Diterbitkan  Jumat, 20 / 11 / 2015 13:30 oleh Tangselpos.co.id

 

TANGSEL POS, SERPONG – Belum lama ini masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi kekerasan yang terjadi di Paris, Perancis yang mengakibatkan setidaknya 120 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka. Masyarakat dunia mengutuk dan mengecam aksi kekerasan tersebut, termasuk pemerintah dan bangsa Indonesia. Peristiwa ini disinyalir merupakan aksi kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh ISIS.

Kondisi di atas tentunya tidak boleh dibiarkan begitu saja karena efek negatif yang ditimbulkannya sangatlah besar. Maka dari itu butuh upaya sistematis dan integratif dalam rangka meningkatkan solidaritas kebersamaan, toleransi, penghargaan atas nilai-nilai HAM setiap individu, dan penyelesaian konflik secara damai demi terciptanya suasana yang lebih damai dan harmonis.

Junaidi Simon Peneliti menjelaskan, dalam konteks ini, posisi dan peran pesantren tentunya sangatlah signifikan. Pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga keagamaan yang memiliki legitimasi kuat menyuarakan nilai-nilai kebenaran agama yang selama ini banyak disalahtafsirkan oleh banyak kalangan yang pro dengan kekerasan. Pesantren pula diharapkan benar-benar mampu menjadi pilar utama promosi perdamaian dan penegakan nilai-nilai HAM.

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa berinisiatif menjalankan program penting dalam rangka mengurangi dan mencegah terjadinya kekerasan dan menyelesaikan konflik secara damai.

Program tersebut bertajuk “Pesantren for Peace (PfP): a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Human Rights and Peaceful Conflict Resolution”.

Program ini merupakan upaya CSRC, KAS dan Uni Eropa dalam rangka mendorong dan mendukung peran Pesantren dalam mempromosikan HAM dan resolusi konflik secara damai, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat secara luas.

“Secara umum, keseluruhan kegiatan program Pesantren for Peace (PfP) diharapkan dapat meningkatkan peran penting Pesantren sebagai lokomotif moderasi Islam di Indonesia dalam rangka menegakkan dan memajukan HAM, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai,”katanya.

Sejak Januari 2015 serangkaian kegiatan penting telah dilakukan: pertama, penelitian pemetaan analisis konflik (conflict analysis mapping); kedua, workshop “Pengembangan Desain Modul: Pendidikan Perdamaian Berperspektif HAM dan Islam” di Surabaya , Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta; ketiga, penulisan Modul “Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam”; kempat, peluncuran program PfP dengan dukungan Menteri Agama; kelima, Training of Trainers (TOT) bagi para penulis modul, dimana mereka sekaligus dilatih untuk menjadi trainer dalam training di 5 kota di Pulau Jawa.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan TOT di atas, program PfP selanjutnya melaksanakan 10 rangkaian kegiatan Training dan Field Trip ”Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung. Kegiatan ini diselenggarakan sejak pertengahan kedua tahun 2015 hingga pertengahan pertama tahun 2016. Trainer dalam kegiatan ini adalah para ustadz/ustadzah pesantren dari 5 kota yang telah terlibat dalam mendesain dan penulisan modul serta telah dilatih menjadi trainer dalam TOT sebelumnya.(rls)

  • 0 comment
  • Read 407 times
Login to post comments