Pesantrenforpeace.com – Bandung (20/8) Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) berhasil menggelar seminar Local Day of Human Rights sebagai implementasi dari program Dana Hibah Pesantren for Peace.

Seminar dengan tema “Memperkuat Tradisi dan Bangunan Perdamaian Melalui Pondok Pesantren” ini bertujuan untuk berbagi pengalaman tentang pembangunan perdamaian, penanganan konflik serta peran pesantren dalam mempromosikan nilai – nilai toleransi dan pernghormatan terhadap HAM.

Dalam sambutannya, koordinator program Pesantren for Peace, Idris Hemay sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini karena telah berhasil menghadirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh di Jawa Barat Khususnya Bandung, baik dari unsur pemerintah maupun organisasi masyarakat. Seperti yang disampaikan Idris, seminar ini dihadiri oleh Kepala Subag. Tata Usaha Kanwil Departemen Agama Jawa Barat, H. Hardiman Romdhoni; Ketua Forum Lintas Agama Jawa Barat sekaligus wakil ketua PWNU Jawa Barat, Kiagus Zaenal Mubarok, MA; Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Provinsi Jawa Barat, Yaya Sunarya; Perwakilan MUI Kota Bandung, Dr. KH. Endang Burhanudin; Perwakilan dari Kemenag Kota Bandung, Ahmad Sodikin; serta 30 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, diantaranya utusan dari Pondok Pesantren, Organisasi Kemahasiswaan (HMI, PMII, IMM, LDK, dll), Karang Taruna, Remaja Masjid, Organisasi Kepemudaan Islam, HTI, dan FPI di sekitar wilayah Bandung, Jawa Barat.

“Sangat tepat sekali kegiatan ini diadakan di Jawa Barat, sebab seperti yang dirilis Kementerian Hukum dan HAM bahwa Jawa Barat tercatat sebagai provinsi paling intoleran nomor 1”, ungkap Hardiman dalam sambutannya mewakili Kanwil Departemen Agama Jawa Barat. Hardiman juga mengapresiasi kegiatan ini, karena menurutnya, kegiatan ini mendukung pemerintahan dalam membangun perdamaian khususnya di Jawa Barat.

“Tidak bisa dipungkiri, bahwa tidak semua pondok pesantren memiliki pemahaman yang universal, dalam arti masih ada beberapa pondok pesantren yang memiliki pemahaman “radikal”. Untuk itu, sangat penting bagaimana membangun budaya agama Islam yang universal, toleran dan sejuk  dengan cara membangun jejaring antar pondok pesantren dan organisasi-organisasi Islam di Jawa Barat untuk menciptakan Islam yang ramah, santun dan damai”, tutur Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Dr. KH. Tatang Astarudin, S.Ag, SH, M.Si dalam sambutannya.

Narasumber dalam seminar ini terdiri dari 4 orang perwakilan santri yang terlibat dalam kegiatan field trip serta penulisan laporannya, diantaranya Tera Ummuttaufiqah yang mempresentasikan pengalamannya saat berkunjung field trip ke Sinode Gereja Kristen Pasundan Bandung (28/11/2015); Rizki Fadlillah Ramadhan mempresentasikan pengalamannya berdialog langsung dengan penggiat lembaga yang bergerak dalam bidang inisiasi perdamaian di Jawa Barat, yaitu JAKATARUB Bandung (28/11/2015); Rodhia Miftah mempresentasikan pengalamannya field trip ke Pondok Pesantren Babussalam (4/2/2016); dan Lina Fatinah yang mempresentasikan pengalaman kunjungan field tripnya ke Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat (4/2/2016).

Seminar ini tidak hanya berhasil mensosialisasikan hasil field trip yang dilakukan oleh santri-santri, tapi juga membangun dan meningkatkan kesadaran publik dalam upaya memperkuat nilai-nilai toleransi, HAM, dan penyelesaian konflik, serta memberikan pengalaman bagi pesantren dalam merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, serta mempertanggung jawabkan suatu kegiatan di tengah kecurigaan-kecurigaan masyarakat, serta dapat mempertahankan eksistensinya dan meyakinkan masyarakat sehingga membuat pondok pesantren meningkatkan kapasitasnya.

.

 

 

Related items

Login to post comments