SALATIGA-Puluhan santri dari sejumlah pesantren di Jawa Tengah, mengikuti Pelatihan Penguatan Peran Pesantren dan Santri, di Grand Wahid Hotel Salatiga, Baru-Baru ini.

Dalam kegiatan itu, para santri dilatih menyiapkan narasi dakwah damai, sehingga materi yang disampaikan membawa kesejukan, serta terhindar dari kekerasan.

Berdampak Buruk

Muhamad Hanif, fasilitator dalam pelatihan itu mengatakan dakwah dengan naratif kontra ekstremis (antikekerasan), saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat, untuk membentuk kehidupan agama yang lebih damai. Dakwah dengan narasi yang mengarah pada kekerasan, sangat berdampak buruk  bagi perkembangan masyarakat, serta kehidupan beragama.

“kami ingin narasi pidato atau dakwah dengan bahasa-bahasa islami, yang lebih enak dinikmati,” kata pengasuh ponpes Edi Mancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang tersebut.

Menurutnya banyak ayat Al-Quran dan hadis yang bisa dijadikan acuan untuk menyampaikan dakwah yang penuh kelembutan, sebagaimana ciri khas Islam. Dengan dakwah yang lembut khas Islam tersebut, akan membawa pengaruh besar dan memotivasi kehidupan masyarakat.

Dalam pelatihan itu, para santri juga diajak berkreasi menciptakan model-model alternatif aksi antikekerasan. Misalnya membuat meme menarik, tulisan menyejukkan, atau aksi simpatik lainnya.

Sebagai contoh, TNI/Polri yang identik dengan pasukan bersenjata, ketika memasuki sebuah wilayah tidak menggunakan senjata lagi, tetapi dengan cara lain seperti membangun fasilitas umum, bangun tempat ibadah, atau lainnya. Cara itu sangat efektif menghilangkan kesan militer.

Adapun pelatihan tersebut menghadirkan sejumlah pakar di bidang HAM. Pelatihan itu digelar atas kerjasama Konrad-adenauer-Stiftung dan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam rangka melaksanakan program “Pesantren for Peace”. (H2-51)

 

Berita ini dimuat di Harian Suara Merdeka, Terbit hari Senin, 4 Desember 2017

  • 0 comment
  • Read 364 times
Login to post comments