Subscribe to this RSS feed

Pesantrenforpeace.com - [22/03/2018] Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kedua kalinya mengadakan kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) masih dengan tema yang sama, yaitu "Readers Response: Narasi keagamaan dalam pandangan generasi muda muslim". FGD kedua ini juga melibatkan 15 peserta dari berbagai organisasi islam dan kepemudaan, seperti halnya FGD pertama, FGD kedua ini dilaksanakan di Meeting Room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa Lt.2

 



Diskusi ini membahas tentang respon pembaca terhadap narasi-narasi keagamaan yang tengah marak tersebar luas di berbagai media baik buku, media online dan media cetak.
Para peserta diminta menanggapi bahan bacaan narasi keagamaan yg disediakan panitia untuk kemudian didiskusikan bersama

Hadir dalam acara ini Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar dan para fasilitator diskusi: Idris Hemay, Afthon Lubbi Nuriz, dan Junaidi Simun.[LH]

 

Pesantrenforpeace.com - [21/03/2018] Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan kegiatan Focus Group Disscussion (FGD) dengan tema "Readers Response: Narasi keagamaan dalam pandangan generasi muda muslim". Acara yang melibatkan 15 peserta dari berbagai organisasi islam dan kepemudaan ini dilaksanakan di Meeting Room CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa Lt.2

Meskipun tindakan terorisme telah diminimalisir dengan adanya Densus 88, banyak pengamat dan pejabat pemerintah yang masih percaya bahwa penyebaran ideologi ekstemisme dan kekerasan masih begitu kuat, dan bisa menjadi akar tindakan terorisme di masa yang akan datang. Riset menunjukan sejumlah pemuda Muslim tertarik dengan apa yang disebut dengan pergerakan dan ideologi jihadis transnasional. Dengan adanya penyebaran yang masif dari radikalisme ini, dan juga penerimaan dari beberapa pemuda Muslim terhadapnya, pengamat menilai bahwa kelompok ekstemis baik individu maupun secara kelompok telah menyebarkan ajaran radikal mereka melalui media online dan offline.

Berdasarkan hasil penelitian CSRC UIN Jakarta (2017) menunjukkan konstruksi narasi Islamesme yang berkembang di masyarakat mengambil bentuk yang beragam. Kontruksi narasi Islamisme yang nantinya melahirkan bentuk ekstrimisme baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan dibangun melalui kesadaran kognitif dengan cara membangun pemahaman. Bentuk pemahaman tersebut adalah doktrin-doktrin teologis yang berkaitan dengan perbedaan keimanan, keyakinan, dan juga aliran-aliran dalam pemahaman keagamaan. Pemahaman yang sudah terbangun akan menjadi pijakan, sumber nilai dan legitimasi dalam bersikap, bertindak terhadap mereka yang berbeda (the others) pada tataran sosial praxis yang arah hilirnya pada sebuah tindakan.

Dari hasil pengamatan, observasi dan juga penelitian yang telah dilakulan, variasi dari respon yang muncul terhadap mereka yang berbeda terbangun atas dasar sikap oposisi berdasarkan perbedaan posisi dan pemahaman informan dari mereka yang berbeda (the other). Sentimen atas dinamika sosial politik agama dan ekonomi turut membentuk narasi militan terhadap sang lian tersebut. Pelabelan terhadap lian seperti musuh dan kafir adalah manifestasi dari pola pikir yang intoleran terhadap mereka yang berbeda. Ini dapat dianggap sebagai framing terhadap mereka yang dianggap berbeda dengan si subjek. Sasaran yang menjadi objek kebencian dari kelompok-kelompok Islmisme ini, berdasarkan pada hasil penelitian di atas, adalah kelompok-kelompok yang berbeda dari segi pemahaman keagamaan adalah seperti Syiah, Islam liberal dan Ahmadiyah. Adapun kelompok yang menjadi sasaran kebencian dari segi perbedaan agama adalah Nasrani dan Yahudi.

