Syarat-syarat penting bagi keberhasilan penegakan HAM dan demokrasi menjadi inti dari training alumni guru pesantren ke-3 yang diadakan dari tanggal 28 Oktober hingga 1 November 2013 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Bila terjadi pelanggaran HAM, situasi sosial, politik serta ekonomi yang ada juga perlu diperhatikan: Chaidar Bamualim dari CSRC yang merupakan ahli dalam bidang HAM dan Islam.
Bila terjadi pelanggaran HAM, situasi sosial, politik serta ekonomi yang ada juga perlu diperhatikan: Chaidar Bamualim dari CSRC yang merupakan ahli dalam bidang HAM dan Islam.

 

Setelah pembahasan mengenai berbagai jenis Hak Asasi Manusia, klasifikasinya serta potensi bahayanya menjadi topik utama dalam kedua training sebelumnya (di Bogor dan Mataram). Yang menjadi topik utama dalam training ke-3 bagi para guru pesantren yang terpilih kali ini ialah syarat-syarat, instrumen serta tehnik untuk penerapan perlindungan HAM yang berhasil. Di bawah bimbingan tim pelatih organisasi mitra KAS, CSRC, sekitar 20 peserta yang hadir mempelajari berbagai kemungkinan yang dapat mereka terapkan dalam lingkungan sosial mereka masing-masing untuk dapat menjalani perlindungan HAM. Hal lain yang juga menjadi pembahasan dalam program kali ini ialah langkah-langkah yang diperlukan dalam menyikapi kasus pelanggaran HAM serta bagaimana cara menanamkan kesadaran dan menindaklanjuti pelanggaran tersebut.

Memandang Faktor Ekonomi Sosial

Mengenal serta menganalisa dengan benar situasi sosial, ekonomi serta politik dari lingkungan masing-masing sangat besar artinya bagi para guru pesantren, ungkap Chaidar Bamualim dari CSRC. Penyebab utama dari pelanggaran HAM yang terjadi antar kelompok beragama sering kali dilatarbelakangi konflik sosial atau ekonomi. Oleh sebab itu, selain kemauan dan motivasi yang kuat untuk mempertahankan serta membela HAM, para guru pesantren ini juga perlu memiliki kemampuan menganalisa yang baik. Berbagai instrumen penting serta kriteria untuk menganalisa keadaan sosial, politik serta ekonomi dijabarkan oleh pimpinan organisasi mitra KAS, CSRC, Irfan Abubakar.

Melobi untuk HAM

Bagaimana dan kapan sebaiknya kita menyuarakan perlindungan serta penerapan HAM merupakan topik yang dibahas pada bagian kedua dari kegiatan kali ini. Topik melobi untuk kepentingan HAM ini bukan merupakan hal yang baru bagi beberapa peserta: dengan mengesankan beberapa peserta membagi pengalaman mereka saat mereka berhasil melindungi dan menjaga penjaminan HAM di lingkungan mereka dengan negosiasi yang baik serta menggunakan jaringan kekerabatan.

Program Alumni Sebagai Ajang Pelatihan untuk Multiplikator HAM

Dengan kegiatan selama tiga hari di Makassar ini, KAS Indonesia dan Timor Leste telah melanjutkan salah satu rangkaian proyek utamanya. Sudah sejak tahun 2009 KAS Indonesia bekerjasama dengan Center for Study of Religion and Culture (CSRC) dari Universitas Islam Negeri menyelenggarakan training di seluruh Propinsi dengan topik HAM, demokrasi, toleransi serta penanganan konflik agama dan budaya. Peserta training ini ialah para guru pesantren. Dalam training-training ini mereka diposisikan untuk ikut mewujudkan dialog internal serta antar agama yang mencegah terjadinya konflik serta didasari oleh konstitusi demokrasi. Dalam hal ini, integrasi antara nilai-nilai demokrasi dan Islam memainkan peranan yang besar. Sejak dimulainya kerjasama ini, sudah sekitar 700 guru yang menjadi peserta dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari kurang lebih 300 pesantren di seluruh Indonesia. Mulai tahun 2013 ini, para peserta yang terbaik mendapatkan pelatihan untuk menjadi „multiplikator HAM“ dalam program alumni. Training alumni semacam ini telah berlangsung di Bogor dan Mataram. Informasi lebih lanjut mengenai program ini dapat Anda peroleh pada kolom di sebelah kanan.

 

sumber: kas

  • 0 comment
  • Read 369 times
  • Tagged under

Related items

Login to post comments