Print this page

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung dengan dukungan dari Uni Eropa telah berhasil menjalankan program Pesantren for Peace selama 20 bulan sejak Januari 2015. Program PfP ini bertujuan untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting kelompok moderat Islam Indonesia (pesantren) sebagai kelompok agama yang dominan dalam rangka menegakkan dan memajukan hak asasi manusia (HAM), demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia. Sementara tujuan khususnya adalah untuk memperkuat dan membantu pesantren dalam menyadari tanggungjawabnya sebagai aktor berpengaruh di dalam masyarakat sehingga mampu berdialog secara damai dan hidup berdampingan dengan kelompok agama minoritas lainnya yang ada di Indonesia.

Hal ini juga disampaikan oleh Direktur CSRC, Irfan Abu Bakar saat menyampaikan sambutannya dalam pembukaan Inception Workshop Sub-Grant Pesantren for Peace yang dihadiri oleh 15 pimpinan Pondok Pesantren / yang mewakilinya. Acara yang dilaksanakan di meeting room kantor CSRC UIN Jakarta (2-3/8) ini juga di hadiri oleh Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste, Jan Senkyr, serta perwakilan dari Uni Eropa, Saiti Gusrini dan Savitri Hanartani.

“Program dana hibah ini diadakan berangkat dari kesadaran bahwa pesantren di Indonesia, khususnya di lima provinsi di Pulau Jawa merupakan sebuah lembaga yang dihormati dan cukup berpengaruh di masyarakat. Karenanya penting untuk memperkuat peran pesantren dalam upaya penguatan demokrasi, HAM, toleransi beragama dan membangun dialog dan hidup berdampingan secara damai khususnya dengan kelompok minoritas. Program dana hibah hadir untuk maksud tersebut,” tutur Irfan menambahkan.

Dalam sambutannya, sekaligus membuka secara resmi kegiatan inception workshop ini, Jan Senkyr mengungkapkan bahwa bagi KAS, Pesantren for Peace merupakan projek yang sangat penting. Ia berharap Progran ini dapat membantu mendorong peran umat Islam dalam hal demokrasi, HAM, dan resolusi konflik secara damai.

“Pada bulan April 2016, projek ini sudah berjalan selama 14 bulan saat saya diserahi tugas, bertepatan dengan penyerahan laporan Midterm Evaluasi, dan hasilnya memuaskan,” ungkap Jan Senkyr

Sarah Sabina Hasbar, Manager Project PfP menjelaskan pengantar program SubGrant ini lengkap dengan penjelasan mengenai kerjasama CSRC dan KAS dan juga peran Uni Eropa dalam mendukung program ini.

Kemudian ada 4 sesi dalam workshop ini, sesi pertama menjelaskan tentang panduan umum penerima subgrant yang disampaikan oleh Idris hemay, Koordinator Program PfP, sesi kedua tentang format penulisan laporan oleh Muchtadlirin, Sekretaris Program PfP, sesi ketiga format laporan keuangan oleh Efrida Yasni Nasution, Bendahara PfP, dan terakhir mengenai Monitoring dan Evaluasi yang kembali disampaikan oleh Idris Hemay.

Dengan terlaksananya kegiatan inception Workshop selama dua hari ini, diharapkan pihak pesantren penerima dana hibah (SubGrant) ini memiliki persiapan yang matang agar berbagai kegiatan yang telah direncanakan berjalan secara maksimal dan sesuai dengan poin penting tujuan umum SubGrant itu sendiri. [LH]

 

 

  • 0 comment
  • Read 355 times
Login to post comments