Naureen Chowdhurry dan Jack Barely, (CGCC, 2013) menilai bahwa alasan dibalik suksesnya organisasi ekstremis bisa menarik pemuda Muslim ialah karena mereka dengan lihainya menggunakan simbol-simbol dan refrensi Islami, yang sebenarnya juga disebarkan oleh kalangan Islam secara umum, namun mereka interpretasi secara salah. Dalam melakukan hal tersebut, dan ini menjadi faktor kunci kesuksesannya, mereka menggunakan keluhan-keluhan yang biasa umat Islam lihat (secara realistis maupun imaginatif) di masa sekarang, sehingga kelompok yang ditargetkan bisa dengan cepat yakin masuk ke kelompok ekstremis tersebut. Banyak pemuda Muslim, yang memiliki pemahaman sempit tentang Islam dan yang lemah pemikiran kritisnya, telah dengan gampang terpengaruh dengan kampanye ini. Dalam aspek ideologi konten ini, mereka secara besar-besaran menggunakan literatur dan bentuk retorika dalam menyampaikan dan mengkampanyekan pandangan radikal mereka. Metode komunikasi ini telah secara efektif digunakan untuk menjangkau emosi pemuda Muslim untuk mengukuti pemahaman mereka.

Hasil penelitian CSRC menyebutkan ada tiga pola penyeberan narasi ekstremisme. Pertama adalah media (komunikasi) yang mencakup media cetak, elektronik, dan online, bulletin, majalah, selebaran, dan blog. Pola penyebaran kedua adalah hubungan interpersonal yang dapat berupa hubungan keluarga, guru dan teman/sahabat. Pola penyebaran ketiga yaitu ruang atau setting sosial yang meliputi kegiatan pengajian dan khalaqah. Narasi Islamisme yang ditransmisikan melalui ruang ini cenderung lebih leluasa karena sifatnya yang eksklusif dan privat.

Dengan pola penyebaran yang sangat masif dan sistematis, maka perlu metode dan cara yang sistematis dan terencana pula untuk mencegah penyebaran narasi dan perilaku ekstrimisme melalui kontra narasi dan juga penyebaran pesan-pesan damai terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia. Nah, kontra ekstremisme atau yang biasa disebut Counter Violent Extremism (CVE) telah dianggap sebagai pendekatan termutakhir dalam penanggulangan terorisme, karena pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek keamanan dan aspek represif, tetapi juga yang paling penting melibatkan aspek preventif. Di dalam tingkatan meso-sosial, pendekatan CVE sering digunakan oleh aktor dan organisasi kemasyarakatan untuk membuat upaya alternatif untuk menjegah penyebaran ideologi dan wacana kelompok ekstimis.

Diharapkan, pendekatan ini bisa memperkuat peran keluarga dalam menjaga individu yang rawan terhadap kekerasan ini, dan dalam tatanan makro, diharapakan pendekatan ini akan memberi sumbangsih bagi pemerintah dalam menanggulangi penyebab struktural dari kekerasan ekstremisme, yang melibatkan konflik politik yang tak berkesudahan, pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi agama dan marginalisasi ekonomi sosial. Agar pelaku kemasyarakatan bisa menyediakan upaya penanggulangan terorisme yang kredibel, maka mereka harus terlepas dari kepentingan politik manapun.

Oleh karena itu, pelaku kemasyarakatan bersedia untuk berpartisipasi dalam pencegahan ektrimisme dengan menngunakan pendekatan CVE ini, yang tentunya dilengkapi dengan pengetahuan dan kemampuan yang relevan dalam menganalisa konten dan metode penyampaian pesan/narasi dari ektremisme itu sendiri. Ini akan secara efektif membantu mereka menyeimbangkan narasi ekstremisme dan bahkan bisa mendelegitimasi ideologi dan pemahaman keagamaan mereka.

Guru di Pondok Pesantren merupakan salah satu dari kalangan umat Islam yang dapat diandalkan untuk secara aktif berperan dalam membawa agenda ini. Ini tidak hanya karena mereka memiliki pemahaman yang cukup tentang ajaran dan argumentasi keislaman, tetapi mereka juga memiliki kapasitas untuk mengkomunikasi ini kepada masyarakat. Secara kelembagaan, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyatu dan mengakar di masyarakat. Di Indonesia terdapat 3.65 juta santri yang tersebar di 25000 pondok pesantren.

