July 1, 2015 by Acdp Indonesia

Kompas, halaman 12

Pusat Kajian Agama dan Budaya (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, meluncurkan “Pesantren untuk Perdamaian (Pesantren for Peace/PFP)” bekerja sama dengan Yayasan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Jerman dan didukung Uni Eropa, di Jakarta, Selasa (30/6). Program yang dimulai pada Januari 2015 dan akan berakhir pada 2017 itu berusaha mendorong peran pesantren dalam mengkampanyekan toleransi ke seluruh dunia.

Program selama sekitar tiga tahun ini menyasar sejumlah pesantren di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Timur. PFP melibatkan 600 ulama dan 300 santri/santriwati yang kemudian menyebarkan program kepada para ulama dan santri lain.

PFP kini tengah menyiapkan situs untuk perdamaian dan resolusi konflik serta pelatihan dan studi lapangan bersama para santri. Ada juga pertukaran santri dan pembentukan jaringan untuk mempromosikan Islam rahmatan lil alamin (Islam yang membawa rahmat bagi alam semesta)

Direktur Pusat Kajian Agama dan Budaya (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Irfan Abubakar memaparkan, bibit kekerasan atas nama agama sudah ada sejak dua dekade terakhir. Muncul ekspresi Islam yang mendukung kekerasan hingga aksi terorisme. PFP menjadi kampanye toleransi kepada dunia. Pesantren itu mendidik orang menjadi saleh, toleran, dan pluralis.

Survei oleh tim peneliti UIN pada 2012 menunjukkan, 80 persen orientasi umat Islam cenderung moderat. Sebanyak 19 persen masyarakat Muslim bertendensi untuk menjadikan Islam sebagai landasan hidup, tetapi kurang dari 1 persen di antaranya yang melakukan aksi. Kondisi ini berbeda dengan di Timur Tengah.

 

sumber: www.acdp-indonesia.org

  • 0 comment
  • Read 609 times
Login to post comments