 04 April 2016 17:13

Laporan Field Trip Salatiga 2016

Kegiatan Field Trip ke Gereja St. Petrus Paulus dan Komunitas GUSDURian Temanggung merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam, tanggal 1-4 Maret di Salatiga-Jawa Tengah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) UIN Syarif Hidayatullah dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa. Kegiatan field trip dilaksanakan tanggal 3 Maret 2016. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan tentang Bina damai penyelesaian konflik yang ada di Temanggung, serta memberikan pengalaman best practice bagaimana menyelesaikan persoalan konflik yang ada secara damai, berpihak kepada HAM sesuai ajaran Islam.

Pemilihan lokasi Gereja St. Paulus Petrus dan Komunitas GUSDURian, terkait peristiwa kerusuhan amuk massa yang terjadi tanggal 8 Februari 2011. Gereja St. Paulus Petrus merupakan salah satu gereja yang mengalami kerusakan oleh sekelompok massa pada saat terjadinya sidang putusan pengadilan atas terdakwa pelaku penistaan agama Antonious Richmond Bawengan. Sedangkan komunitas Gus Durian adalah sebuah kelompok masyarakat sipil yang memiliki komitmen untuk meneruskan dan memperjuangkan gagasan pemikiran Gus Dur tentang perdamaian, toleransi, multikurturalisme, HAM dan Kemajemukan. Komunitas GUSDURian bersama pihak Gereja St. Paulus Petrus terlibat aktif melakukan inisiasi perdamaian pasca konflik amuk massa tanggal 8 Februari 2011

Laporan Field Trip ini merupakan kompilasi dari laporan yang dibuat oleh 5 orang terpilih peserta pelatihan. Dalam laporan ini dijelaskan tentang profil dari Gerja St. Paulus Petrus dan Komunitas GUSDURian, latar belakang dan kronologis kejadian kerusuhan konflik atas nama agama pada saat terjadinya amuk massa tanggal 8 Februari 2011, Pelanggaran HAM yang terjadi saat terjadinya konflik dan pasca konflik, inisiatif/upaya penyelesaian konflik secara damai yang dilakukan oleh berbagai pihak, serta rekomendasi yang bisa diberikan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa pada masa mendatang.

 

 

Untukn Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip Salatiga 2016

Pesantrenforpeace.com – Manager Program Pesantren for Peace, Sarah Sabina Hasbar, menyerahkan Interim Report Program PfP 2015 kepada Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, selaku Steering Committee Program Pesantren for Peace pada Selasa, 8 Maret 2016.

Penyerahan laporan ini dilakukan dalam rangkan mempertanggungjawabkan kegiatan Pesantren for Peace yang bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung Jerman dan didukun oleh Uni Eropa yang telah berjalan selama satu tahun sejak Januari 2015.

Pertemuan Steering committee tersebut dihadiri oleh Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung untuk Indonesia dan Timor Leste, Thomas Yoshimura didampingi oleh Fynn-Niklas Kopte; Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar; Manager Program PfP, Sarah Sabina Hasbar; Koordinator Program PfP, Idris Hemay; Sekretatis PfP, Muchtadlirin; dan Bendahara PfP, Efrida Yasni Nasution.

Selama periode satu tahun, Pesantren for Peace telah berhasil menyelesaikan berbagai ragam kegiatan penting. Pertama, penelitian lapangan “Conflict Analysis Mapping” di lima provinsi di Pulau Jawa. Kedua, workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Ketiga, peluncuran program PFP yang didukung oleh dari Menteri Agama. Keempat, penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam untuk Kalangan Pesantren”. Modul ini ditulis sendiri oleh para ustadz-ustadzah Pesantren dari lima provinsi tersebut berdasarkan tema-tema yang telah disepakati bersama serta disesuaikan dengan kebutuhan pesantren. Kehadiran modul bernuansa pesantren ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman kalangan pesantren terhadap isu-isu toleransi, HAM, dan perdamaian. Kelima, Training of Trainers (ToT) bagi para penulis modul yang akan menjadi trainer dalam kegiatan training di lima kota di Pula Jawa: Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Dan yang Keenam, Training dan Field Trip ”Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” tahap pertama di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung (September-November 2015) yang diperuntukkan bagi kalangan santri/santriwati.

Thursday, 10 March 2016 10:50

Laporan Field Trip Surabaya 2016

Sudah beberapa tahun ini kelompok minoritas Syi’ah asal Sampang-Madura, Jawa Timur terusir dari kampung halamannya dan tinggal sebagai pengungsi di rumah susun sewa (Rusunawa) Puspo Agro, Jemundo-Sidoarjo Jawa Timur. Hingga saat ini pula belum ada kejelasan sampai kapan mereka berstatus sebagai pengungsi ini, padahal mereka sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman di Sampang untuk menjalani kehidupan normal kembali seperti sebelum terjadinya kerusuhan yang diakibatkan oleh sentimen agama ini.

