Tuesday, 16 February 2016 13:03

Laporan Field Trip Jawa Barat

(Kepada mereka dikatakan) : “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang (Al-Qur’an : Surah Yaasin, 58)

 

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Qur’an: Surah al-Anfal: 61).

 

 

Begitu mendengar kata “Indeks Kebebasan Beragama” ingatan kita pasti tertuju langsung ke Provinsi Jawa Barat yang memang dikenal sebagai wilayah dengan angka kekerasan dan konflik yang cukup tinggi. Laporan Wahid Institute menyebutkan bahwa sejak tahun 2008 hingga 2015, Jawa Barat selalu menjadi “Jawara” dalam hal intoleransi terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan. Pelanggaran yang terjadi meliputi penyegelan rumah ibadah kelompok minoritas seperti Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Jamaat GKP (Gereja Kristen Pasundan), Jamaat Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), diskriminasi atas nama agama, penyebaran ujaran kebencian, penyesatan kelompok yang berbeda, dan lain sebagainya. Data ini dipertegas oleh laporan Sistem Nasional Pemantaun Kekerasan (SNPK) yang terkompilasi sejak Januari 2014 hingga April 2015 dimana telah terjadi 55 kali aksi pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Salah satunya yang terekspos ke publik adalah kasus penutupan Gereja Kristen Pasundan (GKP) Dayaehkolot Kabupaten Bandung oleh sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan (AGAP) dan Barisan Anti Pemurtadan (BAP). Mereka berdalih gereja GKP Dayehkolot menjadi sarang pemurtadan yang meresahkan warga sekitarnya. Mereka meminta Gereja ditutup dan melarang seluruh aktifitas ibadah yang ada di gereja. Kasus-kasus seperti ini ternyata marak terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Barat seperti di Cipatujah (Tasik), Cisewu (Garut), Ciketing (Bekasi), Cianjur, Cidaun dan Katapang (Bandung).

 

 

Untukn Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip Jawa Barat

Tuesday, 09 February 2016 18:34

Ikrar Duta Perdamaian Santri Jawa Barat

Written by

Pesantren for Peace kembali menggelar Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam untuk para santri (2-5/02/2016) di Hotel Scarlet Bandung, yang sebelumnya telah dilaksanakan training serupa pada  26-29 November 2015 lalu namun dengan peserta yang berbeda.

Dalam training kali ini, peserta yang hadir berasal dari 30 Pesantren di 7 wilayah di sekitar Jawa Barat, yang sebelumnya hanya 5 wilayah (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut dan Ciamis) kini semakin variatif dengan ditambahnya 2 wilayah (Cianjur dan Subang). Para santri yang mengikuti kegiatan ini berusia antara 17-22 tahun dengan komposisi 16 laki-laki dan 14 perempuan.

Selain itu, para trainer yang memfasilitasi training ini juga lebih kreatif dalam menyampaikan materi dibanding training sebelumnya. metode yang digunakan berhasil membuat seluruh peserta aktif dan argumentatif dalam tiap sesinya. Bahkan para trainer ini berhasil menggugah peserta untuk berkomitmen menjadi “Duta Perdamaian”, yang kemudian mereka nyatakan dalam sebuah “Ikrar Perdamaian”.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuhdari pemerintah setempat. Pada penutupan Training, para peserta secara resmi dikukuhkan menjadi Duta Perdamaian oleh Wali Kota Bandung yang diwakili oleh H. Tatang Muhtar, S.Sos, M.Si Kabag KESRA Kota Bandung dengan penyematan pin secara simbolis kepada perwakilan peserta.

“Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi program ini, karena mendukung menuju ‘Bandung Kota Toleransi’ yang dicanangkan oleh Wali Kota, tentunya kami akan mensupport peserta untuk menjadi Duta Perdamaian dalam masyarakat” ungkap Tatang Muhtar saat menyampaikan pesan-pesannya kepada Peserta.

Dalam training ini, para peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis mengenai perdamaian berperspektif HAM dan Islam, namun juga diajak untuk berinteraksi langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian dalam sebuah agenda fieldtrip di penghujung training. Fieldtrip ini dilakukan dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat untuk mengetahui kekerasan yang dialami Ahmadiyah di wilayah Jawa Barat dan Bandung serta dampaknya terhadap jemaat Ahmadiyah selama ini; bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut; serta upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh Ahmadiyah wilayah Jawa Barat dan Bandung sendiri atau pihak lain baik Pemerintah maupun masyarakat (swasta) atas kasus dimaksud.

Selain kunjungan ke Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat, peserta juga diajak untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Qur’an Babussalam Bandung, dan berdialog langsung dengan pimpinannya terkait dengan bentuk dan inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Babussalam di wilayah Jawa Barat dan Bandung dalam konteks lintas iman, dan apa saja kendala yang dihadapi; Respon/tanggapan Pemerintah dan masyarakat atas inisiatif perdamaian yang dilakukan; Bagaimana peran yang dilakukan Pondok Pesantren Babussalam dalam kasus konflik (kekerasan) bernuansa agama yang terjadi di wilayah Jawa Barat dan Bandung khususnya; Bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus konflik dimaksud; serta Usulan konstruktif bagi Pemerintah dan masyarakat, khususnya kalangan Pesantren dalam upaya resolusi konflik secara damai.

