Print this page

Pesantren for Peace kembali menggelar Training Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam untuk para santri (2-5/02/2016) di Hotel Scarlet Bandung, yang sebelumnya telah dilaksanakan training serupa pada  26-29 November 2015 lalu namun dengan peserta yang berbeda.

Dalam training kali ini, peserta yang hadir berasal dari 30 Pesantren di 7 wilayah di sekitar Jawa Barat, yang sebelumnya hanya 5 wilayah (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut dan Ciamis) kini semakin variatif dengan ditambahnya 2 wilayah (Cianjur dan Subang). Para santri yang mengikuti kegiatan ini berusia antara 17-22 tahun dengan komposisi 16 laki-laki dan 14 perempuan.

Selain itu, para trainer yang memfasilitasi training ini juga lebih kreatif dalam menyampaikan materi dibanding training sebelumnya. metode yang digunakan berhasil membuat seluruh peserta aktif dan argumentatif dalam tiap sesinya. Bahkan para trainer ini berhasil menggugah peserta untuk berkomitmen menjadi “Duta Perdamaian”, yang kemudian mereka nyatakan dalam sebuah “Ikrar Perdamaian”.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuhdari pemerintah setempat. Pada penutupan Training, para peserta secara resmi dikukuhkan menjadi Duta Perdamaian oleh Wali Kota Bandung yang diwakili oleh H. Tatang Muhtar, S.Sos, M.Si Kabag KESRA Kota Bandung dengan penyematan pin secara simbolis kepada perwakilan peserta.

“Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi program ini, karena mendukung menuju ‘Bandung Kota Toleransi’ yang dicanangkan oleh Wali Kota, tentunya kami akan mensupport peserta untuk menjadi Duta Perdamaian dalam masyarakat” ungkap Tatang Muhtar saat menyampaikan pesan-pesannya kepada Peserta.

Dalam training ini, para peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis mengenai perdamaian berperspektif HAM dan Islam, namun juga diajak untuk berinteraksi langsung, berdialog dan observasi lapangan dengan korban konflik kekerasan dan pegiat perdamaian dalam sebuah agenda fieldtrip di penghujung training. Fieldtrip ini dilakukan dengan berkunjung dan berdialog langsung dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat untuk mengetahui kekerasan yang dialami Ahmadiyah di wilayah Jawa Barat dan Bandung serta dampaknya terhadap jemaat Ahmadiyah selama ini; bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus dimaksud; inisiatif perdamaian yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut; serta upaya penyelesaian konflik secara damai yang diinisiasi oleh Ahmadiyah wilayah Jawa Barat dan Bandung sendiri atau pihak lain baik Pemerintah maupun masyarakat (swasta) atas kasus dimaksud.

Selain kunjungan ke Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat, peserta juga diajak untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Qur’an Babussalam Bandung, dan berdialog langsung dengan pimpinannya terkait dengan bentuk dan inisiatif perdamaian yang dilakukan Pondok Pesantren Babussalam di wilayah Jawa Barat dan Bandung dalam konteks lintas iman, dan apa saja kendala yang dihadapi; Respon/tanggapan Pemerintah dan masyarakat atas inisiatif perdamaian yang dilakukan; Bagaimana peran yang dilakukan Pondok Pesantren Babussalam dalam kasus konflik (kekerasan) bernuansa agama yang terjadi di wilayah Jawa Barat dan Bandung khususnya; Bentuk pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus konflik dimaksud; serta Usulan konstruktif bagi Pemerintah dan masyarakat, khususnya kalangan Pesantren dalam upaya resolusi konflik secara damai.

 

 

 

Related items

Login to post comments