Pondok pesantren pendidikan dan melatih peserta didik atau para santri dengan ajaran- ajaran yang inklusif. Para santri yang terdapat di Pondok Pesantren datang dari latar belakang yang berbeda-beda dan juga dari kultur, budaya, dan bahasa yang berbeda pula. Perbedaan tersebut disatukan di satu lembaga bernama Pondok Pesantren. Dengan adanya perbedaan dan juga pengajaran yang mengandung nilai-nilai inklusif, toleran, terbuka dan saling menghargai dapat menjadi model dan modal dalam penyebaran pesan damai dan hidup harmoni di tengah-tengah masyarakat majemuk seperti di Indonesia. Dipilihnya guru di Pondok Pesantren sebagai agen penyampai perdamaian dengan menggunakan metode Counter Violent Extremism (CVE) selain karena sudah memiliki tingkat pemahaman yang cukup memadai terkait dengan nilai-nilai Islam yang damai dan rahmatan lil’alain, mereka juga sehari-hari dalam hubungan murid dan guru memiliki hubungan dan berkomunikasi secara langsung dan intens. Dengan komunikasi langsung dan secara kontinu, maka akan sangat mudah untuk menanamkan nilai-nilai Islam damai, sehingga menjadi satu gerakan masif dan dapat menghalau gerakan ekstrimisme itu sendiri.

Hal yang perlu dilakukan dengan Counter Violent Extremism (CVE) bagi para guru di Pondok Pesantren adalah meningkatkan kemampuan mereka, terutama dalam menganalisa konten-konten narasi ekstremis, sebagai bagian dari metode mereka mengkomunikasikan ini kepada masyarakat terutama melalui media online. Alasan kegiatan ini fokus pada media online karena, berdasarkan pada hasil penelitian di atas dan data yang dihimpun oleh BNPT bahwa pembentukan pemikiran radikal seseorang hingga menghasilkan aksi terorisme dipengaruhi oleh media online (internet). Bahkan, penggunaan media online dalam penyebaran rasa kebencian yang kemudian menjadi penyebab lahirnya ekstremisme dan radikalisme tidak hanya dalam ruang lingkup nasional, tetapi juga jaringan trans-nasional.

Berangkat dari alasan inilah, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) sejak juni 2017 mengembangkan program Penguatan Peran Pesantren dalam Promisi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis. Program ini telah menyelenggarakan empat kegiatan penting yaitu Brainstorming, Workshop, Concultation Meeting, Preliminary Workshop dan Try Out. Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, CSRC dan KAS ditahun 2018 mengembangkan sebuah program “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extremism a Project Enhancing the Role of Indonesian Islamic Schools (Pesantren) in Promoting Peace and Tolerance”. Program ini bertujuan untuk menguatkan kapasitas institusi Pondok Pesantren di Indonesia dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui kontra narasi ekstremis dengan target capaian sebagai berikut: pertama, meningkatnya pengetahuan dan keterampilam guru dan murid di Pondok Peantren dalam melakukan analisis konten narasi ektremis, serta mengajarkan mereka metode penyampaiannya kepada masyarakat. Kedua, meningkatnya pengetahuan keterampilan guru dan murid di Pondok Pesantren dalam menyuarakan narasi-narasi keislaman yang damai dan melakukan kontra narasi kekerasan ektremis bagi umat Islam. Merujuk pada proposal yang diajukan CSRC dan telah disepakati KAS ada empat (4) kegiatan utama. Pada bulan Februari-Mei 2018 ada dua kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Penelitian kualitatif tentang narasi ektremis dan kontra narasinya di online maupun offline dan Penulisan dan publikasi modul.

MAKSUD DAN TUJUAN

Program ini bertujuan untuk melakukan Penelitian kualitatif Needs Assesment terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001”.

Program ini juga akan melakukan Penulisan dan publikasi modul “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”.

 

TARGET CAPAIAN

Terlaksananya Penelitian kualitatif Needs Assesment terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001”. Serta tersedinya modul “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”.