 

 

 

Pesantren for Peace telah menjalankan Serangkaian program dan kegiatan sejak Januari 2015 hingga saat ini, dimulai dengan dilaksanakannya Penelitian Lapangan tentang Analisis Konflik (Conflict Analysis Mapping) di lima provinsi di Pulau Jawa meliputi Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur; Membangun Website www.pesantrenforpeace.com sebagai media komunikasi dan diseminasi kegiatan PfP; Workshop Pengembangan Modul Pendidikan Perdamaian untuk ustadz dan ustadzah yang diselenggarakan di lima provinsi di Pulau Jawa; Penulisan Modul Pendidikan Perdamaian Berperspektif Islam dan HAM yang ditulis oleh 30 ustadz/ustadzah pesantren dari lima wilayah di Pulau Jawa; Peluncuran Proyek Pesantren for Peace (PfP) oleh Menteri Agama RI; dan Capacity Training serta Field Trip yang juga diselenggarakan di lima provinsi di Pulau Jawa yang saat ini masih berlangsung di lima provinsi tersebut, dan akan berakhir April 2016 di Yogyakarta.

Dari seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan, implementasinya melibatkan jaringan Pondok Pesantren yang tersebar di 5 provinsi di Pulau Jawa. 250 Pondok Pesantren telah terlibat secara aktif sebagai mitra PfP dalam menyukseskan rangkaian kegiatan program PfP sejak Januari 2015 hingga saat ini baik sebagai mitra lokal, panitia, trainer, peserta maupun penulis modul.

Di sisi lain, terdapat satu program menarik yang akan diimplementasikan dalam rangkaian kegiatan program PfP ke depan, yakni program dana hibah atau yang kami istilahkan dengan sub-Granting. Dalam rangka menyusun rencana untuk program sub-Granting tersebut, Team PfP mengadakan sebuah Brainstorming yang turut dihadiri oleh Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung untuk Indonesia dan Timor Leste, Thomas Yoshimura.

“Program sub-Grant ini didesain secara khusus dengan melibatkan dan mengikutsertakan pesantren-pesantren yang terlibat dalam serangkaian aktivitas PfP sebelumnya. 50 pesantren yang di nilai paling aktif akan diminta untuk mengajukan proposal dana hibah. Dari 50 pesantren tersebut akan dipilih 15 pesantren untuk menerima dana hibah guna mengimplementasikan beberapa kegiatan dalam skema pendanaan hibah”, Ungkap Koordinator Program PfP, Idris Hemay.

Idris menambahkan, Dana hibah atau sub-Grant ini diimplementasikan dalam 3 kegiatan besar, diantaranya: Local Day of Human Right, yaitu berupa seminar di 5 wilayah dimana setiap wilayah akan melaksanakan 3 kali seminar dengan judul yang berbeda di tiap seminarnya; Workshop Daerah Kabupaten; serta Workshop Tingkat Provinsi, dimana pesantren yang terpilih untuk menyelenggarakan workshop-workshop tersebut akan menjadi tuan rumah untuk pertukaran santri dan mengutus santri terbaiknya untuk mengikuti pertukaran santri di wilayah lain, dengan syarat santri tersebut telah mengikuti Capacity Training dan Field Trip sebelumnya”, tutur Idris.

Tujuan program sub-Grant ini adalah untuk meningkatkan peran Pesantren di Pulau Jawa untuk mempromosikan dan mengadvokasikan nilai-nilai toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai, serta membangun dan meningkatkan kesadaran publik dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai.

Program sub-Grant ini secara resmi akan di launching pada tanggal 1 Maret dengan mengundang sekitar 150 pesantren untuk mengajukan proposal sub-Grant. Seluruh info yang berkaitan dengan program ini bisa diakses di www.pesantrenforpeace.com.

 

 

                                                

Friday, 22 January 2016 15:24

Pesantren for Peace Kembali Berduka

Written by

Keluarga Besar Pesantren for Peace menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya:

 

Sdri. Zulfatun Nuril Afifah 

 

Santri dari Pondok Pesantren An-Nur Semarang dan sekaligus merupakan salah satu Peserta pada Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam, Semarang (29 September-2 Oktober 2015).

Pada hari Kamis, 21 Januari 2016  Setelah dirawat di Rumah Sakit di Wilayah Jawa Tengah selama 13 hari.

Semoga Almarhumah diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dilipat gandakan pahala dari semua amal kebaikannya. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan lahir dan bathin, diteguhkan iman dalam menghadapi cobaan ini. Amin

Dimuat di Website NU Online

Surabaya, NU Online
Sebanyak 30 santri perwakilan 30 pesantren di Jawa Timur mengikuti pendidikan Hak Asasi Manusia dan Perdamaian serta Respon atas Fenomena Terorisme di Hotel Novotel Surabaya, Senin-Jumat (5-8/1). Mereka berasal dari pesantren di Surabaya, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Sidoarjo, Pasuruan, dan Jombang dengan komposisi 12 perempuan dan 18 laki-laki. Peserta umumnya berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi.

