Pesantren for Peace telah menjalankan Serangkaian program dan kegiatan sejak Januari 2015 hingga saat ini, dimulai dengan dilaksanakannya Penelitian Lapangan tentang Analisis Konflik (Conflict Analysis Mapping) di lima provinsi di Pulau Jawa meliputi Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur; Membangun Website www.pesantrenforpeace.com sebagai media komunikasi dan diseminasi kegiatan PfP; Workshop Pengembangan Modul Pendidikan Perdamaian untuk ustadz dan ustadzah yang diselenggarakan di lima provinsi di Pulau Jawa; Penulisan Modul Pendidikan Perdamaian Berperspektif Islam dan HAM yang ditulis oleh 30 ustadz/ustadzah pesantren dari lima wilayah di Pulau Jawa; Peluncuran Proyek Pesantren for Peace (PfP) oleh Menteri Agama RI; dan Capacity Training serta Field Trip yang juga diselenggarakan di lima provinsi di Pulau Jawa yang saat ini masih berlangsung di lima provinsi tersebut, dan akan berakhir April 2016 di Yogyakarta.

Dari seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan, implementasinya melibatkan jaringan Pondok Pesantren yang tersebar di 5 provinsi di Pulau Jawa. 250 Pondok Pesantren telah terlibat secara aktif sebagai mitra PfP dalam menyukseskan rangkaian kegiatan program PfP sejak Januari 2015 hingga saat ini baik sebagai mitra lokal, panitia, trainer, peserta maupun penulis modul.

Di sisi lain, terdapat satu program menarik yang akan diimplementasikan dalam rangkaian kegiatan program PfP ke depan, yakni program dana hibah atau yang kami istilahkan dengan sub-Granting. Dalam rangka menyusun rencana untuk program sub-Granting tersebut, Team PfP mengadakan sebuah Brainstorming yang turut dihadiri oleh Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung untuk Indonesia dan Timor Leste, Thomas Yoshimura.

“Program sub-Grant ini didesain secara khusus dengan melibatkan dan mengikutsertakan pesantren-pesantren yang terlibat dalam serangkaian aktivitas PfP sebelumnya. 50 pesantren yang di nilai paling aktif akan diminta untuk mengajukan proposal dana hibah. Dari 50 pesantren tersebut akan dipilih 15 pesantren untuk menerima dana hibah guna mengimplementasikan beberapa kegiatan dalam skema pendanaan hibah”, Ungkap Koordinator Program PfP, Idris Hemay.

Idris menambahkan, Dana hibah atau sub-Grant ini diimplementasikan dalam 3 kegiatan besar, diantaranya: Local Day of Human Right, yaitu berupa seminar di 5 wilayah dimana setiap wilayah akan melaksanakan 3 kali seminar dengan judul yang berbeda di tiap seminarnya; Workshop Daerah Kabupaten; serta Workshop Tingkat Provinsi, dimana pesantren yang terpilih untuk menyelenggarakan workshop-workshop tersebut akan menjadi tuan rumah untuk pertukaran santri dan mengutus santri terbaiknya untuk mengikuti pertukaran santri di wilayah lain, dengan syarat santri tersebut telah mengikuti Capacity Training dan Field Trip sebelumnya”, tutur Idris.

Tujuan program sub-Grant ini adalah untuk meningkatkan peran Pesantren di Pulau Jawa untuk mempromosikan dan mengadvokasikan nilai-nilai toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai, serta membangun dan meningkatkan kesadaran publik dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, HAM, dan penyelesaian konflik secara damai.

Program sub-Grant ini secara resmi akan di launching pada tanggal 1 Maret dengan mengundang sekitar 150 pesantren untuk mengajukan proposal sub-Grant. Seluruh info yang berkaitan dengan program ini bisa diakses di www.pesantrenforpeace.com.

 

 

                                                

Related items

Login to post comments