Print this page

Dengan dukungan The Asia Foundation, CSRC telah melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian di Ambon dengan melibatkan 40 guru yang berasal dari SMP dan SMA. Intervensi model ini merupakan hasil dari proses needs assessment yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Pendekatan bina damai melalui jalur pendidikan dipandang mampu membentuk kesadaran generasi muda guna membangun kepercayaan, mengurangi rasa saling curiga, dan membuka ruang publik agar terbangun komunikasi dan kerjasama yang intensif antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnis. Nilai-nilai tersebut apabila berhasil disemai di tengah masyarakat dapat diharapkan menjadi platform bersama untuk mengurangi kekerasan antar kelompok serta membangun perdamaian di Ambon dalam jangka panjang.

Setelah mengadakan workshop sebanyak 4 kali, yaitu : Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon dan Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah, dua workshop ini diselenggarakan pada 16-20 Juni 2014 yang diikuti oleh 40 guru. Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon pada tanggal 19-21 Agustus 2014, dan Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon dilaksanakan 22-23 Agustus 2014, berdasarkan itu CSRC merasa perlu untuk melakukan evaluasi secara mendalam dan menyeluruh terhadap pelaksanaan program ini dalam rangka melihat sejauh mana dampak yang telah ditimbulkannya. Evaluasi ini sekaligus akan menjadi patokan untuk menganalisa sejauh mana program ini berhasil menyentuh harapan dan cita-cita damai di Ambon sekaligus menjadi konsideran dalam mengembangkan dan menciptakan program lanjutan agar lebih terarah, terukur, dan mengena. Studi evaluasi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali data informasi dengan mengumpulkan cerita-cerita tentang perubahan yang signifikan untuk kemudian ditentukan mana cerita yang mengandung the most significant change (MSC). Cerita yang dikumpulkan adalah cerita yang berhubungan dengan perubahan-perubahan signifikan yang kemudian secara kolektif ditentukan mana cerita perubahan yang paling signifikan berdasarkan topik-topik yang telah ditentukan (yang biasa disebut domain).

Workshop seleksi cerita evaluasi program bina damai Ambon melalui pembangunan kapasitas masyarakat sipil diadakan rabu, 21 Januari 2015 bertempat di syahida inn UIN Jakarta. Dihadiri oleh direktur CSRC, peneliti dan undangan yang berjumlah 17 orang. Dalam sambutannya mengawali acara direktur CSRC Irfan Abu Bakar menyampaikan program Bina Damai Ambon ini dimulai pada tahun 2013 diawali dengan need assessment. Dari hasil penelitian itu dapat terlihat bahwa pendidikan perdamaian di Ambon perlu diterapkan pada masyarakat sipil.  “Oleh karena itu kami merasa perlu untuk mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian melalui sekolah-sekolah yaitu dengan memfasilitasi guru-guru untuk mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh CSRC, sehingga diharapkan guru-guru dapat menerapkan nilai-nilai perdamaian saat proses mengajar”, ujarnya. 

Secara umum studi evaluasi berupaya untuk mengetahui perubahan paling signifikan (the most significant change[MSC]) yang dialami oleh para peserta dalam mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian di dunia pendidikan setelah mengikuti Program “Bina Damai di Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Masyarakat Sipil”. Tahap pengumpulan cerita telah dilakukan oleh 3 peneliti dan kini memasuki tahap seleksi cerita. Workshop ini bertujuan untuk memilih mana di antara cerita-cerita tersebut yang paling signifikan mengandung perubahan. 

Peneliti CSRC Idris Hemai, mengatakan bahwa seorang Guru yang diwawancarainya bertugas mengampu mata pelajaran PKn di sekolah yang siswanya mayoritas kristen. Setelah mengikuti workshop bina damai, Ia banyak menerapkan nilai-nilai perdamaian melalui praktek langsung. Misalnya; menyampaikan materi persatuan, keragaman dengan menggunakan metode 5M (Mengamati, Menanya, Menyajikan, Menalar, dan Mencoba). Responden lainnya yang mengajar di Sekolah yang siswanya 75% muslim dan 20 % non muslim. Menyatakan bahwa tantangan selanjutnya setelah mengikuti workshop bina damai Ambon adalah merubah mindset siswa yang berlatar belakang MTS. Perubahan signifikan yang dimaksud adalah :

  1. Memasukan nilai-nilai perdamaian ke dalam indikator penilaian sikap siswa
  2. Menyampaikan materi tentang toleransi
  3. Mengadakan outbound agar siswa bisa berbaur dengan yang lainnya
  4. Memutarkan film-film di depan siswa, film itu umumnya berisi pesan bagaimana  hidup harmonis di tengah keberagaman tanpa rasa saling benci dan curiga.

Menurut salah satu peserta workshop Dr. Siti Khadijah yang merupakan pakar di bidang pendidikan mengatakan, dari beberapa cerita yang dipaparkan, poin penting yang bisa kita ambil yaitu adanya perubahan sikap dan emosi dari masing-masing guru setelah mengikuti program bina damai ambon dan Kepekaan guru-guru mulai terlihat dalam menghadapi konflik, baik yang bersifat kecil sampai besar.

Workshop ini diharapkan dapat menemukan perubahan paling signifikan (the most significant change[MSC]) yang dialami oleh para peserta dalam mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian di dunia pendidikan setelah mengikutiProgram Bina Damai di Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Masyarakat Sipil.

 

Sumber: csrc.or.id

  • 0 comment
  • Read 395 times
  • Tagged under

Related items

Login to post comments