Print this page

Namun, masih saja sering terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM, terutama yang mengatasnamakan agama, seperti kasus penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeusik dan pengusiran kelompok Syiah di Sampang, Madura. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang HAM dan sempitnya pemahaman ajaran agama merupakan dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dan konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dua faktor tersebut ditemukan di kalangan aktivis muda Muslim.

Melihat hal itu, upaya-upaya untuk memperluas pemahaman tentang nilai-nilai HAM dan hubunganya dengan Islam di kalangan aktivis muda Muslim menjadi penting. Harapanya mereka kelak bisa menjadi aktivis yang mampu mempromosikan nilai-nilai HAM di masyarakat. Pelatihan adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk mengubah pemikiran mereka tentang HAM. Untuk menunjang program pelatihan tersebut agar lebih efektif diperlukan sebuah metode yang dapat memudahkan para peserta pelatihan untuk memahami konsep dan nilai-nilai HAM. Dalam rangka membangun kesadaran aktivis muda Muslim tentang pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) berkerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Jerman, mengadakan Program Pelatihan Agama dan HAM.

Program Pelatihan Agama dan HAM telah dilakukan sejak tahun 2009. Pada tahun 2014 tepatnya tanggal 25 – 27 Februari bertempat di Hotel Pandanaran Semarang, CSRC dan KAS kembali mengadakan program pelatihan yang sama. Pelatihan ini melibatkan para peserta dari kalangan guru-guru pesantren di Kota Semarang dan sekitarnya. Para narasumber dan traineryang mengisi acara ini merupakan aktivis CSRC yang sudah sering menyampaikan materi training ini. Mereka terdiri dari Irfan Abubakar, Chaider S. Bamualim, Muchtadirin dan Siti Khadijah. Masing-masing trainer membawakan beberapa topik pembahasan yang berbeda yang terkait masalah HAM, mulai dari pengertian HAM, prinsip-prinsip HAM, kesesuaian Islam dan HAM, Perempuan dan HAM, kemudian studi kasus pelanggaran HAM di lingkungan sekitar, hingga advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Dalam penyampaian materi, penggunaaan metode yang tepat sangat diperlukan untuk memudahkan peserta memahami materi. Seperti pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, pelatihan ini menggunakan metode partisipatoris dimana masing-masing peserta diharapkan dapat berperan aktif mendiskusikan topik pembahasan. Beberapa metode yang digunakan yaitu Brainstorming, Diskusi Kelompok, Games, dan Role Play. Pada metode Role Play, peserta memerankan beberapa peran seperti menjadi aktifis HAM, pelaku pelanggaran HAM, korban pelanggaran HAM, pejabat public, anggota DPRD, dan lainnya. Metode ini biasanya diaplikasikan pada topik advokasi kebijakan publik keagamaan berdasarkan HAM.

Pada tataran prinsip Islam dan HAM memiliki kesesuaian. Misalnya, Islam dan HAM mendukung kebebasan beragama. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk agama Islam. Ini disebutkan dalam Q.S. 18: 29, Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman maka ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir”. Selain itu, Islam dan HAM juga melindungi dan menghormati harkat dan martabat manusia, dan melarang diskriminasi manusia berdasarkan ras, agama, maupun jenis kelamin.

Pelatihan Agama dan HAM sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pemikiran aktivis muda Muslim tentang nilai-nilai HAM, dan menjadikan mereka sebagai agen promosi HAM di daerahnya masing-masing. Pelatihan ini juga perlu dikembangkan dan diadakan kembali di berbagai kota di Indonesia, karena secara tidak langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai HAM dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Sumber: csrc.or.id

  • 0 comment
  • Read 410 times
  • Tagged under

Related items

Login to post comments