Oleh:

Ahmad Hamdani[2]

 

Ahmad Hamdani adalah salah seorang peserta Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam yang terpilih sebagai penulis dalam kegiatan Fieldtrip pada 19-22 November lalu.

Ahmad Hamdani, Peserta Training Jakarta

 

        

         Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.504 pulau besar dan kecil (Bedjo Sujanto, 2007: 32), membentang dari Sabang sampai Merauke. Jumlah penduduk 237,6 juta jiwa (Sensus Penduduk Indonesia 2010) berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari budaya, bahasa, suku bangsa, ras, dan agama. Keragaman ini telah membentuk Indonesia menjadi negara dengan struktur sosial yang multikultural. Hal ini sesungguhnya telah disadari oleh para pendiri bangsa sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan. Karenanya, untuk tetap menjaga kerukunan nasional, mereka menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebuah semboyan persatuan. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai alasan bagi adanya permusuhan, namun dijadikan modal untuk membngun bangsa dengan semangat persatuan.

         Indonesia yang multikultural, apabila tidak dikelola dan ditangani dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu serta penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Peristiwa Ambon dan Poso, misalnya, merupakan contoh kekerasan dan konflik horizontal yang telah menguras energi dan merugikan tidak saja jiwa dan materi tetapi juga mengorbankan keharmonisan antar sesama masyarakat Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi bahan ajaran bagi anak sekolah, tak pernah dipraktikkan dalam dunia nyata. Media masa yang tak henti-hentinya memberitakan konflik dan perselisihan, turut memperparah keadaan ini. Mengutip Muhammad Saifullah (www.okezone.com, akses 22 Agustus 2014), bahwa konflik sosial pada 2013   trennya   mengalami   kenaikan   signifikan   yaitu   23,7   persen dibandingkan 2012. Sepanjang 2013 terjadi 153 konflik sosial di Indonesia. Hal tersebut sudah menjadi bukti, bahwa semboyan persatuan Bhinneka Tunggal Ika masih belum bisa kita wujudkan secara nyata, sehingga hal ini menjadi tantangan besar bangsa kita.

 

Memahami Multikulturalisme

 

         Merupakan kenyataan yang tidak bisa ditolak, bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, bahasa, ras, dan agama. Hal ini menjadikan Indonesia yang multikultural. Sebagai sebuah konsep yang ramai dibicarakan setelah masa reformasi, multikulturalisme masih belum dipahami banyak orang, meski pemikiran yang menunjukan semangat yang sama dengan multikulturalisme sudah ditunjukan pada Sumpah Pemuda 1928. Oleh karenannya, pemahaman yang komprehensif mengenai multikulturalisme menjadi sangat dibutuhkan, mengingat realitas bangsa Indonesia yang heterogen dan multikultural.

         Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), culture (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik (Choirul Mahfud, 2006: 75). Dari konsep multikulturalisme inilah kemudian muncul gagasan normatif mengenai kerukunan, toleransi, saling menghargai perbedaan dan hak-hak masing-masing kebudayaan penyusun suatu bangsa (Achmad Fedyani Saefuddin, 2006: 4). Kemunculan multikulturalisme disebut-sebut sebagai sebuah upaya untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan dan keberagaman. Namun pertanyaannya, bagaimana kita menjaga pemahaman bahwa multikulturalnya Indonesia bisa terangkum dalam sebuah persatuan?

         Sebagai jawabannya, konsep Bhineka Tunggal Ika harus dijadikan landasan bagi multikulturalnya bangsa ini. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan telah terbukti berhasil membawa Indonesia yang multikultural merdeka.   Nusantara ini disusun atas ribuan pulau dengan keragaman suku bangsa, budaya, bahasa, ras, dan agama, namun kita dipersatukan dalam Indonesia Raya. Semboyan yang mengandung arti “walaupun berbeda-beda tatap satu jua” ini, telah memberikan jawaban yang pasti untuk pertanyaan diatas. Oleh karenanya harus benar-benar dihayati sampai mengerti dan teraplikasi. Ketika semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan konsep multikulturalisme sudah dipahami dan dilaksanakan dengan baik, maka persatuan dan keharmonisan antar masyarakat Indonesia bisa terwujud secara nyata.

 

Multikulturalisme di Pesantren sebagai Simbol Ke-Bhineka Tunggal Ika-an

 

         Term “pesantren” secara etimologis berasal dari pe-santri-an yang berarti tempat santri; asrama tempat santri belajar agama atau; pondok. Dikatakan pula, pesantren berasal dari kata santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam (Haidar Putra Daulay, 2001: 7). Pesantren didefinisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang   menekankan pelajaran agaman Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen (Mujamil Qomar, 2002: 2). Dari pendapat-pendapat tersebut, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pesantren merupakan tempat dimana orang berkumpul untuk belajar agama Islam.

