Print this page

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, tampil sebagai pembicara dalam kegiatan konferensi internasional yang bertajuk “Multinational Efforts to Promote Freedom of Religion or Belief” yang diselenggarakan oleh the International Panel of Parliamentarians for Freedom of Religion or Belief (IPP-FoRB) dan Konrad Adenauer Foundation di One UN Hotel, New York. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari 17-19 September 2015 dan dihadiri oleh lebih dari 100 anggota parlemen dan lebih dari 40 pimpinan NGO dan organisasi keagamaan dari berbagai negara di seluruh dunia.

Konferensi ini menampilkan pembicara dari berbagai tokoh agama, meliputi Islam (Sunni dan Syiah), Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks, Budha dan Hindu. Juga menampilkan Jan Eliasson yang mewakili Sekjen PBB Ban Ki Moon, Mr. Nasser Abdulaziz al-Nasser yang merupakan High Representative untuk Aliansi Peradaban PBB, serta tokoh-tokoh politik dari berbagai negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika, dan Asia.

Pada kesempatan ini, Irfan Abubakar diundang sebagai peserta sekaligus pembicara mewakili NGO dan Organisasi Masyarakat. Irfan menyampaikan topik “Membangun Toleransi dan Kebabasan Agama di Indonesia: Masalah, Tantangan dan Masa Depannya.”

Dalam presentasinya, Irfan memaparkan tantangan yang dialami bangsa Indonesia selama lebih dari satu dekade terakhir dalam menghadapi tendensi intoleransi keberagaman dan konflik di beberapa tempat di tanah air termasuk yg paling terbaru yaitu kasus Tolikara.

“Intoleransi dapat berupa kebencian atas nama agama, diskriminasi, hingga kekerasan atau penganiayaan atas nama agama. Semua masalah itu menuntut upaya kongkrit di semua level negara dan masyarakat untuk mencarikan penyelesaian yang lebih permanen dan berkelanjutan,” ungkap Irfan

“Menanggapi permasalahan tersebut, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupaya membantu memelihara dan meningkatkan kemampuan kemampuan muslim untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati martabat dan hak-hak asasi setiap orang,” tutur Irfan melanjutkan. Dijelaskannya juga tentang berbagai program pelatihan agama dan HAM untuk para guru pesantren, program alumni, dan yang sedang dijalankan saat ini yaitu Pesantren for Peace (PfP).

Berbagai pemaparan yang disampaikan dalam forum NGO dan tokoh keagamaan ini merupakan suatu masukan penting untuk merancang rembukan atau rekomendasi yang merupakan output dari konferensi ini. Selanjutnya rekomendasi ini akan diserahkan ke PBB sebagai masukan untuk pemerintah masing-masing negara.

Dalam pidato sambutannya, presiden Konrad Adenaeur Stiftung menyampaikan kebanggaanya atas kerja dan upaya CSRC dengan dukungan KAS untuk menjalankan berbagai program tersebut. Dia bahkan mendorong agar pendekatan CSRC dalam mengatasi masalah intoleransi agama dapat menjadi model yg bisa diterapkan di negara lain.

Login to post comments