 

Penelitian Kualitatif terhadap terhadap narasi ektremis dan kekerasan, berikut juga kontra narasinya, baik secara online maupun offline di Indonesia sejak 2001

Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa bentuk- bentuk berbeda dari pesan dan narasi ektremis dan kekerasan yang telah disuarakan melalui website dan sosial media, serta bentuk media lain seperti majalah, buletin dan karya sastra. Riset ini akan fokus pada menganalisa konten dari narasi tersebut, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan. Selain itu, studi ini juga akan mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam menanggulangi permasalahan ini dan juga menganalisa ciri dan karakteristik konten tersebut dan alat-alat komunikasinya. Analisis naratif terhadap teks-teks baik tertulis maupun secara audio/visual akan digunakan sebagai metode dalam pengumpulan data dan proses analisa. Satu peneliti utama dan dua peneliti senior akan dikerahkan untuk melakukan riset ini, yang rencananya akan dilakukan dalam waktu dua bulan, yaitu antara Februari-Maret 2018.

Guna memastikan kualitas proses dan hasil, keseluruhan riset ini akan berlangsung mengikuti tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut:

 

NO

KEGIATAN

TUJUAN

OUT PUT

Keterangan

1.

Workshop Desain Instrumen penelitian

Mendiskusikan secara mendalam desain dan instrumen penelitian

1.   Pedoman Pelaksanaan In- depth interview, Readers response dan Pengamatan narasi dan konra narasi ektremis di media online dan off line

2.   Pedoman Analisis Data dan Penulisan Hasil Riset

Workshop ini akan melibatkan 10       orang yang   terdiri dari         tim manajemen riset       dan peneliti

2.

Pengumpul an Data literatur di

media online dan off line

1. Identifikasi contoh- contoh narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis di media online dan off line

2. Mengidentifikasi dan menganalisa bentuk- bentuk narasi ektremis dengan fokus pada analisa konten dari narasi ekstremis, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan.

1. Tersedianya contoh- contoh narasi ekstremis dan kontra narasi ekstremis di media online dan off line

2. Tersedianya analisis bentuk-bentuk narasi ektremis dengan fokus pada menganalisa konten dari narasi ekstremis, serta literasi dan juga alat retorika yang digunakan.

Tim peneliti ada 3 orang yang terdiri dari 1 peneliti utama dan 2 peneliti senior

3.

Pengumpul an data dengan wawancara mendalam

Mengidentifikasi bentuk yang paling efektif dalam melakukan kontra narasi ekstremis

Tersedianya informasi yang akurat tentang narasi ektremis yang berpengaruh baik karakteristik tokoh, konten, bahasa, fakta dan alat-alat komunikasinya.

Akan mewawancar a 10 orang yang terdiri dari orang yang terpengaruh dan orang yang tidak terpengaruh dengan narasi ekstremis serta akademisi ekstremisme

4.

Pengumpul an data dengan Readers response

Mengidentifikasi retorika narasi ektremis yang berpengaruh tidaknya terhadap santri di pondok pesantren

Tersedianya data dan analisis tentang retorika narasi ektremis yang berpengaruh tidaknya terhadap santri di pondok pesantren

30 santri pondok pesantren di Jakarta

5.

Analisis Data dan Penulisan Laporan

Melakukan analisis data untuk melihat keseluruhan data dan mengidentifikasi isu dan ide pokok untuk menafsirkan data atau informasi yang diperoleh melalui literatur review, in- Depth Interview dan readers response dengan mengacu kepada tujuan, kerangka konseptual penelitian

Tersedianya laporan hasil penelitian sesuai dengan tujuan dan kerangka konseptual penelitian

Penulisan laporan mengacu pada format penulisan laporan

  

Penulisan dan publikasi manual dari “Voice of Pesantren: Messaging Peace and Countering Extrimism”

Kegiatan ini diajukan dengan tujuan men-draft sebuah manual yang didasarkan pada penelitian untuk guru dan murid Pondok Pesanten terkait bagaimana agar bisa secara efektif menyuarakan pesan-pesan dan wacana-wacana perdamaian dan penanggulangan terhadap narasi ekstremis. Untuk menciptakan efek multiplier dari manual ini bagi banyak group Muslim dan komunitas di Indonesia, penting agar ini dicetak dalam jumlah banyak dan didistribusikan kepada stakeholders yang akan mendapat benifit dari manual tersebut dengan tujuan yang sama. Manual ini akan dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Dan kegiatan ini akan dilaksanakan dalam dua bulan, April-Mei 2018.