Kami awalnya hendak berkunjung langsung ke tempat pengungsian mereka di rumah susun Jemundo-Sidoarjo untuk bersilaturahmi dengan para pengungsi, sekaligus lebih mengenal dekat kondisi mereka. Namun, tampaknya tidak mudah untuk berkunjung ke sana, apalagi dalam jumlah peserta yang akan berkunjung cukup banyak. Proses perijinan dan pemberitahun telah kami ajukan ke Pemerintah Daerah Jawa Timur sekitar satu bulan sebelum hari yang direncanakan, Kamis, 7 Januari 2016 . Namun, surat balasan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemda Jawa Timur baru kami terima satu minggu sebelum kunjungan dilakukan.

Pada prinsipnya, pihak Pemerintah Daerah tidak mengijinkan kunjungan kami ke pengungsian komunitas Syi’ah di rumah susun Puspo Agro-Jemundo. Alasannya, kedatangan kami dalam jumlah orang yang cukup banyak dikhawatirkan mengundang penafsiran lain yang bisa memicu fitnah atau tindakan yang tidak diinginkan baik oleh pengungsi maupun oleh masyarakat luar. Kehadiran kami bisa dianggap menimbulkan potensi kegaduhan dan atau dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin membuat kasus ini ramai kembali. Pemerintah masih menganggap masalah hubungan Sunni-Syi’ah di Sampang ini adalah masalah yang sensitif.

Pemerintah yang dalam hal ini terwakili oleh Pemerintah Daerah JawaTimur pada surat tersebut menyatakan agar isu relasi Sunni-Syi’ah, khususnya pada kasus Sampang, disikapi secara hati-hati. Pemerintah juga merasa perlu tetap melakukan pengawasan terhadap para pengungsi itu dengan ketat. Pada poin terakhir dalam surat balasan tersebut, Pemerintah Daerah Jawa Timur khawatir jika muncul anggapan bahwa pemerintah dan elemen masyarakat tertentu lebih berpihak kepada para pengungsi. Padahal, tujuan kami seperti yang kami sampaikan kepada pemerintah, hanyalah untuk dialog, silaturrahim dan belajar tentang bagaimana menerima perbedaan, serta bagian dari cara kami belajar tentang membangun perdamaian dan Hak Asasi Manusia (HAM).

 

 

 

Untukn Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip Surabaya 2016

Training Peningkatan pemahaman perdamaian di pesantren berperspektif HAM dan Islam kembali dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah. Training ini merupakan training untuk para santri yang ke-9 dari 10 rangkaian training yang dilaksanakan di 5 provinsi (Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan DKI Jakarta dan sekitarnya).

Setelah sukses dengan tarining di 5 provinsi pada tahun 2015 kemarin, di tahun 2016 ini, kegiatan yang sama telah diselenggarakan di Surabaya 5-8 Januari 2016, Bandung 2-5 Februari 2016, Jakarta 23-26 Februari 2016 dan yang baru saja di laksanakan di Salatiga 1-4 Maret 2016. Program ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan pengalaman para santri/santriwati dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka tentang perdamaian dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Laras Asri, Salatiga dengan melibatkan 30 santri/santriwati dari 30 pesantren di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah (kota Salatiga, kota Semarang, kabupaten Semarang, Demak, Boyolali, kota Magelang, kabupaten Magelang, Sukoharjo, Sragen, dan Klaten) dengan komposisi 16 perempuan dan 14 laki-laki, berusia antara 17-21 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 pendidikan tinggi.

Staf Ahli Walikota Salatiga Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Danudjo mengatakan bahwa pelaksanaan training di Salatiga sangatlah tepat, karena Salatiga merupakan kota toleran ke-2 di Indonesia. Sri sangat mendukung kegiatan training ini karena yg menjadi peserta adalah santri-santri yang masih muda sehingga dapat membantu pemerintah daerah dalam menangkal radikalisme (deradikalisasi) di Salatiga pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.

Disamping itu, pak Sri akan laporkan kegiatan training ini kepada walikota dan akan merekomendasi hasil training kepada kesbangpol provinsi untuk pengembangan program lanjutan di Jawa tengah.

Pada Penutupan Training, semua peserta dinobatkan sebagai “Duta Perdamaian” yang dikukuhkan secara simbolis dengan penyematan pin oleh Staf Ahli Walikota Salatiga Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Danudjo kepada perwakilan peserta Training ini.

Setelah peserta mengikuti training dan mendapatkan berbagai pengetahuan, wawasan dan teori, selanjutnya 30 santri yang terlibat dalam Training akan mengikuti Field Trip atau studi lapangan. Kegiatan ini merupakan praktek langsung dari teori yang sudah didapatkan selama Training berlangsung, dengan berinteraksi secara langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian. Field Trip direncanakan akan berkunjung dan berdialog secara langsung dengan Pihak (Pengurus/Jemaat) Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Temanggung, dan Aktivis Gusdurian Temanggung, Jawa Tengah.