         Sebagai sebuah lembaga pendidikan keislaman tertua di Nusantara, ternyata pesantren memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang patut diapresiasi. Salah satu dari keunikan-keunikan tersebut adalah adanya kesadaran multikultural di pesantren jauh sebelum wacana multikulturalisme berkembang. Misalnya saja, Wali Songo yang disebut- sebut sebagai founding fathers pesantren melakukan dakwah di tengah bangsa kita melalui pendekatan beraneka ragam: ekonomi, sosial, kebudayaan, dan politik.

         Multikulturalisme di pesantren secara umum dapat kita lihat dari dua hal. Pertama, secara sosiologis. Pesantren sebagai sebuah komunitas sosial biasanya terdiri dari para santri dengan latar belakang yang multisuku, multibudaya, multietnik, multibahasa, dan multidialek. Hal ini menunjukkan bahwa realitas sosial di pesantren juga sangat plural. Walaupun adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi pesantren mampu menampakan sebuah keharmonisan. Seperti yang tercermin di Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta misalnya, diisi oleh ratusan mahasantri dari berbagai daerah di Indonesia dan mahasiswa luar negeri, namun tak pernah terlihat gejolak   untuk   berpecah-belah.   Mahasantri hidup   rukun   dan   saling membantu bagaikan saudara. Sistem asrama, mampu membangun kesadaran multikultural kepada para mahasantri tidak hanya dalam kerangka teoritis, tetapi langsung ditransformasikan secara nyata dalam kehidupan.

         Kedua, secara paradigmatis. Di dalam kerangka berpikir, pesantren telah menjunjung tinggi prinsip toleransi dan keterbukaan. Pesantren mengajarkan kepada anak didiknya untuk lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan. Di dalam pengajaran disiplin ilmu fiqih, misalnya, pesantren memberikan pemahaman yang multi-madzhab terhadap para santri. Ada Madzhab Syafi’iyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Malikiyah. Bahkan, dalam satu payung madzhab pun masih banyak perbedaan-perbedaan pendapat, suatu hal yang dalam tradisi intelektual pesantren tak pernah memicu konflik dan permusuhan.

         Al-‘ilmu bila ‘amalin ka as-syajari bila tsamarin “pengetahuan tanpa pengamalan seperti pohon tanpa buah”, sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh pesantren menjadikan multikulturalisme tidak hanya sebatas wacana mati, tetapi harus dipraktikkan dalam bentuk nyata agar lebih berarti. Nilai-nilai multikulturalisme benar-benar dibumikan secara masif sehingga mengakar menjadi sebuah prinsip hidup. Masih ada sebongkah harapan dari pesantren untuk Indonesia yang lebih bijak menyikapi perbedaan. Pesantren, seperti disebutkan di muka, telah memberikan gambaran bagaimana keharmonisan itu tetap terjaga, walaupun perbedaan senantiasa ada. Kesuksesan pesantren dalam membangun kehidupan harmonis di tengah perbedaan, menunjukan bahwa multikulturalisme di pesantren simbol Bhineka Tunggal Ika yang tidak hanya dipahami tapi juga dijalani. Kita berharap apa yang ditunjukan oleh pesantren, bisa diwujudkan dalam skala yang lebih luas: negara-bangsa.

 

 Daftar Referensi

 

Achmad Fedyani Saefuddin. 2006. “Membumikan Multikulturalisme di Indonesia” dalam Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI. Volume 2, Nomor 1.

 

Bedjo Sujanto. 2007. Cet. I. Pemahaman Kembali Makna Bhineka Tunggal Ika Persaudaraan dalam Kemajemukan. Jakarta: CV. Sagung Seto.

 

Daulay, Haidar Putra. 2001. Historis dan Eksistensi Pesantren, Sekolah, dan Madrasah, Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

Choirul Mahfud. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

Qomar, Mujamil. 2002. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga.

 

Muhammad Saifullah, http://news.okezone.com/read/2014/01/02/339/920558/waspada- konflik-sosial-sudah-telan-203-nyawa (diakses Jum’at, 22 Agustus

2014 pukul 20:11 WIB)

 

 

[1] Tulisan ini sudah dilombakan dan mendapatkan juara 1 di provinsi Banten serta juara 3 di tingkat pusat pada lomba Artikel Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Kementrian Pertahanan RI, thun 2014.

[2] Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, No. Hp. 085711497878, email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

  • 0 comment
  • Read 1056 times
Login to post comments