 

Guna memastikan kualitas proses dan hasil, keseluruhan penulisan ini akan berlangsung mengikuti tahap-tahap pelaksanaan sebagai berikut:

 

NO

KEGIATAN

TUJUAN

OUT PUT

Keterangan

1.

Workshop Desain Modul

Mendiskusikan secara mendalam desain matriks modul yang tepat bagi kalangan Pesantren berdasarkan hasil penelitian dan program sebelumnya ditahun

2017

Tersedianya Matriks dan format penulisan Modul

Workshop ini akan melibatkan 10      orang yang   terdiri dari        tim manajemen dan penulis

2.

Penulisan Modul

Melakukan penulisan modul berdasarkan matriks dan format penulisan yang telah ditentukan

Tersedinya naskah modul

Penulis modul sebanyak 15 orang   yang terdiri dari 5 orang penulis utama dan 10       orang ustadz/ustad zah

3.

Editing

Melakukan editing naskah modul yang sudah ditulis oleh para penulis modul

Tersedianya naskah modul yang siap dilayout

Editing modul akan dilakukan oleh 2 orang

4.

Layout

Melakukan layout modul

Tersedinya naskah modul yang siap dicetak

Lay out modul akan dilakukan oleh 1 orang

5.

Proof reader

Melakukan Proof reader naskah sebelum naik cetak

Tersedinya naskah modul yang siap dicetak

Proof reader akan dilakukan oleh 2 orang

6.

Cetak Modul

Modul akan dicetak sebanyak 1.000

eksemplar

Tercetaknya 1.000 eksemplar modul

 

Dari "Negative Thinking" Hingga Ekstremisme

Oleh: Muhammad Afthon Lubbi
 
 
Alkisah, seorang petani miskin di suatu desa kecil kehilangan satu-satunya kuda jantan kesayangan yang ia gunakan untuk membantu menggarap sawah miliknya. Dengan keadaan seperti itu, banyak pekerjaannya yang terhambat.
 
Para tetangga banyak yang iba atas musibah tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang mencibir dan 'nyinyir', menganggap bahwa petani tersebut mendapatkan kesialan.
 
Alih-alih tidak menanggapi komentar-komentar negatif tersebut, Pak Tani tetap terus melanjutkan pekerjaannya menggarap sawah. Ia hanya berpikir bahwa kehilangan tersebut mungkin saja sebuah kesialan atau juga bukan.
 
Selang beberapa hari, kuda kesayangannya kembali dari hutan dengan membawa kuda betina. Betapa bahagianya Pak Tani, selain mendapatkan kuda tambahan, ada kemungkinan kedua pasangan kuda tersebut akan beranak pinak menjadi banyak.
 
Beberapa bulan kemudian, petani miskin tertimpa musibah lagi. Anak laki-laki semata wayangnya jatuh dari kuda dan mengalami patah tulang kaki. Lagi-lagi, tetangganya berkomentar dengan nada sinis. Meski ada beberapa yang iba atas musibah tersebut.
 
Di saat kemalangan yang menimpa Pak Tani, tersiar berita dari Kerajaan bahwa setiap rakyat yang memiliki anak laki-laki wajib mengirimkannya untuk ikut perang. Alangkah bersyukurnya Pak Tani, ia tidak berpisah dengan anak kesayangannya karena tidak wajib mengirimkan putranya sebab patah tulang kaki. 
 
Para tetangga mulai berubah pandangan, bahwa di setiap musibah yang menimpa Pak Tani, selalu ada hikmah yang mengikuti. Sejak saat itu, penduduk desa tersebut membiasakan selalu bersabar dan bersyukur atas segala kemalangan yang menimpa.
 
