“ Tidak ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama. Tidak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama”. Sepertinya tagline Hans Kung berikut yang tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi belakangan ini yang terjadi pada sebagian besar bangsa di dunia. Tidak dapat dipungkiri banyak masalah kebangsaan mencuat ke permukaan yang mengatasnamakan agama.  Ini bukanlah sebuah masalah remehtemeh, setiap individu yang mendiami suatu bangsa maka berkewajiban ikut serta menjaga keutuhan dan perdamaian bangsanya.


Minggu, 12 Juni 2016. Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) Yogyakarta pada kesempatan kali ini benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi yang diajarkan Islam melalui kunjungannya ke Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng Poncowinatan. Kunjungan ini dilakukan oleh STAISPA (Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran), perguruan tinggi berbasis pesantren yang berada di bawah naungan yayasan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran untuk memenuhi aplikasi nyata salah satu matakuliah  kami, yaitu Studi Agama-agama. Kunjungan kali ini ditujukan untuk mengenal dasar-dasar agama dalam agama Katholik dan Konghuchu. Belajar bukan berarti harus mengamalkan, tapi setidaknya kami banyak bertukar wawasan, prinsip ini yang kami pegang ketika belajar lintas iman dengan teman-teman di Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng. Di Seminari kami dipandu oleh frater-frater[1] mengenal sekilas bagaimana iman dalam Khatolik dan ibadah apa saja yang mereka lakukan dalam sehari. Selain itu mereka juga memberi tahu kami apa saja aktifitas harian yang dilakukan di asrama, mulai dari bangun hingga tidur lagi. Berbeda dengan di Klentheng, di sana kami dipandu oleh pengurus Klentheng dan banyak melakukan dialog mengenai iman, ibadah, dan filosofi-filosofi dalam agama Konghuchu.

Pada dasarnya, Khatolik dan Islam adalah agama yang lahir dalam satu rahim monoteisme. Sebagaimana yang disampaikan frater Essa, agama Khatolik tetap mengesakan Allah. Bedanya, mereka menggunakan trinitas, dan Islam tidak. Berdasarkan dialog yang kami lakukan dengan frater-frater di Seminari Tinggi St. Paulus dan Klentheng  Poncowinatan, entah itu pemeluk Islam, Khatholik maupun Konghuchu sama-sama ingin mencapai keselamatan dan mencari jalan menuju Allah namun hanya cara kita yang berbeda. Apa yang dilakukan oleh PPSPA adalah sebuah cerminan bahwa pesantren tidak selamanya kolot dalam memandang perbedaan. Selain kunjungan ini, insiatif damai juga dilakukan dengan cara tidak membatasi tamu maupun pelajar yang berasal dari luar Indonesia bahkan non-Muslim sekalipun. Semuanya diterima dengan dengan baik selama beri’tikad baik pula. Misalnya, pada setiap tahun Pondok Pesantren Sunan Pandanaran melakukan dialog dengan lintas iman di bawah lembaga DIAN. Yang menjadi titik tekan di sini, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mengusung “anti non-blok” artinya tidak barat sentris maupun timu sentris. Keduanya dirangkul dengan baik. Di bawah naungan al-Qur’an, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mengedepankan prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Keempat prinsip inilah yang benar-benar dijunjung oleh Ponpes Sunan Pandanaran untuk menanggapi multicultural, agar kita tidak terlalu latah. Apa yang dilakukan PPSPA benar-benar mengimplementasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi dalam Islam, sebagaimana yang tertuang dalam QS. An-Nisa’[4]: 1, QS. Al-Maidah [5]: 32 dan 48. Betapa indah ketika kita bisa hidup saling berdampingan di tengah masyarakat yang multikultural.

 

 

[1] Frater dalam agama Khatolik adalah calon pastor yang nantinya akan menjadi pastor ketika sudah menyelesaikan pendidikannya.

 

 

Ditulis Oleh :  Fatikhatul Faizah (Santri Pesantren for Peace Angkatan Kedua)

  • 0 comment
  • Read 591 times
Login to post comments