"Perihal Kita yang Beda"

 

Saya tahu...

Kita berbeda.

Sesuatu yang baru saja saya tahu

Saya menyukai gunung.

Sedangkan kamu menyukai lautan.

"Laut selalu pandai membuat jatuh cinta" katamu.

 

Saya Pengagum senja.

Sedangkan kamu pengagum malam.

"Kemana lagi waktu berbaik hati menampakkan bulan dan bintang kecuali malam?"Begitu ungkapmu.

"Namun senja juga tak kalah mempesona.

Hanya saja aku lebih suka pesonanya rembulan di kelilingi oleh kerlip bintang."Lanjutmu.

 

Saya menyukai hujan.

Sedangkan kamu menyukai terang.

"Melihat hujan sama seperti melihat kesedihan saja.

Aku tak suka kesedihan.

Begitupun aku yang tak menyukai hujan" ujarmu.

"Kadang hujan menghalangiku untuk melihat langit malam.

Sedangkan aku sangat menyukai langit malam.

Kala hujan, aku kesal di buatnya." Ujarmu lagi.

 

Saya menyukai teh.

Sedangkan kamu menyukai kopi tanpa gula 

"Kau terlalu banyak meneguk kopi.

Sekali kali cobalah ganti dengan secangkir teh." Tegur saya suatu ketika.

"Terimakasih. Tapi aku kurang suka bau teh." Elakmu.

 

Saya penggemar fiksi.

Sedangkan kamu? Lagi lagi sebaliknya.

"Lihat! Kita hidup di dunia nyata.

Bukan dunia fiksi, nona." Cercamu dengan tawa ketika mendapatiku menulis fiksi lagi.

 

"Biar saja.

Kapan lagi aku bisa bebas melakukan apapun sesuka hati kecuali di dunia fiksi aku sendiri." Kesal saya padamu.

Saya menyukai tabuhan-tabuhan rebana habib syeikh.

Sedangkan kamu?? Sedangkan kamu berpendapat bahwa itu adalah bid'ah.

 

Saya membaca yasin dan tahlil ketika malam jumat.

Dan kamu, berpendapat bahwa itu menentang ajaran rasul kita.

Saya shalat subuh menggunakan do'a qunut.

Kemudian, kau??? Menganggap hal itu tak perlu dianut.

Lalu.... kita sama-sama memperdebatkan perbedaan kita dengan saling tuntut.

hingga kita lupa bahwa kita adalah muslim.

Kita lupa bahwa kita adalah santri.

Kita lupa bahwa kita adalah duta perdamaian.


Kita... terlalu banyak membeda-bedakan, 

menganggap bahwa kita adalah yang paling benar.

Kita terlalu sering mengelu-elukan atas apa yang kita sandang.


Hingga.... kita terlalu fanatik terhadap satu faham.

Sebenarnya... buat apa saling membeda-bedakan???

Dan terlalu fanatik perbedaan,

kalau ternyata rukun iman islam shalat wudlu saja kita tidak hafal di luar kepala ??

 

Kita lupa.

Bahwa kita adalah muslim...

yang memiliki tugas untuk menyebarkan agama rahmatan lil 'alamiin.


Kita lupa.

Bahwa kita adalah santri.

Yang menjadi duta perdamaian untuk suatu hari nanti dan mulai saat ini!!!..

Kita adalah muslim yang santri.

Maka, gegas.

Sandingkan perbedaan-perbedaan tanpa harus membenarkan argumentasi!

Mari!!!!

kita berbincang bersama...

dengan saya meminum kopi tanpa gulamu,

dan kau meminum teh melati dari saya.

 

 

Karya: Humaida Fatwati,
(PP. Al-Muntaha Salatiga)

  • 0 comment
  • Read 1189 times
Login to post comments