Workshop Pengembangan Modul  Pendidikan Perdamaian  di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam

 

Tigapuluh Guru Pesantren perwakilan dari 5 wilayah (DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur) berkumpul di Hotel Grand Zuri BSD pada tanggal 28 sampai dengan 31 Mei 2015. Mereka mengikuti sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Pesantren For Peace

Mewakili Konrad-Adenauer-Stiftung, Sarah Sabina Hasbar menyambut para peserta. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan program dan pengenalan yang disampaikan oleh Sholehuddin Abdul Aziz sebagai koordinator program PFP.

Setelah selesai penjelasan program, sessi pertama pun dimulai. Acara semakin meriah dengan tampilnya salah seorang peserta dari perwakilan wilayah Bandung membacakan Puisi yang berjudul "Aku Cinta Indonesia". Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat puisi dibacakan dengan diiringi lagu "Indonesia Pusaka".

Dalam sessi pertama ini masing-masing utusan dari 5 wilayah (DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur) mempresentasikan hasil rekomendasi matrix modul yang telah didiskusikan baru-baru ini di wilayahnya masing-masing.

Acara workshop ini juga disambut dengan hangat oleh Dr. Jan Woischnik, Direktur KAS untuk Indonesia dan Timor Leste. Ia sangat senang melihat para peserta yang aktif mengikuti kegiatan workshop ini. Hal utama yang disampaikan dalam sambutannya adalah tentang peranan KAS dalam seluruh aktifitas CSRC dan PFP.

Menanggapi sambutan dari Dr. Jan Woischnik, para peserta diberikan waktu untuk bertanya seputar KAS dan kaitannya dengan CSRC dan PFP. Pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta adalah, "mengapa KAS memilih pesantren sebagai agen perdamaian dan pemecahan konflik di Indonesia ini?". Dr. Jan Woischnik menanggapi pertanyaan tersebut dengan memaparkan kembali peranan KAS dalam program ini. "KAS memberikan dana kepada PFP untuk membuat program perdamaian dan PFP memilih Pesantren untuk mengembangkan pendidikan perdamaiain berperspektif HAM dan Islam ini" tutur Direktur KAS untuk Indonesia dan Timor Leste, Dr. Jan Woischnik.

Kesempatan bertanya masih dibuka untuk para peserta. Alih-alih bertanya, salah seorang peserta malah menyampaikan harapannya untuk diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Jerman. Gelak tawa menghangatkan suasana ruangan, dan semakin meningkatkan antusias para peserta terhadap workshop ini.

Setelah diselingi istirahat shalat jumat, acara kembali dimulai dengan dibukanya sessi kedua tentang "Format Ideal Pengembangan Modul" yang disampaikan oleh Irfan Abubakar, Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan disampaikannya format ideal modul ini, para peserta bisa mempertemukan hasil diskusi matrix modul mereka yang pada mulanya masih berbeda pandangan menjadi satu kesatuan ideal.

Menindaklanjuti pengembangan kerangka modul ini, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok untuk berdiskusi secara mendalam. Hasil dari diskusi kelompok ini adalah tersedianya final desain modul "Pendidikan Perdamaian berperspektif HAM dan Islam" yang tepat untuk kalangan Pesantren.[]

 

 

  • 0 comment
  • Read 669 times
  • Tagged under

Related items

Login to post comments