Kira-kira begitulah kekuatan "positive thinking", tidak hanya membuat orang menjadi kuat dan sabar, tapi juga menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Bertolak belakang dengan "negative thinking", membuat orang selalu memandang buruk segala hal. Tidak hanya musibah, suatu kebaikan pun seringkali dilihat sisi negatifnya.
 
"Saya kesel deh sama bawahan saya, kerjanya selalu lambam". "Wuhh! Hujan lagi! Ngeselin!!". "Gurunya ngasih PR mulu, bete!!". Demikian contoh kalimat manusia dalam menghadapi realita sehari-hari dengan sikap yang negatif. 
 
Sebenarnya, dalam realita yang sama, dengan kacamata 'Pak Tani' di atas, kita bisa mengubah sikap dengan pandangan positif. "Alhamdulillah, bawahan saya bekerja dengan tekun,  membutuhkan waktu yang lama". "Hujan lagi, bisa kumpul dengan keluarga di rumah". "Banyak PR dari Pak Guru, ayo belajar bareng sambil bikin rujak".
 
Dalam tahap tertentu, pandangan negatif kita sehari-hari akan membawa kita kepada gangguan psikologis. Bahkan dalam level yang lebih tinggi, sikap negatif bisa menghadirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan hasrat dan harapan.
 
"Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Indonesia akan hancur!  Ganti Presiden! Ganti Demokrasi!!". "Musibah dimana-mana.  Salah SBY! Salah Jokowi!". Kalimat-kalimat demikian biasanya disampaikan dengan emosi negatif tanpa kemampuan analisa yang baik.
 
Sebenarnya kalimat-kalimat di atas bisa diubah dengan kalimat positif. Misal, "Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Presiden harus lebih kuat dan bekerja keras!  Demokrasi harus menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat!". "Musibah dimana-mana, mari bersinergi dan bekerjasama membangun Bangsa!".
 
Kalimat negatif yang diulang berkali-kali tidak hanya akan membentuk pribadi yang negatif, tapi juga bisa menyerang syaraf otak untuk berpikir. Dalam bahasa psikologi disebut "Neuro-Linguistic". Maka untuk menyembuhkan gangguan psikologis ini, para ahli psikologi membuat "obat penawar" yang disebut "Reframing". Yaitu salah satu tools NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang digunakan untuk mengubah emosi negatif menjadi positif dengan mengubah sudut pandang. Seperti cara pandang "Pak Tani" di atas, yang selalu 'positive thinking'.
 
Kemiskinan dan keterpurukan umat Islam adalah masalah bagi masyarakat umum. Tidak hanya dalam umat Islam terdapat kemiskinan, umat agama lain juga terdapat kemiskinan dan keterpurukan. Maka perlu pemberdayaan ekonomi yang dilakukan bersama-sama. Perlu program dan kebijakan pemerintah yang baik. Perlu pemerataan ekonomi.
 
Konflik dan keretakan Umat Islam adalah konflik sosial yang dihadapi semua kelompok manusia di muka bumi. Perlu dialog, rekonsiliasi, ishlah, dan negosiasi untuk persatuan umat. Bukan perang pendapat apalagi perang fisik yang tidak akan menyelesaikan masalah.
 
Korupsi, maksiat, dan segala jenis kejahatan semakin merajalela dianggap karena tidak menegakan hukum Allah, tidak mendirikan daulah Islamiyah, tidak menggunakan sistem khilafah dan menyalahkan sistem demokrasi yang dipilih para pendiri Bangsa sebagai sebuah konsensus bersama. Sistem demokrasi harus diganti total tanpa dialog, tanpa musyawarah, dan menafikan ijtihad para tokoh Islam yang juga mengerti betul tentang agama, KH. Agus Salim, KH. Wahid Hasyim, KH.  Abdul Kahar Muzakir, dll. Terlebih Bung Karno menyebutkan,  bahwa demokrasi kita bukanlah demokrasi ala Barat, tapi "Demokrasi Berketuhanan".
 
Khilafah, daulah Islamiyah, syariat Islam, dll. adalah konsep-konsep positif yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Akan tetapi, tidak boleh dipaksakan dengan cara-cara yang negatif. Perlu dialog dan musyawarah secara kontinyu, agar konsep-konsep positif yang baik tersebut dapat mensejahterakan rakyat dengan seadil-adilnya. Dalam alam demokrasi, segala konsep kebaikan dapat diterima.
 
