JAKARTA, IJN.CO.ID – Jakarta dan Aliansi Pesantren for Peace (PfP) Indonesia tahun ini kembali dirundung duka yang ditandai dengan beberapa peristiwa kekerasan, pemboman aksi terorisme yang terjadi di beberapa tempat di tanah air. Diawali peristiwa berdarah di Mako Brimob Kelapa Dua, bom bunuh diri di Surabaya dan beberapa tempat di Jawa Timur serta, aksi penyerangan di Mapolda Riau. Rangkaian aksi terorisme di atas telah menelan puluhan korban jiwa dan luka-luka dari aparat polisi dan warga sipil.
 
Dalam rangka inilah, Aliansi Pesantren for Peace dan Center for the Study of Religion and Cultural (CSRC) UIN syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan seminar dengan judul, “Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstremisme/Terorisme” di Hotel Cemara, Jakarta Pusat, Jumat (25/5)
 
Fakta di atas, menunjukkan bahwa ideologi ekstremisme dan terorisme masih ada dan terpelihara di negeri ini, begitu pula jaringan terorisme masih eksis dan bahkan berhasil memperluas cakupan, memperbaiki cara dan metodenya, dan memperbanyak pengikutnya.
 
Hasil penelitian CSRC dan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih-benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai di sebagian anak-anak muda milenial, tidak terkecuali kalangan terpelajar dan mahasiswa. Penyebaran ideologi dan propaganda ekstremisme juga terus digencarkan lewat media digital dan medsos betapapun kebijakan pemerintah untuk menahan lajunya.
 
Menangkap dan melumpuhkan aktor teroris mungkin mudah, namun mematikan ideologi ekstremisme adalah tugas yang berat. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu. Terorisme tidak hanya mengancam keamanan karena menyebarluaskan rasa takut, tapi juga dapat mengancam keutuhan bangsa dan harmoni dalam kehidupan sosial.
 
Narasi penyangkalan terorisme dari sebagain masyarakat yang berkembang di medsos hanya akan menciptakan keraguan sebagian masyarakat akan bahaya terorisme itu sendiri.
Selain itu narasi yang sama akan menghambat upaya pemerintah dan masyarakat sipil untuk mencegah dan menangkal ideologi ekstremis yang menjadi daya dorong yang tak henti dari aksi-aksi teror selama ini.
 
(foto:Ist)

(foto:Ist)

Pemerintah, masyarakat dan media justru semakin diperlukan sinergi dan kekompakan untuk melancarkan kontra narasi terhadap narasi ekstremis dan memberikan narasi alternatif kepada masyarakat yang terpapar. Termasuk dalam hal ini pesantren sebagai benteng pertahanan Islam dari ideologi ekstremis semakin diharapkan perannya dalam mengembangkan strategi kontra narasi dan narasi alternatif yang mempromosikan persatuan, perdamaian, toleransi dan kesalehan yang sesungguhnya.
 
Seminar ini bertujuan untuk mendiskusikan secara terbuka dan mengurai problem serta berupaya mencarikan solusi terhadap berkembangnya narasi ekstremis khususnya di media digital. Seminar ini juga sekaligus membahas upaya-upaya penguatan kapasitas Pesantren dalam turut berperan menyebarkan perdamaian melalui pencegahan terhadap wacana-wacana kekerasan ekstremisme.
 
Target capaian seminar ini paling tidak:
pertama, meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan pesantren untuk melakukan pencegahan terorisme melalui kontra narasi esktremis dan narasi alternatif. Kedua, memperkuat jaringan pesantren dan civil society melalui “Aliansi Pesantren for Peace” untuk menyebarluaskan ajaran Islam yang pro perdamaian, toleran, terbuka dan mengedepankan maslahat umum.
 
Dengan menghadirkan pembicara: Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE (Guru Besar UIN Jakarta), Brigjen Pol. Ir. Hamil, ME (Direktur Pencegahan BNPT RI), KH. Jazilu Sakhok, Ph.D (Koordinator Alisansi PFP/PP.Sunan Pandanaran), dan Irfan Abubakar, MA (Direktur CSRC UIN Jakarta), seminar ini dihadiri sekitar 50 orang peserta dari Aliansi Pesantren for Peace (PfP), Pesantren-pesantren di Jadebotabek, Lembaga-lembaga pendidikan Islam, Lembaga pemerintah, Aktivis Perdamaian dan media. Irfan Abubakar, MA, Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KH. Jazilu Sakhok, Ph.D Koordinator Alisansi PFP/PP.Sunan Pandanaran Yogyakarta.(fidel)
 

 

  • 0 comment
  • Read 104 times
Login to post comments