Thursday, 03 March 2016 17:06

Puisi : Perihal Kita yang Beda

Written by

 

 

"Perihal Kita yang Beda"

 

Saya tahu...

Kita berbeda.

Sesuatu yang baru saja saya tahu

Saya menyukai gunung.

Sedangkan kamu menyukai lautan.

"Laut selalu pandai membuat jatuh cinta" katamu.

 

Saya Pengagum senja.

Sedangkan kamu pengagum malam.

"Kemana lagi waktu berbaik hati menampakkan bulan dan bintang kecuali malam?"Begitu ungkapmu.

"Namun senja juga tak kalah mempesona.

Hanya saja aku lebih suka pesonanya rembulan di kelilingi oleh kerlip bintang."Lanjutmu.

 

Saya menyukai hujan.

Sedangkan kamu menyukai terang.

"Melihat hujan sama seperti melihat kesedihan saja.

Aku tak suka kesedihan.

Begitupun aku yang tak menyukai hujan" ujarmu.

"Kadang hujan menghalangiku untuk melihat langit malam.

Sedangkan aku sangat menyukai langit malam.

Kala hujan, aku kesal di buatnya." Ujarmu lagi.

 

Saya menyukai teh.

Sedangkan kamu menyukai kopi tanpa gula 

"Kau terlalu banyak meneguk kopi.

Sekali kali cobalah ganti dengan secangkir teh." Tegur saya suatu ketika.

"Terimakasih. Tapi aku kurang suka bau teh." Elakmu.

 

Saya penggemar fiksi.

Sedangkan kamu? Lagi lagi sebaliknya.

"Lihat! Kita hidup di dunia nyata.

Bukan dunia fiksi, nona." Cercamu dengan tawa ketika mendapatiku menulis fiksi lagi.

 

"Biar saja.

Kapan lagi aku bisa bebas melakukan apapun sesuka hati kecuali di dunia fiksi aku sendiri." Kesal saya padamu.

Saya menyukai tabuhan-tabuhan rebana habib syeikh.

Sedangkan kamu?? Sedangkan kamu berpendapat bahwa itu adalah bid'ah.

 

Saya membaca yasin dan tahlil ketika malam jumat.

Dan kamu, berpendapat bahwa itu menentang ajaran rasul kita.

Saya shalat subuh menggunakan do'a qunut.

Kemudian, kau??? Menganggap hal itu tak perlu dianut.

Lalu.... kita sama-sama memperdebatkan perbedaan kita dengan saling tuntut.

hingga kita lupa bahwa kita adalah muslim.

Kita lupa bahwa kita adalah santri.

Kita lupa bahwa kita adalah duta perdamaian.


Kita... terlalu banyak membeda-bedakan, 

menganggap bahwa kita adalah yang paling benar.

Kita terlalu sering mengelu-elukan atas apa yang kita sandang.


Hingga.... kita terlalu fanatik terhadap satu faham.

Sebenarnya... buat apa saling membeda-bedakan???

Dan terlalu fanatik perbedaan,

kalau ternyata rukun iman islam shalat wudlu saja kita tidak hafal di luar kepala ??

 

Kita lupa.

Bahwa kita adalah muslim...

yang memiliki tugas untuk menyebarkan agama rahmatan lil 'alamiin.


Kita lupa.

Bahwa kita adalah santri.

Yang menjadi duta perdamaian untuk suatu hari nanti dan mulai saat ini!!!..

Kita adalah muslim yang santri.

Maka, gegas.

Sandingkan perbedaan-perbedaan tanpa harus membenarkan argumentasi!

Mari!!!!

kita berbincang bersama...

dengan saya meminum kopi tanpa gulamu,

dan kau meminum teh melati dari saya.

 

 

Karya: Humaida Fatwati,
(PP. Al-Muntaha Salatiga)

Tuesday, 01 March 2016 18:49

Galeri Warta Kota

Written by

Berita Field Trip Pesantren for Peace juga dimuat di Galeri Warta Kota yang terbit pada hari Minggu, 28 Februari 2016

Tuesday, 01 March 2016 18:41

Membina Toleransi Umat, 30 Santri Kunjungi Gereja

Written by

Berita mengenai Field Trip Pesantren for Peace dengan melakukan Dialog Interaktif bersama Jemaat Gereja Paroki Santa Bernadet dimuat di koran Tangerang Ekspres yang terbit pada hari Senin, 29 Februari 2016

Tuesday, 01 March 2016 18:31

Santri Diajarkan Pemahaman Hak Asasi

Written by

Berita mengenai Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam dimuat di Koran Tangerang Ekspres yang terbit pada hari Jumat, 26 Februari 2016

Tuesday, 01 March 2016 16:07

Panduan Umum Pengajuan Proposal

Page 7 of 14