Cara pandang negatif terhadap demokrasi ini pula yang menimbulkan reaksi kekerasan, ekstremisme keagamaan. Segala hal yang berkaitan dengan demokrasi dikaitkan dengan kekafiran. Dan para pendukung demokrasi digolongkan sebagai penyembah toghut, berhala selain Tuhan Allah.
 
Pemahaman seperti  ini pernah dialami Ali Fauzi, adik kandung dari Ali Mukhlas dan Amrozi, pelaku Bom Bali jilid I. Ali  Fauzi memulai karirnya menjadi kombatan sejak 1991 dengan bergabung bersama daulah Islamiah di Malaysia, dan baiat kepada Jamaah Islamiah di Indonesia pada 2004.
 
Karirnya terhenti setelah tertangkap Polisi Filipina pada 2007. Ia dibawa pulang oleh Kombes Tito Karnavian (sekarang Kapolri)  dan dirawat hingga sembuh dari luka-luka. Ali Fauzi terheran-heran, orang yang selama ini ia anggap sebagai thogut dan kafir, justru malah menolong dan merawatnya. Bahkan diberi modal untuk berwirausaha. Kini Ali Fauzi mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian dan menjadi mitra BNPT dalam program deradikalisasi.
 
Kisah Ali Fauzi di atas menunjukkan bahwa kebencian hanya bisa dipadamkan dengan cinta dan kasih sayang. Sikap dan pandangan negatif hanya bisa diubah dengan menyikapi hal-hal kecil hingga besar dengan kacamata kebaikan.
 
Syaikh Mutawalli As-Sya'rawi pernah berdialog dengan seorang pemuda berhaluan keras dan suka mengkafirkan. Beliau bertanya, "Apakah mengebom sebuah klub malam di Negara muslim itu halal atau haram?", pemuda itu menjawab, "Tentu saja halal, membunuh mereka boleh".
 
Beliau bertanya lagi, "Jika seandainya engkau membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?" Dengan yakin pemuda itu menjawab, "Tentu di neraka.", "Kemana pula setan menjerumuskan manusia?", Beliau bertanya lagi. "Tentu saja ke neraka. Mustahil setan membawa manusia ke surga.", jawab pemuda. 
 
"Jika demikian, engkau dan setan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengantarkan manusia ke dalam neraka." Beliau lalu menyebutkan sebuah kisah dimana ketika ada mayat seorang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah SAW., beliau lalu menangis. Para sahabat bertanya mengapa beliau menangis.  Beliau menjawab, "Telah lolos dariku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka."
 
"Perhatikan perbedaan kalian dengan Rasulullah yang berusaha memberi petunjuk dan menjauhkan mereka dari neraka. Kalian berada di satu lembah, sedangkan Rasulullah berada di lembah lain." Pemuda itu hanya diam membisu mendengarnya.
 
Tempo hari, mantan Presiden Afghanistan yang sekarang menjabat Ketua High Peace Council (HCP), Muhammad Karim Khalili berkunjung ke Indonesia. Atas arahan presiden Joko Widodo, Pesantren Darunnajah Jakarta ditunjuk untuk menerima rombongan delegasi HCP.
 
Dalam pidatonya, Muhammad Karim berkeinginan Pemerintah Indonesia untuk mendirikan pesantren di Kabul. Ia menyampaikan bahwa Afghanistan lelah dengan konflik dan perang antar kelompok agama. Indonesia dengan ratusan perbedaan suku,  etnis, dan agama, mampu bertahan menjadi Negara yang damai. Sedangkan Afghanistan yang hanya memiliki beberapa suku dan perbedaan agama belum mampu mengatasi konflik dan perpecahan. 
 
Artinya, kita harus ber-positive thinking dan percaya diri bahwa dengan sistem demokrasi, Indonesia akan menjadi Negara yang besar bangsanya, maju negaranya, dan kuat ukhuwah umatnya dalam menghadapi ekstremisme, terorisme, dan radikalisme.
Page 1 of 10