Kegiatan ini diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif Islam dan HAM. Pendidikan ini juga akan dilanjutkan dengan kunjungan dan dialog perwakilan 2 pengungsi konflik Syi'ah Sampang di kantor Center for Marginalized Communities Studies (CIMARs) Surabaya.

Kunjungan ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan santri tentang praktik terbaik bina damai dan penanganan konflik dengan harapan dapat membekali mereka dalam upaya pembangunan perdamaian dan penanganan konflik di Jawa Timur.

Koordinator Program Pesantren for Peace (PfP) Idris Hemay menegaskan, program ini dilatarbelakangi oleh aksi kekerasan dan teror atas nama agama yang terus marak terjadi. Belum lama ini misalnya masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi kekerasan yang terjadi di Paris yang mengakibatkan setidaknya 120 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

"Salah satu tersangka pelaku terorisme di Paris adalah Frederick C Jean Salvi alias Ali, yang menurut berbagai sumber diketahui kerap mendatangi berbagai pesantren di Bandung Jawa Barat. Salah satunya pesantren di Cileunyi Bandung," terangnya.

Dalam rangka berkontribusi aktif dalam upaya mengurangi dan mencegah aksi kekerasan dan terorisme, pihaknya dari Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa mengembangkan dan menjalankan sebuah program penting bertajuk "Pesantren for Peace (PfP)".

Program ini dijalankan dengan melibatkan banyak pondok pesantren di 5 wilayah di Jawa, salah satunya di Jawa Timur. Program ini diadakan untuk mendorong dan mendukung peran pesantren sebagai lokomotif moderasi Islam di Indonesia dalam rangka menegakkan dan memajukan HAM, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Menurut Idris, hasil penelitian yang dilakukan PfP beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa pesantren di Jawa Timur masih belum memaksimalkan perannya dalam membangun perdamaian dan mencegah aksi kekerasan. Penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa akar penyebab konflik dan kekerasan yang terjadi di Jawa Timur sangat beragam mulai dari aspek teologis hingga persoalan ekonomi, politik, dan sosial budaya.

"Hal ini dipicu oleh hadirnya kebijakan yang tidak adil, sikap diskriminatif dan intoleran, rendahnya rasa kebersamaan, menguatnya identitas keagamaan, dan kentalnya prasangka (prejudice) di antara kelompok masyarakat baik di kalangan antaragama maupun intra agama itu sendiri," ujar pria kelahiran Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan ini. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Pesantrenforpeace.com, Surabaya  –  Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa dalam program unggulannya yang bertajuk “Pesantren for Peace (PfP)” kembali menggelar kegiatan Training dan Field Trip untuk para santri di Surabaya setelah training pertama pada 9-12 September 2015.

“Yang menarik dari training kali ini dibandingkan dengan training Surabaya sebelumnya adalah pesertanya lebih aktif dan kritis sehingga membuat trainer lebih tertantang dalam mempersiapkan materi yang lebih baik dari sebelumnya”, ungkap Idris Hemay, Koordinator Program Pesantren for Peace.

Idris menambahkan “Cakupan wilayah tuk training sekarang juga ada penambahan dari yang sebelumnya hanya 6 kabupaten/kota di Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), sekarang menjadi 9 kabupaten/kota ditambah dengan Jombang, Pasuruan, dan Sidoarjo, sehingga dinamika diskusinya lebih aktif karena komposisi peserta dari pesantren yang beragam”, ujar Idris

Training kedua di Surabaya ini masih bertema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren berperspektif HAM dan Islam” sesuai dengan tujuannya yaitu dengan adanya training dan field trip ini diharapkan mampu memberikan peningkatan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam, HAM, dan meningkatkan keterampilan santri dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Sebanyak 30 santri dari 30 pesantren di Surabaya dan sekitarnya, dengan komposisi 12 perempuan dan 18 laki-laki, berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi aktif berpartisifasi dalam Training ini selama 4 hari (5-7 Januari 2016 kegiatan Training dan 7-8 Januari 2016 Field Trip) di Hotel Novotel, Surabaya.

Setelah peserta mengikuti training selanjutnya 30 santri diajak untuk field trip atau studi lapangan kasus konflik dengan berkunjung dan dialog dengan perwakilan 2 pengungsi konflik Syi’ah Sampang di kantor Center for Marginalized Communities Studies (CIMARs) Surabaya.

Field Trip ini dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri tentang best practices bina damai dan penanganan konflik yang terjadi di Jawa Timur, khususnya berkaitan dengan kasus konflik (kekerasan) yang dialami Syi’ah di Sampang, dan memberikan pengalaman kepada santri tentang upaya yang dapat dilakukan dalam rangka bina damai dan penanganan konflik secara damai.

Seperti Training dan Field trip sebelumnya, kali ini juga setelah para peserta mengikuti Field Trip, mereka dituntut untuk menulis hasil laporan Field Trip dan akan dipilih 5 laporan terbaik untuk dipublikasikan di website PfP.

 

 

Page 8 of 14