Print this page

Jakarta, Pesantrenforpeace.com--CSRC Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad Adenaeur Stiftung dengan dukungan Uni Eropa berkomitmen untuk ikut membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih damai di negeri ini. Sebagai salah satu upaya merealisasikannya adalah dengan menjalankan sebuah program unggulan berjudul “Pesantren for Peace (PFP): a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Human Rights and Peaceful Conflict Resolution”. Program ini merupakan upaya CSRC, KAS dan Uni Eropa dalam rangka untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam mendorong moderasi Islam di Indonesia dalam rangka untuk menegakkan dan memajukan Hak Asasi Manusia, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai.

Setelah selesai dengan 3 kegiatan pentingnya, yaitu Conflict Analysis Mapping, rangkaian workshop Pengembangan Desain Modul yang telah dilaksanakan di 5 kota (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta), serta penulisan modul "Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam untuk Kalangan Pesantren", PfP berencana untuk melaksanakan kegiatan Training of Trainers (TOT) bagi para penulis modul sebagai tindak lanjut dari program-program yang telah sukses dilaksanakan. Training ini akan dilaksanakan pada tanggal 18-21 Agustus 2015 di Hotel Via Renata Puncak.

Koordinator program PfP, Sholehudin A. Aziz mengatakan “Sebagai tindak lanjut, modul yang telah di tulis oleh para ustadz-ustadzah ini sangat perlu ditrainingkan kepada santri dalam rangka mensosialisasikan Pendidikan Perdamaian berperspektif HAM dan Islam di kalangan Pesantren. Namun, lanjutnya, sebelum modul ini ditrainingkan kepada para santri, ustadz-ustadznya harus ditraining terlebih dahulu.”  

Dalam presentasinya yang disampaikan pada acara Brainstorming yang berlokasi di GG House Puncak (30/6) Sholehudin menyampaikan bahwa training ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan dan kiat-kiat menjadi trainers yang baik sekaligus menjadi ajang praktik untuk menjadi trainers yang mumpuni.

Sholehudin menyebutkan, Peserta TOT ini berjumlah  30 orang perwakilan ustadz-ustadzah dari 5 kota di Jawa (Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta). Setelah TOT ini dilaksanakan, para peserta akan mengimplementasikan apa yang diperolehnya dari training tersebut dalam sebuah kegiatan Capacity Training di wilayahnya masing-masing.

Related items

Login to post comments